• Majalah Basis

Rumah (Ingatan) Sejarah

Bandung Mawardi

“Ini simbol kebanggaan kami, yang nanti akan jadi museum, apalagi di kawasan ini banyak nilai sejarahnya,” kata Wali Kota Surabaya (Tri Rismaharini) dalam serah-terima rumah kelahiran Soekarno dari ahli waris untuk dikelola pemerintah. Rumah itu terletak di Jalan Peneleh, Gang Panderan IV/40, Kecamatan Genteng, Surabaya. Acara diadakan dalam peringatan 75 tahun Indonesia, 17 Agustus 2020. Di mata pemerintah, rumah itu ingin dijadikan museum dan menggairahkan pariwisata (Kompas, 19 Agustus 2020). Kita terlalu dibuat “melongo” dengan kebijakan-kebijakan pemerintah bahwa sejarah itu dipariwisatakan tanpa ada kemauan-kemauan serius dalam pengisahan sejarah secara bermutu. Pengisahan menguak peristiwa, ketokohan, dan dampak.


Rumah bersejarah itu sirna, tergantikan foto-foto saja. Rumah beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta tak menjadi referensi utuh mengingat sejarah. Rumah memberi makna besar, sebelum disaingi tugu, patung, dan monumen. Sejarah bereferensi rumah untuk peristiwa pembacaan naskah proklamasi cuma tersimpan di foto dan tulisan, tak mungkin lagi dikunjungi dalam kondisi semula. Rumah-rumah berbeda berkaitan sejarah pun mengingatkan Maeda dan Rengasdengklok. Di alur sejarah Indonesia, sekian rumah “tamat” dan sekian rumah berhasil menjadi situs mengisahkan tokoh dan peristiwa.


Rumah-rumah berbeda berkaitan sejarah pun mengingatkan Maeda dan Rengasdengklok. Di alur sejarah Indonesia, sekian rumah “tamat” dan sekian rumah berhasil menjadi situs mengisahkan tokoh dan peristiwa.

Kini, orang-orang dianjurkan mengenang pembacaan proklamasi dan memuliakan Indonesia di rumah-rumah. Kebiasan menonton upacara bendera di televisi ditambahi dengan peristiwa-peristiwa tak biasa: upacara. Posisi raga di rumah tapi orang-orang bisa mengikuti upacara. Pemaknaan sejarah bervirtual. Sejarah disusun, dimengerti, dan digerakkan lagi di rumah. Sejarah beralamat rumah berbeda selera dengan kebiasaan tahun-tahun lalu “menaruh” sejarah di lapangan, jalan, mal, sekolah, perkantoran, atau ruang terbuka. Di sekian tempat, upacara atau “ritual” mengenang sejarah Indonesia masih dilakukan meski dengan pelbagai pembatasan. Rumah ditetapkan sebagai alamat terhormat.

Kita sejenak mengingat rumah bersejarah dengan penjelasan pendek dari Soekarno dalam buku Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (C Adams, 1966). Pengisahan (terlalu) drama. Menit-menit menjelang pembacaan teks proklamasi, 17 Agustus 1945, Soekarno sakit. Ia memilih tidur di kamar. Pagi sudah meriah: “Djam tudjuh sekitar seratus orang atau lebih berkumpul dimuka djendelaku. Mereka datang berbondong-bondong dengan membawa bambu runtjing, batu, sekop, tongkat, parang atau golok dan apa-apa sadja jang dapat mereka bawa. Tersiarlah berita bahwa Bung Karno akan mengumumkan kemerdekaan”. Kalimat-kalimat itu bersumber ingatan Soekarno tapi kita jarang menemukan penjelasan sosok dan benda hadir di rumah beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Soekarno melalui jendela melihat gairah besar untuk kemerdekaan.

Peristiwa itu membarakan kemauan memiliki kemerdekaan dan kedaulatan. Peristiwa di rumah mungkin belum cukup. Soekarno mengajak orang-orang datang ke “lapangan jang luas terbuka menghadap istana putih-besar”. Ia direncanakan berpidato pada 19 September 1945. Keinginan berpidato dan membakar semangat ribuan orang “digangggu” oleh pasukan Jepang. Peristiwa sekejap di lapangan tetap memicu sejarah. Soekarno berkata: “Saja mengetahui bahwa saudara-saudara berkumpul disini untuk melihat Presiden saudara-saudara dan untuk mendengarkan perintahnja. Nah, apabila saudara-saudara masih setia dan pertjaja kepada Presidenmu, ikutilah perintahnja jang pertama. Pulanglah dengan tenang. Tinggalkan rapat ini sekarang ini djuga dengan tertib dan teratur, dan tunggulah berita dari para pemimpin ditempatmu masing-masing”. Kita mengartikan perintah pertama adalah “kembali ke rumah”. Sejarah terus bergerak tapi orang-orang dianjurkan berada di rumah demi keselamatan bersama. Peristiwa itu memberi tambahan pengertian: sejarah di rumah ingin dibesarkan dengan sejarah di lapangan tapi dikembalikan lagi ke rumah.


Rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 tak cuma mengingatkan pembacaan teks proklamasi dan upacara bendera secara sederhana. Kita tetap mengutip penjelasan Soekarno agar rumah semakin merekah makna. NICA mengamuk untuk dapat menangkap Soekarno. Pada suatu sore, pesawat Palang Merah menjatuhkan makanan dan perbekalan untuk kamp Belanda, dekat Pegangsaan. Ingatan Soekarno: “Mereka mendjatuhkannja melewati sasaran dan peti-peti jang berisi makanan dalam kaleng, seperti ikan sardin, soda, dan obat-obatan djatuh dan petjah hanja beberapa intji dari beranda rumahku. Bunjinja seperti ledakan bom”. Pada para pengawal, Soekarno memerintahkan agar peti-peti itu diselamatkan dan dibawa ke kamp Belanda. Para pengawal bengong. Mereka bingung atas perintah dianggap sembarangan. Belanda saja ingin membunuh Soekarno tapi perintah malah bertentangan.


Pemikiran Soekarno: “Kita tidak membentji rakjat Belanda, kita hanja membentji pemerintah kolonial. Akan tetapi bila seorang manusia lapar atau dalam kesakitan, jah, kita sendiri akan memberinja makan atau memberikan darah kita untuk menghilangkan rasa sakitnja. Politik adalah politik, tapi peri-kemanusiaan adalah peri-kemanusiaan”. Kita mendapat dua pemaknaan di beranda rumah Soekarno. Peristiwa terpenting adalah beranda dihadiri orang-orang dalam mengumukan kemerdekaan. Di beranda, Soekarno juga membuktikan peri-kemanusiaan dengan memberikan makanan dan obat bagi pihak paling berhak. Rumah terbukti bergelimang sejarah, sebelum Soekarno memerintahkan dirubuhkan berdalih menghindari “sesat-pikir” sejarah.


Di beranda, Soekarno juga membuktikan peri-kemanusiaan dengan memberikan makanan dan obat bagi pihak paling berhak. Rumah terbukti bergelimang sejarah, sebelum Soekarno memerintahkan dirubuhkan berdalih menghindari “sesat-pikir” sejarah.

Sejarah rumah berlanjut dengan latar malapetaka 1965. Soekarno berada di detik-detik keberakhiran dan Soeharto moncer untuk menjadi penguasa. Rumah ada dalam lakon dua tokoh berbeda nasib. Pada 27 Maret 1968, Soeharto diambil sumpah sebagai Presiden Republik Indonesia. Dua hari setelah peristiwa aneh, Soekarno mengirim surat kepada Soeharto. Surat berisi ucapan selamat dan permintaan agar Soekarno diizinkan “meninggalkan Istana Bogor dan pindah ke rumah pribadinya di Bogor atau Jakarta, dengan lebih banyak kemerdekaan untuk bergerak.” Persoalan rumah menandai hubungan pelik Soekarno dan Soeharto sudah berubah predikat.


Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia, memilih memulai bekerja di rumah, sebelum bergerak ke Istana Kepresidenan. OG Roeder dalam buku berjudul Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1976) mendeskripsikan: “Selesai sembahyang subuh, ia pun minum secangkir kopi di kamar kerjanya yang kecil di rumah keluarga Soeharto, Jalan Cendana No 8, Menteng, Jakarta. Rumah ini telah dihuni oleh Jenderal Soeharto setelah pemberontakan Gestapu. Suasana yang khas dari rumah ini dipertahankan, sekalipun belakangan ini telah dilakukan beberapa perombakan dari yang aslinya, dan di sana-sini ditambah karena menyesuaikan dengan fungsinya yang kadang-kadang digunakan juga untuk acara-acara resmi.” Kekuasaan digerakkan di rumah. Soeharto sengaja mencipta “roman rumah” bersaing dengan “roman heroik” bertokoh Soekarno dimulai di rumah di Jalang Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Kita mulai mengingat sejarah Indonesia disusun rezim Orde Baru selalu mengingatkan Cendana atau rumah di Jalan Cendana. Keluarga penguasa pun disebut “keluarga Cendana”.


Soeharto sengaja mencipta “roman rumah” bersaing dengan “roman heroik” bertokoh Soekarno dimulai di rumah di Jalang Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Kini, rumah itu masih ada dan tegak berdiri meski tak lagi menggerakkan sejarah seperti masa lalu. Kita menduga kelak rumah itu bakal “diserahkan” dengan menjadikan sebagai museum atau rumah sejarah. Kapan? Rumah di Pengangsaan Timur 56 sudah sirna digantikan bangunan dimaksudkan mengingatkan sejarah. Pada masa berbeda, rumah-rumah para presiden memiliki cerita-cerita seru tapi belum sanggup “mengalahkan” dua rumah bertokoh Soekarno dan Soeharto. Pada masa setelah kejatuhan Soeharto, rumah-rumah para tokoh menjadi tempat penting memikirkan dan menggarap agenda-agenda politik. Peristiwa-peristiwa itu mengingatkan sebutan politis mengarah ke rumah-rumah beralamat di Ciganjur, Menteng, Cikeas, Hambalang, dan lain-lain.


Kita mendapat tambahan cerita dan penjelasan rumah dalam arus sejarah Indonesia, sejak 1945 sampai 2020. Kini, kita diminta berada di rumah untuk mengingat sejarah dan memaknai Indonesia dalam situasi wabah. Rumah diusahakan menjadi alamat-alamat sejarah kecil dan sederhana, tak usah bersaing dengan rumah para tokoh tenar. Di depan rumah, kita melihat bendera berkibar. Berada di dalam rumah, kita mungkin menonton televisi, membaca buku, atau mencari segala cerita menggunakan gawai. Peristiwa-peristiwa masih mungkin dikerjakan demi sejarah. Selingan mungkin bersenandung nasionalisme dengan lagu-lagu gubahan WR Soepratman, Kusbini, Prawit, L Manik, Ismail Marzuki, Ibu Sud, dan lain-lain. Di rumah, kita sedang mengenang dan membuat sejarah. Begitu.


_____________

Bandung Mawardi,

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

78 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email