• Majalah Basis

Rumput: Nostalgia & Bumi


Bandung Mawardi



Pada masa 1980-an, bocah-bocah di desa jarang menghabiskan hari cuma bersekolah dan bermain. Sekian bocah memiliki peristiwa agraris: angon (menggembala) kambing atau kerbau dan mencari rumput (golek suket). Sekolah itu ilmu. Keseharian menggembala binatang dan mencari rumput itu sinau urip mengandung bunga rampai makna: ketekunan, sabar, rajin, girang, tanggung jawab, dan ikhlas. Pulang sekolah, bocah-bocah mengambil arit dan sak di rumah berganti ke peristiwa mengembara ke sawah. Di sana, rumput-rumput itu hijau dan segar. Rumput bakal jadi santapan ternak. Di mata bocah-bocah sombong dan berduit alias suka jajan, bocah angon atau bocah golek suket mulai diremehkan dan diejek. Di sekolah, golek suket malah jadi ungkapan merendahkan martabat dan taraf keilmuan.


Masa bocah bersuket itu lekas berlalu saat sekolah-sekolah mulai memberi beban dan berdurasi lama setiap hari. Bocah-bocah SD pulang siang atau sore diberi tugas-tugas. Mereka dibikin capek oleh sekolah demi capaian tujuan pendidikan nasional. Hak untuk angon dan golek suket berkurang. Bocah-bocah perlahan kehilangan gerak raga bersama rumput. Di depan atau halaman sekolah, mereka mulai memandang saja ada rumput-rumput liar. Konon, urusan memotong atau merapikan itu tugas orang digaji pihak sekolah. Bocah-bocah dijauhkan dari rumput.


Pada abad XXI, murid dan rumput semakin renggang. Ikhtiar mengembalikan jalinan bocah dan remaja mengerti rumput terjadi di Brebes, Jawa Tengah. Dua ratus murid SMP dan SMK Islam Mambaul Hikmah dikerahkan ke persawahan bawang merah. Mereka rata-rata berasal dari keluarga petani tapi jarang turut atau turun ke sawah. Mereka sibuk bersekolah dan mengurusi benda sakti di tangan. Di sawah, mereka diminta mencabut rumput di sela-sela tanaman bawang merah. Dalih pihak sekolah: “... sebagian besar orangtuanya petani bawang merah ternyata mereka lebih sering dan senang main gadget daripada pergi ke sawah sekadar melihat aktivitas keluarga mereka” (Media Indonesia, 4 Maret 2019)


Duh, murid itu bersalah dan mendapat perintah! Kejadian itu mungkin memberi tanda seru ke para penentu kebijakan pendidikan-pengajaran bahwa murid-murid itu melulu bersekolah, terjauhkan dari rumah dan sawah. Murid-murid diinginkan pintar berakibat sering meninggalkan rumah dan sawah. Mereka terlarang memiliki cita-cita menjadi “pencari” makna rumput atau pakar rumput.

Di negara jauh, rumput itu masalah terpenting di industri sepakbola. Di pelbagai stadion di Eropa, perawatan rumput-rumput anggun kadang menggunakan sari bawang putih. Konon, berkhasiat bagi kesuburan dan kekuatan meski bau. Di situ, orang tak melihat rumput liar seperti di sawah-sawah beralamat di Indonesia. Kita cuma mengandaikan kebiasaan bocah golek suket dan mengamati sekian jenis rumput mengajarkan pengetahuan mumpuni. Rumput di pelbagai tempat memerlukan pelbagai sikap untuk disuburkan atau dibinasakan.


Kini, murid-murid mungkin cenderung ingat rumput, ingat sepakbola. Setiap pekan, pertandingan-pertandingan sepakbola di liga-liga Eropa jadi tontonan di televisi. Orang-orang melihat rumput-rumput hijau menjadi tempat para pemain menendang bola, jatuh, dan bersujud. Di rumput-rumput, klub-klub menuai menang atau terpuruk dengan kalah memalukan. Sekian hari lalu, rumput di stadion markas Real Madrid masih saja hijau dan segar. Rumput-rumput tak mau cengeng seperti para pemain Real Madrid dan ribuan penonton di stadion. Sekian hari, Real Madrid dikalahkan Barcelona (dua kali) dan Ajax Amsterdam. Rumput pantang mutung. Rumput tetap saja menunaikan kerja di lakon sepakbola. Rumput-rumput mustahil dicabuti para pemain untuk dimakan atau dimaki gara-gara kalah. Rumput mungkin dibawa pulang oleh pemain ingin mengenang menang.


Sejarah rumput memiliki sekian tempat: sawah, stadion, taman, alun-alun, dan jalan. Rumput mengisahkan tokoh dan peristiwa menentukan arah peradaban dunia. Kita mungkin sangsi menaruh rumput di latar peradaban modern. Sangsi jangan abadi. Bukalah buku berjudul Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2018) susunan Yuval Noah Harari! Buku memuat lelucon manusia dan rumput. “Di tempat kuliah saya, Oxford, seluruh halaman terbukanya dibentuk dengan halaman rumput yang menarik, yang di atasnya kita dibolehkan berjalan atau duduk hanya satu hari dalam setahun. Pada hari lain, celakalah mahasiswa miskin yang kakinya menodai halaman rumput suci itu,” Yoval mengenang masa lalu.


Kita terlalu jauh mengenang dan membuktikan rumput di kampus Oxford. Remaja di Indonesia pun memiliki kenangan atau nostalgia rumput: wagu alias tak terlalu berkadar intelektual seperti mahasiswa-mahasiswa Oxford. Nostalgia melalui lagu Paramitha Rusady: Ada yang saling cinta/ bermesra di sekolah, selalu berdua/ berjalan di sela-sela rumput sekolah kita/ oh, indahnya...Oh, lagu itu berjudul Nostalgia SMA. Para remaja ingat asmara dan ingat rumput di sekolah. Nostalgia tak hilang begitu saja. Remaja dari SMA-SMA memiliki rumput romantis. Nostalgia milik remaja berani mengungkapkan perasaan mumpung masih berseragam abu-abu dan putih. Mereka itu seperti Galih-Ratna dan Dilan-Milea?


Kita mulai mengingat dan mencatat tentang rumput ada di sejarah peradaban dunia dan biografi manusia di pelbagai negeri. Bumi tanpa rumput tentu buruk, gersang, dan membosankan. Rumput kadang musuh di sawah-sawah tapi malah idaman bagi orang-orang berduit sadar rupa halaman rumah atau taman. Kita abaikan mereka untuk mengerti Bumi dan rumput di bacaan bocah asal negeri asig, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Proyek Menanam Rumput (2008) garapan Molly Blaisdell.


Alkisah, bocah bernama Jason memandang sekolah baru di kota. Ia pindahan dari sekolah di desa. Oh, halaman dan lapangan milik sekolah tanpa rumput! Pada suatu hari, guru menerangkan Hari Bumi pada murid-murid. Guru mengajak murid-murid melakukan perbuatan demi kemuliaan dan kebaikan Bumi. Jason mengusulkan menanam rumput di lahan-lahan gersang sekolah. Murid-murid lain meragu dan menuntut penjelasan arti penting rumput. Perdebatan bertema rumput berlangsung di kelas. Seru!


Sekian pendapat: “rumput menghasilkan udara segar”, “waktu hujan turun air akan mengikis dan membawa tanah ke jalanan, rumput dapat menahan tanah pada tempatnya”, “rumput bisa jadi makanan ternak”. Guru menghimpun pendapat para murid dan memberi simpulan: “Rumput membantu Bumi.” Usulan Jason untuk menanam rumput disetujui. Hari demi hari berganti, rumput itu bertumbuh. Di halaman berumput hijau, murid-murid girang bermain dan berlari, bukan berpacaran. Nostalgia mereka berkaitan ilmu dan kebersamaan, bukan asmara picisan. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi Solo

137 tampilan1 komentar
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email