Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Tertawalah

Bandung Mawardi





Di buku pelajaran lawas, bocah-bocah masa 1950-an memahirkan diri berbahasa Indonesia dengan mengenali petani, burung, dan orang-orangan. Buku itu berjudul Peladjaran Bahasa Indonesia susunan Oesman dan CF Ijspeert, terbitan JB Wolters, Jakarta-Groningen. Di jilid 2, murid sekolah rendah melihat gambar aneh. Di situ, bocah diharuskan menjawab: “Apakah gunanja orang-orangan diladang itu?” Bocah berasal dari desa atau hidup di keluarga petani lekas menjawab: menakuti dan mengusir burung.


Di jilid 4, murid disuguhi cerita kecil berjudul “Menghalau Burung”. Cerita tanpa gambar. Murid diharapkan sanggup berimajinasi agraris. Simaklah: “Sedjak mulai masak, tiada berhentinja ia menghalau burung itu, sehingga tak sempat mengerdjakan pekerdjaan jang lain. Berpuluh-puluh orang-orangan dipatjakkan diladang itu, tetapi tiada diindahkannja. Mula-mula berhasil djuga, tetapi setelah empat-lima hari, hinggaplah burung tjelaa itu pada orang-orangan itu, seakan-akan menertawakan peladang itu.” Penggalan cerita itu mengingatkan orang pada orang-orangan berbaju kain buruk atau gombal amoh digantungi kaleng diisi kerikil. Orang-orangan atau memedi sawah dihubungkan dengan tali untuk digerakkan menakuti burung-burung. Penampilan memedi sawah dan suara berisik dari kaleng dianggap membikin takut: mengusir burung-burung bermisi mencuri bulir-bulir padi.


Puluhan tahun berlalu dari buku pelajaran sudah teranggap klasik, kita melihat foto-gambar di Kompas, 10 Maret 2019. Penjelasan ringkas mengenai orang-orangan sawah: “Penjaga sawah terhadap kehadiran hewan pemakan bulir padi, misalnya burung, didaur ulang dari hasil bumi, berupa jerami atau ijuk dan kayu. Orang-orangan sawah ini dibentuk setinggi orang lengkap dengan baju dan caping.” Pemuatan “Kompaspedia” itu mungkin berkaitan dengan tulisan Romo Sindhunata di Kompas (9 Maret 2019) atau tanggapan atas pameran seni rupa di Bentara Budaya Jakarta.



Pameran Seni Rupa "Memedi Sawah" karya Hari Budiono di Bentara Budaya Bali (3-9 Maret 2019). Foto IG @hariharibudiono


Pada hari berbeda, kita membuka Tribun Jateng, 16 Maret 2019. Lihatlah, foto hasil jepretan Maulana Surya dari Antara. Orang-orangan sawah atau memedi sawah di situ ditempeli gambar tokoh-tokoh kondang sedang tertawa! Foto mengabarkan pameran seni rupa Memedi Sawah oleh Hari Budiono berlangsung di Balai Soedjatmoko, Solo, 14-20 Maret 2019. Memedi sawah tak lagi berada di buku pelajaran tapi dimunculkan di ruangan beralamat di kota, ruang berlantai tegel ditebari jerami. Memedi sawah di zaman terlalu berubah, zaman digital. Kaum tua mungkin bernostalgia dengan memedi sawah. Kaum mutakhir cenderung tak memiliki pengalaman atau ingatan tentang memedi sawah. Mereka hidup di “sawah” digital, bukan sawah berlumpur dan diramaikan burung-burung pemakan padi.


Di pameran, gambar tokoh tertawa itu memberi pesan agar kita berani melawan ketakutan bersumber dari politik dan segala hal dengan tertawa. Di keseharian, orang-orang diserbu ketakutan-ketakutan berdalih demokrasi, agama, dan terorisme. Tertawa dianjurkan tindakan mujarab mengusir ketakutan.

Di pameran, gambar tokoh tertawa itu memberi pesan agar kita berani melawan ketakutan bersumber dari politik dan segala hal dengan tertawa. Di keseharian, orang-orang diserbu ketakutan-ketakutan berdalih demokrasi, agama, dan terorisme. Tertawa dianjurkan tindakan mujarab mengusir ketakutan. Kita tak pernah meramalkan ada hari bertentangan gara-gara pameran Hari Budiono. Di halaman depan Tribun Jateng, berita utama adalah operasi tangkap tangan oleh KPK. Tokoh politik dicap muda dan rajin tertawa ditangkap di hotel di Surabaya, Jawa Timur, 15 Maret 2019. Tokoh itu ada di pameran Memedi Sawah.


Tokoh berpredikat ketua umum partai politik digambar Hari Budiono, terpasang di tubuh memedi sawah bersama 99 tokoh lain. Di pameran, tokoh itu ngekek alias tertawa lepas. Di berita, wartawan mustahil memberi laporan bahwa si tokoh masih tertawa saat ditangkap KPK. Ia malah menutupi mulut dengan masker. Tertawa sudah sirna? Ia sedang dilanda ketakutan gara-gara berurusan dengan KPK berakibat ke hajatan demokrasi, 17 April 2019. Hari Budiono mungkin emoh menurunkan gambar dengan menggantikan wajah si tokoh sudah mendapat cap tersangka korupsi sedang menangis atau murung.



Karya Hari Budiono, 2019


Kita menengok ke koran berbeda, Solopos, 16 Maret 2019. Berita kecil tapi menggirangkan: “Agnez Mo Bawa Pulang Piala dari Amerika Serikat.” Artis itu ada di pameran seni rupa Memedi Sawah. Hari Budiono memasang wajah Agnez Mo tertawa manis. Di berita, kita melihat foto Agnez Mo juga tertawa manis. Ia mendapat penghargaan Social Star Awards di Los Angeles, California, Amerika Serikat, 14 Maret 2019. Agnez Mo pantas mesem atau tertawa berbagi bahagia pada para penggemar. Di samping, berita kecil pula berjudul “Luna Maya Raih Penghargaan.” Gambar artis itu bisa kita lihat di pameran Memedi Sawah. Luna Maya tertawa gara-gara mendapat penghargaan kategori Pemeran Wanita Utama Terfavorit di Indonesia Movie Actor Awards 2019. Oh, dua artis tetap saja tertawa tanpa bermaksud mengejek tokoh politik sedang dirundung murung atau kehilangan tawa!


Pameran seni rupa dan berita memberi ingatan dan peringatan kebermaknaan tertawa. Sekian orang telah memilih jadi “hama” dengan pantang takut pada korupsi dan tebar kebohongan di lakon politik. Mereka memberi duka, ribut, dan pedih bagi Indonesia. Para “hama” tak ingin melihat Indonesia tertawa. Kita sedang kembali ke bacaan murid-murid sekolah rendah masa 1950-an. Memedi sawah masa lalu sudah berubah rupa di abad XXI. Semula, memedi sawah untuk menakuti burung. Kini, memedi sawah memang berpenampilan buruk dan menakutkan. Kita dianjurkan tertawa, tak perlu lagi takut. Kita berhak tertawa dari segala situasi kontradiktif di Indonesia.


Demokrasi bermisi bahagia dipaksa berubah oleh para elite dengan penciptaan ketakutan dan kecamuk. Hari-hari politik sengaja menginginkan marah dan siksaan ketimbang penghiburan dan tawa. Di Indonesia, demokrasi berada di sawah mengandung “racun-racun” pikiran dan omongan kaum politik memuja bebal dan kebiadaban. Demokrasi bergelimang dusta. Pamrih pemuliaan demokrasi memberi tawa sengaja dinodai oleh kaum picik-licik. Kita emoh selalu berada di situasi amburadul. Tertawa jadi pilihan bersahaja demi waras. Demokrasi itu mewaraskan, bukan mengenaskan.


Di Indonesia, demokrasi berada di sawah mengandung “racun-racun” pikiran dan omongan kaum politik memuja bebal dan kebiadaban. Demokrasi bergelimang dusta. Pamrih pemuliaan demokrasi memberi tawa sengaja dinodai oleh kaum picik-licik. Kita emoh selalu berada di situasi amburadul. Tertawa jadi pilihan bersahaja demi waras. Demokrasi itu mewaraskan, bukan mengenaskan.

Sejenak mengandaikan memedi sawah di hari-hari riuh politik, kita menempuhi jalan keinsafan dengan tertawa: menghindari pikiran dan perbuatan biadab. Tertawa itu menghibur. Tertawa itu mulia. Tertawa membuktikan demokrasi itu menanam dan memanen kebaikan, kebersamaan, kegirangan, dan ketulusan. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi Solo

270 tampilan