Cari
  • Sindhunata

Harapan di Malam Sunyi

LAMA sudah, Natal identik dengan keramaian. Mal-mal hiruk pikuk dengan orang belanja. Pohon-pohon Natal gemerlapan. Pelbagai macam kue khas Natal ditawarkan. Sinterklas berpakaian merah di mana-mana menambah meriah. Lagu-lagu Natal bersahut-sahutan. Romantis kedengarannya. Dan tentu saja, lagu yang paling indah terdengar adalah Stille Nacht, lagu “Malam Kudus, sunyi senyap” yang terkenal itu.

Di negara-negara Barat, sambil mendengarkan lagu-lagu Natal, di pusat-pusat keramaiannya, di tengah udara musim dingin yang mencekam, orang- orang minum anggur hangat yang sedap. Natal memang memberi semua yang dibutuhkan. Tetapi, di masa Natal ada sesuatu yang kurang, justru yang berkenaan dengan makna intinya, yakni keheningan, kesederhanaan, dan harapan. Padahal, itulah hal yang menjadi asal-usul kelahiran lagu "Malam kudus".


Natal memang memberi semua yang dibutuhkan. Tetapi, di masa Natal ada sesuatu yang kurang, justru yang berkenaan dengan makna intinya, yakni keheningan, kesederhanaan, dan harapan.

Lagu "Malam Kudus" diperdengarkan pertama kali pada tahun 1818 di gereja kecil Obendorf, 20 kilometer utara Kota Salzburg, Austria. Jadi, usianya sudah 202 tahun. Sekarang, lagu itu telah diterjemahkan ke dalam 300 bahasa, dan pada tahun 2011 UNESCO mengakuinya sebagai warisan kultural dunia. Kita akan mengetahui makna asli lagu "Malam Kudus" itu, jika kita mau menyimak riwayat penciptanya, Pastor Joseph Mohr (1792-1848). Paparan dari sejarawan ilmu pengetahuan musik di Salzburg, Prof. Thomas Hochradner bersama Michael Neureiter, presiden perkumpulan Stille Nacht ini kiranya bisa memberi sedikit gambaran siapakah Pastor Joseph Mohr.

Mohr lahir tahun 1792. Ibunya, Anna, seorang perajut. Ayahnya seorang serdadu, yang minggat, ketika mendengar Anna mengandung. Ayahnya tak pernah kembali lagi. Jadi, Mohr lahir sebagai anak di luar nikah, demikian pula kedua adiknya. Beruntung, Mohr bisa belajar musik dan kemudian bisa memperoleh sedikit nafkah dari kegiatan musiknya. Ia belajar dan tahun 1815 ditahbiskan menjadi imam. Ia ditugaskan di Mariapfarr, tempat kelahiran ayahnya. Ia mendengar, ayahnya sudah gugur di medan perang. Ia hanya bisa menemukan kakeknya.


Zaman Mohr hidup adalah zaman perang, ketika Napoleon berkuasa dan meluaskan kekuasaannya. Perang Napoleon pecah. Hidup di Salzburg betul-betul susah. Penjarahan dan pengungsian terjadi di mana-mana. Penduduk terancam kemiskinan dan kelaparan. Belum lagi antara 1810-1820, Eropa dilanda musim dingin berkepanjangan. Suhu udara turun drastis. Banjir merajalela, menggagalkan panen. Pegunungan Alpen jadi beku. Lebih parah lagi, pada saat itu Eropa terkena dampak letusan Gunung Tambora di Indonesia. Abunya membubung sampai ke sana, menutupi sinar matahari sehingga langit jadi gelap.


Tahun 1816, musim dingin betul-betul keras, diikuti musim semi, panas, dan gugur, dengan hujan yang terus turun. Itulah saat yang dikenal sebagai Jahr ohne Sonne, tahun tanpa matahari. Mereka yang punya uang pun tidak dapat berbelanja, karena barang-barang memang tidak tersedia. Di wilayah Alpen, orang sampai harus makan rumput dan siput. Di Salzburg, orang dianjurkan melapisi rotinya dengan bekatul dan tepung kayu.

Eropa benar-benar menderita kelaparan, tak terkecuali Mariapfaar, tempat Romo Mohr bertugas. Tahun 1816, suhu udara tidak pernah naik di atas titik beku. Musim dingin terkubur dalam salju. Waktu kecil, Romo Mohr sudah menderita TBC. Penyakitnya ini kambuh karena udara yang sangat dingin. Sementara pada saat itu ia harus menguburkan kakeknya, yang belum lama dikenalnya. Pada saat seperti itulah

ia menuliskan puisinya,

Stille Nacht: Stille Nacht, heilige Nacht!

Alles schläft, einsam wacht

nur das trauete, heilige Paar.

Holder Knab im lockigten Haar,

schlafe in himmlicher Ruhe

(Malam kudus, malam suci!

Semuanya terlelap, sunyi senyap

hanya sepasang insan setia berjaga

Anak manis rambutnya berikal

Pulas tertidur dalam kedamaian surgawi).

Kita akan bisa lebih meresapi isi Stille Nacht bila sambil menyanyikannya kita membayangkan riwayat Romo Mohr, penciptanya. Ia adalah anak yang lahir di luar nikah. Ibunya miskin, ditinggal ayahnya. Sendiri, si ibu harus membesarkannya. Dengan nasib seperti ini, kiranya ia pasti bisa lebih merasakan nasib Yesus, anak Allah yang menjadi bayi lemah, yang lahir dari ibu Maria yang miskin. Maria juga harus mengandung-Nya dengan diam- diam, seperti yang dialami oleh Anna, ibu Romo Mohr. Syukurlah, Maria mempunyai tunangan Yosef yang mau menerimanya. Sungguh kesepian yang mencekam. Dalam kesepian itulah Romo Mohr membayangkan Yesus tertidur dalam kedamaian surgawi.

Aslinya, Stille Nacht terdiri dari 6 bait. Bait pertama, kedua, dan keenam adalah bait-bait yang biasa kita kenal dalam lagu Malam Kudus. Sementara bait kelima ini mungkin tidak kita kenal:

Stille Nacht! Heilige Nacht!

Lange schon uns bedacht, Als der Herr vom Grimme befreit

In der Väter urgrauer Zeit

aller Welt Schonung verhieß

Aller Welt Schonung verhieß

(Malam sunyi, malam kudus

Sudah lama jadi rencana

Ketika Tuhan menarik amarahnya

menjanjikan keselamatan bagi seluruh dunia).


Bait ini berkenaan kisah banjir pada zaman Nabi Nuh, ketika Tuhan berjanji takkan ada banjir yang datang merusak dunia lagi. Jelas, bait ini berisi harapan manusia pada zaman Romo Mohr: semoga bencana banjir, musim dingin berkelanjutan, dan tahun yang tanpa musim panas itu akan menghilang, dan manusia hidup lagi dalam keselamatan.


Tahun 1817, Romo Mohr ditugaskan menjadi kapelan di Oberndorf. Umatnya adalah orang-orang sederhana, kebanyakan pekerja kasar dan pekerja garam. Saat itu Romo Mohr berkenalan dengan Franz Xaver Gruber, seorang guru dan organis gereja. Mohr meminta Gruber untuk mengarangkan lagu bagi puisinya, Stille Nacht. Lalu, lagu itu diperdengarkan untuk pertama kalinya pada 24 Desember 1818 di Gereja Obendorf.

Mereka berdua menyanyikan, Romo Mohr dengan suara tenor, dan Gruber dengan suara bas. Tanpa iringan orgel, selain karena waktu itu orgel gereja tidak berfungsi dengan baik, juga karena mereka berdua ingin iringan yang sederhana saja. Maka, lagu itu hanya diiringi dengan petikan gitar. Begitulah kelahiran lagu Stille Nacht. Lembut, lirih, kontemplatif, seperti sebuah melodi yang dinyanyikan gembala di padang sunyi pada malam hari. Lagu sederhana itu mulai dikenal, orang-orang amat tersentuh dan menyukainya. Dalam waktu yang tak lama, lagu itu bergema di mana-mana, sampai kini, di seluruh dunia.

Natal tahun 2020 ini kita rayakan di tengah kita dilanda pandemi Covid-19. Pasti kita tidak bisa merayakannya dengan pesta meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita merayakannya dalam keprihatinan. Ini justru pas dengan isi, maksud, dan suasana ketika Stille Nacht dilahirkan, 202 tahun lalu. Maka, baik kiranya jika ketika kita menyanyikan "Malam Kudus", kita juga merasakannya dengan mengingat akan riwayat kelahirannya. Semoga kita juga mau merenungkan isi bait ke lima Stille Nacht, yang mungkin tidak kita kenal.

Jika 200 tahun lalu pada zaman Romo Mohr, dunia dilanda bencana mengerikan, sekarang dunia kita juga sedang dilanda bencana pandemi yang menyakitkan, Covid-19 yang juga telah menelan banyak korban. Bait kelima itu berisi harapan, Tuhan akan menyingkirkan bencana. Semoga pada Natal tahun ini, kita juga merayakan harapan, semoga karena kemurahan Tuhan, pandemi Covid-19 segera pergi pada tahun mendatang nanti. Stille Nacht, Heilige Nacht.


---------------------


Red.: Naskah ini telah dimuat dalam Majalah Utusan Desember 2020



388 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email