• Majalah Basis

Kepodang dan Kantil



SEJAK 5 November 1993, pemerintah menganjurkan kita turut mengartikan puspa dan satwa. Pemerintah membahasakan Hari Puspa dan Satwa Nasional. Pada 2019, kita mungkin agak lupa dengan puspa dan satwa gara-gara politik masih memicu polemik tak berkesudahan. Kita capek mengikuti urusan-urusan pelik politik dan berita-berita sedih mengenai kebakaran hutan. Di luar politik dan hutan, kita masih mendapatkan berita-berita memaksa duka ketimbang girang dan berpengharapan pada alam. Kita mungkin terlalu lama tak memikirkan puspa dan satwa, setelah segala memanjakan dan melenakan di jagat digital.


Berita di Media Indonesia, 6 November 2019, anggaplah bukan berita terpenting di akhir tahun. Orang-orang terus saja memikirkan politik dan kenikmatan bergawai ketimbang sejenak “bersama” puspa dan satwa. Pada peringatan Hari Puspa dan Satwa Nasional, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Atit Kani menginginkan “Bappenas memasukkan agenda pelestarian nasional untuk keberlangsungan satwa dan puspa ke dalam program pemerintah.” Keinginan mengacu data PBB: “Selama 2000 hingga 2015, lebih dari seperlima lahan di bumi berkurang sebagai imbas diversifikasi pengembangan lahan pertanian dan urbanisasi.”


Kita berhak mengartikan (lagi) puspa dan satwa untuk mengerti peran di situasi tak keruan. David Wallace-Wells melalui buku berjudul Bumi Yang Tak Dapat Dihuni (2019) mengingatkan “penghancuran” bumi berisiko membuat manusia merana. Puspa dan satwa pun merana. Bumi berimajinasi molek perlahan tergantikan imajinasi-imajinasi “seram” di pembesaran tema pemanasan global atau perubahan iklim. Kita pun insaf telah terjadi kerusakan alam di Indonesia mengakibatkan sekian puspa dan satwa bercap langka atau punah. Di Jawa, suguhan imajinasi masa lalu mengenai bunga dan binatang selalu memukau mulai menghilang. Pengisahan di relief dan kitab-kitab sastra jarang terbaca dan diceritakan ulang ke anak-cucu. Pengenalan ke beragam puspa dan satwa semakin berkurang dibarengi lakon alam memburuk oleh sampah, banjir, kebakaran, dan longsor.


Daftar ingatan kita atas satwa dan puspa memendek. Kita malu pada Alfred Russel Wallace mewariskan buku memuat flora-fauna, gunung, bahasa, adat, makanan, senjata, sungai, dan busana. Kini, kita berbarengan memperingati 150 tahun penerbitan The Malay Archiplelago. Kita membaca dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul Kepulauan Nusantara, Kisah Perjalanan: Kajian Manusia dan Alam (2019). Data berupa gambar dan penjelasan mengenai pelbagai binatang dan tumbuhan disajikan Alfred Russel Wallace melalui tahun-tahun pengelanaan di pelbagai pulau. Ia terlalu takjub pada Nusantara. Buku itu membuat Eropa terpikat dan ilmu mengenai binatang atau tumbuhan semakin bersemi di pelbagai negara. Kita menjadi ahli waris tapi lupa melanjutkan gairah memuliakan sekian puspa dan satwa berkaitan sejarah, identitas, dan adab di Nusantara.


Buku itu membuat Eropa terpikat dan ilmu mengenai binatang atau tumbuhan semakin bersemi di pelbagai negara. Kita menjadi ahli waris tapi lupa melanjutkan gairah memuliakan sekian puspa dan satwa berkaitan sejarah, identitas, dan adab di Nusantara.

Kita merenungi Hari Puspa dan Satwa berkaitan masa lalu Jawa Tengah, belum terlalu ambisius bercerita secara lengkap berlatar Nusantara. Pemerintah mengumumkan Indonesia berkelimpahan puspa dan satwa. Data dari pemerintah: 25.000 jenis tumbuhan bunga, 500 jenis mamalia, 500 jenis reptil, 1.500 jenis burung, 270 jenis amfibi, dan 2.500 jenis ikan. Kita memiliki data, belum tentu memiliki pengisahan atau penjelasan apik dipelajari publik. Puspa dan satwa itu belum pula tema penting diajarkan di sekolah-sekolah. Kita terbiasa lupa dan telat belajar.


Sekian tahun lalu, Jawa Tengah memiliki identitas bereferensi puspa dan satwa. Pemerintah memilih kantil dan kepodang. Pengertian-pengertian terkandung di pilihan ikon kantil dan kepodang. Kita pasti lama tak mendapatkan penjelasan dan pengisahan memungkinkan ada ikhtiar melestarikan puspa-satwa pilihan. Pada 1993, terbit buku hasi sarasehan berjudul Flora dan Fauna Identitas Jawa Tengah. Sarasehan diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Persatuan Burung Indonesia (Jawa Tengah) di Semarang, 28 Agustus 1993. Dokumentasi penting mungkin tak lagi tersimpan di dinas-dinas pemerintah atau perpustakaan di Jawa Tengah.


Para ahli di sekian keilmuan diundang memberi paparan mengenai pilihan kantil dan kepodang. Gubahan sastra lama dan baru dijadikan referensi mengukuhkan kepodang sebagai ikon Jawa Tengah. Burung itu memang memukau para pujangga, sejak Mangkunegara IV sampai Sapardi Djoko Damono. Bas van Balen dan Ismu S Suwelo menjelaskan bahwa burung kepodang tak terlalu memilih habitat. Ia bakal hidup dan berkembang asal tersedia pohon di taman kota, kebun, dan hutan. Pohon sebagai rumah. Ia terus lestari asal tak jadi buruan manusia dan diperdagangkan demi nafsu komersial. Kepodang berperan sebagai pembasmi serangga (ulat-ulat) dan turut di sebaran biji pohon buah. Kepodang itu berhikmah. Pengertian agak bersimpangan menurut anutan orang Jawa gemar mengolah daging kepodang untuk hidangan ibu hamil. Sejak lama, kepodang dipahami santapan lezat.


Kita membuka buku berjudul Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali (1990) susunan John MacKinnon. Buku tebal berisi pengetahuan burung-burung. Kita tak usah menggerutu buku disusun orang asing. Di halaman 278-279, kita disuguhi keterangan kepodang: “…burung yang tegap dan kuat. Bulunya berwarna-warni dan berparuh kuat dan lurus. Kepodang memakan buah-buahan dan serangga. Sarang tergantung pada cabang pohon, dijalin dari akar dan serat-serat membentuk cawan, teranyam dengan ranting yang menyangganya.” Pembaca boleh terkesima, penasaran ingin melihat kepodang.


Kita membuka buku berjudul Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali (1990) susunan John MacKinnon. Buku tebal berisi pengetahuan burung-burung. Kita tak usah menggerutu buku disusun orang asing.

Kita berlanjut ke bunga kantil. Orang ingat kantil, ingat kematian? Di Jawa, bunga kantil sering bercerita kematian atau duka. Bunga itu terpilih di sesaji-bunga tabur. Kantil menghubungkan manusia di dunia dan alam sana. Kantil itu perlambang dan ritual. Bunga semerbak-wangi kantil masih terus digunakan dalam upacara-upacara adat di Jawa. Penggunaan dan pemaknaan kantil belum digenapi pengetahuan sejarah tentang “kedatangan” dan awal penanaman kantil di Jawa atau Nusantara.


Kita mengingat ajakan Soeharto di Jakarta, 10 Januari 1993. Pemerintah menetapkan 1993 sebagai Tahun Lingkungan Hidup. Soeharto menjelaskan: “Untuk terus-menerus mengingatkan diri kita agar kita selalu menjaga kelestarian fungsi lingkungan, maka kita telah menetapkan satu hari dalam setahun sebagai hari yang menggugah kesadaran dan kecintaan kita semua pada puspa tanaman dan satwa alam kita. Untuk itu saya menetapkan tanggal 5 November sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.” Pidato itu masih mungkin teringat meski situasi kita dan alam berlatar abad XXI semakin berantakan. Begitu.



Bandung Mawardi,

Kuncen Bilik Literasi Solo

FB: Kabut

62 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email