Cari
  • Majalah Basis

Melancong ke Pelosok-pelosok Nusantara yang Penuh Masalah

Judul buku : Lara Tawa Nusantara Penulis : Fatris MF Penerbit : Buku Mojok Cetakan : Cetakan pertama, Juni 2019 Tebal : xvi + 349 halaman ISBN : 978-623-7284-02-4

RIUHNYA perkotaan, heningnya pedesaan, dan indahnya pantai serta gunung yang ada di berbagai sudut-sudutnya menjadikan Indonesia negara yang besar. Namun sayang, sudut-sudut itu tampaknya kurang dilirik oleh media nasional, sehingga yang terus muncul di lembar dan layar pemberitaan masih saja mengenai Jakarta, Jakarta, dan Jakarta. Seharusnya dengan kekayaan alam, budaya, dan masyarakat Indonesia di berbagai sudutnya itu, media mampu memotret banyak. Buku Lara Tawa Nusantara yang ditulis oleh Fatris MF adalah karya yang melakukan hal tersebut. Fatris memotret banyak sekali hal di Indonesia dewasa ini dengan begitu apik. Dari pelosok hutan Kalimantan sampai pesisir Danau Toba di Sumatera Utara, semua termuat dalam buku Lara Tawa Nusantara.


Dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh Fatris di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, ia sukses membuat tulisan yang rapi dan luas dalam memotret kehidupan dan suasana Indonesia yang sebenarnya. Lara Tawa Nusantara memotret wajah pelosok Indonesia dengan kacamata historis dan antropologis. Jika dahulu Alfred Russel Wallace merangkum perjalanannya di Nusantara pada abad ke-19 dengan kacamata biologis dan geografis dalam Malay Archipelago, Fatris menjadi orang yang meneruskan dan memperluas perspektifnya. Sama seperti Wallace, Fatris pun memulai semuanya dari Kalimantan. Entah apa yang menjadi daya tarik pulau sejuta sungai tersebut sehingga menjadi titik awal Wallace dan Fatris menelusuri Nusantara.


Jika dahulu Alfred Russel Wallace merangkum perjalanannya di Nusantara pada abad ke-19 dengan kacamata biologis dan geografis dalam Malay Archipelago, Fatris menjadi orang yang meneruskan dan memperluas perspektifnya.

Barangkali, Kalimantan dijadikan sebagai starting point untuk menepis citra negatif karena adanya sebuah legenda pemenggal kepala di sana. Padahal, yang lebih menyeramkan dari sekadar legenda itu ialah pembakaran dan pembalakan hutan secara barbar oleh perusahaan minyak sawit yang dilakukan saat ini di Kalimantan. Legenda pemenggal kepala yang menjadi momok menakutkan tidak lebih ngeri daripada penghancuran alam Kalimantan saat ini. Dengan alasan untuk “kemajuan”, hutan dibabat habis dan disulap menjadi kebun-kebun kelapa sawit. Imbas dari program untuk “kemajuan” itu juga dirasakan oleh warga Kalimantan. Warga Kalimantan yang dianggap “primitif” atau masih menganut ajaran leluhur banyak dibantai. Pembantaian tersebut dikenal dengan sebutan ngayau. Fatris memotret sisi hitam Kalimantan tersebut dan berbagai daerah pelosok lain dengan begitu arif dan kritis sehingga apa yang ada di tiap halaman Lara Tawa Nusantara menjadi sebuah potret yang apa adanya.


“Suku-suku yang hidup dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mengajarkan keseimbangan, kearifan-kearifan yang bersangkut paut dengan hutan tempat mereka hidup—di manakah mereka kini, ketika lebatnya rimba raya telah bertukar wajah, saat hutan disulap menjadi lahan perkebunan maha luas dan kota-kota dunia ketiga yang runyam berdiri di atasnya?” (Hlm. 2).

Pemerintah dan media nasional seakan tidak mau memotret dan menampilkan laranya Kalimantan dan pelosok daerah lain di Nusantara karena mungkin hal tersebut kurang “menjual” dan akan menjadi citra negatif Indonesia di mata dunia.


Pemerintah dan media nasional seakan tidak mau memotret dan menampilkan laranya Kalimantan dan pelosok daerah lain di Nusantara karena mungkin hal tersebut kurang “menjual” dan akan menjadi citra negatif Indonesia di mata dunia.

Namun, Fatris seolah melawan apa yang pemerintah dan media nasional lakukan tersebut. Demo yang sering dan rutin terjadi di Makassar, contohnya, Fatris tulis dengan jujur dan apa adanya melalui sebuah adegan dialog. Dengan seorang teman, Fatris berbincang mengenai demo yang sedang berlangsung di hadapan mereka. “... Itu demo kecil ... Mana ada koran atau TV yang mau menayangkan demo (di Kota Makassar) kalau hanya bakar-bakar ban dan bertengkar sama polisi. Sedangkan dengan demo super rusuh sekalipun, pemerintah masih tidak ambil peduli...”, kata teman Fatris yang mengomentari demo. Fatris sangat pintar memasukkan dialog-dialog semacam itu sehingga membuat alur cerita menjadi sangat dinamis dan tidak monoton.


Tanah sulawesi pun isinya bukan tentang demo melulu. Wilayah ini juga memiliki sejarah yang panjang dan masih diingat hingga saat ini. Keagungan pelayaran orang-orang Bugis yang sangat terkenal di sejarah Indonesia, Fatris masukkan pula ke Lara Tawa Nusantara ini. Dalam sejarah, dikatakan bahwa orang-orang Bugis dikenal sebagai pelaut yang pandai membuat kapal. Meilink-Roelofsz menuliskan dalam bukunya Persaingan Eropa & Asia di Nusantara: Sejarah Perniagaan 1500—1630 (2016, penerjemah: Komunitas Bambu) bahwa orang Bugis sudah sejak lama melakukan aktivitas perkapalan dan perdagangan yang luas [bahkan sampai ke Malaka]. Fatris menyinggung kehebatan orang Bugis dalam hal bahari tersebut dengan kacamata masa kini.


Kehebatan orang-orang Bugis di masa lalu dalam urusan melaut nyatanya saat ini sudah mulai hilang. Pembuatan Pinisi yang dikenal merupakan jenis kapal kelas satu pada zamannya sekarang sudah sangat sedikit. Fatris menggambarkan potret degredasi kehebatan orang Bugis tersebut dengan cerita perjalanannya bertemu dengan mandor-mandor pemilik tempat pembuatan Pinisi. Orang-orang Bugis saat ini sudah tidak ada lagi yang melaut menyeberang samudera menggunakan Pinisi. Itu sudah menjadi cerita lama saja yang tersimpan dalam buku-buku sejarah. Banyak cerita dan persoalan di pelosok Nusantara yang Fatris ungkapkan dengan gaya seperti itu. Perkembangan zaman yang mengiringi perkembangan teknologi mengubah seluruh dunia termasuk pelosok-pelosok Nusantara. Jiwa zaman berubah, orang-orang Nusantara yang hebat di masa lalu saat ini hanya tinggal cerita.“... Di manakah kini para pelaut tangkas dengan kapal-kapal layar mereka yang melegenda itu? Apakah mereka hanya dalam kisah ‘konon kabarnya’—membeku dalam cerita lama, bersemayam dalam mitologi, dalam tumpukan penelitian yang dibahas kaum akademisi dengan catatan yang panjang dan tebal memenuhi rak-rak pustaka yang berdebu? (Hlm. 64).


Selain memiliki sejarah yang besar, Indonesia pun memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Pelosok Sumatera Utara adalah representasi nyata dari kekayaan Budaya itu. Di tepi Danau Toba, sebuah karnaval diselenggarakan dan menampilkan banyak bentuk kebudayaan seperti tradisi sigale-gale, kain ulos, dan tarian tor-tor. Semua kebudayaan dikeluarkan dalam rangka menaikkan kembali pamor Danau Toba sebagai tempat pariwisata yang besar. Namun, apakah kebudayaan harus dijual demi sekadar nama baik pariwisata? Hendri, salah satu narasumbernya mengatakan bahwa Toba akan menjadi Monaco Of Asia. Sebuah jargon yang terlihat bagus, barangkali karena berbahasa Inggris. Namun, Fatris tidak sependapat dengan Hendri karena Toba adalah Toba itu sendiri. Toba tidak sama dengan daerah lain di seluruh dunia. Kekayaan Budaya Toba dan wilayah lain di pelosok Indonesia tidak bisa dibanding-bandingkan dengan budaya lain di dunia. Fatris bersama Lara Tawa Nusantara-nya membela budaya Indonesia yang seolah tertinggal dari budaya lain di seluruh dunia. "... Istilah-istilah, slogan-slogan, jargon pariwisata, kerap gagap dan mandek untuk menjelaskan sesuatu. ... Danau Toba didekatkan dengan Monako; negeri mungil, daratan seluas seperatus Pulau Samosir yang menjorok ke laut Mediterania ... bukanlah berbeda dengan Toba? ... Bukankah Monako adalah Monako, dan Toba adalah Toba? ...” (Hlm. 224).


Namun, Fatris tidak sependapat dengan Hendri karena Toba adalah Toba itu sendiri. Toba tidak sama dengan daerah lain di seluruh dunia. Kekayaan Budaya Toba dan wilayah lain di pelosok Indonesia tidak bisa dibanding-bandingkan dengan budaya lain di dunia.

Karya Fatris M. F. berjudul Lara Tawa Nusantara ini adalah karya yang melengkapi dan meneruskan apa yang sudah dilakukan para orientalis dulu. Fatris dengan gaya bercerita yang dinamis dan tidak monoton memotret Indonesia dari kacamata yang sangat luas. Jika dulu para orientalis memotret Nusantara dengan kacamata Barat, Fatris membedakan karyanya ini dengan menulis potret Nusantara secara kritis dan apa adanya. Meskipun cerita dalam Lara Tawa Nusantara banyak yang bertele-tele, hal tersebut menjadi poin tersendiri karena menambah kekayaan tulisan sehingga banyak gagasan dan ide Fatris terkait sejarah dan latar belakang antropologis di masing-masing pelosok daerah mampu termuat secara lengkap.


Jika dulu para orientalis memotret Nusantara dengan kacamata Barat, Fatris membedakan karyanya ini dengan menulis potret Nusantara secara kritis dan apa adanya.

Fatris M. F. dengan Lara Tawa Nusantara-nya adalah sebuah gerakan melawan arus. Jika arus penulisan cerita perjalanan keliling Indonesia yang hadir di masa kini hanya menulis secara sempit, Fatris melawan hal itu dengan menambah pengetahuan sejarah dan antropologi ke dalam tulisan perjalanannya ini. Karya yang sudah sulit ditemukan saat kebanyakan sejarawan hanya menulis sejarah yang kaku di buku-buku tebal dan para antropolog yang hanya menulis pengetahuan soal kebudayaan ke dalam jurnal-jurnal yang berdebu.


_____________


RAHMAN CAHAYA ADIATMA,

mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Gadjah Mada,

sedang membaca sejarah Indonesia periode abad ke-16 sampai dengan abad ke-18. Menyukai dan mengikuti karya serta pemikiran Emha Ainun Nadjib.


rahmancahayaadiatma.wordpress.com

IG: @rahmancahayaa

Twitter: @rahmancahayaa



Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email