• Majalah Basis

Novel Seruan Kesehatan

Bandung Mawardi


Segala orang jang hidup, tentu tidak dapat dibantah lagi, mentjari kesenangan hidupnja. Kita sendiripun begitu djuga. Adapun pokok jang terutama buat kesenangan hidup itu tidak lain, melainkan kesehatan djugalah. Kalau badan kita sehat, kita dapat bekerja, dan berichtiar ini dan itu, buat mentjapai kemauan kita. Orang jang sehat, kalau ia mempunjai nafsu berdagang, dapat berdagang. Jang pandai menggambar, kalau sehat badannja, dapat menggambar, dan beladjar terus sampai djadi tukang gambar jang masjhur. Setidak-tidaknja kalau orang sehat, dapat bekerdja apa sadja buat mentjari nafkahnja, wang kehidupan, sehari-hari.

(Sardjito dan R Ahmad Wongsosewojo, Dari Hal Mentjari Kesehatan, Balai Pustaka, 1950)


Kesehatan! Alangkah merdunja bunji perkataan ini. Alangkah mudjurnja mempunjai kesehatan itu. Bukankah kesehatan itu harta kita jang terbesar dan kadang-kadang hanja itulah harta kita?

(P Peverelli, Ilmu Kesehatan, JB Wolters-Groningen, 1952)


NOVEL dua stempel. Di sampul, ada stempel: SMP Negeri Surakarta. Di situ, kita tak membaca angka: 1, 2, 3, 4, atau 5. Kini, kita bisa bingung dengan jumlah SMP negeri di Surakarta. SMP Negeri 1 Surakarta di Manahan. SMP Negeri 2 di Jajar. Di Kotabarat, ada SMP Negeri 24 Surakarta. Puluhan SMP negeri ada di Surakarta. Dulu, stempel SMP Negeri Surakarta tanpa angka. Di mana alamat SMP Negeri Surakarta? Stempel mengingatkan sejarah terdapat di sampul novel berjudul Arumanis karangan Njonja Soetilarso Madio.





Stempel itu memberi kesan bahwa novel menjadi bacaan murid berusia belasan tahun atau remaja? Kita menjawab sambil melihat halaman awal di novel. Ada stempel lagi: Sekolah Dasar Kristen Manahan, Surakarta. Oh, novel mungkin bacaan bagi murid kelas 5-6 SD dan SMP? Jawaban kita tunda. Kita membaca dulu sampai selesai untuk membuat keputusan sasaran pembaca novel terbitan Noordhoff-Kolff NV, Jakarta. Tahun tak dicantumkan. Kita menduga itu terbitan masa 1950-an saat penerbit-penerbit Belanda belum terkena kebijakan pemerintahan Soekarno.

***


Pengarang menjelaskan: “Dalam kitab ini diuraikan penghidupan sekeluarga sehari-hari, diluar dan didalam rumah tangganja. Betapa manisnja budi bahasa kedua saudara, Burhan dan Burhani, djuga manis kepada kawan-kawannja, sehingga kitab ini boleh dipakai teladan bagi pembatja-pembatja, guna penambah serta meninggikan persaudaraan dan persahabatan jang rapat, kekal dan abadi.” Novel berjudul Arumanis dengan tokoh penting: Burhan dan Burhani. Arumanis bukan nama tokoh? Kita buktikan saja, sejak halaman 1 sampai 94. Di sekian halaman, kita melihat gambar-gambar tanpa keterangan nama ilustrator. Khatam membaca tapi masih penasarang dengan si penggambar.


Burhan, bocah lelaki-anak sulung, kelas 1 SD. Ia memiliki adik perempuan bernama Burhani, usia 5 tahun. Nah, kita mulai mengerti novel diarahkan ke murid-murid SD, bukan SMP. Stempel di sampul agak mengelabui. Burhan ke sekolah membawa batu tulis berukuran besar. Pada masa lalu, murid belum lazim memiliki dan membawa buku tulis dalam mengikuti pelajaran-pelajaran. Burhan mungkin tinggal dan sekolah di kawasan pinggiran kota. Gambar rumah keluarga Burhan-Burhani tampak gagah. Rumah itu mengartikan keluarga di kalangan menengah pada masa Indonesia berseru revolusi.


Adegan di pagi hari: Burhan mandi dan sarapan. Pengarang sudah memberi pesan melalui percakapan mak (ibu) dan Burhan. Mak berkata mengenai faedah sarapan di rumah: “O, supaja perutmu djangan sampai kosong, nanti sakit. Biarpun sedikit, sebelum pergi kesekolah, pagi-pagi harus makan dulu. Tak perlu mengudap. Lebih baik makan di rumah.” Pelajarang tentang sarapan. Orangtua beranggapan sarapan turut menentukan kekuatan dan kecerdasan bagi murid-murid belajar di sekolah, pagi sampai siang.


Burhan “tercengang” mendengar penjelasan mak. Burhan itu bocah lugu tapi memiliki rasa ingin tahu. Apa itu mengudap? Mak memberi jawab: “Mengudap artinja djajan. Ah, tak baik mengudap, sebab makanan-makanan sering kotor. Debu berterbangan kesitu dan lalatpun djuga hinggap turut memakannja.” Penjelasan mengenai jajan dan kesehatan. Pengarang sudah terbukti memiliki cara-cara berbagi pesan ke pembaca.


Kita mampir dulu ke kamus terbitan masa 1950-an untuk mengerti “jajan” dan “mengudap”. Terbukalah Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan Poerwadarminta! Jajan berarti “mengudap, membeli penganan dikedai atau jang didjadjakan orang.” Kata dari bahasa Jawa, semula terucap “berdjadjan”. Contoh penggunaan kata: “Anak-anak dilarang djadjan”. Kita mengartikan anak dilarang mengudap. Ada contoh lagi: “Uang djadjan untuk membeli penganan.” Kata jajan itu awet sampai sekarang. Bocah mau sekolah ditentukan uang jajan. Orang-orang di kota mungkin memilih sebutan uang saku, uang ditaruh di saku. Mengudap mungking sudah terlupa. Kita membuka Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1954) susunan Sutan Muhammad Zain. Kudap diartikan “memakan lauk-pauk diluar waktu makan.” Contoh penggunaan kata: “anak pengudap: anak jang suka sekali mengudap.” Kudapan berarti “panganan jang akan dikudap.”


Novel lama memberi pengajaran kata dan pengertian bagi pembaca. Tokoh dalam novel digunakan sebagai pihak ingin mengetahui arti kata. Pengarang novel Arumanis benar saat mencantumkan “djajan” dan “mengudap”. Benar bertambah dengan peringatan agar Burhan tak mengudap atau jajang sembarangan di pinggir jalan. Makanan-makanan di situ sering dihinggapi lalat. Novel sudah bertugas dalam suluh kesehatan bagi bocah-bocah.

***


Kita belanjut ke halaman-halaman memberi peran guru di sekolah. Guru memberi pelajaran-pelajaran sesuai kurikulum. Di sela memberi pelajaran formal, guru kadang memberi imbuhan pengatahuan dan pengalaman ke murid-murid. Di halaman 13, kita membaca masalah penting di novel: kesehatan. Pak guru memberi khotbah lalat jahat: “… lalat itu binatang jang kotor. Ia hinggap dikoreng, lalu keair minum si Ali! Atau diatas makanan! Begitulah ia membawa benih penjakit. Dan orang dapat sakit keras nanti, bila ia memakan makanan jang kotor itu. Karena itu, anak-anak, tutuplah makanan dan minumanmu. Dan binasakanlah lalat sebanjak-banjaknja. Dimana lagi kamu melihat lalat-lalat hinggap? Diatas bangkai, diatas kotoran-kotoran binatang dan disemua tempat jang kotor! Dari situ ia hinggap di nasimu. Disitulah ia makan. Karenan senangnja, ia menari-nari. Kaki dan sajapnja dipukul-pukulkannja. Bibit-bibit penjakit, jang melekat pada bulu kakinja, djatuh kenasi. Kita tak dapat melihat bibit-bibit itu. Dan nasi jang sudah kotor itu, kaumakan. Demikian djuga dengan penganan dan kue-kue. Anak-anak, alangkah kotornja kue-kue jang tidak ditutupi. Tentu anak-anak tidak mau sakit, bukan?” Khotbah pembinasaan lalat disampaikan setelah waktu istirahat, selingan sebelum ke pelajaran resmi. Murid-murid mendengarkan secara saksama, mulai memiliki ketakutan bila sakit dan permusuhan pada lalat-lalat.


Burhan mendengar khotbah. Ia ingin memiliki penjelasan lengkap dan pembuktian. Di rumah, Burhan meminta uang ke emak untuk jajan. Permintaan itu memicu percakapan. Mak memberi penjelasan tambahan ke Burhan. Mak tak pelit tapi ingin Burhan sehat, tak memiliki kebiasaan jajan sembarangan dan lengah dari godaan lalat terkutu. Kita semakin mengerti novel itu didaktis. Si pengarang mungkin dokter atau perawat. Pengarang bisa pula istri kepala desa atau pejabat di dinas kesehatan. Pilihan tema terasa penting bagi pembaca di masa 1950-an. Kita mencatat itu novel propaganda kesehatan!


Mak tak pelit tapi ingin Burhan sehat, tak memiliki kebiasaan jajan sembarangan dan lengah dari godaan lalat terkutu. Kita semakin mengerti novel itu didaktis.

Kita dikenalkan sosok mak teladan. Ia tak cuma memasak, mencuci, menyapu, dan mengurusi rumah. Mak adalah juru penerang. Pada masa 1950-an, kita menduga ada pendidikan bagi perempuan menjadi istri dan ibu. Mak dalam novel gubahan Soetilarso Madio berperan besar di pembentukan sikap hidup. Novel mengemban amanah untuk Indonesia waras atau Indonesia memerangi jutaan lalat. Mak memberi keterangan dengan bahasa mungkin terpahami oleh Burhan: “Tempat benih-benih penjakit itu bukannja bakul, piring atau mangkuk, melainkan bulu-bulu kaki dan sajap lalat itu. Ketika ia hinggap pada kotoran orang jang sakit tipus, tentu kotoran jang berkuman tipus itu melekat pada kaki dan sajapnja. Dari kotoran it hinggap pada nasimu. Disitu ia makan, dan kaki belakangnja dipukulkan-pukulkannja jang satu dengan jang lain. Tentu kuman-kuman itu djatuh kenasimu. Kemudian kaumakan nasimu itu, karena engkau tidak menerti atau melihat apa-apa!”


Guru dan mak kompak. Di sekolah dan rumah, bocah perlu mendapat pengetahuan dan pengalaman. Novel itu berlatar rumah dan sekolah. Aneh! Pembaca tak pernah menemukan peristiwa bocah belajar ilmu hitung, ilmu bumi, bahasa, dan lain-lain. Hal terpokok dalam novel memunculkan tokoh murid, guru, dan orangtua itu melulu kesehatan. Kita mengira novel itu pesanan dari kementerian kesehatan atau kontribusi pengerang untuk mendidik murid-murid mengenai kesehatan. Novel gamblang memberi pesan ketimbang kemunculan tokoh dokter dalam novel berjudul Belenggu gubahan Armijn Pane atau novel-novel propaganda di masa pendudukan Jepang.


Novel itu berlatar rumah dan sekolah. Aneh! Pembaca tak pernah menemukan peristiwa bocah belajar ilmu hitung, ilmu bumi, bahasa, dan lain-lain. Hal terpokok dalam novel memunculkan tokoh murid, guru, dan orangtua itu melulu kesehatan.

Pembaca jangan terlalu memuji kehadiran novel berseru kesehatan. Pada suatu hari, Burhan dan Burhani diajak mak pergi berbelanja. Dua bocah membeli celengan. Mereka ingin menabung ketimbang uang digunakan untuk jajan. Mereka sadar jajan sembarangan membikin sakit. Di celengan, uang itu bisa digunakan membeli apa saja asal berfaedah. Dugaan kita bahwa dua bocah itu suka menabung alias hidup hemat. Pembuktian? Sekian hari, uang di celengan digunakan berbelanja. Burhan memiliki keinginan membahagiakan orangtua. Uang digunakan membeli benda-benda untuk emak dan bapak.





Bocah berusia 6 tahun sudah memiliki gagasan kebaikan dengan cara membeli dan memberi. Burhan berhasil memiliki tabungan 9 rupiah. Ia ingin pergi ke pekan ikut emak. Pada hari Ahad, Burhan ikut mak dengan girang. Dulu, penulisan Ahad, bukan Minggu. Di hari libur, Burhan ingin memberi arti uang dengan membeli sesuatu. Pembaca boleh menduga Burhan membeli mainan, makanan, atau baju. Semua dugaan itu salah. Salah besar! Burhan di pekan berani dalam peristiwa membeli meski “salah”. Ia menggunakan uang untuk membeli kotak tembakau. Duh! Kotak tembakau ingin diberikan ke bapak. Pedagang bilang itu berharga satu setengah rupiah. Burhan ingin harga itu diturunkan. Pedagang mengucap “harga mati”. Burhan meminta arti ke mak. Harga mati itu “harga jang tak boleh ditawar lagi”.


Kotak tembakau berhasil dibeli Burhan. Ahad itu membahagiakan. Di rumah, Burhan mengatakan: “Pak, pak, inilah untuk bapak, supaja tembakau bapak djangan selalu dibungkus didalam kertas sadja.” Bocah kelas 1 SD sadar-tak sadar memberi “restu” bagi bapak sebagai perokok. Propaganda kesehatan berlaku dalam memusuhi lalat, bukan memusuhi rokok. Kita jangan terlalu menimpakan salah. Pada masa lalu, deskripsi bapak di Indonesia adalah “pergi ke kantor”, “membaca koran”, “minum teh”, dan “merokok”. Deskripsi itu menandai bapak adalah penanggung jawab keluarga. Burhan masih dianggap bersalah?

***


Soekarno ingin jutaan orang Indonesia sehat, kuat, dan berani. Segala kebijakan politik, pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lain-lain diinginkan menjadikan Indonesia maju. Indonesia tak boleh menjadi negara sakit, melarat, dan malas. Tata cara hidup revolusioner diajarkan ke jutaan orang melalui pidato, tulisan, pelajaran di sekolah, obrolan di tempat kerja, poster, dan lain-lain. Soekarno memiliki tugas besar saat politik penuh sengketa tapi jutaan orang harus memiliki lakon hidup baru dan maju.


Soekarno ingin jutaan orang Indonesia sehat, kuat, dan berani. Segala kebijakan politik, pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lain-lain diinginkan menjadikan Indonesia maju. Indonesia tak boleh menjadi negara sakit, melarat, dan malas.

Kita mengandaikan pemerintah masa lalu memberi slogan-slogan dan petunjuk cara hidup sehat di rumah. Petunjuk diamalkan di keluarga Burhan-Burhani. Kita simak adegan makan. Mak mengajak anak-anak makan. Di meja, ada nasi dan masakan ikan. Pesan mak ke Burhan-Burhani: “Tjutjilah tangamu dahulu. Engkaupun djuga Bur! Tengok, alangkah kotornja!” Dua bocah makan tak menggunakan sendok. Mereka makan seperti kelaziman orang di desa: menggunakan tanga. Cuci tangan menjadi wajib bila tak ingin sakit. Pada masa berbeda, pesan mak berganti lirik dalam lagu: “Sebelum kita makan, dik, cuci tanganmu dulu.” Orang makan ingin sehat dan kuat. Orang salah dalam tata cara makan bisa mendapat petaka.


Di novel, pengarang menceritakan teman Burhan sakit. Pihak sekolah dan teman-teman ingin menjenguk tapi mendapat peringatan dan pesan. Indonesia sedang dilanda wabah tipus. Pemerintah bekerja keras membuat tindakan-tindakan mengatasi dan mencengah sebaran wabah. Para petugas dikerahkan di kota dan desa. Alkisah, ada petugas mengadakan aksi pengobatan dan penjelasan ke publik. Burhan dan teman-teman mendatangi tempat untuk pemberian obat. Di situ, ada mantri kesehatan sedang bekerja dan memberi pengertian-pengertian wabah ke orang-orang. Novel semakin penting dalam pengisahan kesehatan di Indonesia masa lalu.


Kita mengutip di novel, adegan bertokoh mantri kesehatan: “Saudara-saudara hampirlah sebentar kemari. Kami akan memberi obat, supaja kamu djangan sakit. Sekarang penjakit menular sedang bertjabul. Dimana-mana ia meradjalela. Maukah saudara-saudara djadi sakit? Tentu tidak! Marilah kami beri obat supaja saudara-saudara tinggal sehat.” Pembaca di abad XXI mungkin kaget membaca “bertjabul”. Dulu, kata itu biasa terucap dan terdengar. Kita membuka Kamus Indonesia Ketjik (1954) susunan E St Harahap. “Tjabul” atau “bertjabul sampar” berarti “berdjangkit” atau “timbul bala sampar.” Pengertian cabul itu berbeda banget dengan buku berjudul Cabul: Perbincangan Serius tentang Seksualitas Kontemporer garapan Hendri Yulius terbitan Marjin Kiri, 2019. Novel berjudul Arumanis terbaca saat Indonesia sedang menanggung wabah. Pembaca jangan lekas menggunakan “bertjabul”. Publik bisa “marah” dan salah paham.


Burhan semakin mengerti kesehatan melalui pengajaran di sekolah dan rumah. Peristiwa wabah dan propaganda kesehatan di kampung semakin memberi pesan ke Burhan rajin cuci tangan, menjaga kebersihan, menghindari jajan sembarangan, dan olahraga. Kita menemukan tokoh Burhan, bocah peka kesehatan dalam novel mungkin lupa dicatat sebagai novel ampuh di masa lalu. Novel itu mementingkan tema kesehatan meski memuat pula hal-hal lain sebagai “pemanis”. Nah, kita agak mengetahui maksud penjudulan Arumanis. Oh, pikiran dan perbuatan manis. Kita mengerti manis terbukti di penggunaan bahasa. Novel itu memang “manis”. Kita tak terlalu berharap novel bisa cetak ulang. Kita cukup diingatkan bahwa novel itu bisa terjelaskan secara “mendalam” asal kita membaca dengan acuan buku berjudul Antropologi Kesehatan (1986) susunan George M Foster dan Barbara Gallatin Anderson. Kita sejenak memberi cap bahwa novel Arumanis mengumumkan “sastra kesehatan” warisan masa lalu. Begitu.


__________


Bandung Mawardi,

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku

Pengisah dan Pengasih (2019)

FB: Kabut

0 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email