Cari
  • Majalah Basis

Akal Jenaka

Judul: I Belog, Penulis: Yos, Ilustrator: Dewi Tri Kusumah, Penerbit: Kanisius, Cetak: Pertama, 2019, Tebal: 24 halaman, ISBN: 978-979-21-5156-5

YANG banyak akal dan jenaka, singgah dalam cerita rakyat. Cerita pernah hidup dalam tataran lisan, lantas diceritakan kembali lewat perangkat keaksaraan modern. I Belog (2019) diadaptasi dari cerita rakyat Bali oleh Yos serta digambari oleh Dewi Tri Kusumah. Cerita dihadirkan kembali kepada anak-anak tidak lagi secara kolektif tradisional.


Di cerita rakyat yang menokohkan bocah, kita biasanya mendapat ciri nasib yang sangat ditentukan oleh sang empu kisah; berakhir bahagia karena ketabahan menghadapi derita, dianggap biasa saja atau justru pandir oleh masyarakat sekitar tapi dimukjizati keberuntungan, atau dilahirkan sebagai bocah terpilih untuk mengalami perjalanan heroik. Belog lebih dekat dengan ciri kedua. Ia tidak mengalami petualangan gagah penuh tantangan bersama ayam jantan, menyusuri belantara demi mencari kebenaran jati diri seperti Panji Laras. Belog juga bukan anak yang ditindas oleh ibu tiri selayaknya sang ikonik penderitaan rakyat, Bawang Putih.


Belog lebih dekat dengan ciri kedua. Ia tidak mengalami petualangan gagah penuh tantangan bersama ayam jantan, menyusuri belantara demi mencari kebenaran jati diri seperti Panji Laras.

Yos tidak secara tersirat mengatakan Belog beruntung, jenaka, atau banyak akal. Seiyanya sejak dalam sampul, peran ilustrator cukup berhasil memvisualkan kesan-kesan itu. Pawakan tubuh Belog gemuk, mulutnya membuka seolah mengatakan “aha”, hanya satu gigi atas tampak, dan di kepala tampak bertengger ayam betina dan telur-telur. Di samping Belog masih ada dua ayam betina yang menguatkan kesan keseharian agraris. Bersama ayam yang lekat dengan keseharian anak-anak desa, Belog mengalami peristiwa kesialan sekaligus keberuntungan bersahaja.


Diceritakan, penduduk desa akan mengadakan “pesta desa”. Di sini, Yos tidak menggunakan istilah antropologis untuk menguatkan kebahasaan lokal momentum selamatan. Istilah pesta barangkali dianggap mudah diterima dan akrab dengan anak-anak Indonesia mutakhir. Belog pun mendapat tugas berbelanja, “Belog ingat pesan ibunya. Diulang-ulang biar tak lupa. Sepuluh butir telur ayamnya. Ayam betina cukup dua. Beras sekarung saja. Belog berangkat dengan gembira.”


Di perjalanan pulang, masalah muncul. Jarak jauh dari pasar ke desa ditambah beban berat membuat Belog merasa capek. Kesialan mulai menghampiri, “Desa masih jauh rupanya. Biar cepat, berlari saja. Oh, ia jatuh tiba-tiba. Tersandung akar ia rupanya. Semua telur sepuluh jumlahnya. Yang utuh kini hanya lima.” Kesialan sempat membuat Belog panik, tapi hanya berlangsung sebentar. Belog tersenyum dan “aha” dalam pikirannya berpendar, “Belog berpikir agak lama. Ayam betina bertelur juga. Cukup ayam saja dibawa. Belog maju sekuat tenaga. Sial, tersangkut dahan akasia. Karung beras robek terbuka.”


Hamburan beras tentu membuat ayam betina melompat dari kepala Belog. Aha, Belog justru tidak panik. Daripada mencari cara membenahi karung yang robek, Belog malah berpikir dan tertawa, “Tak perlu ayam ia bawa. Biar ayam berjalan saja. Mengikut beras sampai ke desa.” Sialnya, ayam-ayam tidak mengikuti beras dan Belog sampai rumah. Ibu marah dan meminta Belog menyisir lagi jalan untuk menemukan ayam-ayam. Tentu, keberuntungan Belog tidak hanya sampai di sini. “Dua ayam masih ada. Sedang makan beras di tanah. Ayam lain datang juga. Ayam kini empat jumlahnya. Apa itu yang ada di sana? Wah, induk ayam bertelur lima! […] Ayam dan telur ada semua. Beras tumpah tidak mengapa. Karena ayam banyak jumlahnya.” Ayam telah menyebabkan kesialan tapi sekaligus mendatangkan keberuntungan.


Ayam telah menyebabkan kesialan tapi sekaligus mendatangkan keberuntungan.

Setiap sisi dunia punya kisah keberuntungan dan pengamalan akal. Cerita semacam ini lebih memartabatkan akal daripada moralitas. Salah satu contoh ada di cerita berjudul Si Pandir garapan Andrew Lang (50 Cerita Jenaka, 2015). Diceritakan saking putus asanya, seorang ayah kaya raya mengirim anak lelakinya yang pandir, Moscione, dari Venice ke negeri seberang berbekal sekantong emas.


Setiap sisi dunia punya kisah keberuntungan dan pengamalan akal. Cerita semacam ini lebih memartabatkan akal daripada moralitas.

Dalam pengembaraan inilah, si pandir bertemu manusia-manusia aneh; pelari kilat, Telinga-Kelinci pendengar apa saja, Si-Penembak-Jitu, Tiupan-Badai, Punggung-Kuat. Moscione berhasil merekrut mereka dan menjadikan stategi memenangkan sayembara mendapat putri raja yang juga berlari cepat. Trik-trik raja yang sebenarnya memiliki menantu yang pandir, berhasil diatasi oleh keberuntungan-akal Moscione.


Akal dan keberuntungan memantik tawa. Cerita rakyat sederhana Belog sempat mengingatkan pada Si Kabayan, Kuncung, Pak Janggut, Timun Emas, Senggutru, atau Pak Belalang. Tokoh-tokoh raja, ratu, putri, atau pangeran memang kehadirannya tampak megah sekaligus diidolakan berkat harta dan tampang. Tokoh banyak akal dan beruntung lebih diingat karena sering jenaka. Seperti menuruti kodrat anak yang mau tahu, akal jenaka selalu bisa memantik penasaran.


----------


SETYANINGSIH

Esais dan pengulas buku.

Menulis cerita anak, tapi lebih sering mengulas buku cerita anak.

IG: @langitabjad, maosbocah.wordpress.com

FB: Setyaningsih

kuncen Penerbit Babon IG: @penerbitbabon



140 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email