Cari
  • Bandung Mawardi

Dalang dan Jahe

PADA 1998, terbit buku berjudul Inovasi dan Transformasi Wayang Kulit. Buku itu wagu dalam pembuatan judul. Orang menggandrungi wayang mungkin risih mendapat dua diksi cenderung milik pengusaha, birokrasi, atau pengamat pembangunan nasional: inovasi dan transformasi. Pembahasaan dan penjelasan wayang kulit akhir abad XX memang sulit mengalak dari diksi-diksi asing dan hal-hal asing, tak pernah terpikirkan sejak ratusan tahun lalu.


Buku dengan sampul berwarna biru itu memamerkan foto para tokoh: Ki Manteb Sudharsono, Bagong Kussudiardjo, Ki Timbul Cermamanggala, I Kuntara Wiryamartana, dan Umar Kayam. Mereka adalah dalang dan pemikir Jawa. Tampilan buku tampak lumrah. Pengecualian bila kita melihat bagian pojok bawah. Buku diadakan oleh Lembaga Studi Jawa (Yogyakarta) dan Sanggar Bima (Surakarta). Ada lagi pihak ketiga cukup membuat terkejut: Oskadon. Kita mengingat iklan. Dalang kondang itu sanggup memoncerkan Oskadon. Obat. Perkataan teringat jutaan orang: Pancen oye! Kata-kata bukan bersumber dari epos Mahabharata atau Ramayana. Ucapan itu komersial, tak ada kaitan dengan ajaran leluhur Jawa atau pesan-pesan agung terkandung dalam epos-epos.


Kita membaca artikel pendek Ki Manteb Sudharsono dimuat dalam buku. Ia memang dalang ampuh. Ia mengisahkan babak perubahan: “… dimulai pada 1973, ketika penulis menggunakan drum, bedug, dan simbal dalam pementasan wayang. Tetapi, penggunaan alat-alat tersebut didasarkan pada alasan. Penulis adalah dalang sabet dengan gaya sabet yang mengutamakan pentas dan pakeliran. Maka untuk memperoleh kualitas yang baik sesuai cerita, digunakan alat-alat tersebut. Sehingga bila Werkudara memukul, Gatotkaca memukul, ada suara dhes!” Penjelasan penting dalam kemauan menghidupi seni di Jawa. Di situ, dalang tak memberi penjelasan dampak atau kewaguan bila tokoh dalam wayang mengucap: Pancen oye! Di luar pentas, ungkapan itu telah menjadi “milik” publik, tak sadar lagi mula-mula iklan dan menjelaskan obat, bukan wayang kulit.


Dalang, tokoh berpengaruh. Pada abad XX, dalang dianggap wajar tampil dalam iklan-iklan komersial, selain menjadi pengantar pesan-pesan pembangunan nasional. Pementasan wayang mulai berurusan iklan-komersial dan politik. Lumrah. Ki Manteb Sudharsono berada dalam situasi-situasi menuntut penggamblangan peran dan tebar pengaruh. Biografi dalang masih mengisahkan komersialitas. Di Radar Solo-Jawa Pos, 7 Desember 2020, terbaca berita mengenai dalang dan perusahaan. Di situ, kita disuguhi berita, bukan iklan. Berita berjudul “Perkuat Imun dengan Jahe Merah”. Pembaca menduga bakal mendapat penjelasan mengenai kesehatan dari ahli atau pemerintah. Salah!


Di situ, kita disuguhi berita, bukan iklan. Berita berjudul “Perkuat Imun dengan Jahe Merah”. Pembaca menduga bakal mendapat penjelasan mengenai kesehatan dari ahli atau pemerintah. Salah!

Pembaca boleh salah tingkah. Kutipan: “PT Intrafood Singabean Indonesia meluncurkan produk terbaru Jahe Merah Mantaab menggandeng Ki Manteb Sudharsono melalui pergelaran wayang kulit Sedekah Bumi Nusantara di Pendhapa Sanggar Bima Suwono, Ngemplak, Karangpandan, Sabtu, 5 Desember 2020”. Berita itu berselera iklan. Kita membaca peran dalang kondang: “Ki Manteb Sudharsono memuji produk terbaru yang ditunggu-tunggu oleh masyarakan di tengah meningkatnya angka Covid-19. Dalam acara tersebut, Ki Manteb Sudharsono juga menggambarkan produk Jahe Merah Mantaab melalui informasi keunggulan produk yang diberikan tokoh Petruk kepada tokoh Gareng dan Bagong serta tamu undangan”. Kita belum ingin berdebat masalah berita atau iklan. Kita diberitahu bahwa Petruk memiliki pengetahuan tentang jahe. Pengetahuan bersifat komersial, bukan pengetahuan mulai-mulai bercerita tentang keluarga, rumah, atau kebiasaan keseharian di Jawa.


Pada akhir 2020 dan hari-hari berhujan, kita mendingan memikirkan jahe. Kita tak menonton pementasan wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudharsono. Kita memerlukan pengetahuan tak “ditumpangi” misi-misi perusahaan atau komersial. Kita memilih membaca dua buku pengetahuan. Di keluarga-keluarga Jawa, jahe itu cerita biasa berkaitan makanan, minuman, obat. Di sekolah, murid-murid SD kadang juga mendapat penjelasan dari guru. Jahe itu biasa tapi perlahan menjadi perhatian gara-gara bermunculan pelbagai jenis makanan dan minuman memiliki merek, mengandalkan jahe.


Di buku berjudul Upaboga di Indonesia (2003) susunan Suryatini N Ganie, ada penjelasan pendek mengenai jahe. Penjelasan tak beriklan: “Jahe termasuk keluarga zingiberaceae, disebut juga halia, berasal dari Asia”. Di Indonesia, jahe gampang bertumbuh. Tanaman diakrabi orang-orang desa. Secuil informasi: “Sejak zaman dahulu, orang Cina dan India mengetahui khasiat jahe. Dari sanalah jahe tersebar ke negeri-negeri lain. Mula-mula jahe hanya digunakan sebagai obat-obatan, tetapu lambat laun dipergunakan sebagai campuran minuman, makanan, dan bumbu masak.”


Jahe pun bercerita angkringan. Para pengunjung angkringan-angkringan di Solo memiliki pilihan menu minuman. Orang berdalih mau hangat dan sehat biasa memesan jahe gepuk. Di angkringan, jahe gepuk sering menu andalan. Ingat, jahe gepuk, bukan minuman jahe dari serbuk dalam kemasan memiliki merek. Pengunjung kadang meminta minuman kopi-jahe atau susu-jahe. Di angkringan, harga minuman jahe memiliki tarif melebihi teh atau kopi. Minuman itu semakin diminati saat malam atau musim hujan. Kita tak mengetahui informasi dalam buku dan kebiasaan di angkringan itu termasuk dalam omongan Petruk atau disampaikan oleh Ki Manteb Sudharsono. Kepastian saja bahwa minum jahe itu memang membikin badan hangat: Pancen anget!


Kita tak mengetahui informasi dalam buku dan kebiasaan di angkringan itu termasuk dalam omongan Petruk atau disampaikan oleh Ki Manteb Sudharsono. Kepastian saja bahwa minum jahe itu memang membikin badan hangat: Pancen anget!


Keterangan lanjutan kita peroleh dari buku berjudul Sehat dengan Rempah dan Bumbu Dapur (2016) susunan Made Astawan. Penjelasan dari pakar pangan, gizi, dan kesehatan. Ia tak mendalang tapi memberi tulisan gampang terpahamkan publik. Khasiat jahe: “…. Dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional untuk mengatasi masuk angin, batuk, diare, infeksi, rematik, bronchitis, asma, penyakit jantung, influenza, kembung, luka dan cacingan”. Semua itu meminta keterangan ilmiah. Khasiat lain: “Jahe juga digunakan sebagai pencahar, penguat lambung, penghangat badan, penambah selera makan, serta memperbaiki pencernaan”. Kita simak masalah jahe merah: “Jahe jenis ini memiliki ukuran terkecil, warna rimpangnya jingga muda sampai merah, berserat kasar, aromanya sangat tajam, dan rasanya sangat pedas. Umumnya dipanen tua dan digunakan sebagai komponen obat-obatan dan jamu, serta untuk diambil oleoserin dan minyak atsirinya”.


Jahe bergelimang keterangan. Di desa, keterangan-keterangan itu dimiliki kakek-nenek dan bapak-ibu dari warisan-warisan masa lalu. Pada masa berbeda, bocah-bocah mungkin sudah berkurang pengetahuan setelah mengetahui segala hal melalui iklan dan gampang diperoleh di toko-toko. Kita mungkin membutuhkan cerita-cerita atau lagu-lagu mengenai jahe. Cerita dan lagu tak harus bersaing dengan iklan-iklan. Kita ingin bocah-bocah terhibur dan mengerti tapi tak sewagu bila masalah jahe saja harus disampaikan Petruk dalam pentas wayang kulit. Penjelasan itu tentu berkaitan pamrih komersial ketimbang sosial-kultural. Begitu.


_____________

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

100 tampilan
Search By Tags