• Majalah Basis

Sarung dan Kemiskinan

Pada 3 Juni 2019, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Soloraya) mengadakan pembagian seribu sarung kepada kaum duafa di depan Balai Kota Solo, Jawa Tengah. Sarung dibagikan berdalih itu “benda serbaguna”. Pada acara pembagian, panitia sengaja menghadirkan tokoh Spiderman gadungan. Konon, orang mengenakan busana Spiderman itu ingin menarik minat publik. Spiderman tak pernah bersarung. Di Solopos, 4 Juni 2019, Spiderman gadungan itu sempat penekan di Tugu Pamandengan. Tindakan itu salah! Acara pembagian sarung tapi tokoh dari komik dan film buatan di Amerika Serikat tak mengenakan sarung. Ia wajib bercelana agar tak kecanthol saat bergerak atau bergelantungan. Orang mungkin lekas bingung: Spiderman dan sarung di Solo.


Pemberitaan di Tribun Jateng, 4 Juni 2019, membuat pembaca bertambah mesem dan bingung. Imajinasi memberi dengan cara santun mendadak tergantikan ulah Spiderman gadungan. Kita simak cara Spiderman gadungan: “Dia membagikan sarung sembari bergelantungan di atas besi penyangga. Sarung diberikan dengan cara dikalungkan ke leher masing-masing peneriman.” Acara itu berlangsung di Solo, kota memiliki anutan adat Jawa. Eh, acara dari orang-orang berpendidikan mulai memilih cara baru sesuai ulah penokohan Spiderman. Kita menduga cara membagi sarung itu “meniru” cara telah dimaklumi di Amerika Serikat. Foto saat Spiderman mengalungkan sarung ke penerima bisa kita lihat di Radar Solo-Jawa Pos, 4 Juni 2019.


Eh, acara dari orang-orang berpendidikan mulai memilih cara baru sesuai ulah penokohan Spiderman. Kita menduga cara membagi sarung itu “meniru” cara telah dimaklumi di Amerika Serikat.

Sarung itu tak masalah. Kita cuma kaget saja dengan tata cara pembagian oleh Spiderman gadungan. Sekian bulan lalu, kita juga kaget jika sarung masuk ke perkara hajatan demokrasi. Dulu, demokrasi di Indonesia telah lama diceritakan dengan bendera, kaus, spanduk, dan poster. Demokrasi memerlukan juru bicara berupa benda-benda dipaksa menjadi simbol atau penjelasan picisan ke publik. Sekian benda malah terlalu terbebani sejarah, identitas, dan agama saat dihadirkan di arus berdemokrasi abad XXI. Pengertian-pengertian lama lekas mendapatkan penambahan di hari-hari harus mahir mengedarkan ajakan-ajakan memihak ke tokoh-tokoh ingin memimpin Indonesia.


Benda diperebutkan di pengertian politis adalah sarung. Kita tak sedang melulu melihat sarung itu kain tapi mengarah ke para pengena sarung. Segala hal berkaitan sarung lekas bermakna politis. Kita mungkin ingin menunda tapi arus politik terlalu kencang. Tiga bulan lalu, orang-orang menghadiri acara berjudul Festival Sarung Indonesia 2019 di Plaza Tenggara, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta. Festival memamerkan pelbagai motif kain sarung dari pelbagai daerah. Acara mengajak orang-orang mau bersarung di selera busana mutakhir. Ajakan kultural ketimbang politik. Acara dihadiri Presiden Joko Widodo, tokoh mulai rajin mengenakan sarung di pelbagai acara. Ia tak selalu bercelana panjang. Sarung dipilih tanpa mutlak mengartikan agama dan politik.


Acara mengajak orang-orang mau bersarung di selera busana mutakhir. Ajakan kultural ketimbang politik.

Di Festival Sarung Indonesia 2019, Joko Widodo berpesan: “Inilah kekayaan budaya yang tidak dimiliki bangsa dan negara lain. Oleh sebab itu, saya akan ajak nantinya setiap hari tertentu dalam satu bulan kita memakai sarung bersama-sama” (Media Indonesia, 4 Maret 2019). Pengakuan atas keunikan sarung. Di Nusantara, sarung itu telah ada dan dikenakan sejak lama di pelbagai peristiwa berkaitan adat, agama, dan seni. Sarung masih bermakna di abad XXI. Sarung bukan nostalgia usang atau koleksi di museum untuk tontonan saja. Kemauan mengenakan sarung mengabarkan ada ikatan dan pewarisan selera dan pesan, dari masa ke masa.


Pada 1984, Goenawan Mohamad mengajak pembaca merenungi sarung berlatar kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru dan selera busana akhir abad XX. Sarung dipandang di peristiwa adat memiliki kesan lawas. Dunia sedang bergerak. Pengenaan sarung agak terpahami sudah kuno, sulit adaptif dengan impian Indonesia mengglobal. Orang-orang mulai bercelana. Pilihan mengenakan sarung di saat-saat tertentu saja. Pengecualian adalah para santri di pondok pesantren. Sarung berada di referensi masa lalu dan kemungkinan “terbarukan” makna.


Goenawan Mohamad menulis: “Maka, tak mengherankan bila sarung pun bisa jadi lambang sesuatu yang pribumi tapi menyusut, sesuatu yang ‘rakyat’ tapi terdesak, sesuatu yang cocok dengan lingkungan tapi terancam oleh modernisasi yang menabrak-nabrak.” Indonesia sedang ingin berjalan cepat atau berlari di masa pembangunan nasional. Keparlentean bangsa sulit diakui di pengenaan sarung. Orang-orang mengenakan celana atau berjas rapi dan berdasi semakin mengukuhkan ambisi-ambisi menjadi manusia baru di Indonesia disangka maju. Orang mengenakan sarung sempat ada di urutan belakang berkaitan politik, intelelektual, dan bisnis. Di luar nalar besar menepikan sarung, Goenawan Mohamad malah beranggapan sarung juga “lambang suatu kebersahajaan” memiliki kemandirian.


Ia mungkin bakal meralat esai lama asal mengikuti situasi politik mutakhir. Sarung terlalu bermakna di hari-hari berpolitik. Sarung di kemeriahan “ingin” dan “seruan”. Sarung mutakhir juga melampaui imajinasi sarung di puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo. Dulu, ia menggubah Di Bawah Kibaran Sarung. Ia mungkin ingin membuat puisi baru berjudul Demokrasi di Bawah Kibaran Sarung untuk dokumentasi politik Indonesia 2019? Puisi Di Bawah Kibaran Sarung ditulis pada 1999, tahun masih berkecamuk berkaitan politik setelah keruntuhan rezim Orde Baru. Sarung masih mungkin simbol dari kemiskinan, kepedihan, ketabahan, dan kebersahajaan menjalani hidup di Indonesia sedang guncang. Pada sarung, ia menaruh kritik dan ingatan keluguan.

Joko Pinurbo menulis: Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur/ ke haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka./ Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurus/ dengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung./ “Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung. Adegan tanpa heroisme tapi ketabahan menanggungkan kemiskinan. Mereka tak perlu teriak sepanjang malam demi mengubah nasib tak untung di Indonesia. Pilihan tidur dan kepemilikan sarung masih mungkin menjadikan diri memiliki martabat dan istirahat dari hari-hari memberi nestapa tak habis-habis.


Mereka itu “tumbal” politik tak becus membahagiakan jutaan orang. Tata politik terlalu lama berpihak ke kementerengan agar Indonesia diakui maju, makmur, dan manja. Di luar impian besar, sarung milik kaum miskin memiliki peran beragam di keseharian. Sarung perlahan teringat di protes sosial-kultural dan politik. Sarung-sarung meski sudah usang tetap bermakna untuk mengingatkan Indonesia belum necis. Joko Pinurbo pun mengisahkan ketabahan bersarung: Di bawah kibaran sarung/ kutuliskan puisimu,/ di rumah kecil yang dingin terpencil./ Seperti perempuan perkasa/ yang betah berjaga/ menemani kantuk, menemani sakit/ di remang cahaya. Sarung milik kaum miskin, kaum jauh dari impian kenecisan di Indonesia. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen BIlik Literasi

FB: Kabut

84 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email