• Majalah Basis

Mereka dan Lagu

Bandung Mawardi


DI Katedral Duomo, Milan, Italia, 12 April 2020, lelaki itu berdiri sendirian dalam suasana hening. Ruang itu mengisahkan “kekosongan” tapi mengingatkan “kehadiran”. Ia bernama Andrea Bocelli, pemberi pesan dalam lagu-doa opera saat dunia menanggung wabah. Ia berlagu dan berdoa di peringatan Paskah tapi berhak terdengar untuk semua orang di dunia. Andrea Bocelli enggan memberi khotbah pendek atau penjelasan mengenai wabah. Ia mengaku tak memiliki kualifikasi. Ia adalah “pemberi suara”, mencukupkan peran bersenandung.


Di katedral kosong, Andrea Bocelli melantunkan Panis Angelicus, Ave Maria, Sancta Maria, dan Domine Peus. Pesan terucap Andrea Bocelli: “Kita akan memeluk jantung bumi yang sedang terluka” (Media Indonesia, 14 April 2020). Andrea Bocelli tetap terlibat dalam penanganan wabah dengan menggalang dana melalui Andrea Bocelli Foundation. Di hadapan publik, ia tak mau berperan berlebihan atau berlagak mampu mengerti semua hal dan bertindak. Ia memilih menjalankan peran sebagai seniman. Sikap terhormat itu memberi pengaruh bagi jutaan orang di pelbagai negara.


Di hadapan publik, ia tak mau berperan berlebihan atau berlagak mampu mengerti semua hal dan bertindak. Ia memilih menjalankan peran sebagai seniman.

Di Indonesia, para seniman atau artis turut dalam ikhtiar merampungi wabah dengan membuat lagu, bersenandung bersama, dan mengadakan konser amal. Mereka melakukan perbuatan sesuai peran di musik. Sekian seniman atau artis tentu tak cuma berurusan lagu saja. Mereka memberi sumbangan duit dan menggalang dana mendukung kebijakan-kebijakan ketersediaan pangan, masker, dan santunan sosial. Peran terpokok tetap di musik, tak melampaui batas sampai ke politik atau bisnis-komersial. Mereka pantang diam. Di rumah, para seniman dan artis memastikan turut memberi kontribusi melalui keajaiban teknologi. Kita menghormati dan memberi pujian ke mereka.


Tanggapan kita mungkin berbeda setelah membaca berita di Solopos, 15 April 2020. Semula, kita membaca itu biasa-biasa saja: “Para rektor perguruan tinggi negeri se-Indonesia rupanya tak mau kalah dalam memberikan semangat dan dukungan bagi seluruh bangsa Indonesia yang sedang berjuang menghadapi wabah Covid-19. Mereka pun ramai-ramai menyumbangkan suara menyanyikan lagu ‘Rumah Kita’, lagu yang dipopulerkan oleh Ahmad Albar.” Mereka mengaku memberi kontribusi. Ada 33 rektor turut bersenandung “Rumah Kita”. Pada situasi tak keruan, kita memang gampang bingung dan meragu dalam bersikap untuk sekian kebijakan atau perbuatan.


Kita simak pengumuman resmi dari pihak mengaku berkontribusi dalam wabah: “… kegiatan ini sekaligus menjadi contoh wujud aktivitas selama pandemi Covid-19 di mana aktivitas perkuliahan dan pekerjaan lainnya dilakukan secara daring atau online dari tempat masing-masing". Kita mungkin tak memiliki pemahaman utuh mengenai predikat dan peran rektor. Konon, rektor itu memiliki tugas-tugas besar berkaitan ilmu pengetahuan. Hari demi hari, rektor berpikir serius memajukan mutu perguruan tinggi, memenuhi hak-hak dosen dan mahasiswa, berperan dalam pemajuan kerja-kerja ilmiah, menulis artikel atau buku, dan mengelola adab keintelektualan. Rektor itu posisi penting dan terhormat.


Pada saat wabah belum tamat, kita menduga para rektor di Indonesia bakal memberi penerangan atau kerja-kerja membuktikan predikat dan kompetensi di latar akademik. Hari demi hari, kita menanti artikel-artikel mereka di koran dan majalah. Kita tetap sulit mencari berita “membahagiakan” para rektor membuat kebijakan “mendadak” demi keberlangsungan kuliah. Di pelbagai situs berita dan media sosial, kritik-kritik malah diberikan para mahasiswa mutung ke para rektor. Para mahasiswa mengaku mengalami sulit dan merasa “dibohongi” oleh rektor dalam pelaksanaan kuliah daring. Kuliah itu boros duit. Kuliah membikin capek dan pusing gara-gara menghadapi gawai atau komputer. Situasi itu memastikan rektor tetap berada di lakon akademik.

Urusan para rektor dengan universitas mereka belum selesai tapi tergesa ingin “membuktikan” berkontribusi besar bagi Indonesia. Ingat, mereka itu rektor, bukan artis. Mereka bermufakat untuk bersenandung bersama tanpa berkumpul. Proses dilakukan di rumah atau kantor. Rekaman dibagikan ke publik. Apa itu peran rektor? Bersenandung bersama itu memiliki argumentasi: “Dasar ide itu adalah secara bersama-sama menunjukkan kepedulian untuk melawan pandemi Covid-19". Kita mulai berubah tanggapan. Rektor bersenandung itu hak. Para rektor mungkin memiliki kemerduan suara atau terbiasa menjalani hidup keseharian dengan lagu-lagu.


Urusan para rektor dengan universitas mereka belum selesai tapi tergesa ingin “membuktikan” berkontribusi besar bagi Indonesia. Ingat, mereka itu rektor, bukan artis.

Kita agak meragu gara-gara para rektor bersenandung “Rumah Kita” sudah menganggap itu “kepedulian” dan “kontribusi”. Kita lekas berdoa agar tak membuat fitnah atau merusak martabat para rektor. Tuhan, kita mengerti tugas rektor itu berat! Kita mungkin terlalu menuntut para rektor bila harus mengambil peran sesuai predikat, tak usah berlagak dengan rekaman bersenandung bersama agar ditonton jutaan orang. Kita mungkin khilaf memberi penilaian ke para rektor. Kita wajib meminta maaf dan dimaklumi. Pada abad XXI, kita terbukti gagal mengerti peran dan kontribusi rektor di Indonesia.


Kita mungkin khilaf memberi penilaian ke para rektor. Kita wajib meminta maaf dan dimaklumi. Pada abad XXI, kita terbukti gagal mengerti peran dan kontribusi rektor di Indonesia.

Kini, kita mulai membuat kliping mengenai wabah dan peran seniman atau artis. Kita tinggalkan masalah rektor. Koran-koran selama belasan hari dibuka kembali untuk membuat tanggapan atas peran seniman atau artis. Mereka tak mengadakan perkuliahan, khotbah, atau rapat umum. Mereka memilih menunaikan misi sesuai peran saja. Peristiwa sekian hari lalu tentu penting dan berpengaruh. Di Solo, 11 April 2020, Didi Kempot mengadakan konser amal dari rumah bekerja sama dengan Kompas TV. Kita simak penjelasan Didi Kempot sebelum konser berkaitan pembuatan lagu berjudul “Ora Bisa Mulih” dan “Tombo Teko Loro Lungo”. Dua lagu bercerita ajakan agar orang-orang menunda atau membatalkan mudik demi keselamatan bersama. Ada juga pesan tentang harapan agar korona cepat pergi (Kompas, 11 April 2020).


Hari-hari di rumah, Didi Kempot tetaplah seniman ingin memberi kontribusi untuk Indonesia melalui lagu. Di Solopos, 6 April 2020, kita membaca penjelasan Didi Kempot: “Ya, intinya saya membuat lirik ini untuk menyampaikan pesan kepada saudara kita di mana pun, untuk tabah dan saling memohon kepada Tuhan. Cobaan segera sirna dan mengimbau tidak usah mudik. Yang di rumah memaklumi". Kita membaca dua berita itu memastikan Didi Kempot adalah seniman. Pada situasi wabah, ia mengambil peran tetap sebagai seniman dan mengajak orang-orang mengumpulkan dana kemanusiaan.


Kita membaca dua berita itu memastikan Didi Kempot adalah seniman. Pada situasi wabah, ia mengambil peran tetap sebagai seniman dan mengajak orang-orang mengumpulkan dana kemanusiaan.

Kita masih memilih seniman di Solo. Tokoh itu bernama Endah Laras, seniman keroncong. Ia menggubah lagu berjudul “Ning Omah Wae”. Lagu diunggah di Instagram, 30 Maret 2020. Penjelasan di Solopos, 2 April 2020: “Materi lagunya tentang ajakan mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah selama wabah. Juga diisi beberapa kalimat edukasi seperti anjuran cuci tangan, membersihkan lingkungan rumah, juga mengawasi jam belajar anak". Endah Laras sadar berpredikat seniman. Ia memiliki cara memberi kontribusi selama wabah. Seniman menggubah lagu dan mempersembahkan ke publik.


Kliping terpenting adalah Konser #dirumahaja Musisi Indonesia, 25-28 Maret 2020. Program itu diselenggarakan oleh Najwa Shihab mengajak para musisi untuk disiarkan melalui kanal Youtube Narasi TV. Di Kompas, 29 Maret 2020, kita membaca acara itu berdampak. Andien melantunkan lagu berjudul “Ibu Pertiwi”. Anji membawakan lagu “Bidadari Tak Bersayap”. Slank, Judika, Tulus, Rossa, Ariel Noah, Kunto Aji, Barasuara, Raisa, Ari Lasso, Iwan Fals, dan lain-lain turut dalam konser. Najwa Shihab mengatakan konser “untuk menguatkan sekaligus menghibur”. Konser menjadi simpul solidaritas. Konser untuk donasi. Acara itu memang menghibur publik dan memicu penggalangan donasi dalam menangani wabah (Kompas, 31 Maret 2020).


Najwa Shihab mengatakan konser “untuk menguatkan sekaligus menghibur”. Konser menjadi simpul solidaritas. Konser untuk donasi.

Pada hari-hari awal keterlibatan seniman dan artis dalam memberi tanggapan wabah, kita mendengarkan lagu berjudul “Rumah Kita”. Dulu, lagu itu digubah dan dilantunkan tak diniatkan menanggapi wabah tapi cenderung berkaitan dampak pembangunan nasional atau urbanisasi masa Orde Baru. Lagu dimainkan God Bless pada 1988 terdengar lagi saat kita dianjurkan di rumah saja selama wabah. Pada 2004, para musisi bersenandung bersama “Rumah Kita” untuk menghormati Ian Antono. Lagu itu memang gubahan Ian Antono dan Theodore KS. Di Jawa Pos, 28 Maret 2020, kita membaca keterangan bahwa Ian Antono bersama teman-teman berharap menjadikan lagu itu undangan agar orang-orang memberi donasi mengatasi wabah. Lagu memberi hikmah. God Bless tampil lagi bersama kita. Mereka itu seniman, memiliki peran sesuai predikat.


Kita juga mengakui ketokohan Rhoma Irama dalam menanggapi wabah melalui lagu. Ia nekat berpolitik tapi sering gagal. Kini, ia menetapkan diri sebagai seniman saja. Peran diberikan saat wabah melanda Indonesia dengan menggubah lagu berjudul “Virus Corona”, lagu bernuansa kesedihan. Lagu mengajak orang-orang mematuhi kebijakan pemerintah, berharap wabah tak semakin merebak. Lagu sudah dipersembahkan ke publik, sejak 2 April 2020. Rhoma Irama mengambil peran sesuai predikat sebagai seniman (Media Indonesia, 5 April 2020).


Sekian kliping sudah kita baca ulang untuk sampai lagi ke masalah 33 rektor perguruan tinggi negeri bersenandung bersama lagu “Rumah Kita” berdalih “peduli” dan “kontribusi”. Kita mulai menganggap dalih itu berlebihan. Rektor pasti memiliki tugas-tugas besar dan berat. Kita anjurkan urusan bersenandung itu dikerjakan para seniman dan artis saja. Begitu.


__________


Bandung Mawardi,

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku

Pengisah dan Pengasih (2019)

FB: Kabut

Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email