Cari
  • Bandung Mawardi

Tangkis dan Tangis

Puisi telanjur ditulis, diterbitkan, dan dibaca. Ralat tak mungkin. Puisi itu berjudul “Kembalikan Indonesia Padaku” digubah Taufiq Ismail. Pada masa 1970-an, Indonesia sedang membangun cap nasional. Soeharto ingin Indonesia maju. Indonesia wajib baru. Segala hal berubah dan dimunculkan demi Indonesia berbeda dari masa lalu. Taufiq Ismail pun menggubah puisi meski tak lagi terlalu politis seperti puisi-puisi berlatar 1960-an. Pembaca disuguhi puisi berjudul “Kembalikan Indonesia Padaku” diajak mengerti Indonesia sedang “diminta”. Puisi digubah pada 1971.





Taufiq Ismail menulis: Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam/ dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa. Ia tak salah tulisan meski kita menginginkan jenis olahraga berbeda. Indonesia moncer dengan bulu tangkis, bukan pingpong. Bukti tak bisa mengubah dua larik buatan Taufiq Ismail menjadi: Hari depan Indonesia adalah pertandingan bulu tangkis siang malam… Kita tak bisa mengganti “telur angsa” dengan “bulu angsa”. Bola-kok bulu tangkis memang mengingatkan angsa tapi bukan telur.


Kita lanjutkan: Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam/ dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt. Ia tetap saja menulis pingpong, bukan bulu tangkis. Di Indonesia, ribuan atau jutaan orang bisa bermain bulu tangkis. Jutaan orang suka menonton pertandingan bulu tangkis. Taufiq Ismail mungkin khilaf atau memang belum berurusan dengan bulu tangkis. Puisi tak bisa diralat. Dulu, para pembaca dan penggemar lupa tak memesan selusin puisi mengenai bulu tangkis.


Pada masa berbeda, kita agak lega mendapatkan puisi berjudul “Bulutangkis” gubahan Herry Gendut Janarto. Puisi dimuat dalam Gado-Gado Kredo: 101 Puisi Humor (2016). Puisi pendek bukan cuma untuk makin memoncerkan bulu tangkis tapi memberi sedikit kocak dan tragis. Puisi mungkin jarang terbaca oleh umat sastra di Indonesia: Kita pernah berjaya raya/ Ah, kini bagai hamba sahaya/ Lebih sering kalah tanding apa daya/ Cuma sesekali bercahaya/ Bagi bangsa ini berbahaya/ Bisa-bisa bulutangkis jadi bulutangis. Pengamatan atas nasib Indonesia. Pengertian tentang bulu tangkis pernah menempatkan Indonesia sebagai negara “ditakuti” di mata negara-negara lain. Sekian penghargaan sudah pernah diperoleh dalam pertandingan di pelbagai negara. Pada suatu masa, para pemain Indonesia sering kalah. Publik kecewa setelah rajin berdoa dan berteriak demi menang.


Impian publik sepanjang masa adalah lagu Indonesia Raya diperdengarkan dan bendera putih berkibar sebagai bukti Indonesia meraih kemenangan. Olimpiade menjadi peristiwa penting. Bulu tangkis selalu diinginkan bisa menjadi olahraga unggulan meraih medali emas, tak cukup perak atau perunggu. Impian tertinggi itu emas. Di situ, pemenang tampak menangis terharu. Penonton pertandingan pun terharu dan bangga. Bulu tangkis memang menghasilkan tangis bagi pemain meraih menang atau dirundung sesalan setelah kalah.


Olimpiade menjadi peristiwa penting. Bulu tangkis selalu diinginkan bisa menjadi olahraga unggulan meraih medali emas, tak cukup perak atau perunggu. Impian tertinggi itu emas.

Editorial di Jawa Pos, 28 Juli 2021, dijuduli “Menunggu Indonesia Raya Berkumandang di Tokyo.” Pengharapan medali emas dari bulu tangkis. Indonesia ingin tradisi emas di bulu tangkis. Kita membaca di Jawa Pos, pengharapan besar: “Di Tokyo kali ini, bulu tangkis kembali diharapkan meneruskan tradisi itu. Meski, perjalanan sangat terjal. Tapi, dengan doa dari rakyat Indonesia dan semangat atlet di lapangan, semua tidak ada yang tak mungkin.” Bulu tangkis itu emas. Kita menantikan tangis gara-gara menang, bukan kalah.


Pada masa lalu, bulu tangkis memang menjadi pikat. Kita mengingat novel berjudul Opera Bulu Tangkis 1995 (1985) gubahan Titi Nginung. Novel tak semoncer Canting. Novel itu ditulis oleh pengarang sama: Arswendo Atmowiloto. Pada garapan sekian novel atau tulisan, Arswendo Atmowiloto memang mencantumkan nama Titi Nginung. Novel dipublikasikan 1985 tapi bercerita 1995, dimaksukan tahun saat Indonesia berusia setengah abad. Bulu tangkis menjadi kehormatan tapi memungkinkan terjadi skandal dan sumber aib.


Novel mengandung lucu dan ironi. Pengarang sudah berpikiran teknologis dalam pertandingan bulu tangkis akhir abad XX. Kita membaca imajinasi ingin terwujud: “Tidak percuma nama besar Pangeran Khirom yang harum, ketika berniat membangun sebuah gedung bulu tangkis termegah di dunia. Lapangan utama dibangun dengan sistem mutakhir. Sehingga tidak lagi memerlukan penjaga garis ataupun net berupa jaring. Semuanya cukup dilakukan dengan pengendalian sinar yang diatur dengan sebuah komputer kecil.” Pada masa 1980-an, pengarang “membual” terlalu jauh. Kini, kita mengerti olah raga memerlukan teknologi mutakhir meski bulu tangkis masih memberi pemandangan net dan para penjaga garis tetap berada di lapangan.


Bulu tangkis dalam jeratan teknologi, gengsi negara, permainan politik, bisnis, nasionalisme, dan lain-lain. Penjudulan dengan diksi “opera” memungkinkan pembaca merasa melihat atau menikmati “pertunjukan” mendebarkan. Tokoh dalam novel bernama Bajang Kirek, bermain dalam “opera” mengejutkan penuh siasat, sanggahan, penghindaran, atau mufakat. Ia berada dalam situasi sulit tenang selama bertanding atau meladeni beragam hal. Bajang Kirek mendapat godaan menang-kalah dengan cara disuap, diteror, dan disandiwarakan. Godaan demi godaan ditanggapi memicu permusuhan dan kecamuk.


Di akhir cerita, Bajang Kirek adalah pemenang. Ia melampaui menang dalam bulu tangkis. Kita simak Bajang Kirek berpidato di panggung kehormatan diawali mendengarkan lagu Indonesia Raya. Ia bicara agak kikuk: “Ini panggung kehormatan untuk saya. Saya pantas menerima, seperti juga siapa pun. Ini panggung saya karena saya pemain bulu tangkis. Saya tidak pernah berpikir mempunyai peranan besar dalam bidang lain. Bapak-bapak, ibu-ibu, para tokoh ulama dan cerdik pandai menerjemahkan apa yang saya lakukan menjadi bermakna. Kebetulan simbol-simbol itu dari saya, yang begitu gampang ditangkap karena saya disorot. Sebenarnya apa yang saya miliki hanyalah kejujuran. Itu yang membuat saya selamat sampai sekarang.” Bulu tangkis memerlukan pidato, selain tangis kemenangan dan kehormatan. Begitu.

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

77 tampilan
Search By Tags