Cari
  • Bandung Mawardi

Ingatan (Membekas) Buku Bekas

PEDAGANG buku bekas di Ciputat bercerita: “Buku bekasnya yang beredar di pedagang buku bekas mencakup filsafat, politik, ekonomi, sastra, dan kajian agama.” Penjelasan singkat tercantum di Kompas, 20 Juni 2021. Tokoh dimaksud bernama Mohammad Hatta. Kita mungkin tak menduga koleksi buku milik pembaca tekun berkacamata itu bisa beredar di pasar buku bekas. Curiga demi curiga bisa diajukan tapi jawaban mungkin meragukan. Hatta tentu tak pernah berpikiran bakal mengartikan koleksi buku adalah “dagangan” dengan hitungan kiloan atau kardusan. Kita tak sedang sedih memikirkan tokoh membentuk biografi dengan buku-buku. Kita berurusan dengan buku bekas, pedagang, pembaca, dan kolektor.


Penggunaan diksi bekas sering menjatuhkan harga atau peremehan menjadi cuma benda. Kita ingin memberi perbedaan buku bekas dibandingkan sekian benda bekas. Buku bekas dalam perniagaan di peraguan terhormat atau telantar. Buku-buku bekas dimiliki para pembaca dan kolektor berbeda nasib: terbaca atau terpandang. “Bekas” terlalu bermasalah bila mengusut makna-makna terberikan, dari duit sampai pengetahuan.


Diksi bermasalah lagi: perburuan. Diksi tergunakan di Kompas. Kita simak: “Persaingan dalam berburu buku bekas ternyata sangat ketat. Para pemburu buku biasanya punya trik tersendiri untuk mendapatkan buku bekas yang punya nilai tinggi.” Perburuan mengesankan ada misi-misi berbekal keberanian, uang, dan keberuntungan. Perburuan kadang mencipta konflik dan dendam. Kita telanjur mengerti itu gara-gara sekian orang mula-mula mengucap dalam bahasa Inggris, diterjemahkan menjadi “berburu” atau “perburuan”.


Kita bergerak saja ke negeri jauh, menuju silam. Pembaca berimajinasi dengan sekian sebutan: buku bekas, buku antik, buku langka, atau buku legendaris. Kejadian dalam novel berjudul Balthasar’s Odyssey: Nama Tuhan yang Keseratus (2006) gubahan Amin Maalouf. Kita ikuti percakapan dua orang mengandung penjelasan dan imajinasi pelik. Perkataan membimbing pembaca menuruti halaman-halaman mendebarkan: “Tak seorang pun yang sungguh-sungguh pernah mengutip langsung dari buku itu. Maka para pedagang yang bersungguh-sungguh, dan sebagian besar ulama, meyakini bahwa buku itu tak pernah ada, dan beberapa jilid yang dipertontonkan dari waktu ke waktu adalah hasil garapan para pembajak atau penipu. Judul buku legendaris ini adalah Nama Tersembunyi yang Tak Terungkap, tetapi buku itu juga dikenal sebagai Nama yang Keseratus. Bila kujelaskan nama apakah itu, kau akan tahu mengapa buku itu begitu banyak diburu.” Kita singgah sejenak saja, kembali ke masalah perbukuan dan perdagangan buku di Indonesia, tak lupa memikirkan orang-orang berpredikat kolektor.


Puluhan tahun, orang-orang selalu mencari buku-buku gubahan Pramoedya Ananta Toer. Sekian orang memilih mengurusi buku-buku sastra peranakan Tionghoa. Ada juga orang getol membeli dan mengumpulkan ratusan buku cap roman picisan dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Buku-buku Soekarno tentu menjadi pencarian dengan duit jutaan. Di Indonesia, orang-orang masih memerlukan masa lalu, menginginkan buku-buku. Mereka mengenali tokoh-tokoh, mengerti buku-buku pernah menghebohkan. Sekian dalih menjadikan buku-buku “wajib” diperoleh. Di situ, orang-orang membahasakan kemauan. Buku-buku diberi sebutan-sebutan berdampak ke harga dan faedah.


Kota-kota menjadi incaran. Nama pedagang, nama toko buku, alamat, dan segala hal dipikirkan demi mendapatkan buku-buku. Cerita-cerita atau bualan-bualan makin menambah keseruan dalam urusan buku bekas. Keajaiban tercipta atau dicipta menjadikan makna buku langgeng. Di babak perdagangan buku bekas, orang-orang mengingat kecewa, jengkel, girang, marah, sedih, dan sombong. “Dosa-dosa” dalam edisi perniagaan buku bekas, langka, antik, atau legendaris adalah bohong dan fitnah.


Pengalaman-pengalaman berpusat atau berkaitan buku bekas dituliskan P Swantoro, terbit berjudul Dari Buku ke Buku: Sambung-menyambung Menjadi Satu (2002). Buku memuat sekian hal: mencari, membeli, membaca, mengingat, mengulas, dan lain-lain. Ratusan buku berusia tua beragam bahasa. Kita terkesima mengetahui kemauan Swantoro menulis ratusan halaman mengenai buku, tak lupa diimbuhi masalah-masalah lain. Kita mengandaikan Swantoro berada di rumah atau ruangan dengan ribuan buku lama. Ia “beribadah” dengan membaca buku-buku di garis waktu memanjang. Buku bukan melulu benda. Swantoro menulis biografi dan ulasan, tak sampai menjadi novel. Kita mungkin kelimpungan bila itu menjadi novel seribuan halaman.


Kita mengandaikan Swantoro berada di rumah atau ruangan dengan ribuan buku lama. Ia “beribadah” dengan membaca buku-buku di garis waktu memanjang. Buku bukan melulu benda. Swantoro menulis biografi dan ulasan, tak sampai menjadi novel.

Penulis juga memulai gandrung buku dalam edisi bekas. Pada 1998, Indonesia gonjang-ganjing. Penulis masih murid SMA, mentas dari terpuruk biografis. Murid itu ingin berubah di sekolah dan rumah. Hari demi hari di sekolah, ia mengikuti saja kewajaran belajar di kelas meski sulit bergairah. Di waktu sela, ia mendekam di perpustakaan: membaca buku, koran, dan majalah. Di rumah, ia menghuni kamar berantakan bersama saudara. Kamar untuk menjauhi godaan-godaan masa remaja. Di situ, ia bersama buku-buku dan majalah-majalah bekas. Jumlah buku dan majalah terus bertambah gara-gara ia rajin membeli ke kios-kios buku bekas di belakang Stadion Sriwedari dan Gladag di Solo. Si remaja bersekutu dengan buku-buku (bekas).


Buku-buku menuntun ia menjadi pembaca dan penulis, berjalan jauh tak berkesudahan. Ia mengerti sulit menjadi penulis. Tahun-tahun berlalu, ia tak lekas menjadi penulis di koran atau majalah. Pada babak berbeda, ia mulai menjadi pedagang buku bekas: berjualan di kampus-kampus dan tempat-tempat pertunjukan seni di Solo. Berdagang buku bekas tanpa janji untung melimpah. Ia memilih berbagi cerita dan memberi harga murah-murah saja asal bertemu jemaah buku. Dagangan ditambahi kaset bekas. Ia terlena dengan buku dan kaset. Hidup dalam edisi bekas dan bekas.


Pada saat menjadi penulis, ia mulai mengerti kemujaraban buku-buku dan majalah-majalah bekas telah bersama sejak 1998. Esai demi esai ditulis mengacu buku-buku bekas dalam beragam tema. Majalah bekas kadang digunakan dalam lacak kutipan. Sekian esai dimuat di koran dan majalah. Tahun demi tahun berganti, ia makin bersekutu dengan buku dan majalah bekas. Jadilah ia keranjingan membuat resensi buku lawasan dan menggarap kliping pelbagai tema!


Kini, ia bingung mengikuti perdagangan buku bekas. Buku-buku itu sering masalah harga dan kolektor. Ia terlalu lama menanti tulisan-tulisan dokumentatif dari para pedagang, pembeli, pembaca, atau kolektor buku bercap bekas, langka, antik, kuno, atau legendaris. Penantian tulisan-tulisan malah dijawab kelimpahan foto dan bualan-bualan. Begitu.


Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

43 tampilan
Search By Tags