• Majalah Basis

Oh, Tikar ...

Bandung Mawardi


Di rumah, kantor, hotel, gedung bioskop, dan tempat ibadah, mata kita jarang melihat tikar. Di situ, karpet-karpet digelar untuk pelbagai peristiwa. Alas berupa karpet tak selalu untuk duduk, tidur, atau beribadah. Di tempat-tempat mewah, karpet digelar di lantai untuk diinjak kaki-kaki bersepatu atau bersandal. Karpet tetap alas. Kita berpikiran karpet itu indah dan empuk. Karpet lekas kotor. Pemandangan bakal menakjubkan saat kita melihat adegan-adegan para artis lazim melintas di karpet sering berwarna merah di acara-acara industri hiburan global. Mereka tak pantas berjalan di tikar terbuat dari tumbuhan. Mereka hidup di zaman berkarpet. Zaman berjarak jauh pula dari dongeng karpet terbang bertokoh Aladdin.


Kaum tua kangen tikar. Pada tikar-tikar digelar di pelbagai tempat, mereka mengingat biografi dan zaman-zaman lekas berubah oleh mimpi-mimpi kebaruan. Tikar-tikar tertinggal di bilik nostalgia, teringat di penggalan-penggalan sulit lengkap masuk album utuh. Dulu, mereka duduk dan tidur di tikar-tikar tipis beraroma tumbuhan. Di tikar, mereka mengerti ada imajinasi tanah, tanaman, dan tubuh-tubuh bekerja. Tikar diharapkan mengurangi dingin lantai masih tanah atau lantai bertegel. Di tikar, kebersamaan terjalin saat orang-orang di desa mengadakan hajatan. Tikar pun mengisahkan orang-orang beribadah. Tikar di rumah-rumah ibadah itu memberi tanda sederhana, belum ke persaingan mengadakan karpet-karpet mahal. Karpet tebal, empuk, dan memiliki gambar-gambar khas agama.


Tikar dari masa lalu, tikar pernah digunakan para leluhur di kejadian-kejadian rutin atau istimewa. Tikar pernah terucap di lagu lawas. Tikar teringat di zaman perang atau khazanah kemiskinan di Indonesia. Tikar-tikar berbahan tumbuhan pernah mencipta cerita-cerita mumpuni, sebelum disaingi tikar dengan bahan-bahan baru: alot dan licin. Perkara kebaruan, model, harga, dan kepraktisan mengiringi sejarah alas, sejarah terus meminggirkan tikar-tikar “klasik”. Tikar belum punah.


Berita di Media Indonesia, 19 Maret 2019, berjudul “Perajin Tikar Mendong Menunggu Gulung Tikar.” Dua penulisan tikar di depan dan belakang terasa merisaukan. “Gulung tikar” masih awet, belum mau diganti paksa oleh “gulung karpet.” Tikar itu nasib sering mengacu ke bisnis. Dulu, bisnis itu memadai dimetaforakan tikar? Kita membaca nasib para perajin tikar mendong di Singkup, Purbaratu, Tasikmalaya, Jawa Barat.


Kata perajin: “Zaman berubah membuat budaya juga ikut berubah. Seperti sebelumnya banyak orang menanam mendong di areal lahan pertanian, tetapi sekarang telah berubah menjadi tanam padi. Kebutuhan bahan baku selama ini tetap sulit. Mendong yang kami tenun ini didatangkan dari Malang dan Jember. Di sini (Tasikmalaya) tidak banyak yang melakukan penanaman.” Tikar bergantung pada tanaman. Kerja dengan penantian dan ketelatenan. Penantian mendong dari kota-kota jauh. Kedatangan untuk ditenun menjadi tikar. Kerja telaten dengan penghasilan mepet.

Nasib tak untung? Para perajin masih ingat bahwa tikar mendong memiliki zaman beruntung pada masa 1980-1990-an. Zaman teringat agar para perajin tak meratapi nasib di abad XXI. Ingatan terpenting adalah episode kedatangan tanaman mendong pada masa 1940-an. Tanaman mendong itu dibawa oleh dua saudagar (Omeng dan Maksum) dari Pulau Sumba. Sejarah tikar, sejarah tanaman. Sejarah tikar memiliki tokoh-tokoh pantas dikenang.


Sejarah itu kita mundurkan lagi. Kita menjenguk sejarah tikar atau dari pelbagai bahan dan faedah. Tikar mendong di Bagelen masa lalu tercatat. Pengutipan keterangan dari esai bertahun 1899 di buku berjudul Seni Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda; Anyaman susunan JE Jasper dan Mas Pirngadie, buku terbit awal pada 1912, diterjemahkan ke bahasa Indonesia, 2017: “Mendong lebih lemas dan lentur daripada pita pandan, dan juga lebih tipis, sehingga anyaman tidak terlalu rapat dan menampakkan lembar lungsin dan pakan yang tidak terlalu lurus ... Di Kabupaten Ledok (Bagelen), ilalang mendong berwarna merah dan hitam dipakai untuk menganyam yang dikerjakan kaum perempuan di waktu senggang mereka, pekerjaan samben.”


Masa lalu tikar milik kaum perempuan memiliki kepekaan, ketelitian, dan selera keindahan.

Di mata kolonial, tikar-tikar diproduksi di pelbagai tempat menandai ada peristiwa ekonomi. Kerajinan tikar tak selalu mendapat pujian. Keberadaan para perajin tikar sempat pula mengisahkan curiga kolonial pada hasrat ekonomi mungkin jadi dalih melawan pemerintah. Keberadaan tikar-tikar dengan pelbagai bahasan di tempat ibadah atau rumah di Aceh dan pelbagai tempat kadang menimbulkan dugaan-dugaan politik dan agama. Snouck Hurgronje pernah mencatat tikar di buku mengenai Aceh. Pencatatan melampaui hasil kerajinan.


Sejarah di Aceh berbeda dengan sejarah tikar (klasa) di Jawa sering disenandungkan bermaksud tebar pesan. Eh, gelarna klasa! Eh, klasane bedah! Lirik di lagu mengingatkan tata cara orang-orang di Jawa memiliki adab bertamu, sikap menghormati, lelucon termaklumi, dan pameran umpama. Lagu dihapalkan orang-orang, dari masa ke masa. Hapalan pun di kemiskinan. Orang-orang di desa dan kota menanggung miskin lazim ditandai gelaran klasa amoh atau klasa bedah. Tikar sudah usang dan rusak tetap digelar untuk pelbagai keperluan di rumah kaum miskin. Tikar dibuat dari tumbuhan itu belum “menumbuhkan” nasib baik bagi kaum miskin sering melihat lantai miliki orang berduit digelari karpet-karpet cantik didatangkan dari negeri-negeri jauh. Tikar dan karpet jadi perbandingan nasib dan selera.


Pada hajatan orang-orang di desa, tikar masih jadi pilihan meski bukan selalu mendong. Tikar-tikar plastik dipilih berdalih awet dan harga murah. Tikar-tikar dimiliki oleh keluarga-keluarga atau dimiliki bersama melalui iuran warga desa. Tikar-tikar itu digunakan bersama atau dipinjamkan saat ada warga memiliki hajatan mengundang ratusan orang. Di tikar tak lagi berselera dan berimajinasi tumbuhan, orang-orang duduk mengikuti kenduren atau berdoa digenapi makan bersama. Di tikar-tikar beragam warna dan gambar, orang-orang sudah perlahan “meninggalkan” tikar pandan atau tikar mendong. Kita menanti pilihan mutakhir adalah karpet-karpet lembut, empuk, dan wangi digelar untuk para tamu agar semakin menjauh dari nostalgia. Begitu.



Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi Solo

Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email