Cari
  • Bandung Mawardi

Susu dan Jawaban

SEORANG bapak membuat pengumuman, bukan iklan komersial. Ia mengunggah masalah dan pengharapan di media sosial. Darurat. Situasi di rumah makin tak keruan. Anak memerlukan susu. Duit tak mencukupi. Utang pun menumpuk. Pengumuman mungkin memunculkan kebaikan. Pengunggah pengumuman tinggal di Solo.


Kutipan dalam pengumuman: “Mohon maaf, saya tidak jualan. Saya hanya mencari barteran. Sekiranya ada yang berminat dengan sepatu kulit merk Draxvil ukuran 41, saya minta dibarter dengan susu Dancow 1+ (satu plus) kemasan 1 kg.” Di rumah, si anak berusia 2,3 tahun memerlukan susu. Bapak dan ibu berpikiran bisa mendapat susu melalui barter. Sepatu diajukan ke publik. Susu untuk anak ditunggu. Penjawab unggahan itu Kapolresta Surakarta. Susu seperti permintaan dibawakan ke rumah oleh para anak buah. Warga juga menjadi penjawab (Tribun Jateng, 2 Agustus 2021). Kebutuhan susu terpenuhi. Sepatu tak perlu dibarter lagi. Terima kasih disampaikan. Di rumah, sepatu tetap ada dan susu pun tersedia.


Anak-anak di Indonesia memerlukan susu. Para orangatua dibujuk membeli susu setelah nasihat dan pameran iklan. Kita mundur ke masa lalu. Majalah-majalah sering memuat iklan susu. Di televisi, iklan susu tak pernah berhenti. Masa demi masa, iklan-iklan susu mencipta “pengetahuan” dan ketagihan. Susu “terlalu” penting. Orangtua membeli susu berdalih kesehatan, pertumbuhan, kecerdasan, dan lain-lain. Anak-anak minum susu diharapkan sesuai iklan-iklan.


Kita melihat lagi iklan-iklan lama. Iklan susu Dancow tampil majalah Bobo edisi 4 November 1999. Iklan sehalaman, berwarna. Iklan memikat anak dengan sajian gambar: pohon, kupu-kupu, burung, dan lainn-lain. Kabar gembira disampaikan: “Halo, Pit! Tau nggak, ada apa di balik kemasan Nestle Dancow 800 gram?” Pit itu burung pipit menjawab: “Ada dongeng untuk aku dan kau. Gratis.” Jawaban menggoda anak suka susu, berharap mendapat dongeng. Dancow itu susu berhadiah dongeng.


Anak mau minum susu. Bapak dan ibu membelikan susu. Anak mungkin tak berpikiran harga. Iklan telah tebar pesona. Anak tak menggubris bila iklan tak menampilkan sosok manusia minum susu. Anak jeli mungkin berpikiran: “Para binatang minum susu?” Iklan memang menampilkan binatang-binatang tapi tanpa adegan minum susu. Di bagian bawah, kita melihat kardus-kardus susu Dancow. Di sampung kardus-kardus, terlihat buku dongeng terbuka. Buku mau dibaca. Anak mau buku mesti minum susu dibelikan bapak dan ibu.


Kehadiran iklan di Bobo mengesankan anak-anak minum susu bakal cerdas, ceria, dan suka membaca buku. Iklan itu hadir bersama sekian iklan makanan, minuman, pasta gigi, dan lain-lain. Susu termasuk disukai anak-anak. Penggarapan iklan diperhitungkan bisa membuat anak memberi perhatian. Anak bisa berimajinasi dan mengartikan. Iklan-iklan bagus membuat ketagihan. Penasaran. Susu itu diinginkan gara-gara iklan dan hadiah.

Kita mengandaikan kebutuhan minum susu dan harga susu setelah peristiwa 1998. Ingatan publik untuk makanan pokok, susu, dan sekian kebutuhan berurusan harga mahal. Indonesia sedang krisis. Orang-orang tetap harus makan dan minum. Susu menjadi tema besar. Kehadiran iklan-iklan susu justru memberi sejenis kabar gembira untuk anak-anak. Sikap dan tanggapan orangtua mungkin berbeda bila berhadapan iklan susu dan harga.


Iklan atau pengumuman dua halaman kita temukan dalam Bobo edisi 11 November 1999. Iklan bernuansa warna kuning. Kotak kardus Dancow memang berwarna kuning. Pengumuman makin menggembirakan untuk anak-anak. Tulisan besar di bagian atas: “Lomba Gambar Dongeng Jumbo”. Susu untuk diminum. Perusahaan susu juga bertugas menggembirakan anak-anak. Lomba-lomba dan hadiah teridamkan anak-anak.


Kita lanjut membaca: “Lomba ini terbuka untuk seluruh sekolah tingkat SD di Jakarta, Bogor, dan Tangerang, untuk murid usia 10-12 tahun (kelas 4-6).” Susu berkaitan dengan sekolah. Kita makin mengerti susu terimajinasikan kecerdasan. Di sekolah, anak minum susu membuat iri anak-anak tak pernah atau jarang minum susu. Keluarga-keluarga miskin susah mengadakan susu di rumah. Anak-anak minum susu tapi jarang. Pada masa lalu, susu menjelaskan derajat sosial dan impian keluarga.


Hadiah-hadiah bagi para pemenang dalam lomba: duit, alat menggambar, bingkisan, dan sertifikat. Pihak sekolah mendapat komputer, ensiklopedia, peralatan pengetahuan, dan televisi. Susu ingin menggembirakan pelbagai pihak. Lomba diadakan oleh Nestle Dancow sambil memberi pesan: “O ya, teman-teman, jangan lupa minum Nestle Dancow tiap hari.” Kita mengandaikan pengumuman itu menghebohkan. Anak-anak mau ikut lomba. Pihak sekolah membuat seleksi, berharapan nama sekolah bakal harum bila ada murid meraih kemenangan. Semua gara-gara susu.



Foto: https://flash-dantz.com / unsplash


Orang tergoda memikirkan susu membuka saja buku berjudul Real Food (2007) garapan Nina Planck. Kita membaca: “Lebih dari ribuan tahun lalu, manusia menggembala, menernakkan, dan memerah susu berbagai macam hewan mamalia. Di Timur Dekat, nenek moyang kita menjinakkan domba dan kambing sekitar sebelas ribu tahun lalu. Arkeolog menduga susu, bukan daging, adalah alasan awal memelihara hewan.” Sejarah terlalu jauh, tak tercatat berlangsung di Indonesia.


Sejarah manusia minum susu kadang membahagiakan. Pada abad XX, bermunculah para kritikus susu. Kita simak catatan Nina Planck menanggapi para kritikus susu memiliki tiga tuduhan besar: “Mereka mengatakan bahwa memerah susu tidak manusiawi bagi sapi. Petenakan sapi perah mengotori lingkungan. Susu tidak sehat.” Perdebatan bertema susu berlangsung di pelbagai negeri tapi perusahaan-perusahaan terus mengadakan susu-susu dalam beragam bentuk dan kemasan. Anak-anak dan kaum dewasa dibujuk rutin minum susu demi “ini” dan “itu”.


Pengetahuan bahwa susu berasal dari sapi tampil dalam majalah Bobo, 18 Oktober 2001. Dua halaman mengajak anak berpikir dan bermain. Dancow memberi ajakan: “Mencari bagian dari gambar.” Pembaca melihat 3 sapi dan pemerah susu. Ada bocah membawa dua wadah hasil perasan susu sapi. Di sekitar mereka, hewan-hewan bergembira: burung, ayam, dan katak. Ajakan agar bocah-bocah memenangkan permainan: “Di bawah ini ada 3 buah potongan gambar. Potongan-potongan ini merupakan bagian dari gambar utuh yang ada di sampingnya. Nah, dapatkah kamu menunjukkan dengan tepat bagian mana sajakah itu?”


Susu memang minuman tapi anak-anak sebagai konsumen digoda buku, permainan, dan hadiah. Ingatan dari masa lalu itu menggembirakan. Pada masa wabah belum berlalu, susu untuk anak adalah masalah. Si bapak beruntung mendapat jawaban agar anak tetap bisa minum susu. Sepatu tetap berada di rumah. Anak memiliki persediaan susu. Pada hari berbeda, Wali Kota Surakarta menjadikan si bapak itu bagian dari linmas di kelurahan. Jawaban telah bertambah. Begitu.

41 tampilan
Search By Tags