• Majalah Basis

Di Jalan (Imajinasi) Politis


Bandung Mawardi


PADA masa awal abad XX, Solo menjadi pusat pergerakan politik, agama, dan sosial-kultural. Solo itu kota bergerak dengan tradisi dan modernitas. Di jalan-jalan, sepeda onthel dan mobil berseliweran menandai zaman “kemadjoean”, selain bergerak pula sekian alat transportasi. Jasawidagda dalam novel berjudul Kirti Junjung Derajat (1924) mengisahkan orang-orang pergerakan, para saudagar, dan kaum terpelajar mengendarai sepeda atau pit onthel di jalan-jalan. Paku Buwono X sudah naik mobil. Pada peristiwa-peristiwa berselera kekuasaan dan hiburan, orang-orang masih melihat orang menunggangi kuda. Sekian hal menjadi tanda-tanda pengisahan kota cenderung dipengaruhi kekuasaan.


Pada 1986, Andrik Purwasito menggubah puisi berjudul “Fragmen Kota Solo”. Kita mengenang masa lalu:

Dari Sriwedari aku naik bus tingkat, berdesak-desak

Lie Cheng Shui duduk di depanku meludah ke bawah

hinggap ludahnya di blangkon Raden Sastrodimedjo

Saat naik andong sambil terkantuk-kantuk

Si George de Bosch yang tahu, memotret dari Toyota.


Puisi dokumentatif mengingatkan situasi jalan gara-gara bus tingkat, andong, dan mobil. Di Solo, ada juga sepeda onthel, becak, dan sepeda motor. Pada abad XXI, jalan-jalan di Solo semakin ramai dengan pelbagai alat transportasi.

Kita tinggalkan novel berbahasa Jawa dan puisi lama untuk mengingat berita bertema pilkada. Di halaman muka Tribun Jateng, 5 September 2020, kita melihat foto bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo (Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa) naik sepeda onthel-kebo. Mereka diiringi orang-orang dalam peristiwa politik. Penampilan dua tokoh itu tampak gagah dengan mengenakan busana selera tradisi. Foto mereka laris di pelbagai koran, tampil di halaman depan: Jawa Pos, Suara Merdeka, dan Media Indonesia.

Para pembaca koran-koran digoda berimajinasi sepeda onthel (alat transportasi) dan misi kekuasaan. Kita pun melihat foto bakal calon di pelbagai kota dan kabupaten tampak mengendarai vespa, oplet, andong, bajaj, becak, dan lain-lain. Mereka mungkin sedang ingin berpolitik eksentrik di tatapan mata publik saat melihat acara di televisi dan membaca koran-koran. Penampilan dan pilihan alat transportasi dianggap berpengaruh dalam pemenangan.

Adegan orang-orang ingin menjadi pimpinan di kota dan kabupaten itu memicu kerumuman. Pelanggaran demi pelanggaran terjadi berkaitan penanggulangan wabah. Kita berpikiran alat transportasi saja. Mereka memiliki argumentasi dalam pilihan alat transportasi, mengaitkan dengan ungkapan sudah berlaku: partai politik itu “kendaraan politik”. Konon, alat transportasi mengartikan mereka sederhana, kerakyatan, berkeringat, cepat, kalem, dan lain-lain. Kita mendingan menganggap semua argumentasi itu “omong kosong” atau cerita-cerita picisan. Publik mengetahui keseharian mereka. Peristiwa politik pamer diri bersama alat transportasi perlahan basi.


Kita mendingan menganggap semua argumentasi itu “omong kosong” atau cerita-cerita picisan. Publik mengetahui keseharian mereka. Peristiwa politik pamer diri bersama alat transportasi perlahan basi.

Di Medan, ada tokoh disorot publik mendaftar ke Kantor KPU mengendarai vespa berwarna hijau. Di Indonesia, vespa itu dipaksa ingin politis meski masa lalu justru mengisahkan hiburan. Di majalah Aneka edisi 20 September 1958, kita membaca berita dan melihat foto-foto bertema skuter. Kita simak peristiwa silam: “Pelbagai merk scooter ikut ambil bagian dalam pesta scooter dikota Bandung baru-baru ini. Ada merk jang sudah demikian terkenal dikalangan masjarakat Indonesia (Vespa dan Lambretta), tapi ada pula lainnja jang baru mau diperkenalkan. Scooter merk Rabbit dari Djepang adalah termasuk golongan jang achir ini”. Foto-foto membuat pembaca terpana. Para pengendara skuter itu kaum perempuan dengan busana tradisional dan modern. Lomba diselenggarakan untuk memilih “Ratu Skuter”. Ingat, masa lalu alat transportasi itu belum politis, sebelum kita memiliki ingatan para wartawan kondang suka mengendarai skuter.


Kejutan terjadi sekian hari lalu. Pasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo (Bagyo Wahono-FX Supardjo) menunggangi kuda untuk mendaftar ke Kantor KPU Solo (Media Indonesia, 7 September 2020). Mereka membuat tandingan imajinasi-politis. Publik mengetahui pasangan lawan menggunakan sepeda onthel. Berita mereka menunggangi kuda tersiar di televisi, koran, majalah, dan media sosial. Kita perlahan disuguhi imajinasi-imajinasi picisan berkaitan kekuasaan. Orang-orang itu terlalu pasti ingin “menggoda” publik agar memberi suara dipengaruhi penampilan diri dan alat transportasi. Solo menjadi kota memikat dalam adegan wagu menempatkan sepeda onthel dan kuda untuk pembahasaan politik.


Orang-orang itu terlalu pasti ingin “menggoda” publik agar memberi suara dipengaruhi penampilan diri dan alat transportasi. Solo menjadi kota memikat dalam adegan wagu menempatkan sepeda onthel dan kuda untuk pembahasaan politik.

Sejarah para pemimpin di kota dan kabupaten sering amburadul dalam kebijakan-kebijakan jalan dan alat transportasi (individu atau publik). Kita jarang mendapatkan bukti mereka bijak dan peka masalah jalan dan alat transportasi. Masa demi masa, kita malah sering “diledek” wali kota atau bupati dalam pilihan selera mobil dinas. Biografi politik mereka sering terbaca melalui alat transportasi tapi berlagak “mengibuli” publik saat masa-masa awal ingin menjadi walikota atau bupati. Konon, kesejarahan alat transportasi di Indonesia belum terbaca utuh tapi politisasi gampang terjadi. Di Solo, dua pasangan ingin terhormat itu bermain sandiwara politik, memberi hiburan dan tontonan berisiko saat wabah.


Konon, kesejarahan alat transportasi di Indonesia belum terbaca utuh tapi politisasi gampang terjadi. Di Solo, dua pasangan ingin terhormat itu bermain sandiwara politik, memberi hiburan dan tontonan berisiko saat wabah.

Kita memaklumi mereka ingin tampil berbeda, menganggap hari pendaftaran sebagai hari bersejarah. Kemauan, modal, dan doa mereka ingin sampai titik terakhir: kemenangan. Pada episode awal, mereka ingin mencipta cerita-cerita berterima publik meski basi. Mereka sadar bakal berhadapan kamera, menanti pujian-pujian dari publik. Kita saja ingin usil dengan memberi komentar-komentar sembarangan mumpung ingat sekian bacaan dan peristiwa masa lalu. Begitu.


_____________

Bandung Mawardi,

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku Terbit dan Telat (2020)

FB: Kabut

79 tampilan
Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email