Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Membaca Itu Penghiburan!


Kitab Si Taloe. Gambar Watjan Bocah 1909-1961 Bentara Budaya Yogyakarta, 2008, hlm 243


DI KERIUHAN berita politik, kita berhak memberi mata ke berita-berita bertema keaksaraan dan pendidikan. Di Kompas, 20 Mei 2019, kita membaca berita berjudul “Biasakan Membaca Ekstensif.” Kita diingatkan hak bocah atau murid membaca demi penghiburan. Tema perlu dibicarakan lagi berbarengan keluhan murid-murid di seantero Indonesia dalam mengerjakan soal-soal ujian. Keluhan bermula dari soal teks panjang dan “kegagalan” sebagai penggandrung buku.


Di Kompas, kita disodori pengertian sederhana: “Membaca ekstensif adalah membaca tanpa beban. Di sekolah, siswa dibebaskan memilih buku, majalah, ataupun koran yang hendak dibaca. Seusai membaca, siswa tak perlu diminta berefleksi ataupun menulis ulasan mengenai buku itu. Kegiatan ini murni bertujuan memenuhi hasrat membaca dan mencari kesenangan.” Kita lama tak lagi menjadikan peristiwa membaca bagi bocah adalah penghiburan atau kegirangan.

Nalar pendidikan telanjur “memaksa” murid wajib menekuni buku-buku pelajaran. Pilihan membaca sekian buku, majalah, dan koran pun sering ditempeli perintah agar selalu berkaitan puluhan mata pelajaran. Membaca jadi peristiwa terlalu berpamrih. Murid menunaikan peristiwa membaca dibebani soal-soal ujian dan capaian nilai. Situasi itu berlaku di sekolah dan rumah. Perpustakaan di sekolah sering berlimpahan buku pelajaran ketimbang bacaan-bacaan menghibur murid. Di rumah, orangtua mungkin enggan memberi hak ke bocah membaca buku-buku di luar buku pelajaran. Konon, orangtua cuma mengerti bahwa belajar itu membaca buku pelajaran. Bocah membaca buku bukan bercap buku pelajaran berarti sulit diakui belajar. Mubadzir waktu dituduhkan ke bocah.


Nalar pendidikan telanjur “memaksa” murid wajib menekuni buku-buku pelajaran. Pilihan membaca sekian buku, majalah, dan koran pun sering ditempeli perintah agar selalu berkaitan puluhan mata pelajaran. Membaca jadi peristiwa terlalu berpamrih. Murid menunaikan peristiwa membaca dibebani soal-soal ujian dan capaian nilai.

Indonesia abad XXI masih memiliki masalah pelik: membaca. Masalah itu anggaplah besar ketimbang politik. Pada hari-hari ribut politik, kita menemukan anjuran berhikmah di majalah Bobo edisi 16 Mei 2019. Para pembaca digoda melakukan kebiasaan membaca secara nyaring. Cara itu memiliki tujuh faedah: (1) ingin membaca sendiri; (2) meningkatkan daya ingat; (3) menambah kosakata; (4) mengenal ekspresi dan intonasi; (5) membangun keakraban; (6) mengembangkan pikiran dan imajinasi; (7) menghibur. Misi membaca bagi bocah berpuncak ke “menghibur”. Bocah capek dipaksa membaca melulu untuk merampungkan PR atau menjawab soal-soal ujian demi kenaikan kelas atau kelulusan. Menghibur itu penting dan perlu!


Misi membaca bagi bocah berpuncak ke “menghibur”. Bocah capek dipaksa membaca melulu untuk merampungkan PR atau menjawab soal-soal ujian demi kenaikan kelas atau kelulusan. Menghibur itu penting dan perlu!

Godaan berhikmah di majalah Bobo berkaitan dengan Cara Membaca Buku dan Memahaminya garapan Mortimer J Adler dan Charles van Doren (1986). Pada akhir abad XX, publik perlahan memiliki konklusi bahwa membaca buku tak lagi sepenting dahulu. Anggapan gara-gara ada radio dan televisi. Pembaca belum musnah. Buku-buku terus terbit. Membaca tetap sejenis “ibadah” bergelimang makna. Mortimer dan Charles menempatkan buku-buku di pendidikan “terlalu” penting bagi pendamba pengetahuan. Mereka berpesan: “Jika kita ingin terus belajar dan memperoleh penemuan, kita harus mengetahui cara menjadikan buku sebagai guru kita.” Pesan masih mungkin menggaung di abad XXI saat murid-murid semakin tergoda oleh hal-hal bukan buku.


Kita mundur dulu ke masa 1980-an di lakon pendidikan dan keaksaraan Indonesia. Kita menemukan peristiwa membaca dan membaca berpengaruh besar dalam kemajuan pendidikan di sekolah dan kampung. Ingatan ada di novel bocah berjudul Si Ohim: Merintis Jalan ke Kemajuan (1983) gubahan Tjetjep Endang. Tokoh Ohim sedang bertugas piket di kelas, pagi hari. Ia menemukan koran bekas pembungkus makanan. Koran diambil gara-gara penasaran melihat ada gambar dan cerita alias komik bersambung. Ohim bergairah membaca komik Superman. Bermula, dari koran bekas tak utuh, ia bisa menjawab soal-soal dari guru di mata pelajaran bahasa Indonesia. Di koran, Ohim masih ingat bahwa penulisan “achir” itu salah. Pengejaan benar adalah “akhir” sesuai EYD (1972). Koran jadi sumber jawaban dalam mengerjakan soal-soal dari guru.


Hari demi hari, Ohim mencari koran bekas demi membaca komik dan berita. Ia sedang menikmati dan mencari penghiburan, belum dibebani harus sesuai dengan sekian mata pelajaran.

Gelagat Ohim itu membuat teman-teman dan guru kaget. Mereka mulai sadar jika membaca koran dan buku-buku itu penting. Para murid bermufakat mau mengadakan taman bacaan. Di awal, mereka ingin ada koleksi komik Superman dan Tarzan. Buku berisi cerita wayang pun digemari oleh murid-murid. Pada saat mampu mengumpulkan modal dan bantuan koleksi buku, guru dan para orangtua perlahan paham kemauan bocah. Kaum dewasa jangan terlalu campur tangan dalam menentukan jenis buku-buku dibaca bocah. Buku mendingan di penghiburan, sebelum dipaksa cocok dengan pelajaran-pelajaran di kelas. Ohim dan teman-teman bergirang membaca buku-buku dan saling berbagi cerita. Mereka ada di penghiburan, bukan pelajaran formal. Peristiwa itu justru meningkatkan kemampuan murid saat mengikuti pelbagai pelajaran di kelas. Ohim paling menonjol gara-gara keranjingan membaca koran, majalah, dan buku.


Kaum dewasa jangan terlalu campur tangan dalam menentukan jenis buku-buku dibaca bocah. Buku mendingan di penghiburan, sebelum dipaksa cocok dengan pelajaran-pelajaran di kelas.

Ohim cuma ada dalam novel. Kini, kita kesulitan menemukan bocah-bocah seperti Ohim setelah pemberitaan dan laporan keluhan-keluhan selama ujian di sekolah. Di Solopos, 23 Mei 2019, ada berita mengejutkan bahwa murid-murid di Solo memilih mata pelajaran matematika ketimbang bahasa Indonesia dan sekian mata pelajaran lain. Argumentasi terlugas: matematika tak suguhkan teks-teks panjang. Soal ujian matematika dianggap gampang dipahami. Di hadapan soal-soal berupa teks panjang, murid sering kelelahan dan gagal mengerti isi soal. Teks atau narasi panjang di ujian cepat dianggap momok.


Pengakuan-pengakuan para murid itu lumrah. Ada murid mengaku malas membaca teks panjang. Soal itu dituduh bertele-tele. Murid berbeda mengakui capek gara-gara membaca teks panjang berulang berharap mengerti tapi gagal. Keputusan mengagetkan diakui murid di Solo. Ia kadang tak membaca semua isi di teks panjang. Murid itu asal menjawab saja (Solopos, 24 Mei 2019). Di ruang ujian, teks-teks panjang sulit memberi girang tapi menggandakan tegang. Situasi itu mendapat prihatin dari pejabat dan kalangan pendidik. Nasihat mereka hampir sama: menganjurkan murid-murid rajin membaca buku sarat ilmu (sekolahan). Nasihat membaca buku demi ujian, bukan membaca buku demi penghiburan seperti di peristiwa membaca ekstensif dan pengalaman Ohim. Membaca melulu berurusan pelajaran tentu membosankan. Kita telat memberi hak ke bocah meraih kenikmatan membaca berdalih kemajuan pendidikan berupa nilai-nilai ujian. Begitu.



Bandung Mawardi

melungopeni.blogspot.com

FB: Kabut

237 tampilan