top of page

Jalan Berpuisi

25 Okt 2020
4 menit membaca

Di majalah Kisah edisi Oktober 1955, kita membaca jalan. B. Sutiman menggubah puisi berjudul “Karma dan Hajati” mendapat keterangan: “nafas malam didjalan Slamet Rijadi”. Puisi tak terkenal, tak teringat bagi orang-orang menggemari puisi. Kita ingin mengingat jalan saja mumpung mendapat berita tentang jalan. Pada 19 Oktober 2020, Jalan Presiden Joko Widodo diresmikan di Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Peristiwa penting menghadirkan para pejabat Uni Emirat Arab dan Indonesia. Sepotong jalan sah mencipta sejarah. Jalan diartikan bukti hubungan erat dua negara (Tribun Jateng, 21 Oktober 2020). “Kemesraan” diinginkan demi sekian kerja sama bakal saling menguntungkan. Jalan menandai kebersamaan dalam “kemesraan”.


Puisi gubahan B. Sutiman juga mengisahkan kemesraan lelaki-perempuan, bukan dua negara. Kemesraan menguak protes sosial. Kita simak:

Rumah lampu kuning berteras

besi geligen budjur sangkar batas katja

dibawah dinding hidjau tidurlah mereka

kere-kere kurus mengigau indah kedinginan

Karma dan Hajati bersajangan, tidur berdjauhan.


Jalan di Solo itu memiliki sejarah: revolusi, kemiskinan, kekuasaan, bisnis, kekerasan, asmara, seni, dan lain-lain. Jalan semakin ramai dengan pelbagai pamrih sering tak dimengerti warga. Pada suatu masa, Joko Widodo sebelum menjadi presiden sering melintasi jalan dan mengadakan acara-acara di Jalan Slamet Riyadi. Jalan itu tercatat dalam biografi meski tak ada keinginan mengubah jalan bersejarah menjadi Jalan Presiden Joko Widodo.


Suasana jalan terekam dalam puisi. Kita teringat Solo dan masih menunggu ada kabar dari orang berbagi cerita melewati Jalan Presiden Joko Widodo di Abdu Dhabi. Kutipan dari puisi B. Sutiman:

Karma, lagumu menjeni sepandjang kerusuhan/

di Sriwedari ada pesta makan roti minum limun/

adjari aku ja kasih, menari silang/

bagai gadis-gadis dan lelaki SMAC, malam ini/

biar diiringi kerontjong bumbung/

suling dibunjikan hati dan ketokan kotak sampah/

musiknja musik kaleng, kaleng melek dan mentega/

bunjinja ting tong ting tong terengtengteng….


Puisi itu belum mengisahkan jalan bertema kekuasaan atau tokoh penting. Di jalan bersejarah, kaum kere mengartikan malam. Hidup mereka masih bermusik sebagai cara berdoa agar tak terlalu menderita.

Pada masa berbeda, kaum kere dan segala kotor di jalan-jalan utama di Solo dan pelbagai kota disingkirkan atas nama birokrasi. Mereka membuat pemandangan buruk bila ada tamu atau turis melewati jalan.


Di jalan bersejarah, kaum kere mengartikan malam. Hidup mereka masih bermusik sebagai cara berdoa agar tak terlalu menderita.

Pengindahan dilakukan dengan taman, patung, lampu, dan lain-lain. Mendandani jalan berarti membuat kota menjadi anggun, gagah, romantis, dan puitis. Sekian masalah diharapkan tak terlihat atau menghilang. Puisi lawas dari masa 1950-an sempat merekam. Kita membaca sambil mengagumi suasana Jalan Sriwedari abad XXI. Jalan itu terus bermasalah bagi pemerintah, pengusaha, sejarawan, seniman, dan lain-lain. Di Solo, kita tak cuma mengenal Jalan Slamet Riyadi. Ada sekian jalan dinamakan dari para tokoh politik, militer, dan seni. Kita jangan terlalu berharap menemukan suasana sastra atau kejawaan bila melintasi Jalan Yosodipuro atau  Jalan Ranggawarsita.


Kini, kita diajak mengingat dua negara dipertemukan di jalan. Kita sulit bepergian ke Abu Dhabi, tak memiliki duit atau jarak terlalu jauh. Kita memilih melewati jalan-jalan di Indonesia saja bermisi pelesiran, berbelanja, bekerja, atau mencari hiburan. Sekian jalan sering terekam dalam film, foto, dan lukisan. Sekian jalan juga terbaca dalam puisi-puisi atau gubahan sastra. Jalan itu bercerita, tak melulu politik. Jalan selalu berubah tapi sempat tercatat dalam puisi, dokumentasi suatu masa.


Kita ingin melewati jalan melalui puisi gubahan Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001). Ia rajin menulis jalan. Kita mulai dengan puisi berjudul “Jalan Tuntang”, puisi bersaing dengan senandung memiliki lirik moncer: “sepanjang jalan kenangan”. Kita membaca ingin terharu:

kuperlambat langkahku

menatapi pepohonan

tepi jalan tambah tua

menggoyangkan rerantingnya

menyampaikan salam.


Pemandangan itu nostalgia. Kita perlahan terjebak dalam lakon asmara masa lalu:

kuusap-usap jalan beraspal dengan sepatuku

barangkali masih menyimpan bekas

telapak kaki kami berdua

di jalan ini kami sadap malam

dan hatiku kulabuhkan padanya


mungkinkah kabut tipis itu

bisa menghapus kenangan di jalan ini

ketika kugandeng gadis menggelitik hati

waktu aku masih jejak

dan sekarang entah di mana.


Jalan cenderung asmara, ketimbang tokoh-tokoh mengisahkan kekuasaan atau militer. Kita pun memilih berasmara saja.



Kita bergerak ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, kita mengalami masa lalu jalan melalui puisi berjudul “Suatu Senja Ketika Jalan-Jalan di Jalan Merdeka” gubahan Sutan Iwan Soekri Munaf. Puisi terbaca sendu:

suatu senja ketika jalan-jalan di jalan merdeka

aku ingat sewindu silam seekor burung bernyanyi sendu…

senja ini seekor burung yang pandai bernyanyi sendu

terkapar di sela-sela selokan bersama denging suaranya.


Pada suatu masa, pepohonan di pinggir jalan menjadi tempat hidup bagi sekian binatang, terutama burung. Kota terus berubah, jalan berubah nasib. Suasana pada masa 1980-an:

suatu senja ketika jalan-jalan di jalan merdeka

aku dengar suara kenalpot motor dengan asap merasak.


Jalan bercerita kematian dan keramaian.


Kita masih di Bandung, menikmati puisi melulu kecewa dan protes. Puisi gubahan Diro Aritonang berjudul “Jalan Braga Malam Hari”. Puisi berlatar 1980-an:

bising kota larut dalam sepi

etalase-etalase tak lagi nampakkan diri

yang seperti biasa hanya jadi ilusi

bagi orang papa yang jadi iri


lenggang kota timbulkan birahi

di antara mobol-mobil berjejer mati

menyaksikan tuannya menghibur diri

setelah siang operasi di meja-meja instansi.


Nasib jalan-jalan di pelbagai kita ditentukan kebijakan birokrasi, pamrih pengusaha, dan pariwisata. Jalan itu “ramai” persaingan makna. Kita tak lagi selalu terjebak asmara.


Di kalangan sastra, jalan paling terkenal tentu Jalan Malioboro. Kita memiliki ingatan dan berlimpahan cerita dalam biografi para pengarang dan gubahan teks sastra. Kita menjenguk sejenak dalam buku berjudul Sastrawan Malioboro 1945-1960: Dunia Jawa dalam Kesusastraan Indonesia (2004) susunan Farida Soemargono. Jalan bersejarah itu menjadi tempat rangsang imajinasi bagi sekian pengarang: Nasjah Djamin, Kirdjomuljo, Motinggo Busje, dan lain-lain. Jalan memang untuk perdagangan atau pelesiran tapi memungkinkan terjadi peristiwa sastra. Jalan itu tercatat penting dalam biografi Sitor Situmorang (1981) saat menulis buku biografi. Selama revolusi dan memenuhi panggilan sastra ia mengingat titik awal adalah Jalan Malioboro. Jalan itu teringat dan terceritakan. Pada abad XXI, kita masih bisa melewati Jalan Maliboro meski tak merasa ada suasana sastra seperti masa lalu. Semua telah berubah. Kini, kita menunggu saja berita atau cerita dari jalan beralamat di kota jauh dari Indonesia. Begitu.


_____________

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut


7 Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
melaniemarshall6592
10 Okt

guia da Hiperbet foi o tipo de página que eu abri meio no “deixa eu ver como isso tá organizado” e acabei ficando mais tempo do que eu esperava. Curti que eles já avisam logo no começo que é um portal independente, sem aquele clima de texto enrolado tentando te convencer de algo. Outra coisa que ajudou foi um resumo em tabela bem na cara, com info direta tipo idade mínima e Pix, então dá pra entender o básico rapidinho sem ter que garimpar parágrafo por parágrafo. No resto, achei a leitura bem de boa, porque os blocos são separados direitinho e os headings vão puxando o olho pro que importa. A tabela de “resumo rápido” fica bem visível e…

Suka

lydiaharve.y50.4.4.4
08 Okt

https://789winn.games/ nhìn có dễ rối không nhỉ? Mình ghé lướt vài phút thôi để xem bố cục ra sao, kiểu mở lên là muốn biết ngay có phải mò mẫm nhiều không, và nói thật là nó sắp xếp khá gọn nên mắt bắt nhịp nhanh, phần trên trang chia khối rõ nên kéo xuống là biết mình đang ở đoạn nào mà không bị lạc. Chữ hiển thị ổn. Khoảng cách dòng vừa. Mấy bảng thông tin trình bày theo cột nhìn thoáng, liếc số liệu không bị dính. Menu cũng đặt dễ thấy, đổi mục cái là qua liền. Không cần đọc kỹ vẫn hiểu cách điều hướng. Nói chung mình chỉ xem nhanh cho tiện thôi, nhưng…

Suka

pennywagne.r86.4.41
10 Sep

xx88 com mình vừa vào thử trên điện thoại, nói thật là ban đầu cũng hơi nghi nghi kiểu trang này có rối không, mà lướt một vòng thì thấy họ chia nội dung thành từng khối khá dễ nhìn; phần bài chính với mấy mục tin tức tách ra rõ nên đọc nhanh, không phải đoán xem mình đang ở đâu. Mình cũng để ý họ có nhắc kho game hơn 500 cái, nghe thì nhiều thật nhưng ít nhất cách đặt tiêu đề và đoạn mô tả nhìn gọn gàng, chữ sáng sủa nên không bị lẫn. Có một đoạn kiểu giải đáp cho người mới, nói thẳng chuyện nạp rút trong ngày với khung giờ hỗ trợ,…

Suka

uyenghomsoet.h.uy.e.n+abc123
20 Jul

https://xosoplus.mobi/ mình ghé vào coi thử vì thấy mọi người nhắc hoài, kiểu tò mò giao diện với cách họ chia mục thôi. Vừa vào là thấy họ gom theo chủ đề khá dễ hiểu, có phần XSMB theo ngày nên nhìn cái biết mình đang ở trang nào, không phải mò lâu. Mình lướt xuống thì thấy khối “Đầu Lô tô / Đuôi Lô tô” trình bày dạng bảng cột, nhìn gọn và dễ quét mắt, không bị dính chữ tùm lum. Nói chung cuộn một hồi vẫn theo kịp vì tiêu đề và phần nội dung tách ra rõ ràng, nhất là cái bảng Đầu Lô tô/Đuôi Lô tô đặt ngay ngắn nên nhìn rất rõ trên trang.

Suka

giecphangqua.n.h.g.h.u.n.g
07 Jul

GG88 mình thấy bạn bè nhắc hoài nên cũng bấm vào xem thử cho biết. Không phải kiểu vào để đọc hết nội dung hay tìm hiểu sâu đâu, mình chỉ muốn coi giao diện có dễ dùng không. Vừa mở lên là thấy thiết kế khá gọn, nhìn hiện đại mà không bị rối mắt, kiểu mới vào lần đầu cũng tự biết nên bắt đầu từ đâu. Mấy mục được gom lại theo nhóm khá hợp lý nên lướt xuống một chút là nắm được bố cục, không phải mò lâu. Mình thích nhất là cảm giác thao tác nhanh, chuyển qua lại không bị “lạc”, nhìn tổng thể nhẹ nhàng. Nói chung cách họ chia nội dung…

Suka
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email

Join us on mobile!

Download the “” app to easily stay updated on the go.

Scan QR code to join the app
bottom of page