Cari
  • Bandung Mawardi

Gorengan Itu Idaman

HIDUP di Indonesia, hidup dengan gorengan. Cerita lama tak mungkin terlupa. Di sejarah Indonesia, gorengan teringat berlatar ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Gorengan bukan selesai sebagai makanan. Cerita-cerita “tambahan” bermunculan mengikuti situasi-situasi berubah. Di Indonesia, gorengan itu sumber cerita berkepanjanga. Cerita masih bersambung sampai abad XXI.


Di majalah Panjebar Semangat edisi 20 Juni 1964, kita membaca petikan dari tulisan Sarwaguna: “Tahu lan tempe iku jen diutjapake nganggo basa dek djamane ana ing pangungsen antarane taun 1945-1950 ditjekak TST tegese Tahu Sama Tempe. Ija wis kauningan, tahu lan tempe iku klebu ing antarane pangan kang raket banget sesrawungane karo rakjat, kadjaba dadi sesulihe lawuh kang murah regane, uga sok dadi lawuh njamikan kaja bangsa panganan njamikan lijane.”


Tahu dan tempe biasa digoreng untuk bersanding bersama nasi. Tahu dan tempe dinamakan gorengan kadang bersekutu dengan cabai rawit. Pada masa-masa sulit, kemauan mengadakan gorengan menghitung anggaran untuk minyak goreng. Dulu, orang-orang tak menggampangkan apa-apa digoreng berkaitan anggaran. Urusan kenikmatan mungkin di depan tapi hal-hal memberatkan anggaran atau merepotkan bisa membatalkan pembuatan gorengan. Orang-orang memiliki cara-cara agar tahu dan tempe tak selalu gorengan. Memasak atau membuat santapan masih mungkin tak terlalu membutuhkan minyak goreng.


Pada masa 1950-an dan 1960-an, tahun dan tempe mungkin digoreng masuk dalam propaganda pemerintah: 4 sehat 5 sempurna. Propaganda tak dibarengi penjelasan khasiat dan dampak-dampak orang-orang suka menikmati gorengan. Ketersediaan minyak goreng pun belum memungkinkan pengajaran sehat. Dulu, produksi minyak goreng dijual di pasar cuma memiliki sedikit merek. Pelbagai pihak belum berlagak meriset atau membuat penilaian-penilaian atas konsekuensi penggunaan minyak goreng secara sembarangan.

Nji S Hadisutirta dalam buku berjudul Makanlah Makanan jang Sehat (1953) mengingatkan: “Memasak membutuhkan djuga fikiran. Sebab djurumasak harus memutar fikiran, supaja dapat mentjapai makanan jang sehat dan manfaat untuk badan, sesuai dengan keuangan jang diterimanja. Selain itu memerlukan djuga pengetahuan kesehatan dan kebersihan.” Pada masa 1950-an, minyak goreng dan kesehatan belum ramai terpikirkan secara ilmiah berdasarkan riset-riset. Situasi berbeda dengan abad XXI dengan pengumuman mengenai risiko bagi orang-orang mengonsumsi makanan berminyak goreng.


Di buku berjudul 60 Tahun Unilever di Indonesia 1933-1993 susunan HW Wamsteker, kita membaca sejarah industri minyak goreng di Indonesia dipengaruhi Perang Dunia I dan II. Pemilik modal asal Eropa sudah berhitung untung-rugi dalam mengadakan bisnis minyak goreng. Pada masa setelah Peran Dunia II, kebutuhan minyak goreng meningkat. Orang-orang masa lalu ingat ada godaan penggunaan minyak goreng bermerek Delfia. Pada masa berbeda, jumlah merek bertambah dan kebutuhan minyak goreng terus bertambah mengartikan ada pengesahan orang-orang Indonesia adalah penikmat gorengan, selain beragam jenis masakan.


Kegemaran bersantap gorengan makin terbuktikan bila kita membuka halaman-halaman buku berjudul Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia (1967). Di situ, kita membaca kebutuhan minyak goreng untuk beragam masakan di Indonesia terhitung tinggi. Orang-orang memiliki ketergantungan dengan minyak goreng, bukan cuma untuk manja makan gorengan saat pagi dan sore atau disantap saat hujan. Minyak goreng mulai “wajib” ada di dapur-dapur, dipengaruhi pula iklan-iklan dan cerita-cerita para penikmat kuliner.

Masa demi masa, merek-merek minyak goreng diajukan melalui iklan-iklan di majalah wanita (Femina, Kartini, Sarinah, dan Pertiwi). Kita mengerti bila kebutuhan minyak goreng terus bertambah. Pengecualian adalah situasi buruk saat krisis 1997-1998, orang-orang kebingungan dalam mendapatkan minyak goreng gara-gara langka dan mahal. Pada masa 1980-an dan 1990-an, kita malah mendapat pengajaran berlebihan dalam penggunaan minyak goreng. Iklan-iklan minyak goreng di majalah menggunakan gambar dan bahasa memikat, menjadikan ibu-ibu terpikat demi menghasilkan masakan lezat atau nikmat.


Iklan-iklan di televisi makin memberi pesona. Sekian merek minyak goreng berani menjadi sponsor untuk acara-acara memasak disiarkan di televisi. Minyak goreng juga tampil dalam lomba-lomba memasak sering diadakan pelbagai institusi di Indonesia. Lomba-lomba itu kadang dibesarkan dengan pemberian hadiah menggunakan nama pejabat atau tokoh-tokoh penting di Indonesia. Minyak goreng dengan sekian merek makin diperlukan dan teranggap sumber kenikmatan di Indonesia.


Masa-masa indah bersama minyak goreng itu mulai “diganggu” dengan beragam penelitian dipublikasikan sebagai peringatan. Orang-orang mulai ribut, ragu, dan bingun untuk menikmati masakan berminyak goreng. Isu-isu lingkungan turut membesarkan masalah-masalah minyak goreng. Sekian pihak mulai mengadakan minyak goreng berdalih tak terlalu merusak alam dan merusak kesehatan. Ada pihak-pihak melakukan usaha daur atas minyak goreng bekas. Segala hal terumumkan makin membuktikan minyak goreng itu idaman dan petaka.


Di Kompas, 13 November 2021, kita sima ulasan bisni oleh H Widi dijuduli “Ekonomi Gorengan”. Indonesia memang masih gemar minyak goreng. Beragam laporan diajukan untuk pemastian Indonesia berminyak goreng. Harga minya goreng tinggi akibat “ini” dan “itu” tapi orang-orang masih terus menginginkan gorengan dan segala masakan berminyak goreng. Kita mungkin lelah dengan urusan pasar atau kebijakan pemerintah.

Simak saja sejenis kegembiraan di Indonesia: “Indonesia kaya dengan aneka ragam gorengan. Hampir setiap daerah di Nusantar memiliki gorengan khas. Bahkan, sebuah gorengan yang bahan dan olahannya sama memiliki nama yang berbeda di setiap daerah. Saking beragamnya di Indonesia, sebuah gorengan yang sama dinamai berbeda, bakwan, misalnya. Gorengan itu juga disebut bala-bala di Jawa Barat, serta weci/heci, hongkong, dan ote-ote di beberapa daerah di Jawa Timur. Bakwan juga dinamai kandoang di Kendari, Sulawesi Tengah, dan makau atau macau di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bahkan di Jawa Tengah, bakwan disebut juga pia-pia dan badak.” Kalimat-kalimat itu seperti ingin mengesahkan orang-orang Indonesia mengalami suka duka dan bertaruh hidup-mati bersama pelbagai gorengan, tak cuma bakwan.


Kita sampai paragraf agak mencengankan: “Dengan harga rata-rata paling murah RP 1.000 per biji, gorengan menjadi penggerak ekonomi Indonesia. Taruhlah dalam sehari 191 juta orang atau sekitar 70 persen penduduk Indonesia mengonsumsi rata-rata tiga gorengan, uang yang bergulir sebesar RP 537 miliar per hari. Sebulan, nilai ekonomi gorengan bisa mencapai RP 17,19 triliun.” Kita belum perlu menggunakan kalkulator. Sekian minggu, harga minyak goreng tetap tinggi. Ibu-ibu sedih dan mengeluh saat suami dan anak masih saja menginginkan ada gorengan di atas meja. Warung-warung juga tetap ingin mengadakan gorengan untuk para pelanggan atau pembeli. Pedagang-pedagang susah membuat kalimat terbijak dan tergalak atas peran pemerintah dalam mengurusi minyak goreng di seantero Indonesia. Pemerintah mungkin tak berminat atau susah mengerti tema gorengan. Begitu.



Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

46 tampilan
Search By Tags