Cari
  • Bandung Mawardi

Buku, Sinetron, Lagu

FILM di akhir tahun. Kita mau berpisah dari 2020 tapi dibujuk merindu masa 1990-an. Film berjudul Generasi 90an: Melankolia mulai bisa ditonton dengan sekian gedung bioskop. Film dengan sutradara Irfan Ramli, dijelaskan sebagai adaptasi buku berjudul Generasi 90an susunan Marchella FP. Film dan buku. Masa lalu. Para perindu masa lalu mula-mula menikmati buku. Sekian tahun berlalu, mereka diundang menonton film. Cuplikan berita dari Jawa Pos, 16 Desember 2020: “Meski dibuat dengan nuansa yang berbeda dengan bukunya, penonton masih bisa menikmati unsur-unsur yang muncul di buku Generasi 90an.”


Orang belum berniat menonton film mendingan menikmati buku sambil meragu atau memastikan. Buku bukan berdasarkan riset ilmiah tapi laris. Buku berjudul Generasi 90an terbitan POP, 2013. Buku “ngepop” berbekal ingatan-ingatan, pengalaman, dan lacakan data terbatas. Kumpulan ilustrasi dan kata disajikan ke pembaca tanpa sumber-sumber “memastikan” itu memang dari masa 1990-an. Sekian celotehan disodorkan di awal, pembangkit rindu. Kita mengutip pengertian generasi 1990-an: “Generasi kartun Minggu pagi di televisi, lagu anak sore hari.” Generasi di depan televisi.


Marchella telanjur dan terbukti moncer dengan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini memberi penjelasan maksud buku: “Buku ini ngebahas hal-hal yang menghibur di era 90an, khusunya musik, tontonan, mainan, tren, jajanan, bacaan, dan lain-lain. Semua kebahagiaan yang sederhana itu dikumpulin jadi satu di sini.” Kita menduga buku itu “lengkap” atau “terpenting” bagi orang-orang ingin memanggil atau “mengalami” masa lalu. Orang seperti mendapat album kenangan tanpa sempat melakukan pelacakan perbandingan atau ralat-ralat atas sekian hal dimuat dalam buku Generai 90an.


Ingatan masih mendapat sambungan makin tak keruan: sinetron. Pada masa wabah, sinetron-sinetron di televisi sengaja memberi hiburan murahan. Jutaan orang mengikuti sinetron-sinetron (tak) bermutu mumpung masih selalu dianjurkan berada di rumah. Kita sudah capek memberi usulan atau protes. Sinetron-sinetron di Indonesia masih saja brengsek. Tontonan berkepanjangan sengaja membuat ketagihan, disiarkan setiap hari: pagi, siang, sore, malam. Indonesia “terkutuk” sinetron. Konon, industri itu masih terlalu menguntungkan. Kita menduga sinetron bakal mengabadi di Indonesia sampai “kiamat”.


Kita sudah capek memberi usulan atau protes. Sinetron-sinetron di Indonesia masih saja brengsek. Tontonan berkepanjangan sengaja membuat ketagihan, disiarkan setiap hari: pagi, siang, sore, malam. Indonesia “terkutuk” sinetron.

Di buku Generasi 90an, diajukan keterangan: “Pada masa ini stasiun TV swasta marak dengan sinetron-sinetron, dari drama keluarga, misteri, komedi, persahabatan dua dunia, dan lain-lain. Lengkap, deh. Salah satu yang paling hits di akhir 90an adalah sinetron-sinetron yang berimbuah “Ter-“. Tersanjung dan lain-lain. Jalan ceritanya hampir mirip-mirip. Kalo gak tentang anak tiri, mertua sadis, racun-racunan….” Masa lalu sinetron itu menjengkelkan. Pada abad XXI, sinetron-sinetron masih seperti dulu. Kita mungkin sudah berdoa dan mengeluh. Indonesia tetap saja “terkutuk” sinetron dengan jutaan penonton “beriman” setiap hari.


Kita tak usah marah. Sinetron dan masa lalu terbaca dalam buku berjudul Televisi dan Prasangka Budaya Massa (2001) garapan Veven Sp Wardhana. Buku berisi komentar-komentar serial gara-gara televisi. Sinetron terpilih mendapat pembahasan “kejam”. Pengecualian terbaca bila mengulas sinetron-sinetron bermutu ketimbang ratusan sinetron brengsek. Si Doel Anak Sekolahan teranggap pantas dipuji meski tak mutlak bermutu. Ajakan bernostalgia berlanjut ke sinetron moncer di TVRI masa lalu: Losmen. Veven mengomentari sinetron berkaitan penghadiran sosok ibu: “Sosok Mieke Wijaya memang unik dalam dunia persinemaan Indonesia, baik sinema layar lebar alias bioskop maupun sinema televisi. Saat dalam Losmen sosoknya digambarkan sebagai figur seorang ibu yang serba baik, dan itu termasuk kekecualian jika dibandingkan dengan umumnya sinetron yang ia bintangi.” Kini, kita ruwet menilai tokoh-tokoh ibu dalam industri sinetron Indonesia menjelang peringatan Hari Ibu.


Pengecualian terbaca bila mengulas sinetron-sinetron bermutu ketimbang ratusan sinetron brengsek. Si Doel Anak Sekolahan teranggap pantas dipuji meski tak mutlak bermutu.

Kita kembali ke buku Generasi 90an. Di situ, ada selera musik Indonesia dan asing. Lihatlah, ada Dewa 19! Pada masa 1990-an, Dewa 19 memberi lagu-lagu romantis. Paling teringat adalah lagu berjudul “Kangen”. Lagu asmara masih bersurat. Kini, surat terasa lawas. Pada masa berbeda, orang-orang menikmati persembahan lagu-lagu dari beragam musisi. Ahmad Dhani dan teman-teman masih memiliki penggemar dengan sekian perubahan. Pada masa wabah, Dewa 19 dimunculkan lagi demi “kangen-kangenan”. Penggemar agak dibujuk menerima lagu lama digarap ulang dengan menghadirkan suara Virzha. Tembang berjudul “Bayang-Bayang” terdengar berbeda tapi mengingatkan lagi selera lagu masa 1990-an. Sekian orang turut bersenandung: “Saat terlena dalam buaian mimpi… Bayang-bayangmu kasih selalu hadir dalam gelisahku…” Masa lalu kadang sendu, berbeda dari penjelasan Marchella bahwa masa 1990-an itu “bahagia”.


Lagu-lagu masa lalu, belum hilang. Kita memiliki masa lalu berbarengan mengumpulkan fragmen-fragmen duka selama wabah. Sekian orang mengaku “menghibur diri” dengan menonton sinetron-sinetron terbaru tanpa lelah dan bosan. Di depan televisi, mereka terlena. Sekian orang menghindari duka-duka terbaru dengan kembali ke masa lalu. Lagu-lagu lama didengarkan lagi untuk permainan muslihat agar tak terlalu menderita mengalami 2020. Kangen masa lalu. Kangen memuat biografi picisan. Dewa 19 masih memberi lagu-lagu sambil kita membedakan kesan mendengar suara Ari Lasso dan Once, mendapat imbuhan dari Virzha. Kita berusaha membuka ingatan-ingatan tapi belum menonton film berjudul Generasi 90an: Melankolia, belum menikmati lagu-lagu dihadirkan dalam film selera nostalgia. Begitu.



_____________

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

54 tampilan
Search By Tags