Cari
  • Bandung Mawardi

Kalender: Wagu dan Bermutu

PARA pembeli Solopos, 28 Desember 2020, senang dan mesem. Mereka mendapat “hadiah” berupa selembar kalender. Selembar tapi dimaksudkan terlihat selama setahun. Kertas ingin awet. Kertas mengingatkan waktu. Kalender pun memberi pesan: “optimis”. Oh, istilah masih gampang dimengerti meski boleh membuka kamus-kamus agar pasti.

Seorang pembeli perlahan menunduk gara-gara pilihan gambar dalam selembar kalender. Sosok itu ngece. Lelaki mengenakan busana parlente. Lihatlah, ia berdasi! Tangan kanan membawa tas kerja. Konon, tas kerja itu menandai derajat pekerjaan dan penghasilan. Si pembeli koran mendapat hadiah kalender tiba-tiba lungkrah. Keseharian sebagai bapak rumah tangga dengan rutinitas umbah-umbah dan isah-isah diselingi menulis esai atau resensi terasa mendapat ledekan telak. Pada 2021, bekerjalah sebagai orang kantoran! Kenekatan mencari nafkah dengan menulis untuk koran dan majalah bakal jauh dari kecukupan. Ingat, industri media sedang berantakan! Kalender tetap dibawa pulang, belum memastikan bakal ditempel di pintu lemari, pintu, atau tembok. Ia mungkin saja malah menumpuk kalender bersama koran-koran setiap hari terbeli.

Di rumah, jengkel mulai reda setelah sarapan dan minum segelas air. Eling. Wabah jangan ditambahi bermasalah dengan marah-marah. Di kalender pemberian Solopos, ada gambar di bawah: ayam panggang. Oh, pesan agar pembaca koran masih mungkin meraih kenikmatan hidup dengan bersantap ayam panggang. Sekian detik setelah berimajinasi makan ayam panggang, pembaca melek berita terpenting: “Data kasus Covid -19 di Indonesia kian memburuk dalam sepekan terakhir yang ditandai meningkatnya penularan dan angka kematian harian. Seruan agar pemerintah menekan mobilitas masyarakat pada akhir tahun kian menggema”. Hari-hari masih prihatin. Kita mendingan kenceng berdoa dan eling segala petuah untuk selamat. Hari-hari terus berlalu tapi wabah belum berlalu. Kita jangan marah-marah. Tabah dan nglakoni wae meski untuk urip sederhana kadang mustahil.


Hari-hari masih prihatin. Kita mendingan kenceng berdoa dan eling segala petuah untuk selamat. Hari-hari terus berlalu tapi wabah belum berlalu. Kita jangan marah-marah. Tabah dan nglakoni wae meski untuk urip sederhana kadang mustahil.

Rampung membaca Solopos, iseng-iseng membaca tumpukan majalah lawas. Keinginan mengenang babak meriah industri majalah pada masa Orde Baru. Publik memiliki pilihan untuk membeli dan membaca majalah: sastra, wanita, keluarga, agama, remaja, kuliner, dan lain-lain. Di majalah Hai edisi 7-13 Desember 1993 memuat laporan konser Madonna dan geger remaja Solo. Kita belum kepikiran Madonna. Hal terpenting terdapat di halaman 41. Para remaja digoda membeli burger agar “bisa dapetin kalender McDonald’s 1994 yang trendi dan gaya, juga sangat bermanfaat untuk mengatur semua jadwal pribadi”. Iklan itu mengabarkan kalender adalah bonus. Para remaja di kota-kota besar masa 1990-an ingat pesan penting: “Karena hanya McDonald’s restoran keluarga”. Makanlah dan dapatkan kalender! Ingat, kalender bukan untuk dimakan tapi dipandang sambil berimajinasi, bermimpi, mengeluh, girang, sedih, atau sumringah.


Pembaca Solopos mendapat selembar kalender. Hadiah! Pada 1993, orang membeli burger mendapat bonus kalender “trendi”. Siasat hampir sama tapi beda makna. Orang membaca Solopos itu ingin “makan” informasi dan gagasan. Hadiah selembar kalender itu lumrah. Harga koran tak terlalu mahal. Dulu, orang mengeluarkan duit tak sedikit untuk makan burger di tempat keren dan berselera Amerika. Lumrah juga mendapat kalender “trendi”. Oh, mereka mungkin “makan” gengsi, bukan informasi atau gagasan. Ah, lupakanlah!


Kita lacak saja siasat memberi hadiah atau bonus kalender melalui buku lawas. Buku itu berjudul Ilmu Mendjual dan Reklame (1958) susunan Kho Hwat Yoe. Di situ, ada penjelasan tentang “reklame hadiah”. Perusahaan atau toko mengadakan iklan dengan cara memberi hadiah kepada pembeli, pelanggan, atau warga. Hadiah tentu harus memiliki cap atau gambar berkaitan perusahaan. Kho Hwat Yoe mencontohkan pabrik ban mobil Good Year dan Dunlop memberi hadiah berupa “tempat abu rokok berbentuk ban mobil”. Ada juga Anker Bier memberi hadiah berupa kalender. Di lembaran, ada gambar segelas bir. Orang melihat kalender mendapat bujukan minum bir. Sejak masa 1950-an, pemberian hadiah atau bonus kalender oleh pabrik atau toko sudah biasa. Pada abad XXI, siasat itu masih berlaku.


Tahun demi tahun, kita mengetahui kalender itu dipakukan di dinding atau ditaruh di atas meja. Di kalarangan murid masa 1990-an, ada kalender selembar tak terlalu besar biasa disimpan dalam buku agar ingat hari. Para penggembar buku catatan harian pasti melihat kalender di halaman-halaman awal. Kini, kalender ada di gawai. Orang bisa melihat kalender dengan menggerakkan jari, setiap saat. Kalender masih terlalu penting meski belum tentu bertambah makna. Kekolotan kadang masih dijumpai dalam membuat kalender. Pada akhir tahun, murid-murid sekolah mendapat kalender. Ingat, kalender bukan hadiah. Orangtua murid sudah setor duit untuk memiliki kalender. Selama puluhan tahun, kita jarang melihat kalender sekolah itu bermutu, elok, dan menggemaskan. Garapan baku adalah lembaran-lembaran memuat foto kepala sekolah, gedung, murid-murid memegang piala, dan lain-lain. Orang ngawuran menuduh kalender di sekolah-sekolah belum mendidik. Klise dan boros!


Selama puluhan tahun, kita jarang melihat kalender sekolah itu bermutu, elok, dan menggemaskan. Garapan baku adalah lembaran-lembaran memuat foto kepala sekolah, gedung, murid-murid memegang piala, dan lain-lain. Orang ngawuran menuduh kalender di sekolah-sekolah belum mendidik. Klise dan boros!

Kita mengandaikan lembaran-lembaran kalender adalah penghormatan bagi murid-murid. Guru atau pihak sekolah bisa membuat lomba sebelum akhir tahun. Lomba menulis puisi, melukis, fotografi, membuat komik strip, atau membuat kartun. Nah, garapan-garapan murid sebagai pemenang dicetak di lembaran-lembaran kalender. Wah, cara itu bisa menjadi kancah menggairahkan bagi murid-murid berliterasi dan berkesenian ketimbang melihat foto-foto tokoh dan gedung menjemukan. Murid bakal senang. Orangtua semakin bangga memasang kalender di dinding ruang tamu. Kalender menjadi pembuktian memaknai waktu secara bermutu, di luar pelajaran-pelajaran bikin pusing dan bosan. Cara itu bisa diusahakan untuk murid-murid SD, SMP, dan SMA.


Kaum mahasiswa bisa berbeda mengacu usia dan kemampuan berpikir. Pada 2010, terbit buku berjudul Kalender Kata-Kata Bijak garapan Leo Tolstoy. Terjemahan dari buku mula-mula terbit dalam bahasa Rusia pada awal abad XX. Leo Tolstoy, pengarang dunia dan moralis. Peter Sekirin dalam pengantar menjelaskan: “… Leo Tolstoy memenuhi impian yang dipupuknya selama hampir lima belas tahun, yaitu mengumpulkan kebijaksanaan selama berabad-abad dalam sebuah buku yang ditujukan kepada khalayak umum”. Buku itu mirip kalender. Setiap halaman ditandai dengan tangal dan bulan. Sehalaman, berisi kutipan-kutipan dari kitab suci dan para pemikir segala zaman. Leo Tolstoy kadang mencantumkan pemikiran dan tafsir harian. Kalender berupa buku. Nah, buku itu bisa menjadi contoh bagi kaum mahasiswa. Mereka jangan mau mendapat kalender dari universitas melulu foto rektor, gedung rektor, acara wisuda, dan lain-lain. Ingat, foto-foto itu membikin sebal, jauh dari mikir dan bermakna!


Setiap halaman ditandai dengan tangal dan bulan. Sehalaman, berisi kutipan-kutipan dari kitab suci dan para pemikir segala zaman. Leo Tolstoy kadang mencantumkan pemikiran dan tafsir harian. Kalender berupa buku.

Kita mengandaikan mahasiswa-mahasiswa dianjurkan membaca buku-buku sastra, agama, filsafat, ekonomi, politik, antropologi, sains, dan lain-lain. Mereka diajak memilih kutipan tapi harus sudah rampung membaca buku. Pilihan kutipan diberi tafsir atau penjelasan. Lomba diadakan di setiap jurusan atau fakultas. Pembuatan kalender tak perlu terpusat di rektorat ketimbang dirasani elek dan bathine kakehan. Lomba rutin tahunan. Lembaran-lembaran kalender menjadi siasat berbagi bacaan dan tafsiran. Eh, lembaran kalender agar menggoda perlu mendapat ilustrasi. Lomba membuat ilustrasi atau foto-seni juga perlu untuk menjadikan kalender enak dilihat dan memicu pemaknaan. Begitu.


_____________

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

98 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email