Cari
  • Bandung Mawardi

Di Restoran

Ingat kota, ingat restoran. Ingat makan, ingat restoran. Tiga perkara itu masih terceritakan sampai sekarang: kota, restoran, makan. Sejarah mungkin teringat. Kita mengikuti ingatan Muharyo dalam buku berjudul Sepanjang Jalan Kenangan (1988). Pada kunjungan ke Semarang, ia ingat tokoh dan tempat. Ia mengingat: “Tetapi yang paling mengesankan saya adalah riwayat Oen Tjoen Hok. Ini seorang raja restoran di tahun tiga puluhan. Dia adalah pemilik toko Oen yang ada di Yogyakarta, Semarang, Jakarta maupun Malang.” Tempat itu restoran tapi dinamakan toko. Penamaan warung makan mungkin terasa rendahan. Suguhan andalan adalah bestik. Para tokoh kondang masa 1930-an sering makan enak di situ. Pada masa berbeda, sekian restoran tutup, tersisa di Semarang saja.



Kota teringat dengan restoran-restoran. Sejarah itu mula-mula berlangsung di Eropa dan Amerika Serikat. Pengisahan kota dan restoran di Indonesia pasti “peniruan”. Kita menduga restoran mula-mula diadakan meladeni kaum Eropa, sebelum “terbuka” untuk bumiputra. Restoran berbeda dari warung makan. Penamaan restoran mentereng ketimbang rumah makan. Kita menggampangkan saja membedakan warung makan, rumah makan, dan restoran itu berdasarkan penampilan bangunan-ruangan, menu, penampilan, hiburan, dan harga. Pembeda lain mungkin penamaan. Restoran kondang boleh saja menggunakan nama berbahasa asing (Inggris, Prancis, Itali, dan lain-lain). Warung makan atau rumah makan pantas menggunakan nama dalam bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Pada masa sekarang, warung makan, rumah makan, dan restoran mulai menggunakan nama berbahasa Arab ingin mengesankan religius.


Muharyo mengunjungi Semarang masa lalu ingat restoran dan makan bestik. Pada 2021, Semarang memiliki restoran baru. Bukalah Suara Merdeka edisi 9 Februari 2021, halaman 3! Iklan sehalaman: “Selamat dan Sukses Grand Opening Restaurant Yakiniku Shabu-Shabu, Tentrem Mall Lantai 3, Semarang, Selasa 9 Februari 2021.” Pengumuman saat kebijakan-kebijakan pemerintah mudah disalahpahami publik berkaitan penanggungalan wabah. Sekian hari lalu, Gubernur Jawa Tengah meminta warga “di rumah saja”. Sekian tempat masih ramai. Dua hari berlalu, orang-orang bergerak meninggalkan rumah. Pembukaan restoran mengundang orang untuk membuktikan dan menikmati kelezatan menu-menu di restoran berani mengimpikan keuntungan pada masa wabah. Orang-orang masih berduit boleh makan enak dan membuat sejarah di Semarang.


Sekian hari lalu, Gubernur Jawa Tengah meminta warga “di rumah saja”. Sekian tempat masih ramai. Dua hari berlalu, orang-orang bergerak meninggalkan rumah. Pembukaan restoran mengundang orang untuk membuktikan dan menikmati kelezatan menu-menu di restoran berani mengimpikan keuntungan pada masa wabah. Orang-orang masih berduit boleh makan enak dan membuat sejarah di Semarang.

Berbisnis restoran masih menjanjikan kemonceran dan pendapatan? Lakon berbeda terbaca di Media Indonesia, 7 Februari 2021. Berita berkebalikan dari gembira: “Kurang lebih 1.000 restoran tutup permanen akibat terdampak pandemo Covid-19.” Ketua PHRI Jakarta Sutrisno Iwantono mengatakan: “… para pengusaha dan pengelola restoran-restoran tersebut tidak sanggup lagi ditimpa beban operasional maupun gaji karyawan karena sepinya pengunjung dan jam operasional yang dibatasi.” Hotel-hotel merana, ditambahi restoran-restoran. Di luar dua bisnis besar bagi kaum berduit dan menginginkan kenikmatan, kita membaca juga derita para pengelola warteg di Jakarta. Kita bingung dalam bersikap atas bisnis-bisnis mulai sekarat atau mati.


Tempat makan, menu, harga, gengsi, dan lain-lain membuat kita salah tingkah memberi makna-makna terwajar. Orang tak pernah masuk atau makan di restoran bakal geleng-geleng kepala: rikuh berpendapat.

Penulis pun rikuh meski pernah berada dalam sekian restoran. Ia takut makan, minum, memegang, dan benda. Duduk saja tak tenang. Sekian kata terucap terdengar aneh. Suasana restoran membuat bahasa berantakan. Pada suatu hari, penulis diajak penulis kondang dan sekian tokoh makan di restoran. Takut. Di restoran, daftar menu dilihat, tak berminat dibaca. Pikiran dan perasaan sudah tak keruan. Keputusan terakhir: memesan minuman masih mungkin dinikmati tanpa nama aneh. Adegan hampir satu jam, menikmati minum saja diselingi mengucap kata-kata bila terpaksa turut dalam obrolan. Menit-menit itu kesedihan meski melihat orang-orang bersantap dan bercakap girang. Orang-orang itu bingung dan kasihan melihat penulis cuma menghadapi segelas minuman.


Takut. Di restoran, daftar menu dilihat, tak berminat dibaca. Pikiran dan perasaan sudah tak keruan. Keputusan terakhir: memesan minuman masih mungkin dinikmati tanpa nama aneh. Adegan hampir satu jam, menikmati minum saja diselingi mengucap kata-kata bila terpaksa turut dalam obrolan. Menit-menit itu kesedihan meski melihat orang-orang bersantap dan bercakap girang.

Malam, pulang dari restoran, penulis mampir ke angkringan: makan dan minum sambil mesam-mesem. Di situ, orang-orang tampak menikmati malam dan hidangan “wajar”. Percakapan dan suara radio. Di angkringan, penulis menebus derita. Di Jakarta, penulis pun menderita selama di restoran. Takut. Bersalah. Bingung. Penulis “dipaksa” bersantap menu sudah dipesankan teman-teman dengan pertimbangan mulut dan perut bisa “menerima”. Mata melihat harga: ratusan ribu. Penulis menunduk teringat istri dan anak-anak. Di batin, penulis meminta maaf. Penulis tak berani menjanjikan bakal bisa mengajak istri dan anak-anak masuk restoran. Pulang ke rumah, penulis merasa bersalah berkepanjangan memiliki pengalaman makan di restoran. Berjanji tak mau mengulang. Penulis mungkin juga merasakan pengalaman Onghokham saat mengingat masa bocah dan remaja. Restoran adalah tempat ujian bagi bocah dan remaja dari keluarga terhormat untuk membuktikan telah menetapi tata krama makan. Mereka menempuh ujian dalam memegang sendok, garpu, pisau. Mereka wajib mengerti urutan bersantap dan jenis percakapan. Busana tak boleh sembarangan.


Tahun demi tahun, hotel dan restoran sering memberi kebingungan dan ketakutan. Pada masa wabah, bisnis hotel dan restoran minta perhatian. Situasi terlalu berbeda dengan sejarah kenikmatan makanan di hotel dan restoran masa kolonial. Terbukalah buku berjudul Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 (2016) garapan Fadly Rahman! Sejarah makanan bagi orang-orang memiliki adab dan duit. Fadly Rahman menjelaskan: “Pada dasawarsa kedua abad ke-20 seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Jawa, popularitas rijsttafel semakin meningkat. Pada masa 1920-an mulai banyak bermunculan hotel yang menyajikan hidangan rijsttafel. Hotel-hotel semakin sadar akan hal-hal potensial demi menarik wisatawan dan tampak mulai mengadakan peningkatan fasilitas penyajian makan bagi para tamunya.” Di luar hotel, restoran-restoran makin bertambah dan mencipta makna-makna memukau di tanah jajahan.


Pada masa berbeda, restoran tetap pusat kenikmatan makanan dan pembentukan sejarah berselera. Maruli Pane dalam buku berjudul Etiket dan Netiket (2016) memuat masalah restoran: penting dipelajari bagi orang-orang sadar sopan santun dan pergaulan. Ia mengungkapkan: “Sediakanlah waktu dan dana sekali-sekali mengunjungi café atau resto yang baik – dengan anak-anak bila ada – untuk mempelajari kulinernya. Ini bukan sesuatu yang royal bila menganggapnya sebagai investasi pengetahuan bagi anak-anak dan anda sendiri.” Anjuran mudah dipahami.


Indonesia memiliki bab restoran dalam sejarah makan, politik, asmara, identitas, religiositas, dan lain-lain. Restoran-restoran di pelbagai kota menjadi tempat membuktikan pengetahuan dan mencipta kenangan bagi jutaan orang. Sekian peristiwa penting terjadi di restoran. Ratusan tahun berlalu, restoran perlahan dilumrahkan dalam lakon Indonesia. Sekian orang masih saja berpikiran kolot tentang restoran, tak mudah paham atau peka atas situasi mutakhir. Berita mengenai ribuan restoran tutup dan peresmian restoran di Semarang makin membingungkan saat adegan “makan bersama” sedang menjadi tanda seru. Begitu.



Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

37 tampilan
Search By Tags