Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Teks, Batas, Identitas



Kita tahu dan mengalami: bunyi dihurufkan, pikiran dituliskan, kitab suci diucapkan, sebuah novel yang sedang laris difilmkan, film dinovelkan, musikalisasi puisi terkenal oleh band indie, naskah drama dipentaskan, satu puisi dinovelkan, sejarah tokoh dipuisikan atau dinovelkan, dan seterusnya dan sebagainya.


Dalam proses alih wahana itulah terjadi berbagai peristiwa teks: teknologisasi suara menjadi huruf, migrasi kebudayaan bahkan peradaban dari satu daerah (bahasa) ke daerah (bahasa) yang lain, kontekstualisasi teks atas nama pengalaman penonton, pembaca, pendengar baru (yang bisa sekaligus dalam satu orang), akulturasi bahkan benturan satu kebudayaan atas kebudayaan lain, reinterpretasi dan reposisi satu kebudayaan di suatu tempat, dan sebagainya dan seterusnya. Fenomena besar alih wahana adalah peristiwa yang sudah berlangsung lama dan seakan tak jadi masalah karena sering sudah sangat bersifat keseharian.


Fenomena besar alih wahana adalah peristiwa yang sudah berlangsung lama dan seakan tak jadi masalah karena sering sudah sangat bersifat keseharian.

Proses alih wahana, seperti dari novel ke film, bukan hanya terkadang membuat kita merasa tidak "nyaman" atas "pengkhiatan" film terhadap satu novel baik perihal penokohan, alur kisah, dan seterusnya. Tentu saja, terutama akibat tuntutan perbedaan pewujudan medium, alih wahana menjadikan "teks-asal" tidak bisa dipertahankan bahkan justru harus dihilangkan dan dikhianati demi medium "teks-kedua" yang baru. Satu novel tebal, atau satu puisi sekian kata, tidak mungkin dipatuhi seluruhnya dalam film berdurasi sekitar satu sampai dua jam lebih. Wajib ada konstruksi ulang dengan konsekuensi ada yang dihilangkan. Dan justru di sinilah yang sangat menarik dalam kajian alih wahana.


Setelah kita membaca buku Sapardi Alih Wahana ini, pemikiran kita barangkali tidak hanya melihat sejenis pola alih wahana yang terjadi dalam satu teks yang berubah menjadi teks lain: bunyi dihurufkan, satu novel difilmkan, satu puisi dinyanyikan, satu naskah dipentaskan, dan seterusnya. Dalam proses alih wahana, dalam rentang waktu yang sangat panjang seperti abad demi abad, kita bisa menyaksikan proses alih wahana yang besar: satu kebudayaan ke kebudayaan lain, katakanlah seperti yang terjadi pada Mahabharata versi India ke Mahabharata versi Jawa.


Alih wahana tidak hanya meniscayakan perubahan terhadap "teks-awal", tapi sering juga membuat transformasi yang memang dikehendaki untuk menghasilkan "teks-kedua". Di sinilah, alih wahana bukan hanya terkait dengan masalah orisilitas dan interpretasi, tapi juga mempertanyakan batas-batas identitas baik pada skala kecil seperti sosok penulis, pembuat, pencipta, tapi juga bisa sampai pada sosok identitas satu bangsa, satu kebudayaan, bahkan satu peradaban. Kita tahu: area geografis, kebudayaan (satu) masyarakat yang dialihwahanakan atau yang sedang mengalihwahanakan, konteks sejarah kesedangberlangsungan peristiwa alih wahana, berbagai pamrih si pengalih wahana dan seterusnya, bisa sangat menentukan proses dan identitas alih wahana. Dalam proses alih wahana, terjadi peristiwa pembentukan dan keterbentukan, baik disadari atau tidak. Dan dalam proses ini, identitas bisa mengeras, mencair, meluruh, bahkan menghilang. Proses alih wahana, baik dalam skala kecil (satu teks demi teks yang lain) atau dalam skala besar (satu kebudayaan atas kebudayaan lainnya), bisa sangat mengasyikkan, memabukkan, tapi juga menakutkan bagi sebagian masyarakat.


Alih wahana bukan hanya terkait dengan masalah orisilitas dan interpretasi, tapi juga mempertanyakan batas-batas identitas baik pada skala kecil seperti sosok penulis, pembuat, pencipta, tapi juga bisa sampai pada sosok identitas satu bangsa, satu kebudayaan, bahkan satu peradaban.

Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri: identitas yang bisa dianggap paling murni asli Indonesia itu apa, terutama seperti saat ini dalam arus proses alih wahana yang begitu cepat, masif, dan tidak hanya berasal dari satu arah saja. Di satu jalan yang bisa dianggap sangat khas Jawa, katakanlah di Malioboro, di manakah persisnya kebudayaan yang sungguh benar Jawa asli di sepanjang jalan Malioboro. Di Jakarta, di manakah identitas orisinal nan asli sungguh Indonesia, dalam proses alih wahana yang sedemikian canggih seperti sekarang?


Pertanyaan-pertanyaan serupa tidak hanya melibatkan peristiwa migrasi satu teks kepada (ke dalam) satu teks yang lainnya, tapi juga melibatkan, meminjam kata Manneke Budiman dalam pengantar buku ini, “multi- dan inter-medialitas”. Dalam arus panjang proses alih wahana, kita barangkali bisa mengenali batas-batas identitas satu teks yang teralihwahanakan terhadap teks yang menerima alih wahana. Namun, akibat transformasinya sendiri, teks yang menerima alih wahana sudah bermutasi dan menjadi sejenis teks tersendiri yang sudah bisa lepas seutuhnya.


Dalam peristiwa alih wahana, batas bisa diterobos tapi batas juga bisa dipatok—secara epistemologis, hal barangkali bisa menjadi keraguan atas keandalan kajian alih wahana. Namun, justru inilah yang membuat alih wahana menjadi tantangan akademik yang sangat menarik. Karena satu hal: alih wahana tidak mungkin hanya melibatkan ilmu bahasa, tapi justru membutuhkan banyak disiplin ilmu mulai dari sejarah, antropologi, ilmu agama, dan seterusnya.

Di Indonesia, kajian peristiwa alih wahana bisa dikatakan masih belum berkembang gara-gara klasifikasi (penjurusan) keilmuan yang sangat sempit. Dan ini membuat humaniora, yang menaungi kajian alih wahana secara kelembagaan-keilmuan, kata Manneka Budiman, “menghadapi krisis eksistensial dan terancam kehilangan relevansinya”.


Dalam peristiwa alih wahana, batas bisa diterobos tapi batas juga bisa dipatok—secara epistemologis, hal barangkali bisa menjadi keraguan atas keandalan kajian alih wahana. Namun, justru inilah yang membuat alih wahana menjadi tantangan akademik yang sangat menarik.

Namun, seperti dikatakan Manneke Budiman, “Di masa mendatang, humaniora akan semakin membutuhkan lebih banyak ilmuwan dan praktisi yang memiliki kualifikasi pengaji alih wahan, dan bila kebutuhan ini dapat dijawab dengan memadai, maka akan terjadi pemberdayaan yang signifikan pada ilmu-ilmu humaniora yang kini mulai diragukan kemujarabannya oleh banyak pihak.” Buku Alih Wahana Sapardi mencoba memberikan sumbangan awal dalam diskursus alih wahana di Indonesia.


M Fauzi Sukri,

fauzi_sukri@yahoo.co.id