• Majalah Basis

Pemelihara dan Pemakan

Tenger, 26 November-1 Desember 2019


Bocah berkisah: “Ayam umur sehari itu putih, gemuk, dan lucu. Kebanyakan lincah dan sehat. Begitu diletakkan dalam kandang, mereka sudah berjalan kian kemari. Suaranya menciap, pelan tapi ramai karena disuarakan oleh serat mulut kecil-kecil.” Bocah di keluarga beternak ayam. Ia belajar ayam dari bapak. Bocah bernama Heri, mengerti sekian hal mengenai ayam. Pengetahuan dan ketekunan memelihara ayam itu terdapat dalam novel berjudul Beternak Ayam Negeri (1978) gubahan Veritea Red. Novel bocah bercap Inpres Nomor 6 Tahun 1978. Novel beredar di ratusan perpustakaan di kota dan desa pada masa Orde Baru memiliki lakon buku kolosal oleh perintah Soeharto.


Kita simak pengisahan bocah paham masalah ayam: “Ayam-ayam kampung itu tetap kami pelihara karena sehat-sehat. Memang kalau baru dibeli dari pasar, banyak bahayanya. Adakalanya mereka membawa penyakit… Hanya ayam kampung makannya mudah. Apa saja mau. Cacing pun jadi, kotoran orang mau juga. Pantas ibuku jijik makan daging ayam. Padahal, rasanya lezat sekali. Digoreng atau dipanggang.” Ia bersekolah tapi di rumah memiliki kesibukan memelihara ayam.


Novel lama tak terbaca oleh murid-murid SD di Bandung (Jawa Barat). Mereka sedang turut program diadakan pemerintah berupa seruan memelihara ayam. Pada 21 November 2019, Wali Kota Bandung membagikan anak ayam dalam kandang terbuat dari besi. Konon, kebijakan itu bukan mengenalkan pengetahuan atau membuat murid mengerti segala hal tentang ayam. Misi terbesar adalah mencegah murid-murid kecanduan gawai (Republika, 22 November 2019). Kesibukan memelihara ayam diterjemahkan menggantikan peristiwa tangan bergawai. Nalar pemerintah wagu tapi kebijakan tetap berlaku. Murid-murid SD sudah pulang membawa anak ayam. Kita mengaku saja sulit mencari makna-makna saling berkaitan antara birokrasi, ayam, sekolah, gawai, dan rumah.


Pada saat bersamaan beda tempat, murid-murid diajak makan telur. Peristiwa itu terjadi di Sidoarjo (Jawa Timur). Makan telur menangkal isu atau berita mengenai telur beracun dioksin sempat menggegerkan publik. Orang-orang terkejut mendapat berita penemuan ada telur beracun di Sidoarjo gara-gara ayam makan sisa-sisa limbah plastik dari industri tahu. Pada peringatan Hari Pangan Sedunia, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mengajak ribuan murid SD makan telur (Media Indonesia, 22 November 2019). Peristiwa ingin mengumumkan ke dunia bahwa telur di Sidoarjo enak dan sehat. Kita menduga acara itu berselera birokrat ketimbang mengajarkan pengetahuan ayam ke murid-murid. Perkara terpenting adalah para pejabat hadir, memberi pidato, dan berfoto.

Acara belajar ayam bukan pokok. Kita jangan mengandaikan pejabat membagikan buku-buku bertema ayam. Murid tentu bakal girang mendapat novel menceritakan ayam atau kumpulan cerita pendek tentang ayam. Tugas mereka adalah makan telur, mengesahkan agenda pemerintah.


Di Bandung dan Sidoarjo, kita sulit menghitung jumlah murid memiliki pengetahuan ayam atau terbiasa memelihara ayam di rumah. Pemerintah tentu berpikiran serius dalam mengadakan kebijakan membagi anak ayam ke murid dan mengajak ribuan murid dalam hitungan menit makan ribuan telur ayam. Kerja birokrasi itu penting berdalih “memerintah” dan menjadikan murid-murid adalah pihak pelaksana sekian seruan. Pidato dan tepuk tangan terjadi selama acara. Foto-foto dihasilkan menandai semua terdokumentasi dan pantas masuk dalam laporan kerja. Kita tak mau protes atau marah. Kita cuma bermimpi murid-murid SD di Bandung dan Sidoarjo diajak belajar ayam dengan sekian acara bermutu atau pembagian buku. Mereka tak membaca novel berjudul Beternak Ayam Negeri tapi berhak mendapat ajaran-ajaran ayam meski zaman terlalu digital.


Dulu, bocah-bocah di kampung atau desa memiliki biografi bersama ayam, sebelum mereka menjadi manusia sibuk gara-gara sekolah: berangkat pagi, pulang sore. Di rumah, mereka memelihara ayam bersama bapak, ibu, atau saudara. Kebiasaan membersihkan kandang dan memberi makan itu kelaziman. Ayam bertelur dan telur-telur menetas memberi kebahagiaan. Di meja makan, bocah-bocah makan telur atau daging dari ketekunan memelihara ayam. Mereka tak asal makan dengan membeli di warung atau tempat megah bercap chicken berselera internasional.


Pada 1950, terbit buku berjudul Semasa Ketjil di Kampung, biografi Muhamad Radjab. Pengarang lahir di kultur Minangkabau pada 1913 itu mengisahkan diri bersama ayam, sejak bocah sampai remaja. Ia mengingat diri saat masih balita: “Jang masih teringat oleh saja – mengapa jang teringat sedang jang lain-lainnja tidak, saja tidak tahu – sewaktu berumur empat tahun, saja sangat dojan telur ajam rebus. Kadang-kadang sampai empat atau lima butir sehari.” Ingatan makan telur digenapi kebiasaan tidur bersama teman-teman di surau. Pada suatu hari, ia bertumbuh besar terlibat dalam pencurian ayam dan makan bersama teman-teman. Mereka tampak bangga bisa mencuri ayam meski membuat seorang nenek ribut dan merana kehilangan dua ayam.


Buku lama tak lagi terbaca oleh murid-murid di SD, SMP, dan SMA. Kita bakal menemukan pula pengisahan diri dan ayam di puluhan buku biografi atau autobiografi. Di Indonesia, masa lalu tokoh sering mengingatkan ayam, bukan masalah makan saja tapi memelihara ayam. Di desa-desa, ayam-ayam berkeliaran menjadi pemandangan biasa. Pada abad XXI, ayam-ayam mungkin sudah terlarang berkeliaran di sekitar rumah atau kebun dengan tuduhan sering membuat kotor dengan tahi-tahi berserakan. Orang-orang mulai memilih berpredikat pemakan telur atau daging dengan membeli sudah matang alias siap disantap. Keluarga tak berperan lagi sebagai “pengajar” tentang ayam. Pihak sekolah semakin tak memiliki kewajiban mengajarkan ayam jika buku-buku pelajaran mengurangi materi tentang ayam.


Nostalgia bocah memelihara ayam di desa-desa di Jawa hampir pudar. Ingatan atas lagu-lagu dolanan berbahasa Jawa bercerita ayam terlupa oleh lagu-lagu baru. Ayam semakin sulit ditemui di sekitar rumah, kecuali di iklan atau warung. Kita malah membiarkan bocah-bocah “belajar” serius menjadi konsumen untuk ayam dengan imajinasi bergengsi. Bocah-bocah perlahan mengucap chicken, bukan ayam atau pitik. Perubahan itu lumrah setelah KFC di Indonesia sudah berbisnis dan meladeni mulut-perut jutaan orang Indonesia selama 40 tahun. Keluarga tak cuma mengenal KFC tapi memihak pula ke pembesaran bisnis warung bermenu ayam dengan sekian olahan dan sebutan: dari ayam goreng sampai ayam geprek.


Pada saat murid-murid di Bandung mendapat tugas memelihara ayam dan murid-murid di Sidoarjo makan telur, Indonesia sedang memiliki lakon bisnis menggiurkan. Kita simak laporan di tabloid Kontan edisi 25 November-1 Desember 2019: gerai KFC (Kentucky Fried Chicken) telah hadir di 170 kota. Jumlah gerai berslogan “Jagonya Ayam” itu 730 unit. Kita boleh bertepuk tangan mengetahui KFC berada di urutan ketiga untuk 10 perusahaan makanan cepat saji dengan nilai merek terbesar di Indonesia. Berita itu tak usah disampaikan ke murid-murid dalam pelajaran atau masuk dalam pidato pejabat.


Kita bermimpi saja murid-murid mendapatkan bacaan, film, gambar, atau lagu bercerita ayam. Murid berhak belajar ayam dengan pikat imajinasi, sebelum ayam melulu komoditas dalam bisnis dan masuk di agenda kerja pemerintah. Pada saat belajar ayam, bocah jangan lekas bermimpi kelak menjadi pejabat atau orang penting di istana kepresidenan. Kita mengutip omongan Moeldoko di Jawa Pos, 25 November 2019: “Zaman kecil saya dulu pelihara ayam untuk sekolah. Jadi, kalau mau bayar buku itu jualan telur dulu.” Moeldoko turut bercerita diri dan ayam saat Indonesia memiliki peristiwa-peristiwa ajaib bertema ayam. Begitu.


Bandung Mawardi,

Kuncen Bilik Literasi Solo

FB: Kabut


110 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email