Cari
  • Bandung Mawardi

Traktor, Jagung, Pidato

AKHIR tahun di Indonesia, harga-harga bermasalah. Sekian minggu lalu, harga pakan ternak naik. Telur malah merana. Harga jatuh dalam waktu agak lama. Kini, harga bawang merah pun jatuh. Berita-berita mengenai harga mudah-sulit terpahami bila orang-orang membandingkan dengan pelbagai kebijakan pemerintah dan pidato-pidato para pejabat. Kita bukan penentu harga. Kita bermasalah dengan harga bila ada keluhan peternak dan petani. Tindakan-tindakan cepat diberlakukan demi harga: naik-turun.


Jawaban diberikan di Sulawesi Selatan. Di Kompas, 25 November 2021, kita membaca: “Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengikuti kegiatan tanam jagung pada hamparan seluas 1.000 hektar di Kelurahan Tolokota, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponton, Provinsi Sulawesi Selatan. Presiden optimistis dengan semakin banyaknya petani lokal yang menanam jagung, kebutuhan jagung nasional bisa terpenuhi.” Presiden membuktikan bertanggung jawab atas masalah jagung. Di foto, ia tampak naik traktor dalam penanaman jagung. Traktor turut membuat jawaban menjadi cepat, lancar, dan berhasil. Cangkul sedang absen.


Dulu, imajinasi kita dibentuk oleh cangkul. Lagu gubahan Ibu Sud mengenalkan peristiwa menanam jagung mengikutkan benda bernama cangkul. Mulut kita masih mudah mengucap: “cangkul, cangkul, cangkul…” Sejak lama, cangkul mengisahkan petani. Cangkul di sawah, kebun, dan ladang. Kita melihat petani membawa cangkul di pundak. Cangkul ditaruh di tanah bercerita kerja-kerja menghasilkan pangan atau ikhtiar mendapat nafkah. Cangkul pun tampak di rumah-rumah bagian belakang atau samping. Benda bercerita tenaga, keringat, dan persekutuan dengan tanah.


Di Solopos, 25 November 2021, kita masih membaca berita mengenai jagung: “Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Penerangan Suwandi mengatakan upaya untuk meningkatkan volume produksi terus dilakukan. Total kebutuhan jagung dalam setahun mencapai 14,37 juta ton.” Sekian masalah dihadapi untuk menjawab kebutuhan. Konon, masalah besar adalah keterbatasan lahan tanam dan teknologi.


Pada masa berbeda, pertanian itu traktor. Mesin-mesin datang ke sawah, ladang, dan kebun. Mesin bertema pertanian dalam capaian hal-hal besar. Cangkul tak lagi terlalu penting. Tubuh-tubuh petani tak lagi melakukan adegan sama dengan masa lalu. Mereka mungkin berada di atas traktor. Tubuh tak terlalu capek. Keringat tetap menetes tapi sedikit. Tubuh dan tanah agak berjarak ketimbang masih menggunakan cangkul. Masa lalu terkenang saja. Lirik lagu lama pun teringat: “Menanam jagung di kebun kita.” Ibu Sud belum mengenalkan traktor saat mengajak bocah-bocah bersenandung. Lagu tak mungkin diralat. Lagu itu dokumentasi zaman. Orang ingin bercerita menanam jagung dan traktor mendingan membuat lagu-lagu baru.


Kita gantian simak keterangan SYL di Kompas, menggenapi penjelasan dari Joko Widodo: “Upaya konkret yang kita lakukan untuk tercapainya peningkatan indeks pertanaman ini yakni penambahan alat mesin pertanian untuk percepatan olah tanah dan tanam, penggunaan bibit unggul, penyediaan sumur bor dan terjaminnya aliran air irigasi dari Bendungan Karolle, bahkan penyediaan dana kredit usaha rakyat bagi petani.” Pada abad XXI, mesin-mesin tak selalu menghuni kota. Mesin-mesin wajib datang ke lahan-lahan pertanian berada di pelbagai desa.


Jagung ingin berlimpahan. Seruan-seruan ingin terbuktikan. Kita mengandaikan jagung masa depan: “Jika ditingkatkan indeks pertanamannya menjadi 3 kali setahun dan luas lahan jagung bisa ditingkatkan menjadi 100.000 hektar, produksi yang diperoleh sebesar 400.000 ton.” Kita tak perlu mencatat impian untuk pembuktian dan bantahan setelah tahun-tahun berlalu. Berita dari kementerian dan pidato-pidato resmi memang gampang mencengangkan ketimbang membuat kita sedih atau menangis. Berita terbaca menghubungkan jagung dan pakan ternak, belum santapan manusia. Berpikiran jagung terlarang capek atau mengingatkan kerja melelahkan dengan cangkul. Ingatlah, menanam jagung dengan mesin atau traktor!

Pada persoalan berbeda, kita mengingat jagung itu makanan bagi manusia. Jagung disantap setelah dibakar atau direbus. Sekian jenis olahan jagung menjadikan kita mengenali beragam masakan. Jagung untuk kebutuhan pangan manusia. Jagung berbeda dari pakan ternak. Kita melihat bentuk jagung-jagung itu sama tapi berbeda dalam penggunaan. Kita melihat hamparan tanaman jagung belum tentu berpikiran mulut dan perut manusia. Jagung untuk pakan ternak memang kelak bakal sampai ke piring manusia tapi memerlukan alur agak lama.


Di majalah Intisari edisi Juli 1982, kita membaca artikel Slamet Soeseno berjudul “Cerita Jagung yang Sebenarnya”. Kita jangan mencari edisi “salah”. Pelbagai sumber digunakan dalam mengisahkan jagung. Slamet Soeseno menulis: “Lima ratus tahun lalu, tanaman jagung sudah diusahakan oleh penduduk Meksiko dan Amerika Selatan.” Pada suatu masa, ada sosok membawa jagung itu menuju Eropa. Jagung lekas ditanam di Spanyol, Prancis, Portugal, Italia. Kisah berlanjut dengan misi orang-orang Portugis membawa benih jagung ke Afrika pada abad XVI.


Slamet Soeseno menulis: “Kemudian jagung perantauan itu merembet ke India dan Cina. Kalau di India, ia ditanam di lembah Bengawan Silungonggo, sedang di Pakistan ditanam di pegunungan dan dataran tinggi Punjab, di Cina jagung ditanam di dataran Sungai Hoangho.” Kita sedang menatap masa lalu. Jagung-jagung terlihat di pelbagai negara. Jagung-jagung berbeda mutu dan cara pemaknaan berkaitan pangan, adat, teknologi, dan lain-lain.


Pada suatu masa, jagung itu tiba di Nusantara melalui Tidore dan Ternate berkaitan dengan keramaian perdagangan rempah-rempah. Tanah-tanah di Indonesia mulai bertemu dengan benih-benih jagung. Tatapan mata melihat tanaman menghasilkan santapan untuk manusia dan ternak. Ratusan tahun, pengisahan jagung terus bertambah.


Kita tak terlalu mengerti sejarah. Di dapur, kita mengetahui ibu-ibu menggunakan jagung untuk masakan. Di pinggir jalan, ada orang berjualan jagung bakar. Di jalan-jalan kampung, pedagang keliling menawarkan jagung rebus. Di ruang publik atau tempat keramaian, ada orang berjualan jagung rebus dicampur coklat, keju, susu, saus pedas, dan lain-lain. Kita menonton film pun memerlukan jagung beristilah asing. Kita makan sambil menikmati film. Konon, kebiasaan ditiru dari Amerika Serikat. Harga tak murah meski ringan di tangan.

Cerita dan berita mutakhir tentang jagung mulai berkaitan ternak, harga, mesin, dan lain-lain. Orang membaca buku-buku bertema makanan, peternakan, dan industri berlatar Amerika Serikat dan Eropa bakal kebingungan bila mengetahui jagung turut dalam kerusakan tubuh manusia dan tatanan hidup di Bumi. Jagung memiliki sejarah belum terbaca semua tapi kita mulai mendapat bacaan-bacaan dan film-film dokumenter mengenai derita-derita tertanggungkan akibat nafsu-nafsu berjagung. Begitu.


 

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

0 tampilan
Search By Tags