Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Tempat Sampah Itu ...



Bandung Mawardi


Di kota-kota, sampah itu masalah. Sampah itu petaka! Di pinggir jalan, sampah menumpuk memberi pemandangan jijik. Sungai pun bersampah! Adab berkota mengabsenkan pengetahuan sampah. Di kota, orang-orang membuat hidup semakin mencekam gara-gara sampah. Sejarah umat manusia mungkin mencatat abad XX dan XXI adalah abad terparah “mengurusi” sampah. Jumlah sampah dikabarkan terus bertambah, agak mustahil berkurang.


Abad turisme dihajar sampah. Pamrih-pamrih menjadikan kota-kota teknologis moncer ternodai sampah. Angan mengajarkan politik bijak terjatuh ke hamparan sampah. Di Indonesia, kegagalan mencipta adab bersampah bermula dari gagal bahasa dan penjauhan imajinasi. Pengertian atas diksi “membuang” berkhianat pada ajaran-ajaran leluhur dalam penundaan benda atau makanan menjadi sampah. Dulu, mereka itu menjadikan segala hal bakal basi dan rusak mengalami episode-episode perubahan rupa, rasa, dan faedah. Kerja penundaan dan pengubahan mengacu ke imajinasi sebelum segala hal itu tamat atau musnah.



Foto: Suara Merdeka, 29 Januari 2019

Ingatan pada bahasa dan imajinasi mulai dimunculkan oleh Universitas Mercu Buana Jakarta. Sekian tempat sampah berpantun diberikan Universitas Mercu Buana pada SMP Ibu Kartini dan SD Nasima di Semarang (Suara Merdeka, 29 Januari 2019). Pantun-pantun menempel di tempat sampah itu pesan. Konon, murid-murid diajak membuang sampah secara benar. Kita mulai meragu pilihan kata membuang itu terasa “belum” beradab. Orang berhak mengganti dengan menaruh atau memasukkan sampah. Orang membuang tak melanjutkan pengertian bahwa sekian benda di tong atau tempat sampah itu rezeki bagi pemulung atau bahan bagi pembuatan pupuk dan kerajinan.  


Berita itu belum memamerkan pantun-pantun di tempat sampah. Siapa pembuat pantun? Apa itu pantun lama atau baru? Kita hentikan saja ragu sambil mengenang pantun dari ratusan tahun lalu. Para sarjana Eropa, pujangga Nusantara, dan murid-murid di sekolah modern perlahan menekuni pantun. Mereka berharapan pantun memberi panggilan ke religiositas, etika, asmara, hiburan, dan ilmu. Studi-studi pantun di Nusantara diusung ke universitas-universitas di Eropa dan Amerika Serikat. Pantun dipelajari untuk menguak bahasa, estetika, dan imajinasi bertumbuh di Nusantara.


Para sarjana lazim berdebat atas hasil-hasil studi pantun, bersaing paling otoritatif.

Sejarah kesusastraan di Indonesia belum memiliki catatan ada “pembenaran” pantun ditempel di tempat sampah. Larangan memang tak ada. Berjalan ke tempat sampah, murid dianjurkan menaruh sampah sesuai jenis. Murid digoda memberi mata untuk membaca pantun. Oh, pantun manjur mengajarkan adab bersampah? Para sarjana lawas mungkin belum pernah berpikiran ada kaitan pantun dan tempat sampah.


Kita membuka buku berjudul Penjedar Sastra susunan Hooykaas. Buku dokumentatif dan sumber pelajaran sastra bagi murid dan mahasiswa masa 1950-an. Sarjana asal negeri jauh mengatakan: “Betul bahwa pantun itu terutama sekali dimaksudkan untuk diucapkan atau dinjanjikan, dan terlebih disukai untuk dibalas!” Ia tak pernah lagi dolan ke Indonesia melihat pantun-pantun ditempelkan di tempat sampah. Pantun tak melulu ada di buku pelajaran atau muncul di soal-soal ujian. Pada tempat sampah, mereka digoda teringat sastra. 


Sampah itu sastra! Penekun sastra mungkin mengingat novel berjudul Mimpi Selalu Indah (2008) gubahan Carolin Philipps. Cerita mengenai anak dan remaja hidup di jalanan. Hidup kadang bergantung pada tempat sampah. Mereka berada di Bukares, Rumania. Ia bernama Sandela. Pagi hari, ia memerlukan sarapan. Sekalimat di novel: “Sandale mulai mencari sarapan seperti biasa di dalam tempat sampah di depan stasiun.” Di situ, ia menemukan roti sudah digigit, apel, pisang, setengah batang coklat. Ia masih berharapan bakal mendapat berlimpahan sisa makanan di tempat sampah besar-besar di belakang restoran. Sandale tak pernah bertemu gubahan sastra di tempat-tempat sampah. Ia cuma ingin hidup meski gagal hidup di rumah dan bersekolah. Salande bukan pantun tapi pencari makanan (sisa) di tempat sampah. Begitu.  


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi Solo

154 tampilan