• Majalah Basis

Hanya Debulah Aku

Gabriel Possenti Sindhunata, SJ

PADA hari ini, 21 Mei 2020, umat Kristiani memperingati Kenaikan Isa Almasih ke Surga. Pada hari ini juga, umat Kristiani masih belum bisa melaksanakan ibadah peringatan ini maupun ibadah yang lain-lainnya di gereja dalam kebersamaan dengan umat lainnya. Umat Kristiani tidak sendiri, sebentar lagi Idul Fitri, hari raya umat Muslim yang sangat dinanti-nantikan, juga segera tiba. Namun, Idul Fitri tahun ini tidak sama dengan yang sebelumnya. Hal yang sama juga dialami oleh sebagian besar umat manusia lainnya di berbagai negara lain. Itu semua karena grafik Pandemi Covid-19 tak juga melandai, sementara kelelahan dan kejenuhan makin melanda hebat membuat situasi tak tentu arah. Sungguh situasi yang tidak mudah. Namun, inilah cara pandemi Covid-19 memaksa kita untuk kembali belajar menjalani hidup, belajar memaknai hal-hal yang selama ini telah menjadi ritual ajeg, yang diam-diam kehilangan makna intinya. Untuk itu, perkenankan saya berbagi renungan Paskah yang pada tanggal 10 April 2020 telah saya sampaikan dalam channel Youtube Jesuit Insight. Selain itu, renungan ini juga telah dimuat dalam Majalah Utusan edisi Mei 2020. Semoga, dengan berbagi renungan ini secara lebih luas, kita semua bisa belajar bersama-sama, makin erat bergandengan tangan menghadapi situasi sulit ini.


-----------------------------------------------------


SEAKAN bukan kebetulan, merebaknya ketakutan di tengah ancaman Covid-19 ini terjadi di masa puasa menjelang perayaan Paskah. Covid-19 mencekam kita dalam ketakutan, dan tiba-tiba menghadapkan kita pada hal yang kiranya paling kita takuti: kematian! Kita tak suka berbicara atau memikirkan kematian. Tapi sekarang Covid-19 mengingatkan, kematian adalah bagian hidup dan nasib kita. Peristiwa Covid-19 memang menakutkan. Tapi peristiwa ini bisa menjadi dasar berpijak untuk merenungkan makna Paskah.


Sementara ini mungkin kita memikirkan Paskah lebih sebagai perayaan kebangkitan. Kita lupa atau kurang memperhatikan, bahwa Paskah adalah kebangkitan dari kematian. Artinya, tak mungkinlah kebangkitan dilepaskan dari kematian. Iman yang menyelamatkan kita bukan hanya iman akan Kristus yang bangkit, tapi Kristus yang bangkit dari kematian-Nya. Maka kata Paulus: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan (Rom 10:9). Seperti diteriakkan Petrus di depan orang banyak, tugas kita sebagai orang Kristen adalah mewartakan Allah yang telah membangkitkan Yesus dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis 2:24). Dan kita harus mau dan berani menjadi saksi bagi Allah yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Kis 3: 15).


Kita lupa atau kurang memperhatikan, bahwa Paskah adalah kebangkitan dari kematian. Artinya, tak mungkinlah kebangkitan dilepaskan dari kematian.

Maka untuk mengerti benar makna Paskah, kita harus berani berpijak pada kematian. Dan dengan menyebarnya Covid-19 ini, kita diberi pengalaman yang luas, dalam, dan sungguh nyata tentang kematian itu. Karena Covid-19, manusia bersama-sama berjuang untuk menyelamatkan kehidupan. Namun harus diterima pula, kali ini manusia benar-benar dihadapkan pada ketakberdayaannya, dan menerima kelemahannya, bahkan terpaksa harus membayangkan apa yang paling menakutkan dirinya bisa sewaktu-waktu menjemputnya. Inilah saat yang tidak kita sukai. Tapi mungkin inilah saatnya kita diingatkan siapa kita sebenarnya, seperti yang kita alami ketika kita ikut upacara Rabu Abu: Kita ini adalah debu, dan akan kembali kepada debu.


Merenungkan kita adalah debu tanpa Covid-19 mungkin tidak memberi perasaan apa-apa kepada kita. Tapi dengan Covid-19, kita adalah debu, sungguh bisa menjadi jeritan paling jujur, di mana kita boleh meneriakkan: “Dari jurang yang dalam, aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan” (Mas 130:1). Kita adalah debu yang menjerit kepada Tuhan. Dan jika kita mau menjerit kepada-Nya, kita sesungguhnya mau teringat kembali akan asal usul kita: kita bukan sekadar debu, tapi debu yang dihembusi dengan napas Tuhan, sehingga dari debu itulah terjadi ciptaan-Nya yang istimewa, yakni kita yang adalah manusia ini. Seperti dikatakan dalam Kitab Kejadian: Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej 2:7).


Kita adalah debu yang menjerit kepada Tuhan. Dan jika kita mau menjerit kepada-Nya, kita sesungguhnya mau teringat kembali akan asal usul kita: kita bukan sekadar debu, tapi debu yang dihembusi dengan napas Tuhan, sehingga dari debu itulah terjadi ciptaan-Nya yang istimewa, yakni kita yang adalah manusia ini.

Napas adalah kehidupan. Merasakan napas berarti merasakan kehidupan. Hal itu paling terasa ketika orang saling memberikan cinta. Dalam berciuman misalnya, sepasang kekasih akan saling merasakan napas yang dikasihinya, dan di sana ia merasakan pula cinta, kedekatan, dan kehidupannya. Karena itu, jika Tuhan menghembuskan napas-Nya kepada kita yang asalnya debu ini, Tuhan pun memberikan seluruh diri, hidup dan kedekatannya kepada kita. Seperti dikatakan penulis Gregor Predel, dengan memberikan napas-Nya, Tuhan sungguh seperti pribadi yang jatuh cinta kepada kita. Dan itu terjadi tidak hanya ketika kita diciptakan-Nya, tetapi selama hidup kita. Tuhan selalu dekat pada kita, dan dengan kedekatan-Nya ini Dia selalu mendampingi, mencintai dan menganugerahkan kehidupan kepada kita. Karena Tuhan itu setia, tak mungkinlah Ia meninggalkan kita, walau kita hanyalah debu. Maka kata pemazmur, “segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan setia” (Maz 33:4), dan “kesetiaan Tuhan itu untuk selama-lamanya” (Maz 117:2).


Kita sering lupa akan napas Tuhan itu. Covid 19 dengan segala akibatnya kiranya memaksa kita untuk kembali ingat akan napas-Nya. Pembatasan sosial mungkin menyudutkan kita pada suasana sepi dan sendiri. Terimalah ini sebagai kesempatan yang sangat berharga, kesempatan yang memanggil kita untuk “hanya berdua bersama-Nya”. Saat, di mana kita boleh merasakan bahwa Tuhan sungguh jatuh cinta kepada kita. Covid-19 mungkin memojokkan kita untuk menyadari kita hanyalah debu, tapi justru pemojokan itu kiranya boleh membawa kita untuk menyadari, bahwa debu itu adalah debu yang dicintai Tuhan, debu yang dihembusi napas-Nya hingga menjadi hidup.


Covid 19 dengan segala akibatnya kiranya memaksa kita untuk kembali ingat akan napas-Nya. Pembatasan sosial mungkin menyudutkan kita pada suasana sepi dan sendiri. Terimalah ini sebagai kesempatan yang sangat berharga, kesempatan yang memanggil kita untuk “hanya berdua bersama-Nya”. Saat, di mana kita boleh merasakan bahwa Tuhan sungguh jatuh cinta kepada kita.

Apa pun daya Covid-19, tak mungkinlah daya itu bisa menghilangkan kedekatan-Nya yang selalu menyertai, menguatkan, dan menghibur kita. Karena kedekatan-Nya itu, tak mungkinlah Covid-19 ini membuat kita kalah dan menyerah bahwa kita hanyalah debu yang akan musnah. Memang “kita adalah debu bukanlah kata akhir”, kata akhirnya adalah “memang kita hanyalah debu, tapi tak mungkin kita musnah, karena ke dalam debu itu Tuhan telah menghembuskan seluruh kehidupan-Nya”.


Selama ini mungkin kita kurang memberikan diri pada Tuhan yang dekat dengan kita itu. Pembatasan sosial ini adalah saat yang indah untuk “sendiri bersama Dia”. Saat untuk merasakan cinta-Nya, mengalami penghiburan-Nya, dan memperoleh kekuatan-Nya: saat untuk merasakan kembali napas kehidupan yang dihembuskan-Nya kepada kita. Inilah saat yang terbaik untuk mengucapkan doa: Tuhan, bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela (Mas 54: 14). Dalam doa demikian, kita diajak oleh Paus Fransiskus untuk berseru: “Hembusilah kami dengan napas kehidupan-Mu, agar kendati hanya debu pun, kami akan menjadi menjadi debu yang jatuh cinta kepada-Mu”. Napas kehidupan-Nya tak mungkin bisa kita tahan untuk diri kita sendiri. Kita pasti didorong-Nya untuk memberikan napas itu juga kepada sesama kita. Maka justru dalam kesunyian Covid-19 ini, cinta akan sesama kita akan merebak, karena yang merebakkannya bukan kita lagi, tapi Tuhan sendiri yang ingin agar kita membagikan cinta-Nya kepada sesama.


Maka justru dalam kesunyian Covid-19 ini, cinta akan sesama kita akan merebak, karena yang merebakkannya bukan kita lagi, tapi Tuhan sendiri yang ingin agar kita membagikan cinta-Nya kepada sesama.

Tuhan sendiri adalah Dia yang paling tahu tentang sepi. Karena Dia pernah mengalaminya sendiri dalam diri Putra-Nya, yang sepi dan sendiri, sampai mati di kayu salib. Tak ada kesepian yang demikian dahsyat selain kesepian yang diteriakkan Yesus karena penderitaan-Nya dan kesendirian-Nya di kayu salib: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Kesepian Yesus ini adalah bagian dari kebangkitan Paskah. Maka tak mungkin Tuhan meniadakannya. Jika kesepian dan penderitaan Yesus itu ditiadakan-Nya, kebangkitan Paskah tak mempunyai lagi dasarnya. Paskah lalu menjadi dongeng murahan belaka. Jika Tuhan tidak meniadakan kesepian Yesus, Dia pun berada dalam kesepian itu. Artinya, Tuhan ikut menderita dalam kesepian itu. Misteri ini mungkin tak pernah kita selami, ketika kita merayakan Paskah sebagai ritualan belaka. Covid-19 memasukkan kita ke dalam kesepian, yang dibayang-bayangi dengan kematian. Kiranya suasana ini adalah suasana yang sangat tepat untuk merenungkan dan merasakan penderitaan Tuhan dan jalan salib-Nya. Maka marilah kita menerima suasana yang mencekam ini sebagai anugerah untuk masuk ke dalam jalan salib-Nya.

0 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email