Cari
  • Majalah Basis

Menjelang Remaja

Judul: My Twin is My Rival, Penulis : Qin Wenjun, Penerjemah: Dina Begum, Penerbit: Bhuana Sastra, Cetak: Pertama, 2019, Tebal: 248 halaman, ISBN: 978-602-483-236-0

NAMA Qin Wenjun, penulis Tiongkok yang dianggap penting sejak 1980-an, hadir di Indonesia secara perdana lewat novel remaja kocak berjudul My Twin is My Rival (2019). Penulis Tiongkok ini mendapat legitimasi di kesusastraan Cina dengan “menggabungkan tradisi dan inovasi sastra.” Dia pernah memenangkan National Outstanding Children Literature Award (Cina) dan nomine Hans Christian Andersen Award (2017). Sebagai permulaan memasuki pembaca Indonesia, Qin Wenjun sangat mungkin dipertimbangkan menempati biografi kesusastraan yang lebih dulu diisi oleh Pearl S. Buck, Lisa See, Mo Yan, atau Yu Hua.


My Twin is My Rival terbit perdana pada 1991, menokohkan remaja laki-laki bernama Jia Li yang memiliki saudara kembar perempuan bernama Mei. Berlatar Cina yang tengah merengkuh modernitas, Jia Li merepresentasikan pencarian diri remaja yang bergolak dengan takdir menjadi anak laki-laki, kehidupan keluarga, nyala padam bersekolah di SMP, dan secara tidak langsung persentuhan dengan masa depan sebagai manusia Tiongkok. Qin Wenjun mengalirkan cerita dalam pernyataan humoris, ujaran satire atas hidup, peristiwa kesialan-keberuntungan masa remaja yang pantas ditertawakan.


Qin Wenjun mengalirkan cerita dalam pernyataan humoris, ujaran satire atas hidup, peristiwa kesialan-keberuntungan masa remaja yang pantas ditertawakan.

Pada awal cerita yang dibuka dengan catatan harian, Jia Li merasa keberadaan Mei adalah sumber kekacauan. Dia merasa harus membuat Klub Kakak Laki-laki bagi teman-temannya yang memiliki adik perempuan. Apalagi adik perempuan manja dan cerdas rata-rata, dirasa cukup merepotkan. Sebagai kakak sekaligus laki-laki, Jia Li membawa keangkuhan patriarkis, “Beberapa orang mengatakan bahwa matanya mirip mata Alain Delon. Namun, dia tidak ingin kelihatan seperti bintang film. Kenapa orang-orang tidak mengatakan dia mirip orang genius yang memenangkan hadiah Nobel? Bagi anak laki-laki Tionghoa kelas tujuh, kecerdasan lebih utama, penampilan paling belakangan” (hlm. 8).


Sebenarnya, Jia Li tidak bisa dikatakan sepenuhnya mewarisi keangkuhan partriarkis tradisional saat anak laki-laki begitu dimuliakan sebagai penerus penting keluarga dan selalu diunggulkan. Gagal memiliki anak laki-laki berarti kegagalan merengkuh kehormatan dan kemujuran bagi generasi mendatang. Ayah dan ibu Jia Li menganggap anak laki-laki ataupun perempuan sama saja. Seperti dalam hal keseharian, tidak ada persepsi pekerjaan rumah tangga ditakdirkan untuk perempuan.


Keluarga Jia Li adalah keluarga kecil bertinggal di apartemen kota di era 90-an saat Cina bangkit membangun ekonomi pasca kegagalan Revolusi Kebudayaan. Keluarga masih menjadi institusi penting tapi tidak dalam lingkar kolektivitas keluarga besar secara tradisional. Qin Wenjun sudah semacam melonggarkan karakteristik keluarga Konfusian Cina. Martin Jacques (2011) mengatakan salah satu ciri kunci keluarga Konfusian adalah wujud bakti yang besar anak kepada orangtua. Anak-anak harus menghormati otoritas ayah sebagai kepala keluarga. Otoritasnya menjadi turunan dari model kedinastian dengan kaisar sebagai panutan tertinggi.


Konsekuensi

Ayah dan ibu Jia Li hadir dengan egaliter dan antidominatif. Hal ini dinarasikan dengan kocak saat Jia Li dan Mei “berhak” mengajukan surat protes kepada ayah. Mei merasa Jia Li menggunakan kesewenangannya sebagai general director urusan pekerjaan urusan rumah tangga selama ibu mereka mengambil jam malam untuk mengajar seni. Sebaliknya, Jia Li kesulitan cara menyuruh-nyuruh Mei melakukan pekerjaan rumah. Jia Li juga merasa tanggung jawabnya terlalu berat dan menuduh ayah serta ibu lebih menghargai anak perempuan.


Surat protes Mei terdengar kritis yang ngenes, “Apakah Ayah dan Ibu menginginkan anak perempuan yang kompeten atau yang biasa-biasa saja? Dengan Kakak terlahir lebih dahulu, dia sudah mendapatkan keuntungan sejak di dalam perut, mendapatkan gizi lebih banyak. Sekarang, dia ingin menduduki posisi lebih tinggi di rumah. Ayah dan Ibu selalu memanggil namanya, tetapi memanggilku bayi. Kapan aku bisa menjadi general director agar bisa memberikan perintah kepada Jia Li?” (hlm. 53-54).


Ada pernyataan setara. Ayah tidak selalu benar dan dihormati karena takut karma. Protes Mei bukan dalam pengembalian konstruksi budaya bahwa tugas-tugas rumah tangga itu bagian perempuan. Mei semacam menjadi suara protes perempuan bukan manusia kelas dua. Dia ingin memimpin, memberi perintah, atau menghancurkan dominasi kelelakian diwakili oleh Jia Li.

Dalam kehidupan keluarga yang cenderung egaliter, kita masih diajak Qin Wenjun menghadapi anggapan pramodern lewat kehadiran tokoh Nenek Wu, pengasuh Mei dan Jia Li. Nenek Wu termasuk khawatir pada cara ayah dan ibu memberi kelonggaran pada Mei yang diterjemahkan dengan istilah terlalu memanjakan. Nenek Wu mengatakan kepada Jia Li, “Orangtuamu selalu memanjakan anak perempuan mereka. Mei tidak tahu bagaimana cara melakukan apa pun. Dia pasti akan kesulitan mencari suami,” (hal. 55).


Nenek Wu mengatakan kepada Jia Li, “Orangtuamu selalu memanjakan anak perempuan mereka. Mei tidak tahu bagaimana cara melakukan apa pun. Dia pasti akan kesulitan mencari suami,”

Pernyataan diplomatis dan terkesan menghakimi dari Nenek Wu ini jelas merujuk pada pandangan tradisional. Kualitas perempuan dalam kebudayaan tradisional Cina atau kebudayaan apa pun, melekatkan perempuan di wilayah belakang. Meski Mei memilih berpendidikan tinggi atau bergaul dengan maju sekalipun, tolak ukur keberhasilannya tetap dipatok dalam tataran domestik. Nenek Wu tidak bisa menerima cara asuh Mei yang terlalu longgar dan mengabaikan seksisme.


Menjadi laki-laki ataupun perempuan, keduanya memiliki “konsekuensi” yang mesti ditanggung. Namun dalam biografi pertalian anak-orangtua, tetap ada cara-cara orangtua menyayangi kepada anak laki-laki dan anak perempuan. Jia Li menulis di buku harian, “Orang bijaksana biasanya menyimpan sendiri perasaan mereka. Tidak semua harus diungkapkan” (hlm. 66). Jia Li membanggakan ayahnya, tapi dia merasa enggan atau semacam menjaga gengsi dalam menerjemahkan hubungan biologis nan emosional ini karena alasan “dia laki-laki”. Sebaliknya dalam hal kecil seperti menciptakan nama panggilan, ayah lebih bisa bersikap manis kepada Mei di banding Jia Li.


Menjadi laki-laki ataupun perempuan, keduanya memiliki “konsekuensi” yang mesti ditanggung. Namun dalam biografi pertalian anak-orangtua, tetap ada cara-cara orangtua menyayangi kepada anak laki-laki dan anak perempuan.

Jarak menyebabkan sesama laki-laki tidak mengungkapkan perasaan. Kejadian kocak hadir saat ayah meminta Jia Li dan Mei membaca ceritanya dan memberi umpan balik positif atas nama solidaritas keluarga. Ayah Jia Li adalah penulis cerita anak. Mei tidak selesai membaca, tapi secara diplomatis menjawab keseluruhan cerita bagus. Urusan pun selesai. Tidak bagi Jia Li, urusan berkomentar menjadi serius karena dipantik komentar singkat bahwa deskripsi cerita tidak realistik. Jia Li memosisikan diri bukan sebagai anak yang ingin menyenangkan ayah. Meski komentar Jia Li diakui ayah sangat cerdas, Jia Li justru tidak mau mengaku komentar hadir dari pembacaan kritisnya. Dia menciptakan orang lain bernama Long Chuanzhen sebagai komentator fiktif. “Kebohongan” Jia Li ketahuan juga. Kejadian selesai dengan peristiwa yang sangat menunjukkan solidaritas maskulin antara ayah dan anak. Jia Li disambut masuk ke ruang kerja ayah untuk mengobrol secara personal-intelek sebagai sesama lelaki sembari makan kudapan enak. Sesuatu yang selama ini terlarang masuk ke ruang kerja.


Beranjak dari keluarga, My Twin is My Rival berkisar di sekolah dalam narasi pertemanan dan prestasi berbingkai membuktikan diri. Bagi Jia Li, sangat penting bercitra pahlawan, hebat, pintar. Pernah suatu hari di kelas saat teman-teman perempuan sekelas Jia Li membicarakan soal matematika dari buku ajar dengan heboh. Demi bisa tampak unggul di antara teman-temannya yang hanya membaca buku ajar dan terlalu malas membaca koran, “Jia Li mengambil buku dari mereka, membukanya, lalu memeriksa penerbitnya. Dengan lantang dia berkata, “Kalian harus membuang buku itu. Aku terpaksa menulis surat kepada editornya untuk menyarankan soal-soal yang lebih menantang agar dimasukkan ke edisi berikutnya.”


Beranjak dari keluarga, My Twin is My Rival berkisar di sekolah dalam narasi pertemanan dan prestasi berbingkai membuktikan diri. Bagi Jia Li, sangat penting bercitra pahlawan, hebat, pintar.

Remaja Cina memang turut berubah seiring negara untuk berunjuk di hadapan dunia. Kita menyaksikan secara umum kecenderungan remaja Cina yang bergolak di antara musik pop dan dentuman irama militeristik yang sangat bercitra negara. Ada teman Jia Li bernama Chen si penggandrung bahasa Inggris mutlak sebagai bahasa penentu karir dan masa depan. Dia menjadi perwakilan anak muda Cina pemuja Amerika sebagai negeri impian atas teknologi dan pengetahuan.


Pergolakan menjadi perempuan atau laki-laki pada titik remaja memang menjangkar di antara keraguan dan ingin mencoba pasti. Inilah masa-masa yang penuh ujian untuk menciptakan diri di hadapan keluarga, teman, dan bahkan tatanan dunia. Qin Wenjung memilih cara enteng dan kocak mengingatkan masa itu pernah, sedang, dan akan termiliki, entah berpredikat masa terbaik atau masa terburuk dalam siklus pertumbuhan diri.


SETYANINGSIH,

esais, pegiat Bilik Literasi Solo

FB: Setya Ningsih

83 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email