Cari
  • Bandung Mawardi

Hutan dan Hujan

Bandung Mawardi

HUTAN itu musik. Di kota dengan ruang-ruang pertunjukan atau studio, orang-orang bermain dan menikmati musik teranggap peristiwa biasa-biasa saja. Jenuh mungkin melanda. Orang ingin musik di tempat berbeda dan suasana tak biasa. Jenuh dialami Slamet Abdul Syukur. Musisi kontemporer itu mengajak warga bukan seniman masuk hutan lindung di kaki Gunung Pananggungan, Seloliman, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Empat puluh orang keseharian sebagai petani diajak membuat simfoni dalam hutan. Mereka menjauh dari musik “umum” dan bercorak industri. Di hutan, mengalami musik itu menakjubkan.


Di Tempo, 24 April 1993, diberitakan: “Alam yang bisik-berbisik dan batin yang merindukan keakraban kasih sayang bertemu dalam keheningan. Itulah musik yang sejati, musik yang amat kaya dengan bunyi.” Slamet Abdul Syukur bersama 40 warga dan Tony Prabowo sebagai perekam bermusik di hutan lindung saat senja. Waktu terasa sakral. Konon, burung-burung dan pelbagai binatang pulang saat senja. Di hutan, suara-suara mereka itu “musik”. Di hutan, musik dimainkan tak seperti di kota atau ruang-ruang kuliah musik. Para warga membawa dan memainkan sapu lidi, bakiak, kentongan, kitiran, dan lain-lain. Benda-benda itu mencipta simfoni. “Keheningan memang merupakan salah satu unsur dalam konser ini, hingga desau angin, gesekan dedaunan, dan bahkan keheningan itu sendiri terasa nikmat,” tulis di Tempo. Kita tak menghadiri acara unik itu tapi membaca sambil berimajinasi hutan-hutan di seantero Indonesia adalah khazanah simfoni menakjubkan. Imajinasi bisa runtuh bila mau mengikuti berita-berita mutakhir. Hutan-hutan di Indonesia “menghilang” dan rusak. Pada abad XXI, simfoni diangankan sulit terwujud. Hutan terpahamkan sebagai lahan uang di tatapan mata pengusaha meminta “restu” dari pemerintah.


Kita tak menghadiri acara unik itu tapi membaca sambil berimajinasi hutan-hutan di seantero Indonesia adalah khazanah simfoni menakjubkan. Imajinasi bisa runtuh bila mau mengikuti berita-berita mutakhir. Hutan-hutan di Indonesia “menghilang” dan rusak.

Hutan dan keheningan. Hutan mengisahkan kesakralan. Hutan dengan beragam flora-fauna. Kita merindukan meski mustahil menghentikan nalar-nalar perusakan dan pembakaran hutan. Kerja kolosal alih fungsi demi perkebunan telah berlangsung ratusan tahun. Hutan cuma kata, sebelum orang-orang berhitung keuntungan dan bencana demi bencana memberi duka. Kita pastikan duka tak cuma milik manusia tapi dialami flora-fauna. Bukalah buku berjudul Khazanah Flora dan Fauna Nusantara (1992) susunan Setiaji D Sastrapradja, Soenartono Adisoemarto, dan Mien A Rifai! Mereka mengingatkan: “Indonesia dilimpahi kekayaan hayati yang tiada taranya. Hutan yang terbentang di belasan ribu pulau mengandung berbagai jenis flora dan fauna, yang kadang-kadang tak dijumpai di bagian Bumi lainnya.” Hutan-hutan menandai peradaban di Nusantara, mengisahkan babak-babak kehidupan menganut etika, estetika, dan religiositas.


Kita merindukan meski mustahil menghentikan nalar-nalar perusakan dan pembakaran hutan. Kerja kolosal alih fungsi demi perkebunan telah berlangsung ratusan tahun. Hutan cuma kata, sebelum orang-orang berhitung keuntungan dan bencana demi bencana memberi duka.

Kita mewarisi epos, legenda, dongeng, atau fabel dengan pengisahan hutan. Imajinasi tak pernah memadai. Hutan terlalu rimbun makna. Epos-epos bercerita kekuasaan. Kita pun disadarkan bahwa hutan itu tempat bertapa. Hutan adalah keajaiban-keajaiban. Sekian pemaknaan mengikutkan tanggapan kita atas nasib hutan, dari masa ke masa. Nusantara berubah dengan mengubah hutan sebagai perkebunan dan permukiman. Hutan-hutan dipariwisatakan dengan menghilangkan dan mengurangi “kodrat” termiliki sejak ratusan tahun silam. Hutan sulit lolos dari kebijakan-kebijakan penguasa dan incaran pengusaha. Ikhtiar melindungi dibuktikan dengan undang-undang dan pembentukan pelbagai komunitas. Di Indonesia, kementerian diadakan untuk mengurusi hutan. Pada suatu masa, presiden malah memiliki latar belakang pendidikan kehutanan. Semua belum menjanjikan hutan-hutan di Indonesia “selamat” dari seribu lakon merugikan dan berpetaka.


Hutan mengingatkan novel berjudul Harimau! Harimau! gubahan Mochtar Lubis (1975). Di hutan, orang-orang disituasikan untuk insaf perbuatan jahat. Mereka diceritakan dalam konflik dan kesadaran moral. Di hutan, segala kejadian sulit diramalkan. Tokoh diterkam harimau. Kejadian ditafsirkan hukuman dari Tuhan. Manusia berdosa pantas dihukum “ini” dan “itu” saat berada dalam hutan. Dosa-dosa itu adalah pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, dan lain-lain. Keselamatan diharapkan selama di hutan saat bermisi mencari nafkah. Manusia tetap sulit menebak nasib berurusan dengan flora-fauna dalam hutan. Mochtar Lubis sengaja mengisahkan manusia dan hutan dalam seruan-seruan moralistik. Novel tak pernah diniatkan sebagai protes atau ejekan atas nasib hutan-hutan di Indonesia pada abad XXI. Dulu, kita membaca tanpa sempat menduga bakal terjadi kemeranaan hutan-hutan di Indonesia akibat lakon pertambangan dan perkebunan, berlangsung tanpa jeda sejak masa kolonial sampai rezim Joko Widodo.


Hutan bukan cuma keheningan, kengerian, keinsafan, atau penghukuman. Pada masa lalu, kebijakan-kebijakan atas hutan dimaksudkan baik dan luhur. Sekian hal terwujud, sedikit. Sekian hal bermakna besar justru gagal. Di Tempo, 27 Februari 1993, tersaji iklan persembahan Masyarakat Perhutanan Indonesia dan Tempo. Dua halaman ingin memicu kesadaran bersama: “113 juta hektar dipertahankan selamanya”. Pesan dalam iklan dibahasakan kuantitatif: “43% dari jumlah ini sengaja dibiarkan tak dijamah demi kelestariannya dan 57% lagi kita kelola dengan hati-hati dan berkesinambungan”. Informasi agak mengejutkan: “Di kehijauan itu juga terletak berbagai jenis tetumbuhan sumber obat-obatan”. Pada suatu masa, publik diajak berpikiran bahwa hutan itu sumber obat-obatan. Di Indonesia, tercatat 1% jumlah tetumbuhan berhasil diteliti. Ironis.

Hutan itu sumber obat. Kita pun menganggap hutan adalah “obat” atas perubahan iklim dan kehidupan mutakhir dalam segala keamburadulan. Ajakan melindungi dan menghormati hutan tak melulu bagi kaum dewasa. Di kalangan anak, penerbitan buku-buku cerita, ilmiah, atau ensiklopedi juga sering bertema hutan.


Bacaan mengajak anak-anak mengerti sejak dini, sebelum mereka terlalu kecewa dengan nasib hutan di Indonesia. Pada 1993, terbit buku terjemahan berjudul Tumbuhan dalam Hutan, bersumber dari Plantas del bosque. Buku itu turut diolah oleh tokoh penulisan flora-fauna di Indonesia: Slamet Soeseno. Anak-anak membaca dengan penasaran dan kekaguman: “Setiap pohon adalah alam semesta kecil. Banyak sekali jenis hewan dan tumbuhan hidup di sana”. Hutan dihuni pohon-pohon sebagai alam semesta kecil. Bocah belajar sains tapi dirangsang imajinasi. Halaman demi halaman terbaca, anak mengerti bahwa hutan memang kehidupan. Mereka kelak tak bakal kaget bila membaca berita tentang tetumbuhan di hutan digunakan untuk obat-obatan. Mereka pun berbahagia bila hutan-hutan di Indonesia dan dunia tetap terlindungi tanpa penghancuran berkonsekuensi bencana-bencana.


Halaman demi halaman terbaca, anak mengerti bahwa hutan memang kehidupan. Mereka kelak tak bakal kaget bila membaca berita tentang tetumbuhan di hutan digunakan untuk obat-obatan. Mereka pun berbahagia bila hutan-hutan di Indonesia dan dunia tetap terlindungi tanpa penghancuran berkonsekuensi bencana-bencana.

Sekian hari lalu, berita datang dari Kalimantan Timur: banjir besar. Kita dan anak-anak mengetahui berita dari televisi, koran, dan media sosial. Sedih. Kita dipaksa berpikiran bencana dan hutan dengan “tapi”. Di Solopos, 19 Januari 2021, judul berita mengandung kritik dan kecewa: “Jokowi Tak Singgung Kerusakan Hutan”. Presiden Joko Widodo mengunjungi Kalimantan Selatan, memberi keterangan mengaitkan banjir dengan hujan, bukan hutan. Curah hujan selama sepuluh hari mengakibatkan Sungai Barito meluap. Banjir. “Meski demikian, dalam kesempatan itu Jokowi tidak menyinggung kerusakan ekologi akibat deforestasi yang terjadi di Kalimantan Selatan dan diduga menjadi penyebab utama banjir besar,” tulis di Solopos. Kita bingung memikirkan hujan dan hutan. Banjir besar itu memprihatinkan gara-gara harus ada pihak bersalah. Kita telat dan gagal lagi mengurusi dan mengartikan hutan.

Kita tak kekurangan ajaran para leluhur bertema hutan, disampaikan sejak ratusan tahun lalu. Kita juga tak kekurangan bacaan untuk sedikit demi sedikit mengerti hutan. Di buku berjudul Hutan (1979) garapan Peter Farb, kita membaca: “Segala kehidupan di hutan berkaitan erat dengan kehidupan lain. Rantai hubungan ini berawal pada matahari. Hutan terjadi karena tenaga matahari. Hanya tetumbuhan hijau dapat mengubah tenaga matahari menjadi tenaga gula dan mengawali daur ulang pangan yang meliputi segala kehidupan hutan. Simpanan tenaga ini diolah menjadi daging oleh binatang pemakan tetumbuhan.” Kita seperti membaca ajaran luhur bergelimang makna. Di buku-buku pelajaran atau pengisahan, hutan itu terlalu penting bagi kita. Kini, kita mengetahui berita tapi merasa “bersalah” bila melulu memberi omelan mengenai kekuasaan dan bisnis besar menjadikan hutan-hutan merana mengakibatkan bencana-bencana. Begitu.


Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

51 tampilan
Search By Tags