Cari
  • Bandung Mawardi

Mengubah (Tema) Sawah


PADA 6 Maret 2021, belasan orang memenuhi janji bertemu dan makan bersama di tempat bernama Waroeng Gandroeng. Penulis belum pernah mengetahui tempat memiliki nama berimajinasi romantis. Pagi, penulis memboncengkan istri dan anak menuju alamat terkabarkan oleh teman. Menit demi menit berlalu, tak sampai alamat. Teman-teman memberi petunjuk. Oh, petunjuk mengarahkan kembali ke dekat rumah penulis. Puluhan menit telah digunakan dengan sia-sia di atas sepeda motor. Tempat bertemu itu cuma 3 km dari rumah penulis. Nama tak pernah terketahui. desa. Alamat mengarah ke perumahan bersanding persawahan.

Bangunan joglo dengan lampu berwarna kuning. Di situ, orang-orang menanti kedatangan pembeli. Hidangan tersedia berselera desa. Tempat bersantap bukan di joglo tapi lokasi depan joglo. Sawah! Pemilik warung menggunakan sekian meter sawah sebagai lokasi makan para konsumen. Tatanan beragam meja kursi. Tanaman-tanaman tampak rapi. Gantungan lampu-lampu. Di atas sawah, orang-orang diajak menikmati makanan dan minuman. Mereka pun melihat pemandangan. Sawah! Penulis menduga para konsumen adalah orang-orang Solo dan sekitar.


Makan di situ bagi mereka mungkin pengalaman mengesankan selaku turis. Sawah-sawah di pinggiran Solo itu dipandang para turis bersantap makanan desa. Penulis menjadi salah tingkah melihat manusia dan sawah. Bingung bertambah dengan makanan-makanan tersaji di atas meja. Oh, hidangan mirip keseharian di rumah! Menit demi menit, kesibukan orang-orang berpotret berlatar sawah, pohon, bangunan, dan lain-lain. Mereka bukan berasal dari Prancis, Inggris, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Afrika Selatan, Portugal, atau Meksiko.


Lihatlah, sawah-sawah! Di sawah, orang-orang makan dan bercakap. Mereka bukan petani atau penunggu padi agar tak diserbu burung-burung. Tampilan mereka necis. Mereka sejenak menjadi turis. Pada abad XXI, kejadian di desa itu menjadikan penulis pusing. Ia ingin lekas minum Tolak Angin. Siang itu hujan. Orang-orang terperangkap dalam hujan. Sekian orang menganggap sebagai pengalaman indah, tak lupa memotret “ini” dan “itu”. Bisik-bisik terdengar mengabarkan makan di situ bakal nikmat bila senja atau malam hari. Penulis mendengar saja. Hujan reda. Tempat itu basah-berlumpur. Sawah-sawah sekitar pun basah tapi mengingatkan gosip keinginan pemerintah impor beras. Konon, pejabat dan pengamat mengatakan Indonesia cukup beras. Impor beras masih saja berlaku sambil “meledek” nasib petani dan abai pemaknaan sawah-sawah.


Sawah-sawah sekitar pun basah tapi mengingatkan gosip keinginan pemerintah impor beras. Konon, pejabat dan pengamat mengatakan Indonesia cukup beras. Impor beras masih saja berlaku sambil “meledek” nasib petani dan abai pemaknaan sawah-sawah.

Sekian hari berlalu, terbaca berita dengan judul seram di Solopos, 12 Maret 2021: “Sawah Terakhir di Kota Solo”. Berita sangat penting ketimbang kisruh politik dalam Partai Demokrat atau kehancuran Juventus dan Bercelona di Liga Champions. Kita mengutip: “Solo memang bukan sentra penghasil beras. Dengan kepadatan penduduk mencapai 12.594 jiwa/km2, Solo sulit mengembangkan lahan pertanian. Masih ada segelintir sawah yang bertahan, tetapi tak lama lagi terancam hilang.” Kini, Solo dipimpin Mas Gibran memiliki pengalaman berdagang, bukan bertani. Mas Gibran sedang sibuk dengan urusan-urusan besar. Urusan sawah, nanti dulu. Di kota, sawah-sawah cepat habis oleh rumah, kantor, pertokoan, hotel, gudang, dan lain-lain. Situasi di kota berbeda dengan pinggiran Solo. Orang-orang menikmati makanan di sawah dan berpotret, tentu tak cuma di Waroeng Gandroeng.


Radar Solo-Jawa Pos, 20 Februari 2021, memuat sehalaman kabar “kenikmatan” di Klaten. Kabar dilengkapi foto-foto indah berimajinasi wisata. Tempat itu bernama Taman Sehat Rejosari (Tasero) beralamat di Delanggu, Klaten. Kita simak penjelasan pengelola, Fafa Utami: “Tasero ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang banyak hal. Ilmu pengetahuan, budaya, berbagai menu kuliner tersedia di Tasero. Tempat ini nyaman untuk dijadikan wahana saling diskusi, ngobrol santai, bahkan kumpul dengan keluarga.” Tempat bertema pertanian. Di sana, pengunjung melihat bangunan joglo, limasan, alat pertanian, alat penumbuk padi, dan lain-lain. Pengunjung melihat pemandangan, belajar, makan, dan berbelanja hasil bumi. Pengunjung berpredikat turis.


Pilihan tempat di Klaten terbenarkan. Sejak lama, Klaten terbukti penghasil beras berlimpahan. Pada 2021, sawah memang alamat keseharian bagi petani. Sawah termaknai petani. Peristiwa tambahan adalah pelesiran. Sawah menjadi tempat berwisata. Warta itu aneh, menempatkan orang-orang sudah lama tak melihat sawah atau berjumpa petani. Para turis mungkin kangen sawah, setelah sulit mencari atau melihat sawah di kota atau pinggiran kota. Pilihan menjadi turis mengakibatkan imajinasi dan makna baru. Piknik terindah adalah melihat sawah, makan dan berpotret di sawah.


Sawah menjadi tempat berwisata. Warta itu aneh, menempatkan orang-orang sudah lama tak melihat sawah atau berjumpa petani. Para turis mungkin kangen sawah, setelah sulit mencari atau melihat sawah di kota atau pinggiran kota. Pilihan menjadi turis mengakibatkan imajinasi dan makna baru. Piknik terindah adalah melihat sawah, makan dan berpotret di sawah.

Kita berharap ada penambahan arti sawah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ralat dan penambahan arti sawah berlaku pula dalam kesusastraan modern di Indonesia. Murid-murid terlalu lama mendapat pelajaran menggunakan contoh-contoh membakukan sawah dan nasib petani. Puisi-puisi warisan para pujangga masa lalu menguak nostalgia, sulit diawetkan dengan sebiji pengertian. Sawah dalam puisi-puisi gubahan pujangga sejak masa 1920-an pasti berbeda dengan puisi baru gubahan bocah atau remaja, setelah mengunjungi warung atau tempat wisata di sawah. Sekian hal berubah. Sawah bukan cuma derita, kolonialisme, kemiskinan, ketabahan, pemberontakan, dan lain-lain.


Pada 1970, Dodong Djiwapradja menggubah puisi berjudul “Pidato Seorang Petani Mendjelang Achir Hajatnja.” Puisi sedih dan tabah. Ia menulis: dan akulah padi/ yang tidak berbenih lagi/ Semua karena tiba waktunja/ djalan sudah sampai batas. Pengisahan petani menanggungkan nasib puluhan tahun sulit dalam kecukupan atau kemakmuran. Petani pergi ke ladang atau sawah dengan doa-doa melandasi ketulusan dan ketabahan. Dulu, petani belum memikirkan sawah-sawah bisa menjadi lokasi untuk umat kuliner. Sawah tak lekas dimengerti sebagai tempat wisata sudah diusahakan oleh pemerintah desa atau pihak-pihak partikelir. Pelesiran ke sawah mulai lumrah saat pemerintah daerah menggunakan dana miliaran rupiah dan membesarkan kebijakan desa wisata.



Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

43 tampilan
Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email