Cari
  • Bandung Mawardi

Dongeng dan Buku

DI Kompas, 1 Desember 2020, pembaca dikenalkan dengan Eklin Amtor de Fretes, pendongeng di Maluku. Ia mengingat masa saat terjadi konflik sosial bernuansa agama, sekian tahun lalu. Mendongeng dipilih agar pulih dan damai. Sejak 2018, ia mulai mendongeng membawa pesan damai. Mendongeng dengan boneka. Jalan mendongeng ditempuhi sampai sekarang, mengajak anak-anak dan remaja mengisahkan damai di Maluku. Pengenalan tokoh itu mungkin berkaitan peringatan Hari Dongeng Naional mulai diselenggarakan sejak 28 November 2015. Permufakatan memuliakan para pendongeng di seantero Indonesia, dari dulu sampai sekarang.


Pada 2020, mendongeng turut ditimpa masalah. Bocah-bocah masih di rumah, dianjurkan terus belajar tapi “kebingungan” mencari hiburan. Selama sekian bulan, bocah-bocah menanggungkan nasib buruk akibat wabah. Mereka berada dalam “dongeng kolosal” berisi duka, ketakutan, sedih, bosan, marah, kecewa, tabah, dan murung. Di pelbagai negeri, bocah-bocah memerlukan hiburan tapi “keterlaluan” diladeni oleh televisi dan internet. Di keseharian, hiburan-hiburan itu mungkin memicu ketagihan dengan konsekuensi-konsekuensi besar. Bocah-bocah belum dianjurkan berkumpul atau berada dalam kerumuman untuk menjadikan raga, pikiran, dan imajinasi bergerak.


Di rumah, orangtua belum tentu pendongeng. Bocah-bocah pun belum tentu menemukan buku-buku cerita. Setiap hari, mereka melulu berhadapan buku-buku pelajaran. Kita mungkin mengidamkan situasi seperti penjelasan Dian Vita dalam Basis, nomor 11-12, Tahun ke-69, 2020: “Pengalaman pertama tentang membaca yang menyenangkan akan selalu membayangi bocah. Di pangkuan ayah, di ruang keluarga bersama ibu dan kakak, di tempat tidur sesaat sebelum terlelap, di mana pun, suara-suara ayah atau ibu yang membaca cerita menjadi semacam mantra….” Pengalaman itu menggairahkan bocah rajin membaca buku, menikmati cerita-cerita dengan kesanggupan dalam permainan tafsir.

Kita mengingat dongeng, buku, keluarga, rumah, dan segala hal mumpung dalam peringatan Hari Dongeng Nasional, 28 November 2020. Peringatan sebagai bentuk penghormatan kepada Suyadi: mengingatkan Pak Raden dalam serial Si Unyil di TVRI masa Orde Baru dan buku-buku cerita. Peristiwa mendongeng atau membacakan buku cerita pada masa wabah mungkin “kenikmatan” sambil menanggulangi sedih terus berdatangan dan bosan melanda setiap hari. Hari Dongeng Nasional belum menghendaki bocah-bocah berkumpul dalam acara-acara menggirangkan. Kini, rumah menjadi tempat terpenting mengartikan lagi dongeng dan buku dalam biografi bocah dalam pengasuhan keluarga dan pendidikan selera sekolah.

Murti Bunanta dalam Buku, Mendongeng, dan Minat Membaca (2008) menganjurkan pembiasaan mendongeng di rumah oleh orangtua dan guru mendongeng dalam mengajar-mendidik di sekolah. Penjelasan-penjelasan berlimpahan tentang pelbagai hal masih memerlukan cerita. Bocah-bocah cenderung menerima cerita untuk mengetahui, menimbang, mendalami, membantah, atau memberi ralat pengetahuan-pengetahuan. Penjelasan agak klise: “Orang tua sering menuntut anaknya untuk gemar membaca, tetapi kebanyakan mereka lupa bahwa minat baca tidak bisa datang dengan sendirinya. Minat baca harus dipupuk dari dalam keluarga sendiri.”


Hari Dongeng Nasional belum menghendaki bocah-bocah berkumpul dalam acara-acara menggirangkan. Kini, rumah menjadi tempat terpenting mengartikan lagi dongeng dan buku dalam biografi bocah dalam pengasuhan keluarga dan pendidikan selera sekolah.

Anjuran bisa terbantah bila kita membaca khatam novel berjudul Matilda (1991) gubahan Roald Dahl. Novel bertebaran sindiran melalui bocah perempuan bernama Matilda: keranjingan membaca tapi tak mendapat restu dan sokongan dari bapak, ibu, saudara, teman, guru, dan kepala sekolah. Keranjingan membaca buku malah “petaka”. Novel itu cuma sinisme ingin menggoda pembaca menilik ulang masalah buku, anak, keluarga, sekolah, dan perpustakaan. Bapak dan ibu tak mengajari Matilda membaca buku. Kebiasaan membaca justru memicu bapak dan ibu curiga dan “memusuhi” Matilda. Di rumah, Matilda suka membaca buku tapi dianggap seperti “ketombe atau bisul menjengkelkan” oleh bapak dan ibu. Pada suatu hari, Matilda meminta dibelikan buku baru tapi bapak menjawab mengandung marah: “Apa kurangnya televisi? Kita sudah punya televisi yang bagus, berukuran dua belas inci! Sekarang minta buku lagi. Kau ini mulai manja!”






Sindiran itu berlaku sekarang. Para orangtua kadang membiarkan atau sengaja memberi hiburan untuk anak-anak melulu televisi dan gawai. Buku belum tentu masuk dalam daftar penting pertanggungjawaban orangtua. Peristiwa mendongeng lekas tergantikan oleh tontonan tersaji melimpah di televisi dan gawai. Buku-buku di rumah mungkin cuma “lelucon”. Pengecualian tentu berlaku bagi orangtua memiliki tata cara membarakan kemauan membaca anak-anak dengan berlangganan koran, tabloid, majalah, dan membiasakan berbelanja buku setiap bulan.


Sindiran itu berlaku sekarang. Para orangtua kadang membiarkan atau sengaja memberi hiburan untuk anak-anak melulu televisi dan gawai. Buku belum tentu masuk dalam daftar penting pertanggungjawaban orangtua.

Pada 1989, terbit buku dokumentatif berjudul Anak, Bacaan, dan Mainan bermula dari acara diselenggarakan di Bentara Budaya, Jakarta. Acara melibatkan para pakar dan penerbit-penerbit memiliki misi menerbitkan buku-buku anak bermutu. Di situ, kita membaca iklan Aya Media mengandung petuah: “Pada saat membaca bersama akan tercipta suasana intim dalam keluarga, di mana anak-anak akan selalu mengingatnya. Demikian juga, seisi rumah pun tidak akan melupakan kenangan indah itu.” Pada abad XXI, industri buku anak semakin ramai. Kita mendapat sekian godaan untuk membeli buku-buku digubah pengarang Indonesia atau edisi terjemahan dari pengarang-pengarang bertaraf dunia. Keberlimpahan buku anak belum tentu ditanggapi orangtua dengan lekas membeli dan menjadikan “penghuni” rumah, mengiringi biografi keluarga.

Kita masih menanggungkan wabah. Anggaran untuk berbelanja koran, majalah, dan buku mungkin berkurang berdalil pemenuhan kebutuhan pokok dan mengurusi pembelajaran menggunakan gawai. Ingatan atas ketokohan Suyadi dan Hari Dongeng Nasional mungkin bisa dimaknai dengan memberi hadiah buku untuk anak-anak, membelikan di toko buku atau membeli di lapak para pedagang daring. Hadiah sederhana tapi menandai kemauan menghadirkan buku-buku dalam rumah. Para orangtua bisa membelikan beragam buku sesuai selera atau ketersediaan anggaran.


Ikhtiar mengenalkan Suyadi atau Pak Raden bisa dituruti dengan membeli buku-buku ditulis Suyadi, terbit sejak masa 1970-an. Gagal menerbitkan edisi-edisi lama, orangtua bisa membelikan cetak ulang dua buku berjudul Pedagang Peci Kecurian (2017) dan Seribu Kucing untuk Kakek (2017). Di situ, ada keterangan biografis: “Pada 1972, Suyadi mendapat penghargaan sebagai ilustrator buku terbaik buku anak-anak dari Komite Nasional Tahun Buku Internasional UNESCO, untuk bukunya Gua Terlarang. Pada 1998, bukunya yang berjudul Timun Mas mendapat penghargaan sebagai buku anak terbaik oleh Adikarya IKAPI.” Kini, orangtua berhak berjanji memenuhi pengharapan bocah atas dongeng dan buku. Begitu.

_____________

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

112 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email