top of page
Cari

Diari Sekolah Basis 2.0 | Hari #6 | Estetika Adorno: Musik, Masyarakat, dan Pendidikan




ANAK pertama saya, Kak Asa, memiliki kesulitan membaca. Hasil test psikologi mendiagnosis dia memiliki gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas). Dia sulit memfokuskan diri pada suatu objek dan mudah beralih perhatian. Di usia 17 tahun ini, untuk membaca, Kak Asa dibantu adiknya.


Beruntung, Kak Asa memiliki telinga yang peka. Melalui telinganyalah, informasi dari luar diolah dan dipertanyakan. Telinga menjadi pintu masuk informasi bagaimana kemampuan kognisinya berkembang.


"Yah, mengapa air terjun A suaranya berbeda dengan air terjun B?" ucapnya suatu hari, setelah kami selesai mengunjungi sebuah air terjun. Sungguh pertanyaan yang cukup mengejutkan.


"Suara air terjun itu ditentukan oleh tinggi air terjun, debit air, lingkungan air terjun seperti dinding bukit, dan lainnya, termasuk posisi kita," jawabku.


Pertanyaan lain: "Yah, mengapa suara kereta eksekutif beda dengan suara kereta ekonomi, dan KRL?" Sebagai pencinta kereta api, anak sulung ini sering mengunjungi stasiun Gawok, di Kartasura, Sukoharjo.


Anak-anak seperti Kak Asa ini, dalam pantauan saya, berjumlah banyak. Kesulitan membaca karena indra matanya sulit sekali fokus, dan lebih mengandalkan telinga. Telingalah pintu masuk informasi, dan juga, tentunya, ilmu pengetahuan. Cara belajarnya pun berbeda dengan anak yang tidak kesulitan untuk membaca. Telinga mereka adalah mata dunia. Dari telinganyalah, ilmu pengetahuan bisa diajarkan.


Saya lantas berpikir, bahwa musik, yang menahbiskan suara sebagai mediumnya, bisa menjadi alat yang membantu anak-anak seperti kak Asa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan secara lebih paripurna. Bagaimana caranya? Dalam bentuk apa? Banyak pertanyaan mengenai musik ini.


Dalam pertemuan ke-6 Sekolah Basis malam ini, "Estetika Adorno: Musik, Masyarakat, dan Pendidikan", saya dikenalkan pada fungsi penting musik dalam ranah yang lebih dalam, yaitu membebaskan dan mencerahkan.


Mengenal Adorno, Salah Satu Tokoh Sekolah Frankfurt

Theodor Ludwig Wiesengrund Adorno (11 September 1903 – 6 Agustus 1969) dikenal sebagai sosiolog, filsuf, dan musikolog. Sosok Adorno menjadi sosok penting dalam dalam lanskap filsafat Barat — khususnya Neo-Marxisme — dan merupakan Mazhab Frankfurt. Sumbangan penting dari pemikirannya adalah kritik atas industri musik yang bergeser dari nilai seni kepada konsumerisme. Pergeseran ini merupakan bentuk penindasan terhadap manusia yang dilakukan kapitalisme.


Sosok Adorno menjadi sosok penting dalam dalam lanskap filsafat Barat — khususnya Neo-Marxisme — dan merupakan Mazhab Frankfurt. Sumbangan penting dari pemikirannya adalah kritik atas industri musik yang bergeser dari nilai seni kepada konsumerisme. Pergeseran ini merupakan bentuk penindasan terhadap manusia yang dilakukan kapitalisme.

Karina Andjani menjelaskan sosok Adorno ini penting untuk diketahui dan dipelajari karena pemikirannya mengenai musik bisa mengekspresikan kebenaran tentang realitas dan mendorong emansipatoris. Musik memiliki potensi kritis, dilihat dari cara komponis mengolah materi musikal.


Adorno memandang dan meyakini, bahwa musik tidak berbeda dengan filsafat. Keduanya mampu menganalisis realitas, bisa memperumit hal yang sederhana, bisa mengacaukan hal yang biasa dan dinilai wajar, juga menantang kondisi mapan atau status quo dengan mendorong munculnya kesadaran kritis. Contoh kondisi status quo yang bisa didobrak oleh musik adalah keterasingan pada kehidupan, penderitaan hidup, dan kontradiksi hidup.


Adorno berpendapat bahwa kesadaran yang benar di dunia yang sudah salah ini merupakan hal mustahil. Di kondisi inilah, musik dapat memainkan perannya (seperti halnya filsafat) untuk mengatakan kebenaran sekaligus mendorong terjadinya perubahan, sehingga terbentuk masyarakat yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih bebas.


Singkatnya, musik bisa dijadikan alat yang mampu menggambarkan realitas, yang mampu menyingkap realitas bahkan yang penuh dengan teka-teki, dan juga memberikan solusi untuk terbebas dari realitas yang membelenggu (kesadaran dan kebebasan).


Musik dan Pendidikan

Apakah peran musik dalam lingkup pemikiran Adorno berguna dalam dunia pendidikan? Menurut saya, sih, musik sangat penting dalam dunia pendidikan. Adorno menilai musik bisa menumbuhkan pemikiran kritis pada siswa. Musik juga bisa mengekspresikan kebenaran realitas dan menawarkan perspektif baru. Musik juga bisa mengajarkan empati. Selaras dengan perspektif pendidikan Ki Hajar Dewantara mengenai musik, bahwa musik mampu membantu keteraturan rasa dan menjadi cara menghumanisasi siswa.


Setelah mengikuti sesi ke-6 Sekolah Basis ini, sebagai orang tua dengan anak yang sudah mengenyam dunia pendidikan tingkat menengah, banyak pertanyaan yang muncul, terutama pada sisi praktis, bagaimana musik bisa menjadi sarana pendidikan untuk mencerdaskan,membebaskan, bahkan mencerahkan anak-anak. Pemikiran Adorno ini masih perlu dielaborasi hingga ke tingkat praktis oleh kalangan pendidik. Mungkin juga oleh orang tua. Pendidikan akan menjadi lebih baik jika semua pihak terlibat. Bukankah begitu?



#sekolahbasis #sekolahbasismusimkedua #majalahbasis #majalahkebudayaan #filsafat #pendidikan #filsafatpendidikan #adorno #theodoradorno #estetika #estetikaadorno #musik #masyarakat #musikmasyarakatpendidikan #ayuutami #bilangan.fu #karinaandjani #srihanuraga #majalahbasisarundayataufiq

15 tampilan
bottom of page