Cari
  • Majalah Basis

(Cuma) Prasangka Kelinci Saja


Judul: Rabbit & Bear, Serangan Makanan Ringan. Penulis: Julian Gough. Ilustrator: Jim Field. Penerjemah: Grace Dermawan. Penerbit: Elex Media Komputindo. Cetak: Pertama, 2019. Tebal: 103 halaman. ISBN: 978-602-04-9853-9

KELAHIRAN bacaan anak melegenda, tidak sekadar ditafsir untuk kebutuhan pedagogis dalam tumbuh kembang anak. Ikon-ikon keaksaraan dengan rupa khas yang bertahan bertahun-tahun kemudian, juga terlibat dalam daya tanggap menghadapi hal-hal (besar) yang tengah melanda dunia. A.A. Milne menulis Winnie the Pooh setelah pulang dari bertugas pada Perang Dunia I. Winnie the Pooh memang awalnya mendokumentasi kehidupan bermain anak A.A.Milne-Christopher Robin dan boneka-boneka binatangnya. Winnie the Pooh (1926) pun mengajukan keluguan kembali saat Eropa telah memasuki era industrialisasi yang membuat orang-orang berpikir secara mekanis dan materialis.


Enid Blyton melahirkan anak-anak lincah, seru, banyak akal, dan ceria di Sapta Siaga dan Lima Sekawan, yang sebenarnya sangat menegasi bagian masa kecilnya yang muram. Dia sadar kemuraman dan ketidakbahagiaan masa kecil itu bisa sangat dialami setiap orang. Tokoh-tokoh dalam cerita itulah yang bertugas “menghibur” dan menciptakan dunia baru tempat anak-anak merdeka raga, rasa, dan pikirnya di dunia yang didominasi ketidakbahagiaan dari orang dewasa.


Rabbit & Bear: Serangan Makanan Ringan (2019), garapan Julian Gough dan digambari oleh Jim Field lahir dari alam demokrasi mutakhir dalam tata negara modern. Buku ini semacam menanggapi dunia yang tengah dilanda prasangka, kabar bohong, dan menguatkan ulang perdamaian secara global. Tentu sebagai buku bacaan anak, penulis tidak mengungkapkan hal-hal besar nan serius secara tersurat. Dibingkai kesederhanaan, persahabatan, dan kekeluargaan masyarakat binatang di hutan, cerita melenggang secara menyenangkan dan tentu kocak.


Cerita dimulai pada suatu waktu di musim panas saat beruang dan kelinci berenang di danau. Tiba-tiba, sesuatu yang bulat dan berbulu menabrak pohon dan jatuh ke danau. Julian sengaja menciptakan kepribadian berlawanan antara beruang dan kelinci meski mereka bersahabat. Pembaca bisa mengidentifikasi dari cara tanggap mereka atas sesuatu yang jatuh dan berbulu. Bagi beruang, kejadian itu sangat “menarik”, tanpa prasangka, enigmatik. Sebaliknya, “Itu hal paling menyeramkan di dunia,” jawab Kelinci, “dan hari ini adalah hari paling buruk yang pernah ada.”


Kelinci menyebutkan segala hal buruk yang ada, padahal dia tidak tahu apa-apa. Dia bertindak secara reaksioner karena kelebihan ketakutan. Diceritakan, “Baiklah, baiklah, aku tidak tahu,” jawab Kelinci. “Aku hanya membayangkan kata-kata paling mengerikan yang terpikir olehku.” Beruang mengangkat sesuatu yang misterius itu. Ia membolak-balikkannya hingga air tertumpah dari dalam sesuatu. Sesuatu itu terbatuk. Lalu mendengus. Lalu mendengkur.”


Beruang membawa sesuatu yang menakutkan itu kepada burung pelatuk. Melihat wajah yang rata, burung pelatuk bilang bahwa sesuatu yang bulat dan berbulu itu burung hantu, seperti yang pernah diceritakan neneknya. Kelinci langsung bertambah reaksioner. Dia mengatakan dengan keras kepala apa yang dirasa pernah dia dengar dari kakeknya, “Burung hantu itu tingginya hampir dua meter. Cakarnya mirip pedang! Dan dia akan menelanmu HIDUP-HIDUP . Lalu keesokan harinya, dia akan berserdawa karena tulang-tulangmu!” Kelinci tidak ingin kalah, sok tahu, dan memaksakan kekhawatirannya sebagai “kebenaran alternatif.” Burung pelatuk lebih percaya dengan apa yang dia ingat dari neneknya bahwa burung hantu itu bijaksana, bersih, baik hati, cerdas, dan baunya seperti daun mint.


Otoritas dan Dominasi

Kelinci belum pernah melihat burung hantu. Kengototan dan teriakan keras kelinci membuat dia berpikir memenangkan perdebatan dan memancing hewan lain untuk menciptakan kerumunan. Kelinci merasa mendapat otoritas menciptakan konsensus bersama, dan memaksa orang menerima prasangka pribadinya sebagai kekhawatiran komunal. Keadaan pun semakin kacau saat kelinci menguatkan dominasinnya, “Aku punya ide yang lebih bagus! Masukkan Burung Hantu yang mengerikan ini ke Penjara, sebelum dia terbangun dan menelan kita, dan berserdawa karena tulang-tulang kita, dan menggunakan tulang-tulang kita untuk menghiasi rumahnya saat Hallowe’en!” Ujaran kelinci ini seperti mengingatkan dunia pada para diktator penguasa yang punya otoritas karena berpolitik. Ketakutan pada tindakan yang (bahkan) belum terjadi memunculkan konsekuensi ketidakadilan.


Karena masyarakat hutan tidak memiliki alternatif lain, mereka pun memenjarakan burung hantu yang masih terlelap. Begitu bangun, burung hantu kecil mengajukan pertanyaan lugu yang sangat menohok kenapa dia sampai berada di penjara, “Apa aku melakukan kejahatan selama TERTIDUR?” Dalam kondisi tertidur, seseorang jelas tertebas dari tanggung jawab moral dan sosial. Kita membaca pertanyaan ini sembari melihat ilustrasi Jim Field yang sangat ekspresif. Mata burung hantu membulat sempurna dan kelihatan berkaca-kaca. Kedua sayap menggenggam ranting-ranting yang dijadikan jeruji penjara. Tinggi si burung hantu, jelas-jelas tidak sampai satu meter.


Para binatang ragu dan bertambah ragu saat burung hantu mengajukan satu pertanyaan lagi, “Seberapa banyak yang kau tahu tentang burung hantu?” Kelinci kelimpungan dan kukuh pada asumsi awalnya tentang burung hantu pemangsa setinggi dua meter. Burung hantu kecil menjelaskan memang ada Burung Hantu Bertanduk yang besar dan pemakan kelinci, tapi bukan si burung hantu bulat dan kecil berbulu. Lewat pertanyaan burung hantu kecil yang cenderung lugu, justru muncul tohokan dari otoritas yang berlaku tidak pada tempatnya. Kelinci tidak bersikap demokratis pada “pendatang” yang tidak bersalah apa pun. Kondisi burung hantu pun dipulihkan seiring penerimaan demokratis sebagai bagian dari warga hutan.


Sikap kelinci kemungkinan mengingatkan pembaca pada berita atau kejadian hoaks yang tengah melanda dunia. Asyiknya, Julian Gough tidak merasa harus menggunakan istilah yang sedang populer di dunia ini. Prasangka kecil mengantarkan pembaca pada sikap dunia atas imigran, perang, sentimen ras dan agama. Seringkali dalam sikap seolah “tidak tahu apa-apa”, buku bacaan anak selalu bisa mengemas permasalah global ini dengan formatnya yang bersahaja.


Setyaningsih,

penulis buku anak.

FB: Setya Ningsih

72 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email