Cari
  • Dian Vita Ellyati

Guru Sejati Tidak Pergi!


Catatan dari acara “Mengenang Jakob Oetama: Telusur Jejak Sang Pembaca”

Rabu, 16 September 2020, 19.05-21.01 WIB



Pak Jakob Oetama berpulang sudah. Tak terbilang kenang-kenangan yang dituliskan keluarga besar KG sebagai persembahan terakhir, terbaik. Sejak petugas keamanan hingga wartawan senior, mulai dari kerabat sampai sahabat, membagikan kesan hangat interaksinya dengan Pak JO, demikian beliau akrab dipanggil, yang entah bagaimana, sesingkat apa pun, meninggalkan jejak tak terhapuskan. Semuanya, baik rekaman tulisan maupun lisan, menjadi pengiring nan intim untuk mengantar mendiang ke tempat baru, abadi.


Selain mengulang kenang-kenangan tentang Pak Jakob, pada hari Rabu, 16 September 2020, tepat hari ketujuh kepergiannya, Gramedia Pustaka Utama mengilas balik kebiasaan literasi (baca-tulis) Pak JO, kebiasaan yang pekat tercium dari peninggalannya berupa surat kabar, penerbitan, dan wadah seni budaya. Sepanjang dua jam perbincangan antara Tatyana Soebianto sebagai moderator bersama Suwandi S. Brata, Sindhunata, dan Dyan Nuranindya, tertangkap dua hal, yaitu kegiatan membaca Pak JO justru luput dari pusat amatan, dan bahwa Pak JO tidak sempat menuliskan bukunya sendiri. Betapa pun sudah ada penulis lain membukukan kisah hidupnya, tentu akan berbeda apabila dituliskan langsung dari sudut pandang orang pertama. Rupanya waktu Pak JO habis untuk bekerja sebagai wartawan, menulis tajuk, mengamankan kesejahteraan seluruh karyawan, dan tentu saja “terpaksa” berbisnis sepeninggal Pak PK Ojong tahun 1980. Bahkan, Pak JO tampaknya juga tidak sempat menggeluti dunia panggung, yang sempat dikecap sebagai dramawan pada masa lalunya. Itulah latar belakang, mengapa Pak JO, meski tak suka tampil, orasinya selalu memukau bak di panggung teater, seperti diingat Romo Sindhu, demikian Sindhunata akrab dipanggil.


Lalu, bagaimana kita bisa melacak aktivitas membaca Pak JO, selain dari yang memang sewajarnya dilakukan sehubungan tugas-tugas kewartawanannya?

Secara pribadi, saya pembaca Kompas. Setidaknya saya bisa berbagi cerita, manakala ditugaskan di luar kota, untuk beberapa bulan atau bahkan tahun, hiburan akhir pekan saya adalah KoMing, Kompas Minggu. Saya menikmati tulisan seni budaya dan gaya hidup di berbagai tempat di Indonesia. KoMing membuat saya merasa kaya. Sayangnya, di suatu kota lain, di kios koran terdekat yang hanya satu-satu dan tidak selalu buka, Kompas lekas habis. Sungguh sepi akhir pekan saya jika sudah begitu. Untung masih ada kawan lain, Cerpen Pilihan Kompas yang diterbitkan tahunan oleh Kompas Gramedia.


Secara pribadi, saya pembaca Kompas. Setidaknya saya bisa berbagi cerita, manakala ditugaskan di luar kota, untuk beberapa bulan atau bahkan tahun, hiburan akhir pekan saya adalah KoMing, Kompas Minggu. Saya menikmati tulisan seni budaya dan gaya hidup di berbagai tempat di Indonesia. KoMing membuat saya merasa kaya.

Sekian lama membaca Kompas sebagai koran nasional yang memuat tulisan nama besar jurnalis-jurnalis senior dan penulis lain yang sudah diakui, ada satu hal terkait erat dengannya yang baru saya akrabi belakangan ini, Bentara Budaya Yogyakarta. Meskipun baru mengenalnya, namun toh jejak panjangnya bertahun-tahun lalu bisa ditelusuri. Bagi saya, sungguh suatu keutamaan bahwa Kompas sebagai media besar yang bertahan merajai media cetak harian, di bawah pimpinan Pak JO, masih berkenan memberi tempat untuk seniman-seniman kecil yang tanpa lelah terus berkesenian tradisional dari pinggiran di Bentara Budaya.


Sementara Kompas Gramedia yang didirikannya ada di tengah-tengah arena media cetak, kelompok seniman pinggiran juga menempati ruang khusus dalam perhatian Pak JO. Kenangan Pak Budi Darma saat berbincang dengan beliau pada acara “Malam Cerpen Kompas” adalah salah satu yang tersampaikan apa adanya. Ketika menonton pertunjukan oleh sekelompok seniman muda, mendiang seakan-akan bertanya pada diri sendiri, apakah seniman-seniman ini bisa hidup hanya dari tanggapan (undangan pentas)? Memang seniman di sini belum bisa menggantungkan hidupnya semata-mata dari kegiatannya berkesenian. Kepedulian dari mereka yang punya keleluasaan (baik materi atau pengaruh) bermakna banyak untuk dunia seni.


Sebagai kota seni budaya, wadah seperti ini tentu bukan cuma satu di Yogyakarta. Bagaimanapun juga, mengingat kemajuan dunia yang semakin tak berbatas dan materialistis, peran seni budaya semakin dibutuhkan, terlebih yang beraksi di tepi. Sehingga, kehilangan satu saja unsur yang peduli, berarti mengundang hantu budaya, yang bakal sampai di masalah sosial.

Legasi dari duet Pak JO dan Pak PK Ojong ini, yaitu harian Kompas, penerbit Kompas Gramedia, dan wadah Bentara Budaya di empat kota, membikin saya merinding. Seperti diungkap penulis milenial, Dyan, tanpa Pak JO, kita tak bisa menikmati semua kemewahan mental itu.


Bagi saya, itulah semua buku yang dibaca secara privat oleh Pak JO, karena belum ada testimoni lugas menceritakan bagaimana ia menjalani kebiasaan yang satu ini secara khas dibandingkan orang lain. Berbeda dari misalnya saat mesin ketiknya berketak-ketik berisik memproduksi tajuk harian, atau dari ia sebagai dramawan di pentas teater dengan suara dan mimik yang serasi, yang keduanya mudah diingat karena terjadi secara intens, kesan seputar khazanah khusus bacaan Pak JO tetap tersembunyi.


Amatan saya pribadi, keistimewaan literasi Pak JO tecermin dari kepedulian dan tindakannya. Cermin itu memantulkan kegiatan membaca dengan kedalaman, yang memeras sari pati kehidupan dari situ, dan menjadikannya bagian dari hidupnya sendiri. Koleksi sastra klasik menyediakan bahan semacam ini. Membaca yang tidak menelan mentah-mentah, tapi menimbangnya dengan pengetahuan dan pengalaman. Sehingga, meskipun wartawan Sindhunata menuliskan ramalan Naisbitt dari bukunya, tak serta-merta membuat Pak JO senang. Ia mengingatkan agar wartawan itu cermat menemukan titik keberangkatan yang sebenarnya dari penyusunan ramalan tersebut.


Kalaupun dipaksakan menjelaskan literasi Pak JO, kesaksian Romo Sindhu bisa menjadi petunjuk. Bahwa sebagaimana mereka yang serius berkarir jurnalistik, Pak JO juga generalis yang selalu ingin tahu, terutama isu terbaru. Untuk bisa menuliskan tajuk Kompas, ia mesti membekali diri dengan buku-buku ekonomi, sosial, politik, pembangunan, demokrasi, dan semacamnya. Masih menurut Romo Sindhu, Pak JO sering membicarakan sastra klasik seperti yang berasal dari Yunani, kisah-kisah Sophocles dan Oedipus.


Pak Wandi pun memastikan kepedulian Pak JO pada buku-buku. Pak JO selalu bertanya pada beliau buku-buku apa yang sedang digemari masyarakat, yang sedang didiskusikan di kampus-kampus, dan sebagainya. Seperti profesi pertamanya sebagai guru, pekerjaannya sebagai jurnalis cum penerbit sama-sama punya peluang penting untuk mempromosikan literasi lewat satu dan lain cara.


Keluarga mengingat Pak JO sebagai sosok yang mengajarkan kejujuran kerja dan kesederhanaan hidup. Pelaku bisnis melihat Pak JO adalah pengusaha andal di dunia properti dan jalan tol. Karyawannya bersyukur atas kepedulian Pak JO pada kesejahteraan mereka. Pecinta buku di kelompok KG mengingatnya sebagai pemerhati literasi yang intens dan kekinian. Wartawan Kompas mengapresiasinya sebagai profesional yang setia pada tugas-tugas jurnalistik. Pada akhirnya saya, seusai acara, menemukan sosok guru sejati dalam kiprah sepanjang hayat Pak JO.

Kisah epik yang terus bergema tentang bagaimana Pak JO “banting stir” dari guru jadi wartawan setelah dinasihati seorang pastur, terlintas secara lain dalam benak saya. Bisa jadi pastur itu kebetulan lebih mengerti, bahwa bukannya wartawan lebih penting daripada guru, melainkan bahwa dengan menjalani kerja jurnalistik, Pak JO akan punya murid jauh lebih banyak, hingga pelajarannya akan menyebar, tumbuh, berkembang, dan berbuah secara lebih efektif. Mungkin saja pastur itu meraba kualitas istimewa dalam sosok JO, yang sayang jika tak mencakup lebih luas wilayah. Siapa tahu?


Apa pun dan di mana pun peran dilakoni Pak JO, apakah itu orang tua, pengusaha, ataukah wartawan, menurut saya selamanya memikul peran sebagai guru. Guru yang diharapkan tidak hanya menasihati dengan ucapan perihal nilai-nilai yang baik, namun juga mencontohkannya lewat perbuatan. Apakah pelajaran lewat contoh ini berhasil sampai ke “murid-murid”nya? Sejauh mana “murid-murid”nya menyerap dan meneladani keteguhan prinsip dan kelembutan cara yang diperlihatkan oleh sang guru?


Moderasi adalah salah satu pelajaran penting dari Pak JO. Kebaikan bersikap moderat bukan hal baru. Berbagai keyakinan dan filsafat mengajarkannya. Bahwa manusia tidak bisa dinilai hitam atau putih, tapi lebih mirip gradasi kebaikan dan kekhilafan. Dengan begitu, tak ada alasan bagi kita bereaksi ekstrem pada sesama manusia, apalagi tanpa tahu latar belakangnya. Banyak orang yang pintar berbicara tentang moderasi, tapi lalu meninggalkannya, karena mempraktikkannya adalah perkara lain. Tanpa Pak JO menerapkan prinsip ini, kita sekarang tak bisa membaca Kompas. Karena di suatu titik, Pak JO harus konsisten dan konsekuen pada nilai ini, berapa pun ongkosnya, ketika menghadapi ancaman pemberedelan. Ongkos itu semahal opini publik yang mengira Kompas tunduk pada penguasa.


Fakta bahwa apa yang ditekuninya sintas, termasuk keputusannya untuk Kompas pada masa gawat, bukan berarti ia peramal. Menurut Pak Wandi, Pak JO rajin memunguti insight dari sana sini, dari pelbagai peristiwa atau orang-orang, lalu menyusunnya menjadi wisdom, kearifan. Hanya mereka yang memelihara sifat rendah hatinya bisa terus belajar dari semua kalangan. Seandainya gagal menyentuh keagungan dalam penderitaan dan kesusahan orang miskin, mana bisa ia mengasah kearifannya dari situ? Ini adalah pelajaran kesekian oleh Pak JO.

Benih baik yang ditabur petani, pelita yang dinyalakan nelayan dalam gelap laut, mungkin bisa menggambarkan salah satu fungsi guru yang ditunaikan Pak JO. Bermacam jenis murid, dari berbagai angkatan masuk dan lulus, sudah membuktikan bakti sang guru. Kiprah alumni sekolah Pak JO di pelbagai bidang, terutama seni dan budaya, adalah kenyataan tak terbantahkan tentang keberhasilan cara mengajarnya. Tunai sudah janji bakti guru sejati.


Dan, guru itu tak pernah benar-benar pergi. Ajarannya telanjur digugu dan ditiru. Alumninya terus menyebarkan bukan hanya kenangan akan cerita-ceritanya yang selalu hangat, namun yang paling penting adalah legasi nilai-nilainya yang mewujud nyata dalam kemanusiaan, kesenian, kebudayaan, atau ringkasnya sesuatu yang begitu besarnya dalam diri setiap manusia, yang cilik dan yang gede, yang sia-sia diingkari dengan merendahkan, apalagi menafikannya.


_________


Dian Vita Ellyati

penikmati literasi

FB: Vita Ellyati

Search By Tags
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email