Cari
  • Bandung Mawardi

Jalan dan Bacaan

SEJARAH terbaca sebagai nama jalan. Biografi mungkin teringat bagi orang-orang melintasi jalan. Di situ, ada nama tanpa foto atau patung. Nama lama tapi belum terlalu dikenali atau diakrabi kaum muda mengalami hidup “lengah” ingatan pada abad XXI. Pemilik nama itu menggerakkan sejarah saat masih muda, membahasakan ide-ide dan kemauan-kemauan dengan tulisan di surat kabar. Ia tampil sebagai jurnalis. Ia pun mengarang cerita.



R. M. Tirto Adhi Soerjo


Di Kota Bogor, Jawa Barat, terselenggara acara peresmian Jalan R. M. Tirto Adhi Soerjo, 10 November 2021. Semula, bernama Jalan Kesehatan. Penggantian nama demi menghormati tokoh kelahiran Blora (1880) tapi membuat sejarah selama bermukim dan bekerja di Bogor, awal abad XX. Ia diakui berjasa dalam jurnalisme melalui Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia (Kompas, 11 November 2021). Di Bogor, tokoh itu menebar pengaruh melalui tulisan-tulisan dan pembuatan perkumpulan-perkumpulan. Penghormatan dengan buku pernah dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer melalui buku berjudul Sang Pemula. Pada abad tak menggairahkan orang membaca, penghormatan dilanjutkan dengan penamaan jalan. Peresmian mungkin menginginkan orang-orang menginsafi melintasi “jalan sejarah”, tak cuma jalan beraspal.


Kita masih menantikan ada nama-nama jalan berkaitan tokoh dan sejarah. Warisan rezim Orde Baru mencipta “kebenaran” sejarah di jalan-jalan adalah kaum politik dan kaum militer. Pada tata politik berbeda, mungkin sekian nama bakal berubah atau ada jalan-jalan baru memerlukan nama-nama dari tokoh-tokoh sejarah (terlalu) lama disingkirkan atau dilupakan. Politik penamaan jalan memasuki babak berbeda meski ada pelipatgandaan penamaan jalan, tempat, dan bangunan-bangunan berselera politis. Di pelbagai kota dan kabupaten, kita terbiasa mendapatkan nama Soekarno. Pamrih politik mudah terbaca. Kita menunggu saja ada keputusan-keputusan baru dalam perubahan atau pemberian nama jalan-jalan di seantero Indonesia.


Kita membaca usulan Ariel Heryanto di Kompas, 13 November 2021: “Kelak bila ada perubahan besar yang berikut, mungkin nama orang-orang hebat dari Belanda, Jepang, atau Timor Leste akan dijadikan nama jalan di banyak kota di Tanah Air. Juga nama tokoh-tokoh sebangsa seperti Munir, Marsinah, Mas Marco (Kartodikromo), dan Pramoedya Ananta Toer.” Usulan mengacu sejarah. Nama-nama ada dalam gelanggang dan pergulatan sejarah meski menanggungkan nasib berbeda di mata rezim-rezim pernah bermain politik jalan. Kita sudah mendapat kabar di Bogor untuk Jalan Tirto Adhi Soerjo. Nama-nama lain dinantikan dengan mengikutkan pengenalan (bacaan-bacaan) ke publik agar nama tak cuma nama dalam pengertian kelengkapan alamat.


Nama-nama ada dalam gelanggang dan pergulatan sejarah meski menanggungkan nasib berbeda di mata rezim-rezim pernah bermain politik jalan. Kita sudah mendapat kabar di Bogor untuk Jalan Tirto Adhi Soerjo. Nama-nama lain dinantikan dengan mengikutkan pengenalan (bacaan-bacaan) ke publik agar nama tak cuma nama dalam pengertian kelengkapan alamat.

Tirto Adhi Soerjo tak sekadar menggerakkan sejarah di Bogor. Ia pun penting dan berpengaruh di Solo. Pada 1911-1912, Tirto Adhi Soerjo berperan dalam pendirian Sarekat (Dagang) Islam dengan ruang sejarah di Solo. Ia membahasakan maksud dan misi dalam anggaran dasar: “Semua orang sudah tahu bahwa sekarang ini adalah zaman kemajuan. Semboyan kita tentang perjuangan untuk mencapai kemajuan tidak boleh hanya menjadi omong kosong saja.” Kita membaca petikan terpilih dalam buku Zaman Bergerak (1997) garapan Takashi Shiraishi. Peran besar bertokoh Tirto Adhi Soerjo adalah penerbitan sekian surat kabar membawa suara-suara kebaruan, kemajuan, dan perlawanan. Pada babak-babak bergerak, Tirto Adhi Soerjo berada di Bogor tapi pemikiran-pemikiran bergerak meriah di Solo dan pelbagai kota.


Pengakuan sebagai jurnalis dalam peresmian nama jalan di Bogor oleh pejabat dan tokoh-tokoh penting belum mengikutkan penghormatan Tirto Adhi Soerjo sebagai penggerak sastra. Di buku Razif berjudul Bacaan Liar: Budaya dan Politik pada Zaman Pergerakan (1921), terbaca pengakuan: “Golongan bumiputra yang bisa disebut perintis fiksi modern adalah RM Tirto Adhi Soerjo dengan Doenia Pertjintaan 101 Tjerita jang Soenggoe Terdjadi di Tanah Priangan (1906). Kemudian disusul Tjerita Njai Ratna (1909), Membeli Bini Orang (1909), dan Busono (1912).


Ia mendahului nama-nama sering diajarkan dalam sejarah sastra atau menetap dalam buku-buku pelajaran. Nama-nama disahkan oleh penerbitan (balai Pustaka) atau kebijakan keaksaraan berselera kolonial, masa 1920-an. Tirto Adhi Soerjo dengan sekian gubahan sastra mudah dicap masuk dalam pengertian “bacaan liar”. Peran di sastra dan pers memastikan Tirto Adhis Soerjo “pelopor pergerakan nasional memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi.” Ia menjadi panutan dan tebar pengaruh berkepanjangan. Pelanjut terpenting bernama Mas Marco Kartodikromo.


Peran di sastra dan pers memastikan Tirto Adhis Soerjo “pelopor pergerakan nasional memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi.” Ia menjadi panutan dan tebar pengaruh berkepanjangan. Pelanjut terpenting bernama Mas Marco Kartodikromo.

Kita boleh menduga nama-nama para tokoh kelak digunakan untuk nama-nama jalan memiliki biografi tak melulu politik dan militer. Di Bogor, kebijakan berpihak sejarah meski tak lengkap itu memungkinkan ada susulan di pelbagai kota dan kabupaten. Pilihan nama-nama bergumul dalam pers, sastra, atau penerbitan penting terpikirkan agar sejarah bukan selalu mengingatkan perang atau senjata. Ada lembaran-lembaran kertas dinamakan surat kabar dan buku membuat sejarah bergerak dan kemajuan berlangsung di Indonesia.


Pada saat situasi politik berantakan dan menjengkelkan, kita masih bisa semringah dengan peresmian Jalan Tirto Adhi Soerjo. Nama sudah dicantumkan tapi pengenalan dan pembacaan masih terus dinantikan untuk publik. Di buku berjudul Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan (2008) susunan Iswara NR dan Muhidin M Dahlan, kita membaca pujian keampuhan sang tokoh: “Melalui tulisan-tulisan yang menikam tajam sekaligus mempesona, Tirto Adhi Soerjo tak jarang membikin takut para pejabat kolonial yang berkelakuan tak patut. Kalam bermata panah milik Tirto Adhi Soerjo membidik terarah hingga sasarannya bisa muntah darah. Merki keberpihakan tegas ini tak jarang meninggalkan buntut yang mengancam keselamatannya, tetapi Tirto Adhi Soerjo tak gentar.” Kini, kita pun tak gentar terus membaca biografi dan warisan tulisan-tulisan para tokoh ketimbang cuma melintasi jalan. Begitu.

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut



254 tampilan
Search By Tags