• Majalah Basis

Pengakuan (Bocah) Pembaca

Diperbarui: Agt 2


Setyaningsih

MEMBACA itu menggembirakan, penuh kejutan, dan bukan perintah, doktrin, atau paksaan. Itulah yang diupayakan Abinaya Ghina Jamela lewat esai-esai pengakuan membaca yang amat personal sekaligus emosional-intelektual berjudul Mengapa Aku Harus Membaca? (2020). Abinaya bocah 9 tahun (ketika menerbitkan buku ini) adalah finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kategori karya pertama lewat buku puisi Resep Membuat Jagat Raya. Bersuka cita dalam kerelaan menjadi satu dari umat buku. Satu pembaca dari arus kebudayaan modern sejak penemuan mesin cetak di abad ke-15. Mesin cetak mengubah teks yang sangat eksklusif diperuntukkan bagi pihak tertentu sekaligus terbatas secara kuantitas menjadi begitu menyebar, meluar, dan tidak diskriminatif. Meski, buku memang masih cenderung menjadi konsumsi masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas.



Judul: Mengapa Aku Harus Membaca? Penulis: Abinaya Ghina Jamela, Penerbit: Gorga, Cetak: Kedua, Februari 2020, Tebal: 109 halaman, ISBN: 978-623-91417-2-1


Jika kita sudah membaca ratusan atau bahkan ribuan buku, sungguh tidak enak mendapat pertanyaan “Sudah baca buku apa saja?” Bandingkan dengan pertanyaan, “Sudah baca buku apa lagi?” atau “Lagi baca apa?”. Dua pertanyaan terakhir lebih memartabatkan pembaca dan tidak ada kesan kaget bahwa orang yang ditanyai memang biasa membaca. Kekesalan menggelitik disampaikan Naya dalam esai “Aku dan Buku” yang pernah diorasikan pada 3 September 2019 dalam rangkaian acara Kampung Buku Jogja ke-5.


Naya menulis, “Namaku Abinaya. Umurku sembilan tahun. Aku siswa kelas empat sekolah dasar. Kata orang-orang, aku suka membaca. Menurutku sih, biasa saja. Aku membaca hanya ketika aku suka. Dan aku punya buku-buku yang bikin aku suka membaca. Jangan tanya buku apa saja yang sudah aku baca, itu pertanyaan membosankan. Juga jangan tanya siapa penulis kesukaanku. Hampir semua penulis yang bukunya aku baca, aku suka (tidak semua, ya, tapi hampir. Karena beberapa penulis, menulis dengan sangat membosankan)” (hal. 1).


Ada pernyataan tegas di antara kekesalan pada sikap orang dewasa yang sering menuduh, tidak percaya, dan kagetan tatkala menemukan bocah gandrung membaca. Inilah juga yang menjadikan Naya menyerukan kritik pada orang dewasa, terutama orangtua, dalam biografi berbuku. Orangtua suka anak-anaknya membaca dan siap membelikan buku untuk kebutuhan berfoto. Naya secara personal mengeluhkan hal ini, “Orang tua memperlakukan anak-anak yang membaca seperti mereka makhluk asing dari luar angkasa dan baru saja sampai di bumi. Bundaku kadang juga seperti itu. Makanya aku tidak suka difoto, apalagi ketika membaca buku. Itu menyebalkan. Aku bukan alien!” (hal. 4).


Naya menyerukan kritik pada orang dewasa, terutama orangtua, dalam biografi berbuku. Orangtua suka anak-anaknya membaca dan siap membelikan buku untuk kebutuhan berfoto.

Di sisi lain, orangtua sangat ingin anak suka membaca tapi tidak siap menghadapi konsekuensi kecerewetan, mau tahu, banyak tanya, dan dialog setelahnya. Padahal, obrolan selalu menjadi kunci peristiwa yang hidup dalam riwayat intim bersama buku. Secara khusus tidak disinggung Naya, dalam sejarah intelektualitas bocah, orangtua adalah pembeli buku paling rajin meski bukan terutama buku bacaan imajinatif tapi buku-buku pelajaran.


Dalam biografi Naya, jelas bukan sekolah (yang seharusnya) mengajak dan mengajari membaca. Perpustakaan memang mengajari bocah cara meminjam buku. Tapi, kenikmatan beruntun dari membaca buku sering harus diperjuangkan oleh bocah. Maka, pilihan dan kebiasaan membaca Naya sejak mula benar-benar lepas dari sistem rancangan pemangku pendidikan. Yona Primadesi, yang ditulis dalam persembahan buku ini, berperan sebagai ibu biologis sekaligus ibu buku, seorang paling menentukan bagaimana Naya berbuku. Bahkan, Naya boleh membolos secara bertanggung jawab dengan alasan ingin merampungkan bacaan.


Yona Primadesi, yang ditulis dalam persembahan buku ini, berperan sebagai ibu biologis sekaligus ibu buku, seorang paling menentukan bagaimana Naya berbuku. Bahkan, Naya boleh membolos secara bertanggung jawab dengan alasan ingin merampungkan bacaan.

Umur dan Kekritisan

Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Di setiap tahap pertumbuhan, ada buku yang dirancang sesuai imajinasi dan pengalaman anak sampai mereka siap menjadi manusia pembaca analitis, sabar, dan punya sikap atas suatu teks.


Pilihan buku terulas di Mengapa Aku Harus Membaca? menampik anggapan bahwa bocah diarahkan membaca “buku anak” (seiyanya ditampakkan dari keterangan di sampul), mengikuti jenjang sesuai pakem institusi pendidikan, atau pasrah pada buku pilihan orangtua. Saya sering menjumpai orangtua yang bertanya buku apa yang cocok ditautkan dengan umur bocah. Umur dijadikan patokan bahkan ukuran menyamakan kemampuan kognitif bocah. Orangtua semacam gagal mengenali pendar daya baca bocah dan yang tidak disadari, mereka menggagalkan anak-anak bertemu buku lebih kompleks karena menganggap “masih bocah”.


Umur dijadikan patokan bahkan ukuran menyamakan kemampuan kognitif bocah. Orangtua semacam gagal mengenali pendar daya baca bocah dan yang tidak disadari, mereka menggagalkan anak-anak bertemu buku lebih kompleks karena menganggap “masih bocah”.

Seseorang (boleh) membaca apa saja sejak dia bisa membaca. Kemampuan, bukan umur, menentukan dengan tegas apa yang benar-benar mau dibaca. Kita sangat bisa percaya, pertambahan usia tidak menjamin seseorang semakin membaca buku; yang lebih tebal, lebih menantang dan rumit, atau lebih menggoda pikiran. Faktor sosial lebih menyebabkan kemandegan membaca daripada masalah kognitif.


Naya membuktikan membaca kebanyakan novel terjemahan yang orang dewasa pun sangat belum tentu membacanya, di antaranya Of Mice and Men (John Steinbeck), Animal Farm (George Orwell), The Name of the Rose (Umberto Eco), Siddharta (Herman Hesse), Trisurya (Liu Cixin). Dalam pembacaan Naya, kita akan menyimak ramuan kekritisan, tanggapan bersifat emosional sekaligus teknis, kesan, agak keluguan, dan keberanian untuk meragukan.


Di esai “Steinbeck dan Cerita yang Terlalu Menyedihkan” Naya mengulas novel Of Mice and Men, “Aku tahu, Mark Twain dan John Steinbeck sama-sama melakukan protes menggunakan novelnya itu. Mungkin mereka protes karena hidup terlalu susah, terlalu banyak orang miskin di jalanan dan orang-orang menjadi tidak peduli. Orang-orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin melarat. Tapi protes mereka yang paling aku suka, kemiskinan dan perbudakan itu merugikan anak-anak. Ya, anak-anak!” (hal. 28). Ada kekritisan yang dipengaruhi kondisi sosial di sekitar meski latar dan waktu berjarak amat jauh dari Naya.

Di beberapa tulisan, Naya juga mengajukan gugatan pada daya perempuan di tengah maskulinitas. Salah satunya saat membaca novel anak Fortunately the Milk garapan Neil Gaiman, Naya menulis, “Aku senang Neil Gaiman menciptakan anak perempuan sebagai salah satu tokoh utamanya. Apalagi dia anak perempuan yang cerdas. Pengetahuan anak perempuan itu sangat luas. Aku mengetahuinya dari narasi Neil Gaiman. Anak perempuan itu seperti sudah membaca banyak buku” (hal. 45).

Di esai pengakuan membaca The Name of the Rose, Naya pun mengeluh khas anak. Dia membandingkan kerumitan Eco dengan “Gabo” Gabriel Garcia Marquez, “Ternyata, Umberto Eco satu tingkat di atasnya. Hufftt!” (hal. 69). Meski belum sampai pada hal-hal lebih kompleks; latar politik-geografis cerita, tautan dengan biografi pengarang, kesetaraan, peradaban intelektual, atau sejarah kesastraan Amerika misalnya, pertaruhan daya baca dan pilihan bacaan terutama di luar novel akan menentukan kelak Naya sampai ke sana.


Sangat relevan ketika sebuah esai bisa menohok sejak dalam judul “Tolong, ya, Anak Usia 9 Tahun Suka Membaca Itu Nggak Aneh”. Di esai, Naya lagi-lagi mengajukan bahwa masalahnya ada di kekurangan (godaan) membaca, bukan karena “masih bocah.” Orang dewasa turut bertanggung jawab membuat “jebakan” mengejutkan ke jagat buku. Cerap, “Ketika membaca buku, aku bisa berada di mana saja. Aku juga bisa bertemu siapa saja. Bukuku tidak terlalu banyak. Aku hanya menyimpan buku yang benar-benar aku suka. Kadang aku juga membeli bukuku sendiri. Jadi, siapa bilang anak-anak malas membaca, termasuk anak usia 9 tahun sepertiku? Mungkin orang dewasa saja yang membuat anak-anak lupa bahwa suka membaca itu menyenangkan—seperti yang dialami teman-temanku” (hal. 77).


Cara baca dan pilihan buku Naya jelas menunjukkan bagaimana sikap, keinginan, pilihan mandiri, dan tanggapan saling menopang. Ini jelas membedakan cara pikir dan cara melihat Naya pada sekitar. Naya kepada teman sebayanya, pun sebaliknya. Mengapa Aku Harus Membaca? secara otoritatif memang dimiliki Naya, tapi pertanyaan juga patut dimiliki setiap anak. Apa yang Naya dan para bocah baca serta pilih secara bebas-merdeka sangat menentukan bagaimana diri mereka kelak.


__________

Setyaningsih,

Esais dan penulis Kitab Cerita (2019), penekun pustaka anak,

Email: langit_abjad@yahoo.com

Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email