Cari
  • Bandung Mawardi

Esai, Novel, Beritalogi

NOSTALGIA muncul gara-gara pengangkatan menteri di akhir tahun. Ia memiliki beban berat dalam mengurusi kerja-kerja saat wabah belum punah. Berita-berita menuliskan nama dan latar belakang sebelum menjadi menteri. Di luar jalan besar, ada berita dan gosip mengarah istri. Menteri itu mungkin kondang tapi kalah kondang dari istri: Bianca Adinegoro. Kita melupa dulu masalah kekuasaan. Ingat Bianca Adinegoro, ingat Dewa 19 dan Kuldesak. Dulu, di depan televisi, orang-orang terpuka melihat Dewa 19 dengan lagu moncer sepanjang masa: “Cukup Sitti Nurbaya”. Di situ, ada sosok perempuan anggun dan selalu teringat. Orang-orang tak pernah menduga suatu saat Bianca Adinegoro adalah istri menteri.

Berita atau gosip mengenai Bianca Adinegoro agak menghibur, berjarak dari ruwet seribu masalah di kabinet. Orang mungkin ingin melihat lagi masa lalu Bianca Adinegoro. Ada orang nekat melacak dan mengabarkan bahwa Bianca Adinegoro itu cucu Adinegoro. Kita belum bisa memastikan meski di nama belakang menggunakan Adinegoro. Para kolektor buku mengingat buku berjudul Melawat ke Barat. Para pengarang dan jurnalis ingat buku-buku Adinegoro turut memajukan sastra dan pers di Indonesia, sejak masa kolonial. Pada masa 1960-an, terbit buku berjudul Publisistik dan Djurnalistik susunan Adinegoro, dua jilid. Kini, buku itu langka.


Kita anggap makin “langka” setelah rampung membaca esai Ariel Heryanto di Kompas, 26 Desember 2020. Tulisan berjudul pendek: “Media”. Pada akhir pekan, kita berpikir nasib pers masa sekarang. Intelektual tenar itu menjelaskan: “Jurnalisme ala abad ke-20 sudah babak belur. Tetapi, ia masih dibutuhkan dunia, terutama saat dilanda krisis dan masyarakatnya terbelah. Di situ, jurnalisme berpeluang membantu publik membangun kesepakatan dan menghindarkan ledakan konflik”. Pemuatan di Kompas mungkin terbaca ribuan orang, diharapkan berpengaruh. Esai itu mentereng tapi membikin senewen. Pada akhir pekan, orang-orang mungkin membaca esai dalam edisi cetak: selesai tanpa percakapan. Hal-hal lain terus berdatangan, mendesak esai untuk terlupa.


Keisengan ketimbang murung. Ariel Heryanto memiliki biografi selama di Salatiga. Nah, kita ingat pula ada tokoh asal Salatiga: Bre Redana. Puluhan tahun, ia menjadi wartawan di Kompas, selain rajin menulis cerita pendek. Episode setelah tak berkantor adalah menulis novel. Kita sengaja mengisengi esai Ariel Heryanto dengan celotehan Bre Redana dalam novel berjudul Dia Gayatri (2020): “Pak Je – kehadirannya dalam hidupnya ia samakan sebagai malaikat – menurut keyakinannya bakal menerima Nirwana. Pak Je mengajarkan, menjadi wartawan koran harian membuat berita setiap hari kalian tidak bisa mengharapkan kejadian istimewa sehari-hari. Tidak tiap hari ada gunung meletus, pecah perang, artis terkenal membikin skandal, suatu negara meluncurkan pesawat ruang angkasa, penemuan ilmiah baru bahwa manusia berasal dari kadal, dan seterusnya. Karena sejatinya tidak ada atau jarang sekali kejadian istimewa sehari-hari maka kalian harus terlatih membuat sesuatu yang biasa dan sehari-hari menjadi istimewa”.


Pada abad XXI, ajaran itu terbaca lagi dalam novel tapi kita setiap detik diserbu kedatangan berita, bualan, gosip, fitnah, dan lain-lain. Lakon keseharian tak lagi terbaca di koran. Orang-orang sudah malas membaca koran setiap hari. Berlangganan koran cetak menjadi kehormatan. Di pinggiran Solo, Kabut tetap saja membeli koran-koran ketimbang dikutuk melongo dan tolol. Duit untuk membeli koran-koran sering mengalahkan makanan keluarga di dapur. Oh, tolol!


Perjumpaan dengan esai Ariel Heryanto membuat pagi cepat sumuk. Koran-koran sudah terbeli tapi esai itu “merusak” Sabtu, hari untuk nglaras. Kutipan meruwetkan Sabtu ingin dirasakan indah: “Jurnalisme abad ke-20 terancam ambruk. Sebaliknya, perusahaan layanan media sosial berjaya tanpa bersaing dan menaklukkan pers dengan produk tandingan. Mereka tidak memproduksi konten informasi apa pun. Ironisnya, sebagian konten yang tersebar di media sosial adalah produk pers yang jadi korbannya”. Paragraf itu mendukakan pembaca masih sregep membaca koran dan majalah edisi cetak.

Sabtu semakin memburuk saat siang. Kita boleh menghindar dengan membaca puisi, cerita pendek, atau novel sambil berharap lekas malam: menonton pertandingan sepak bola di Inggris. Kita ingin terlena imajinasi, tak harus membaca novel Bre Redana. Ah, kita memilih ingat Adinegoro. Tokoh besar dari masa lalu belum tentu dikenali orang-orang “terkutuk” media sosial abad XXI. Orang-orang sastra dan pers mungkin mengingat tapi belum tentu memiliki dan membaca buku-buku pernah ditulis Adinegoro. Eh, orang-orang itu malah masih sibuk memikirkan Bianca Adinegoro.


Sabtu semakin memburuk saat siang. Kita boleh menghindar dengan membaca puisi, cerita pendek, atau novel sambil berharap lekas malam: menonton pertandingan sepak bola di Inggris. Kita ingin terlena imajinasi, tak harus membaca novel Bre Redana.

Beritalogi. Di buku berjudul Publisistik dan Djurnalistik, ada bab “beritalogi”. Istilah itu aneh. Adinegoro menerangkan: “Kata ‘warta’ atau ‘berita’ itu berasal dari bahasa Sanskrit, jakni ‘vrit’ jang dalam bahasa Inggeris mendjadi ‘write’, jang arti aslinja ialah ada atau terdjadi, particip perfek-nja ‘vritta’ jang telah terdjadi, kedjadian. ‘Vritta anta’ dalam bahasa Sanskrit berarti kedjadian jang lengkap, tjerita, sedjarah, riwajat, demikian menurut A Practical Sanskrit Dictionary karangan Arthur Anthony MacDonell.” Pilihan membaca buku lawas malah bergerak ke bahasa dan situasi masa lalu saat berita (terlalu) penting. Sabtu sumuk meski hujan sore hari mengingatkan kita dengan “beritalogi”. Adinegoro berhak menggunakan istilah itu berkaitan biografi dalam pers.


Buku lawas itu tak ada kaitan dengan Bianca Adinegoro dan Dewa 19. Buku masih mungkin berhubungan dengan esai Ariel Heryanto dan pengakuan Bre Redana. Ah, berita. Kabut masih saja menikmati berita-berita setiap hari dalam edisi cetak. Boros! Ia merasa ada pesona tak pudar bila membaca koran. Hari demi hari, koran-koran ditumpuk di Bilik Literasi. Pemandangan bersaing dengan ribuan buku dan majalah. Di ruangan berantakan, “mereka” bersekutu membujuk orang-orang mau membaca edisi cetak saat segala hal ingin digital. Sabtu, pilihan membaca koran, novel, dan buku lawas diiringi lagu berjudul “Rein” dari album pertama Dewa 19. Lagu tak mungkin mengingatkan Bianca Adinegoro. Pembaca sambil bersenandung: “Masihkah kamu merindukan aku di saat kau sendiri tanpaku. Datanglah kepadaku dan peluk diriku. Akan kulepas semua rinduku. Kuberjanji padamu takkan kulepas dirimu lagi.” Oh, merindu perempuan ketimbang berita. Begitu.


_____________

Bandung Mawardi

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

160 tampilan
Search By Tags