Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Konser dan Tomat

Bandung Mawardi


PENGAJAR antropologi di Universitas Indonesia menulis buku mengenai tomat. Tema jarang dianggap penting oleh kalangan intelektual dan peminat buku. Pengajar bernama Diana Damayanti sengaja menulis buku bertema tomat untuk orangtua dan bocah. Tema “mengenalkan” dan menjadikan kegandrungan tomat. Ditulislah buku berjudul Tomat untuk Anak: 50 Fakta Tomat, 10 Ide Kreatif, 25 Resep Tomat untuk Anak (2013). Buku awal di “Seri Kenalkan Sayuran dan Buah-Buahan Kepada Anak” terbitan Gramedia Pustaka Utama.


Sekian informasi diperoleh dari lacak di internet. Kita membaca kumpulan pengutipan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Semua tentang tomat. Kutipan “lucu” tapi pernah terjadi: “Ketika pertama kali melihat tomat, orang Eropa menganggap tomat sebagai tanaman beracun.” Alkisah, akhir 1820, Robert Gibbon nekat memakan sekeranjang tomat untuk membantah anggapan itu beracun. Ia membuktikan tomat tak beracun atau membikin sakit. Alkisah itu membuat kita risau jika kebiasaan makan sekeranjang tomat ditiru anak-cucu. Jumlah tomat masuk perut melebihi kewajaran?


Kutipan lagi: “Negara penghasil tomat terbanyak di dunia adalah China, disusul oleh Amerika Serikat, Turki, India, dan Mesir.” Kita tak menemukan nama Indonesia di situ. Orang-orang Indonesia senang memasak menggunakan tomat atau membuat sambal tomat. Senang belum berarti penanaman tomat membuat Indonesia ada dalam daftar lima besar negara penghasil tomat terpenting di dunia. Indonesia belum negeri tomat. Kita menunggu ada kebijakan besar dari Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan pelbagai instansi agar menjadikan Indonesia itu negara mengerti tomat. Kita berharap pembuktian tak berdasarkan jumlah buku terbit selamat sepuluh tahun berjudul atau bertema tomat. Kita sungkan memberi anjuran ke para pengarang agar menulis seribu cerita pendek, ratusan novel, atau sejuta puisi bertema tomat. Pembuktian di tanah dan pasar, bukan di toko buku atau perpustakaan.


Kita menunggu ada kebijakan besar dari Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan pelbagai instansi agar menjadikan Indonesia itu negara mengerti tomat. Kita berharap pembuktian tak berdasarkan jumlah buku terbit selamat sepuluh tahun berjudul atau bertema tomat.

Pengajaran tomat ke orangtua dan anak teranggap penting. Buku berjudul panjang itu mengantarkan atau mengenalkan. Ikhtiar pengajaran juga tampak di terbitan majalah Bobo edisi 30 Mei 2019. Di sampul belakang, bocah membaca keterangan makanan sebagai sumber vitamin C. Di daftar bergambar, bocah melihat ada tomat berwarna merah. Tomat mengandung vitamin C. Manfaat vitamin C: “(1) menjaga kesehatan jantung serta mencegah terjadinya penyakit mata katarak, rabun, atau tumor mata; (2) memperbaiki jaringan sel kulit dan mencegah penuaan dini; (3) meningkatkan daya tahan tubuh dan melindungi tubuh dari serangan virus penyakit, misalnya, batuk dan pilek.”


Majalah Bobo itu tak beredar di Eropa dan Amerika Serikat. Bobo berbahasa Indonesia dibaca bocah-bocah di Indonesia atau negara sebelah. Ariana Grande tentu belum membaca Bobo. Ia pasti mengerti tomat saat diajarkan orangtua di dapur dan meja makan. Ariana Grande mungkin mendapat ilmu tomat di sekolah. Ia mengerti tapi “kalah” oleh tomat. Artis berdarah Italia-Amerika itu bermasalah dengan tomat. Ia alergi tomat. Risiko terbesar setelah makan tomat: “Gara-gara hal itu, Ariana Grande harus membatalkan beberapa konser di Florida karena muncul reaksi yang buruk, sehingga tenggorokannya hampir benar-benar tertutup.” Ariana Grande merasa “seperti menelan kaktus” (Tribun Jateng, 3 Juni 2019). Tomat dan kaktus berbeda, tak memiliki kemiripan bentuk dan rasa. Artis kondang itu sedang “membual” atau memberi lelucon pada dunia.


Duh, tomat telah jadi petaka! Penggemar seluruh dunia harap berdoa dan bersabar. Sekian jadwal konser bakal ditunda. Tunggulah sampai Ariana Grande sembuh untuk menghibur dunia! Konon, sekian hari dari pengumuman ia “seperti menelan kaktus”, ada pengumuman susulan: konser dibatalkan. Jutaan penggemar sudah berdoa dan berharap dilarang kecewa atau menangis semalaman. Mereka jangan lekas menimpakan hujatan, kutukan, kecaman, dan protes ke tomat. Kita menjamin bahwa tomat tak bersalah. Pihak bersalah mengarah ke pemakan tomat. Salah tak mutlak. Kita terkejut bahwa tomat menentukan keberlangsungan atau kegagalan konser musik. Tomat memberi derita dunia, petaka di musik?


Pengajaran tomat ke bocah memerlukan cerita, alat peraga, dan pengalaman langsung. Tomat di dapur berbeda dengan tomat di kebun, warung, atau pasar. Tomat di poster dan buku pelajaran mungkin pembenaran saja dari pemberian pengetahuan ke bocah. Kita ingatkan ke bocah bahwa tomat bukan cuma gambar di botol saus sering dilihat di warung atau dapur. Tomat memiliki kekhasan atau ciri. Bocah belajar mengerti tomat: bentuk dan warna. Bocah pun diajak menikmati tomat dalam sayuran, sambal, atau minuman. Pengetahuan dan pengalaman memberi bekal saat menjadi dewasa. Tomat itu penting berkaitan vitamin dan keinginan waras setiap hari.


Pengajaran tomat saat masih bocah dapat digunakan untuk memahami berita bahwa Ariana Grande menunda atau membatalkan konser musik gara-gara alergi tomat. Berita mengguncangkan para penggemar di dunia, termasuk orang-orang di Indonesia. Kita jangan kecewa. Kasus itu terjadi di negeri jauh. Kita menunggu lagu mengenai tomat. Lagu belum tentu disenandungkan Ariana Grande. Lagu untuk bocah saja dan berbahasa Indonesia. Lagu bertema tomat itu enak dan perlu bagi keindahan, kesehatan, kebersamaan, dan keilmuan.


Kita ingat tomat gara-gara berita bertokoh artis. Duh, kita telat menghormati tomat! Telat boleh ditebus dengan rencana mengadakan konser musik bagi artis kondang atau artis masih bocah untuk mengusung tema besar: tomat. Nah, konser itu dijadikan cara berbagi ilmu ke publik. Berbagi pula pelbagai makanan dan minuman menggunakan tomat. Kita berperan pada rencana besar belum tentu terwujud itu tak usah dibebani harus memecahkan rekor. Tomat tak pernah meminta atau menagih rekor. Begitu.



Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi

FB: Kabut

60 tampilan