Cari
  • Bandung Mawardi

Terbaca dan Tersimpan


PADA 2021, Garin Nugroho adalah penggubah puisi, disahkan dengan penerbitan buku berjudul Adam, Hawa, dan Durian. Semula, ia dikenali sebagai sutradara film. Babak-babak di perfilaman ia peka sastra dan rajin berpuisi. Ia mungkin “meniru” Usmar Ismail: penggubah puisi, cerpen, naskah teater, skenario, dan sutradara film. Di Kompas, 4 April 2021, Garin Nugroho sajikan esai berjudul “100 Tahun Usmar Ismail, Momentum Merebut Hak Politik”. Ia menghormati tokoh perfilman dengan esai, bukan puisi.


Di situ, kita membaca: “Momen 100 tahun Usmar Ismail mengisyaratkan bahwa bangunan puncak emas film selalu berumur pendek. Untuk membangun ekosistem film yang bertumbuh lokal-global jangka panjang layaknya Korea Selatan, tidak cukup hanya dengan kemenangan kreatif para pembuat film ataupun semata kekuatan rumah produksi komersial, tetapi juga dengan kemampuan membangun organisasi profesi dan status dan peran independen.” Ia membaca masalah film, dari dulu sampai sekarang. Usmar Ismail menjadi tokoh acuan agar perfilman di Indonesia berbenah. Kita jeda dari masalah-masalah mutakhir dengan mengenang Usmar Ismail saja.


Di pinggir pantai, lelaki berbaring tampak memandang sepuntung rokok (masih) berasap. Lelaki itu berkacamata, melihat wajah-wajah dalam kepulan asap. Lima wajah itu mungkin sumber pengisahan atau alamat untuk persembahan. Kita sedang dimanjakan gambar kulit muka buku buatan Kuntjojono. Gambar ingin “menjelaskan” judul buku Usmar Ismail. Buku memuat puisi-puisi dijuduli Puntung Berasap, diterbitkan Balai Pustaka, 1950. Buku cetak ulang pada 1957. Buku puisi jarang terbaca atau teringat dalam membincangkan sastra Indonesia. Si penggubah puisi seperti masuk lemari tua tanpa pernah dibuka oleh umat sastra.


Pada masa 1950-an, ia telah tokoh perfilman. Pada masa berbeda, publik mengesahkan ia sebagai tokoh terpenting dalam perfilman Indonesia. Episode menggubah puisi masih tersimpan dan terkunci dalam lemari. Usmar Ismail selalu saja film: Darah dan Doa, Tjitra, Enam Djam di Djogja, Krisis, Tiga Dara, Liburan Seniman, dan lain-lain. Buku berjudul Apa & Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 terbitan Tempo juga menonjolkan Usmar Ismail adalah tokoh film, sulit memberi pengenalan panjang atau penjelasan mengenai sosok pernah berada dalam arus sastra Indonesia masa pendudukan Jepang dan revolusi. Pengakuan ia pernah berada di jagat sastra dan mendapat perhatian kritikus sastra terbaca dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1981) susunan Pamusuk Eneste.


Orang-orang jarang mengingat Puntung Berasap. Usmar Ismail telanjur besar dalam film, tak seberuntung dalam sastra modern di Indonesia. Ia menggarap film, rajin pula menulis esai-esai bertema film. Penghormatan diberikan melalui Sinar Harapan: menerbitkan buku berjudul Usmar Ismail Mengupas Film (1983). Buku dokumentatif tapi terjelaskan sengaja belum lengkap. Kini, buku itu susah dicari. Orang bisa mendapatkan buku di pedagang-pedagang buku lawas dan antik, berharga mahal. Kita menduga jumlah orang mengoleksi buku Puntung Berasap mungkin sedikit dibandingkan Usmar Ismail Mengupas Film.


“Usmar Ismail adalah seorang tokoh yang tragis,” tulis Asrul Sani (1983). Ia mengalami situasi tak menentu dalam sastra dan film tapi sanggup menggubah puisi dan membuat film dengan segala salah dan tak sempurna. Di kancah sastra, Usmar Ismail tentu terbicarakan HB Jassin, belum tentu oleh pengamat dan para kritikus akhir abad XX dan abad XXI. Asrul Sani agak memuji: “Usmar Ismail memasuki dunia film setelah menjelajahi dunia kesusastraan… biarpun ia merupakan salah seorang dari generasi penutup yang menulis atau menciptakan sajak dalam gaya Pujangga Baru.” Puisi-puisi gubahan Usmar Ismail memang tak semoncer dan berpengaruh dibandingkan puisi-puisi Amir Hamzah, JE Tatengkeng, atau Chairil Anwar. Usmar Ismail tak lama sibuk berpuisi. Puntung Berasap menjadi dokumentasi puisi digubah di Jakarta dan Jogjakarta: 1943-1947.


Puisi “rasa” Pudjangga Baru memang terbukti saat kita membaca puisi berjudul “Laksana Ombak”. Ia terbujuk imajinasi laut seperti Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana. Ombak, diksi bergerak dan kuat. Puisi itu mungkin acuan bagi pembuatan gambar di sampul buku. Puisi digubah pada 1943, masih terhindar dari propaganda (murahan) Jepang dan impian muluk tentang negara-bangsa.

Puisi terbujuk mengungkap biografi:

Laksana ombak tinggi gemulung

Mengedjar tepi pasir jang landai

Sebelum sampai mengorak gulung

Memetjah buih menjerak urai.


Pada peringatan seabad Usmar Ismail, kita membaca puisi itu “meragu” bahwa Usmar Ismail berani bersumpah hidup-mati dalam sastra. Puisi masih cuma curahan perasaan, belum ada keseriusan permainan estetika. Kita membaca gelisah milik orang muda, terlena perasaan, dan sulit membahasakan dengan mendalam. Usmar Ismail berbagi perasaan-deksriptif:

Lepaslah tenaga menjerah lempai

Meniarap turun pandjang membudjur

Mengalir hanjut menudju pantai

Mentjetjah pasir djatuh tersungkur


Demikianlah pula hati memedih

Meratap hening pilu merindu

Mengenang daja putus dahulu.


Gejolak-gejolak perasaan seorang masih muda terlalu gampang dituliskan dalam puisi. Setumpuk masalah sering disahkan dengan pesimis. Berpuisi menjadi curahan, terbaca saja sebagai keluhan atau ratapan. Tuhan pun tersebut. Usmar Ismail bukan bergumul dalam estetika-religius tapi ruwet menanggulangi pesimis. Ia memilih menulis puisi tanpa rumit, menaruh pesimis dengan terbuka. Kita membaca dalam puisi berjudul “Pintasan”, ditulis pada 1943. Kita makin mengerti pengaruh Pujangga Baru meresapi puisi-puisi digubah saat Indonesia “dimeranakan” Jepang, terjerat muslihat demi muslihat.


Usmar Ismail perlahan sadar ada pengaruh kekuasaan dalam bersastra. Pada masa pendudukan Jepang, ia menulis puisi tak sekadar mengumbar rasa. Di situ, ia mengimajinasikan tanah air. Puisi sempat menerima pengaruh-pengaruh sloganistik dan omongan-omongan besar. Usmar Ismail sempat terpesona pidato-pidato manis Jepang. Ia menanggapi dengan puisi. HB Jassin (1954) menerangkan: “Usmar Ismail adalah penjair satu-satunja jang paling tegas suaranja, jakin dan teguh dalam tudjuan perang Asia Raja, meskipun sering-sering terutama pada mulanja ia djuga ‘diserang rasa’. Demikian madjunja ia dalam tjita-tjitanja hingga mendahului teman-temannja dan tjuriga ia pada keichlasan jang lain-lain. Tapi kemadjuan Usmar Ismail inipun lambat laun surut djuga dan kemudian memadulah dalam tjita-tjita Indonesia merdeka, sesudah mengalami getir tekanan djiwa.” Pengamatan HB Jassin itu memang terbukti dalam publikasi puisi-puisi gubahan Usmar Ismail, termasuk dalam Puntung Berasap.


Puisi berjudul “Kudengar Adzan” digubah Usmar Ismail dengan keterangan persembahan: “Kepada Pembela Tanah Air”. Pada masa pendudukan Jepang, orang-orang diajak bergabung dalam Peta. Mereka mendapat pendidikan militer dan menerima ajaran-ajaran perang. Puisi itu dokumentasi:

Kudengar adzanmu diwaktu subuh

Memudja Tuhan berharap lindungan,

Suaramu menjebar benih jakinku tumbuh

Kali ini, engkaulah pembawa gemilang zaman

Dalam badanku lemas dingin sekudjur

Mengalir lagi darah tjair memanas.


Episode memadukan hasrat memikirkan tanah air, berharap mendapat restu Tuhan. Usmar Ismail menulis dalam suasana Jepang menebar militerisme tapi diladeni dengan keinsafan agama. Kita kelak mengetahui kecenderungan agama itu menguat saat Usmar Ismail berada dalam Lesbumi. Puisi mengandung perintah-perintah Jepang terbaca gamblang dalam larik: “Kali ini, engkaulah pentjapai menang jang pasti.”

Kita mengutip dari Keboedajaan Timoer III, terbitan propaganda Jepang. Di situ, ada tulisan Usmar Ismail berjudul “Dewi Merdeka”. Di luar puisi, ia makin gamblang mengumbar imajinasi tanah air setelah terolah dalam perintah-perintah Jepang. Dulu, tulisan itu wajar, belum terlalu dituduh “terbohongi” atau terjerak kepicikan. Kita simak: “Bermoela pada tanggal 7 boelan 9, sore tersiarlah berita bahwa Dai Nippon Teikoku memperkenankan kemerdekaan kepada seloeroeh bangsa Indonesia pada kemoedian hari. Dan keesokan harinja bergemalah lagoe kebangsaan memenoehi oedara Indonesia dan berkibarlah bendera Indonesia terpantjang diatas tanahnja sendiri. Dinjanjikan lagoenja dengan segala tjorak soeara, dari serak-parau sampai kepada jang haloes merdoe. Semoeanja ingin mempoenjai bendera Merah-Poetih. Saroeng bantal, taplak medja dirobek oentoek poetihnja. Rok dan gorden pintoe disamboeng-samboengkan oentoek merahnja.” Usmar Ismail, bermula dari perasaan bertaut gejolak bertanah air dalam pengisahan Jepang. Pada babak matang, ia berpikiran Indonesia dalam rupa dan rasa berbeda, setelah 3,5 tahun masa pendudukan Jepang.


Di mata Jepang, Usmar Ismail menulis dengan gelagat “kepatuhan”. Ia pun memiliki situasi berbeda dalam memusuhi Jepang. Kesadaran dan sikap kritis atas muslihat-muslihat Jepang terbaca dalam puisi “buat imperialis kuning”. Usmar Ismail menggubah puisi berjudul “Hubungan”, pendek memuat pancaran keberanian:

Asal kau tahu

Djika kita berdepan muka

bukan sebagai kau dan aku,

engkau lambang tampuk kuasa

aku bangsa hendak merdeka

Djika sudah

kartu terlempar-buka

diatas medja!


Suara itu lantang dan menantang. Usmar Ismail mungkin menulis puisi: disimpan dan dibicarakan bersama segelintir orang, tak perlu diumumkan bila mengerti konsekuensi besar dari keangkuhan militer Jepang. Puisi digubah di bulan Februari 1945.


Pada 1945, Usmar Ismail bersama para seniman melakukan sekian peristiwa seni di naungan pemerintah pendudukan Jepang. Mereka diminta memajukan sastra, musik, seni rupa, film, dan lain-lain. Pesan-pesan besar diwajibkan ada dalam garapan seni. Usmar Ismail mengerti ada kerancuan berkaitan seni dan kekuasaan. Situasi perang atau keamburadulan politik mulai dimengerti bakal memunculkan sejarah “baroe”. Bulan demi bulan, Usmar Ismail menjadi pelaku dan saksi atas situasi Indonesia berlatar 1945. Sekian puisi digubah dengan sederhana, tak sanggup setara atau menandingi puisi-puisi gubahan Chairil Anwar. Usmar Ismail tetapi saja berpuisi tanpa sadar menjadi acuan mengerti ketegangan sastra, propaganda, dan kemerdekaan.


Puisi berjudul “Tjaja Merdeka” ditulis pada Agustus 1945. Tanggal tak tercantum. Pembaca diminta menebak: sebelum atau setelah peristiwa Soekarno membaca teks proklamasi. Puisi jarang dipilih untuk kutipan peringatan kemerdekaan atau digunakan dalam lomba-lomba membaca puisi. “Tjaja Merdeka”, puisi masih terbawa selera propaganda, belum dalam pematangan bahasa atau kesanggupan mengolah estetika.

Kita membaca:

Sekali aku terbangun dalam tjerkam-Mu,

Dari dalam djurang jang gelap-hitam

Kau renggut aku terbatjut dari akar djiwaku

Kau angkat aku membumbung

menatap wadjah Surja Merdeka.


Simbol-simbol dalam puisi terasa “lawas” meski pernah digandrungi para penggubah puisi masa 1930-an. Usmar Ismail masih terikat Pujangga Baru. Pada bait terakhir, Usmar Ismail mungkin mengangankan larik-larik terbaca di depan ribuan orang:

Akan mengembus angin

dari tepi kuburku ketiap pendjuru

membawa nikmat Tjaja Merdeka

Dan sudjudlah aku

dihadirat Tuhanku menunggu

putusan achirku didunia baka!


HB Jassin (1954) memaklumi perubahan arah, kiblat, atau misi di kalangan pengarang pada masa pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka. Mereka berada dalam situasi sulit, merasakan dilema tapi berkemauan dalam menunaikan pengabdian sastra. Dokumentator sastra itu mengingatkan: “Biarpun bagaimana pudjian dan pudjaan pada Djepang pada satu waktu ada dirasakan oleh penjair dan pengarang kita sungguh-sungguh dari hati, biarpun orang jang lain pendapat mentjemoohkan mereka dan nongkrong dipinggir djalan hanja menonton orang berbaris dengan tegap dan penuh semangat.”


Penentuan sikap bersastra pada masa Jepang memang sulit. Patuh dan melawan memiliki akibat-akibat besar. Jepang ingin sastra mengantar pesan-pesan bergelimang tipuan. Di kalangan sastra, gagasan dan imajinasi Indonesia sudah termiliki, ingin lekas diwujudkan. Mereka kadang menggubah teks sastra dengan ungkapan atau simbol ingin tak terkena sensor. Kebingungan dalam permainan pesan-pesan “rahasia”, mereka tak sungkan menulis cerita pendek, puisi, atau naskah sandiwara menuruti kemauan Jepang. Mutu memang “rendah” tapi cara itu memungkinkan sastra terus bergerak dalam dilema-dilema. Usmar Ismail pernah dalam situasi bimbang. Ia perlahan lolos dari kubangan propaganda tapi gubahan puisi tetap belum sampai pematangan imajinasi dan kebahasaan. Begitu.





Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

28 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email