Cari
  • Bandung Mawardi

Kita (Masih) Membaca ...


Tidak hanya terhadap kekuasaan, kekritisan juga selalu ia tunjukkan saat menilai suatu kebenaran. Bagi Bung Daniel Dhakidae, misalnya, tak pernah ia aku kebenaran yang diterima sebagai sesuatu yang monolitik. Ia meyakini tatkala suatu kebenaran mulai ditunggalkan, saat itu pula kebenaran terkhianati.

(Kompas, 7 April 2021)

ORANG-ORANG sedang memberi sindiran atas keputusan-keputusan KPK. Sekian hari lalu, kehebohan berasal dari KPK gara-gara menerbitkan surat perintah penghentian penyelidikan kasus dugaan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Orang-orang membenci korupsi berpikiran macam-macam tentang KPK, Sjamsul Nursalim, dan para koruptor belum punah di Indonesia. Kehebohan pernah diramalkan dalam mencipta sejarah buruk di Indonesia. Korupsi belum selesai menjadi petaka.


Di jurnal Prisma volume 37, 2018, Daniel Dhakidae (1945-2021) mengingatkan: “Korupsi adalah gejala modern yang berkembang bersama kehidupan kemasyarakatan yang makin kompleks, sedangkan pencurian melekat dalam kemanusiaan. Korupsi, tentu saja, berimpitan dengan pencurian, tetapi dalam dirinya berbeda dari pencurian.” Korupsi terlalu ditentukan dengan pembentukan birokrasi. Kejahatan tak asali atau berbeda dari pencurian itu justru mengabadi saat peradaban teranggap makin maju, teknologis, dan digital. Di Indonesia, sejarah korupsi (terlalu) panjang, makin bermekaran pada abad XXI. Pelaku-pelaku korupsi tentu orang-orang terpelajar dan cerdik berpolitik. Mereka itu mengerti tapi memilih melakukan korupsi.


Korupsi terlalu ditentukan dengan pembentukan birokrasi. Kejahatan tak asali atau berbeda dari pencurian itu justru mengabadi saat peradaban teranggap makin maju, teknologis, dan digital. Di Indonesia, sejarah korupsi (terlalu) panjang, makin bermekaran pada abad XXI. Pelaku-pelaku korupsi tentu orang-orang terpelajar dan cerdik berpolitik. Mereka itu mengerti tapi memilih melakukan korupsi.


Pada saat menulis artikel di Prisma, Daniel Dhakidae pasti marah atas sejarah baru di Indonesia bertema besar korupsi. Kini, ia mewariskan artikel dan buku memberi ingatan tentang “kemustahilan” menamatkan korupsi di Indonesia menilik sejarah, birokrasi, pendidikan, bisnis, dan lain-lain. Kemarahan boleh menulari kita saat wabah tak rampung tapi korupsi belum terwartakan surut. Daniel Dhakidae pernah menduga korupsi bisa diberantas dengan sekian pembenahan dan kontrol atas kekuasaan dan modal. Dugaan itu sering meleset.





Kita menghormati Daniel Dhakidae telah pamitan dari dunia. Ia tetap berseru bila kita mau membaca beragam artikel dan buku terwariskan. Daniel Dhakidae (2014) mengingatkan puja harta terbentuk sejak masa kolonial: “Kebijakan harus jelas, yang berarti kalangan atas harus dididik terdahulu untuk menjaga keseimbangan dalam masyarakat. Ini berarti kaum bangsawan, kaum berharta harus dilindungi, mobilisasi kelas bawah ditahan dan harus menunggu kematangan kelas atas. Pemerintah kolonial hanya bisa aman kalau struktur masyarakat itu tetap terjaga dan terkendali.” Orang membuka buku besar sejarah Indonesia sulit menghindari masalah-masalah korupsi. Sejarah masih berlanjut sampai sekarang dengan penambahan ribuan halaman.


Teringatlah warisan terpenting Daniel Dhakidae berupa buku tebal dan besar berjudul Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003). Indonesia memang memiliki bab korupsi tapi jejak-jejak pembentukan dan penegakkan Indonesia melalui kemunculan dan pembesaran kalangan cendekiawan pun berpengaruh, dari masa ke masa. Cendekiawan, sebutan terasa agung dan serius. Indonesia memang “ditulis” kaum cendekiawan dengan beragam kiblat dan konsekuensi. Pada masa Orde Baru, sejarah memuat peran Prisma, bacaan bermutu tapi gampang memicu polemik-polemik. Prisma hadir di hadapan pembaca sejak 1971, mengiringi Indonesia. Di situ, artikel-artikel penting tersajikan. Sekian nama lekas berpengaruh dalam pelbagai gagasan berlatar kesibukan rezim Orde Baru mengamalkan pembangunan nasional.


Daniel Dhakidae mengamati dan menjelaskan Prisma masa Orde Baru, berlanjut dengan peran melanjutkan terbitan Prisma pada abad XXI. Dulu, Prisma adalah bacaan kaum terpelajar berani berpikir berat, serius, dan serial. Prisma mengiringi lakon rezim Orde Baru dengan pemikiran-pemikiran memungkinkan kemunculkan sikap kritis, menggugat, atau mufakat atas pelbagai kebijakan untuk Indonesia. Daniel Dhakidae menemukan kekhasan Prisma berselera kaum muda dengan segala pemikiran segar dan kritis. Orang membaca Prisma lekas menemukan masalah-masalah besar dan gawat di Indonesia. Prisma merangsang pembaca menekuni sejarah, ekonomi, antropologi, pertanian, pendidikan, dan lain-lain.


Daniel Dhakidae menemukan kekhasan Prisma berselera kaum muda dengan segala pemikiran segar dan kritis. Orang membaca Prisma lekas menemukan masalah-masalah besar dan gawat di Indonesia. Prisma merangsang pembaca menekuni sejarah, ekonomi, antropologi, pertanian, pendidikan, dan lain-lain.

Kita pun mengerti di luar Prisma, ada sumbangsih kaum cendekiawan melalui sodoran pemikiran-pemikiran melalui Basis, Horison, Tempo, Panji Masyarakat, Kompas, Sinar Harapan, dan lain-lain. Tulisan-tulisan persembahan kaum cendekiawan dijadikan acuan, patokan, atau pemicu atas sikap menanggapi nasib Indonesia dibentuk rezim Orde Baru. Pada masa berbeda, situasi Indonesia terlalu berubah. Kaum muda atau terpelajar tak lagi bergantung dengan bacaan-bacaan disuguhkan Prisma. Daniel Dhakidae malah tampak nekat menghidupkan (lagi) dan memajukan Prisma berbarengan godaan ragam digital menimpa kaum melek aksara. Daniel Dhakidae dan Prisma mengungkap gelisah dan keterpinggiran pada masa-masa berbeda. Kita mendingan mengingat pendapat Daniel Dhakidae (2003): “… tidak pernah ada pembicaraan tentang kaum cendekiawan tanpa tabrakan dengan kekuasaan, tanpa pertikaian dengan modal, dan tanpa menyaksikan kiprahnya dalam mengobrak-abrik yang disebut sebagai kebudayaan.”


Daniel Dhakidae pun terlibat dalam Kompas. Di buku berjudul Mengembangkan Indonesia Kecil (2013) menandai 50 tahun Kompas-Gramedia, kita masih menemukan pengharapan peran koran dan majalah memajukan gagasan-gagasan di Indonesia. Arus pemikiran dalam pers masih menderas. Daniel Dhakide dalam tahap bermufakat atas pendapat: “industri pengetahuan mengalami inflasi makna karena dipakai untuk apa saja.” Koran dan majalah di Indonesia mula-mula terpahamkan berita, sebelum memiliki misi memberi ruang dan alur bagi kecendekiawanan. Peran itu tak utuh dan mengabadi saat publik mulai menginginkan “macam-macam”. Sindiran tersampaikan Daniel Dhakidae: “tidak mengherankan dalam zaman informasionalisme gunjingan diangkat ke tingkat tinggi.”


Kita mengaku “terbimbing” setelah membaca artikel dan buku garapan Daniel Dhakidae. Di buku berjudul Menerjang Badai Kekuasaan (2015), Daniel Dhakidae menulis para tokoh memberi arti Indonesia, dari masa ke masa. Ia tak melulu memilih dari kaum cendekiawan. Penghormatan tokoh-tokoh dalam laju sejarah membuktikan ada deru pemikiran mendapat mufakat atau debat. Sekian hal mungkin serasi atau bersengketa tak berkesudahan. Kini, kita pantas menulis tentang Daniel Dhakidae dalam selera biografis, tak lupa menempatkan dalam babak-babak terpenting berkaitan cendekiawan dan negara.


Selama puluhan tahun, Daniel Dhakidae adalah pemikir dan penulis merasa tak selesai-selesai dengan beragam tema. Kita menjadi pembaca masih saja menantikan persembahan-persembahan baru meski beragam tulisan terdahulu belum rampung terpahamkan berbarengan perubahan-perubahan sering mengejutkan di Indonesia. Daniel Dhakidae pamitan dari kita tapi telah memberi album minta terbaca. Ia seperti memiliki kepastian bahwa orang-orang Indonesia masih mau dan bergairah membaca suguhan artikel dan buku dalam edisi cetak. Ia memang kita kagumi dan rindukan dalam gairah pers dan perbukuan cetak, sebelum diterjang segala (harus) digital. Begitu.



Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020),

Silih Berganti. Esai-esai Tenger (2020)

FB: Kabut

179 tampilan
Search By Tags