Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Cerita: Kemalangan & Kemujuran

Diperbarui: 2 Mei 2019



Judul : Nasib Seorang Penebang Kayu & Kisah Lainnya

Penulis : Soesilo Toer

Penerbit : Pojok Cerpen

Cetak : Pertama, Januari 2019

Tebal : xiii+117 halaman

ISBN : 978-602-53503-0-6


Doktor ekonomi dan politik lulusan Rusia, Soesilo Toer, pernah memaktubkan diri di halaman-halaman majalah anak Indonesia lewat sabda cerita. Cerita-cerita diterbitkan menjadi buku usai majalah-majalah kukut dari mata baca anak-anak. Nasib Seorang Penebang Kayu & Kisah Lainnya (2019) bisa kita santap sejak visualitas yang sederhana dan manis. Tentang buku dinformasikan oleh penerbit, “BUKU ini disusun dari cerita bersambung yang dimuat sekitar 1952 sampai 1961 di berbagai majalah anak-anak, seperti Kunang-kunang (kemudian berganti nama menjadi Remaja), Putra-Putri, dan Kuncung. Kumpulan cerita ini sebelumnya pernah terbit secara utuh pada 1963. Tahun 2011, cerita bersambung yang menjadikan Henki dan Meneer Kleber sebagai pusat cerita ini diterbitkan kembali oleh Pataba Press, dengan judul Komponis Kecil.” Selain empat bab dalam Komponis Kecil, ada 8 tambahan cerita yang salah satunya dijadikan rujukan judul.


Indonesia memang pernah dikisari majalah anak. Kunang-kunang adalah sang pembuka yang terbit empat tahun setelah kemerdekaan oleh Balai Pustaka. Pramoedya Ananta Toer pernah masuk dalam jajaran redaksi. Sayang, Kunang-kunang hanya bertahan sampai tahun 1954 (Kompas, 12 April 2015). Pada tahun 1956 di Jakarta, terbit perdana majalah Si Kuncung. Sejak masa ‘70-an, Indonesia semakin dikisari majalah anak, seperti Kawanku, Ananda, Bimba, Tomtom, dan Bobo.

Nasib Seorang Penebang Kayu & Kisah Lainnya memiliki pola cerita dalam cerita. Jauh sebelumnya, pola ini hadir secara otoritatif dalam salah satu hikayat yang amat tua, Kalilah dan Dimnah, garapan filsuf India abad ke-3 bernama Baidaba, yang terus dikisahkan dan ditulis ulang. Lapisan cerita bisa terbentuk sampai tiga lapis, bergerak dari penuturan para tokoh di lapis pertama ke lapis selanjutnya. Penulis seri bacaan anak Indonesia legendaris Si Doel Anak Jakarta (1985), Aman Dt. Madjoindo, pun menggunakan pola cerita dalam cerita untuk buku Cerita Si Penidur (1928).


Soesilo Toer memusat pada sosok anak Betawi bernama Henki dan Meneer Kleber, seorang Belanda yang leluhurnya meninggal di Indonesia. Meski Henki merujuk pada biolis kenamaan Indonesia yang benar-benar ada dan dikenal oleh Soesilo Toer semasa hidup di Jakarta, kita tetap boleh melihatnya sebagai tokoh imajiner. Mereka berada di latar Jakarta masa ‘50-an. Meneer Kleber sengaja mewakili sisa-sisa simbolik dari Barat yang mengenalkan Henki si anak kampung pada hal-hal modern: biola, musik, komponis klasik, buku-buku.


Dari persahabatan dua sosok berbeda, cerita pun berpindah ke tokoh-tokoh lain yang keluar dari mulut bercerita Meneer Kleber. Pola ini memungkinkan Henki memasuki pengalaman orang lain secara imajiner. Soesilo Toer, seperti juga para orang dewasa lain, meyakini cerita lebih bernas menyampaikan konsekuensi dari berjuang, melawan kemalangan, memperbaiki nasib, atau segala ikhtiar “menjadi manusia”.


Hampir semua cerita dari mulut Meneer Kleber memang lahir dari kondisi peperangan. Hal ini sejalan dengan kondisi pemulihan Indonesia usai maklumat kemerdekaan. Peristiwa patriotik-militeristik masih begitu kuat menularkan patriotisme kepada anak-anak sekalipun tidak selalu dalam bingkai peperangan. Henki semacam diajak mengadopsi semangat patriotik tidak melulu kepada negara. Di sinilah, nasionalisme anak-anak dipupuk untuk mencintai Republik yang baru lahir dengan jalan menempa mental diri. Dalam kasus Henki, dia (harus) semangat belajar “mengabdi” ke dunia musik.


Kemalangan dan kemujuran adalah dua hal yang pasti berkelindan dalam cerita Soesilo Toer. Ada pewarisan dari kekhasan cerita-cerita tradisional Nusantara. Namun, Soesilo Toer sudah bergerak jauh dari alternatif pemecahan kemalangan yang melibatkan pangeran kaya raya, raksasa hartawan baik hati, binatang ajaib tahu balas budi, atau benda-benda bermukjizat. Soesilo Toer bergerak jauh dari alam fantastis menuju cara pikir modern memusat pada kekuatan diri. Tanpa peduli nasib sudah digariskan Tuhan atau jalan hidup dikutuk setan, manusia berotoritas mengubah nasibnya sendiri.


Di cerita “Nasib Seorang Penebang Kayu”, penebang kayu sekaligus gerilyawan kemerdekaan cukup kentara merujuk pada biografi kakak Soesilo Toer, Pramoedya Ananta Toer. Penebang kayu tertangkap tentara, disiksa, diasingkan, tapi tetap nekat menulis dengan sembunyi-sembunyi nan heroistik. Kita cerap, “Namun, makin hari, ia makin berani dan makin cerdik. Kertas yang habis ia tulisi disimpan di mana-mana, tidak di satu tempat. Kadang-kadang dalam kaleng kencing, kadang-kadang dalam lipatan celana dalam. Kadang-kadang, bundel itu dibuang begitu saja dalam semak-semak. Nanti, kalau pulang kerja, semua itu ia angkut kembali ke dalam kamar dan disimpan hati-hati dalam bantal tidur” (hlm. 72).


Dunia tidak selalu menjadi dunia harmonis justru sangat sadistik. Sebagai penutupan, penebang kayu mendapat ganjaran dari kenekatan bertahan hidup, “Sekarang, penebang kayu itu sudah menjadi pengarang terkenal. Buku yang diterbitkannya sudah banyak, beberapa dialihbahasakan ke dalam beberapa bahasa asing. Nasibnya sedang mujur. Sekarang, ia menuntut pendidikan di negara di mana dulu ia, oleh tentara negara tersebut, disiksa dan dipenjarakan. Ia mendapat undangan istimewa dari negeri tersebut. Ia bertekad menjadi pengarang dengan sarjana kenamaan.”


Soesilo memang tidak menyebut para teladan di cerita lapis kedua dengan nama terang atau tempat pasti. Dengan memilih tokoh itu imajinatif atau nyata tapi terselubung, ada semacam pertaruhan imajinasi sekaligus pengetahuan. Seperti dalam cerita “Kisah Sebuah Lagu”, Meneer Kleber bercerita kepada Henki tentang musikus, penulis, sekaligus orator hak asasi manusia bernama Sarah Flower Adams yang lahir di Inggris pada 1805. Sarah berjuang untuk kelayakan upah para buruh, kesamaan hak perempuan, kebebasan pers.

Meneer Klebeer bercerita, “Di sinilah orang-orang Inggris bisa bebas mengemukakan pendapat kepada umum, berpidato mengkritik pemerintah, menuntut hak, mengemukakan pendapat apa saja yang ia anggap penting. Semua orang boleh mendengarkan, bertanya, berdebat, dan sebagainya. Tempat ini merupakan gelanggang pidato yang ramai. Siapa saja bisa berbicara apa saja di sini. Kebebasan berbicara ini juga sebagai salah satu hasil dari tuntutan Sarah Flower Adams dan ayahnya, lebih seratus tahun lalu. Tempat yang ganjil itu, di dunia ini hanya ada di Green Park” (hlm. 43).


Aktualisasi kepada Diri

Boen S. Oemarjati dalam tulisan “Bacaan Anak-anak di Indonesia yang Ada dan yang Diharapkan” (Himpunan Ceramah: Penataran Penulis, Penterjemah dan Ilustrator, 1975) mencatat hal yang menonjol dalam cerita anak-anak hampir selalu memiliki tokoh berpenderitaan hebat, meninggal, atau setidaknya mampu mencucurkan air mata. Menjadi gejala lanjutan, penulis biasanya memberi tinggalan moralitas atau pelajaran terpetik nan gamblang. Penulis sekaligus menjadi pengkhotbah atas nilai hidup. Penutupan nasib tokoh pun berbalik dari kemalangan menjadi kemujuran, dari tersia-siakan menjadi begitu berharga. Penderitaan atau keprihatinan dialami selama hidup ditutup oleh kebahagiaan.


Soesilo Toer memang berkelindan di pengalaman hidup tokoh yang mencerita secara fantastis, tapi mengurangi kecenderungan mengkhotbahi anak-anak. Terutama lewat mulut Meneer Kleber, indikasi memberi pesan moral tidak dilakukan dengan gamblang. Meneer Kleber biasanya hanya memberi narasi akhir nasib para tokoh yang diceritakan. Hal ini lebih memungkinkan Henki dan pembaca kanak mengolah sendiri yang terdengar dan terserap. Aktualisasi nilai kembali pada diri sebagai seorang pribadi.

Dalam kisah-kisah manusia atas hidup yang keras, kemalangan atau kemujuran tidak begitu saja datang dari langit atau digurat oleh Yang Maha Kuasa. Keduanya hadir sebagai persoalan duniawi yang dipilih untuk diratapi atau dihadapi. Di sinilah, tokoh-tokoh terus bercerita kepada Henki bahwa nasib bisa berubah atas kehendak dan tindakan manusia. Tokoh-tokoh memiliki otoritas atas hidup selama dia memiliki pilihan yang disokong kerja keras. Cerita-cerita (anak) Soesilo Toer mengimperasi satu hal ini: menjadi manusia nekat pekerja keras pantang menyerah yang berani menghadapi kemalangan sekaligus menerima kemujuran.


Setyaningsih,

penulis buku anak.

132 tampilan