top of page
Cari

Penjelajahan Identitas Anak


Hector Malot, Nobody’s Boy, penerjemah: Tanti Lesmana, Jakarta: GPU, 2021, 384 halaman, ISBN: 978-602-06-5557-4


MANUSIA siapa pun pasti penasaran bagaimana ia bisa sampai berada di bumi ini. Dari sperma mana yang membuahi ovumnya dan dari rahim mana ia dilahirkan. Pencarian asal-usul diri yang kompleks ini dikisahkan secara menggugah oleh Hector Malot dalam novelnya Nobody’s Boy (2021).


Remi, seorang bocah laki-laki, yakin ia memiliki ibu kandung, Ibu Barberin, sampai usianya delapan tahun. Ketika itu, tiba-tiba saja seorang lelaki yang tak pernah ia kenal datang dan mengacaukan hidupnya yang tenang dengan mengatakan kalau ia hanyalah anak pungut yang tidak jelas asal muasalnya. Lelaki itu diperkenalkan Ibu Barberin sebagai suaminya yang selama ini pergi bekerja. Tapi, ternyata lelaki itu bukan orangtua kandungnya, sama seperti Ibu Barberin.


Remi ditemukan secara tidak sengaja di jalanan Kota Paris, lalu diambil oleh Pak Barberin karena iba yang sedikit disertai keserakahan, siapa tahu suatu hari nanti orangtua kandung Remi akan mencari lalu membalas kebaikkannya. Sialnya, sampai usia Remi delapan tahun, tak seorang pun mencarinya.


Remi sendiri sempat tak percaya oleh fakta itu saking terkejutnya. Kejutan tak diundang itu serupa dengan gempa bumi hebat yang betul-betul telah membuat kalut dan memporakporandakan isi kepalanya. Mungkin akan lain cerita jika seandainya Remi pernah mempertanyakan di mana akte kelahirannya atau ari-arinya di kubur. Sayangnya, seorang bocah seperti Remi mendefinisikan ibu cukup dari cinta kasihnya, “Kalau aku menangis ada seorang ibu yang selalu memelukku erat-erat dan membuaiku dengan lembut, sampai aku berhenti menangis. Dia selalu memberikan ciuman selamat malam setiap aku pergi tidur, … dia akan menghangatkan kaki-kakiku di antara kedua tangannya dan menyanyi untukku. … Semua itu dan banyak lainnya, juga dari caranya berbicara padaku serta menatapku, dan betapa dia selalu mengomeliku dengan lembut, membuatku yakin bahwa dia benar-benar ibuku” (hlm. 7). Bagi Remi, perilaku penuh cinta kasihlah yang menggambarkan seseorang adalah ibu atau bukan.


Bagi Remi, perilaku penuh cinta kasihlah yang menggambarkan seseorang adalah ibu atau bukan.

Hector Malot membawa para pembaca ikut menelusuri pencarian orangtua kandung Remi, yang sekaligus juga pencarian jati diri bocah itu. Macam-macam terpaan yang dialami Remi membawa pembaca pada peristiwa-peristiwa membaca yang menyayat hati, menegangkan, melegakan, menjengkelkan, serta menggelikan.


Semenjak kejadian tak diinginkan itu, Remi terpaksa meninggalkan Ibu Barberin karena Pak Barberin tidak rela hartanya terus dikuras oleh anak kecil yang bukan siapa-siapanya. Kenyataan mengharuskan bocah itu berkeliling Kota Paris, bertumpu dari satu orang ke orang lainnya seraya menunggu nasib baik Tuhan mempertemukannya dengan kasih sayang orangtua kandungnya. Dari mulai orang yang tidak peduli dan memandang sebelah mata, hingga orang yang rela berkorban untuk dirinya.


“Aku tidak punya siapa-siapa… aku akan selalu sendirian…. Sebatang kara” (hlm. 125), ucap Remi untuk kesekiankalinya ketika ia mengingat tidak punya ibu dan ayah kandung. Siapa pun manusianya, hidup sebatang kara takkan pernah mudah. Apalagi bagi seorang bocah. Ketegangan terus mengiringinya tanpa siapa pun dapat menjadi tempatnya bersandar. Karenanya, masa itu Remi lebih dekat hidup dengan kata kelaparan dan kesukaran ketimbang kata aman dan nyaman.


Siapa pun manusianya, hidup sebatang kara takkan pernah mudah. Apalagi bagi seorang bocah. Ketegangan terus mengiringinya tanpa siapa pun dapat menjadi tempatnya bersandar.

Salah satu peristiwa yang membuatnya hampir tamat, ketika Remi di tambang batu bara untuk menggantikan seseorang yang sakit selama beberapa hari. Niatnya membantu sebentar untuk sementara, ternyata yang sebentar itu bertepatan dengan musibah. Kejadian begitu cepat, air bah sekonyong-konyong datang membanjiri lorong-lorong gelap tambang. Ratusan pekerja tambang meninggal. Dari ratusan itu, hanya belasan yang nyawanya masih diberikan kesempatan melanjutkan hidup. Mujurnya Remi termasuk di dalamnya.


Menariknya selepas itu melihat berbagai macam reaksi orang-orang yang menyaksikannya tetap hidup, “Ada beberapa orang yang mendekatiku dan menjabat tanganku dengan mata basah oleh air mata. Ada juga yang memalingkan kepala. Mereka ini orang-orang yang sedang berdukacita, dan dengan getir mereka bertanya di dalam hati, kenapa anak yatim-piatu ini justru selamat, sementara ayah-ayah dan anak-anak lelaki mereka terkubur di dalam tambang sebagai mayat-mayat yang terapung-apung kian kemari di perairan gelap….” (hlm. 264).


Itu bukan kali pertama hidup Remi berada di ujung tanduk. Berkali-kali ia nyaris celaka, namun berkali-kali juga ia berhasil selamat. Ia bukan orang “penting”—dalam kaca mata kebanyakan orang,—bukan anak orang kaya raya yang apa pun dapat tersedia, bukan juga anak presiden yang dijaga setiap saat, namun ia terus memperoleh kemujuran dalam setiap kesulitan. Mengapa?


Selain peristiwa-peristiwa sederhana yang sebenarnya berarti dalam, buku garapan Hector patut diberi acungan jempol karena sedikit banyak berhasil menyuarakan isi hati dan pikiran para anak-anak maupun remaja. Mereka sering diremehkan karena lahir lebih lambat—seolah tidak tahu apa-apa—dari mereka yang lebih dewasa—seolah tahu semuanya. Anak-anak jarang atau bahkan tak pernah diperkenankan mengambil keputusan sendiri, anak-anak dianggap tidak bisa atau tidak becus dalam mengerjakan sesuatu. Mereka tidak dilibatkan dalam persoalan demi persoalan, karena katanya mereka takkan mengerti. Padahal belum tentu. Mereka membutuhkan ruang-ruang kesalahan untuk mendewasakan diri, sementara ruang-ruang kesalahan yang tercipta sangat terbatas jumlahnya. Mau membantu justru dicap merepotkan. Diminta harus patuh sementara orang dewasa menghargai anak juga sebagai seorang manusia—yang tidak luput dari kesalahan—pun tidak.


Buku garapan Hector patut diberi acungan jempol karena sedikit banyak berhasil menyuarakan isi hati dan pikiran para anak-anak maupun remaja. Mereka sering diremehkan karena lahir lebih lambat—seolah tidak tahu apa-apa—dari mereka yang lebih dewasa—seolah tahu semuanya.

Ini buku bagus, menyenangkan bagi anak, mengetuk hati orang dewasa. Tapi buku sebagus apa pun memang tak akan mengubah banyak jika kita sekadar membaca dan selesai.

176 tampilan

Commentaires


bottom of page