• Majalah Basis

Berubah ...

JALAN semakin ramai. Rumah-rumah menjadi sesak. Orang-orang menginginkan rumah dan jalan itu milik sepeda motor. Jumlah sepeda motor di jalan selalu bertambah. Di rumah, orang menganggap sepeda motor adalah “penghuni”, berhak mendapat ruang dan pemanjaan. Kita belum kehabisan cerita sepeda motor. Cerita terus bertumpuk, tak mampu terpahami semua dengan pikiran-pikiran waras.


Kita mulai saja dengan mengingat sosok AT Mahmud. Ia mengingat sepeda motor saat tergoda melihat pelangi, seusai hujan. Ia berhenti sejenak. Di atas sepeda motor, ia mulai berimajinasi pelangi. Hari itu bersejarah di penggubahan lagu berjudul “Pelangi”. AT Mahmud tak mau menulis lirik tentang sepeda motor melintasi pelangi. Ia masih waras. Lagu dipersembahkan ke bocah-bocah, masih dilantunkan sampai sekarang. Sepeda motor tak teringat lagi. Lagu itu mengenai pelangi, bukan sepeda motor.


Sepeda motor menggerakkan imajinasi. Pembaca novel-novel Tegus Esha, Ashadi Siregar, Marga T, Mira W, dan lain-lain sering bertemu sepeda motor. Ingat, tak selalu mobil dan pesawat terbang. Di cerita, sepeda motor mengartikan kejantanan, keberanian, “kemiskinan”, dan keliaran. Sepeda motor turut dalam pembentukan asmara, kisruh keluarga, kriminalitas, dan lain-lain. Novel-novel mengisahkan sepeda motor jarang dipilih para mahasiswa untuk dijadikan skripsi. Para kritikus sastra belum ingin menjadikan itu tema “terpenting” dalam pertumbuhan novel berselera urban.


Di cerita, sepeda motor mengartikan kejantanan, keberanian, “kemiskinan”, dan keliaran. Sepeda motor turut dalam pembentukan asmara, kisruh keluarga, kriminalitas, dan lain-lain. Novel-novel mengisahkan sepeda motor jarang dipilih para mahasiswa untuk dijadikan skripsi.

Di film-film, sepeda motor membuat penonton terpukau. Adegan-adegan ngebut di film memberi ketegangan. Lelaki dan perempuan di atas sepeda motor mengabarkan pacaran romantis. Berpindah dari film, kita melihat sinetron-sinetron memamerkan para lelaki mengendarai sepeda motor apik dan mahal. Mereka bercerita segala hal. Bercerita diri, sepeda motor, kota, keluarga, dan kekerasan. Di jagat tontontan, sepeda motor itu menawan. Kita menduga penampilan sepeda motor di film dan sinetron gampang membujuk publik lekas membeli sepeda motor. Mereka bermain imajinasi ingin seperti di film dan sinetron. Iklan-iklan sepeda motor tetap berdatangan tapi pengaruh sinetron mungkin lebih terasa.


Ingatan-ingatan kita hentikan sejenak di hadapan Solopos, 26 Januari 2020. Terbacalah tulisan berjudul “Di Indonesia, Tiap 5 Detik 1 Motor Baru Terjual.” Judul panjang bikin penasaran. Simaklah dengan melongo: “Indonesia menjadi salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia. Dalam setahun, rata-rata ada sekitar 6 juta motor baru bisa terjual ke pasaran. Artinya, rata-rata tiap 5 detik ada sepeda motor baru yang mengaspal di jalan.” Kita tak perlu kaget? Jumlah itu lumrah asal kita turut melihat jalan dan mengamati rumah-rumah di kampung. Sepeda motor termiliki di peristiwa-peristiwa keseharian. Kita sulit mengelak dari sepeda motor. Pihak pebisnis dan instansi pemerintah melaporkan bahwa penjualan sepeda motor belum mencapai titik jenuh.


Kita tanpa sepeda motor mungkin kehilangan pengertian “siapa”. Benda itu terlalu menentukan dan membenarkan orang itu “siapa” di hari-hari terus berganti. Kita mulai bingung mendefinisikan diri sebagai konsumen. Kita dan sepeda motor sulit rampung di pemaknaan membeludak. Kita masih boleh mengutip penjelasan konsumen dalam urusan sepeda motor. Celia Lury dalam buku berjudul Budaya Konsumen (1998) mengingatkan: “… sirkulasi benda-benda dan budaya terkait erat dalam masyarakat, kaitan-kaitan ini bersifat kompleks dan secara historis senantiasa berubah.” Kita sering sulit paham dengan perubahan-perubahan. Semua berubah mudah dianggap lumrah. Protes atau ragu belum sempat berlaku.


Kita tanpa sepeda motor mungkin kehilangan pengertian “siapa”. Benda itu terlalu menentukan dan membenarkan orang itu “siapa” di hari-hari terus berganti. Kita mulai bingung mendefinisikan diri sebagai konsumen. Kita dan sepeda motor sulit rampung di pemaknaan membeludak.

Kita bisa membaca novel berjudul Orang-Orang Oetimu (2019) gubahan Felix K Nesi. Di situ, ada sepeda motor. Ada pemaknaan kehadiran atau penggunaan sepeda motor berkaitan dengan perubahan-perubahan berlangsung di Timor. Sepeda motor berbagi cerita mengenai asmara, pendidikan, militer, pembangunan, bisnis, dan lain-lain. Di novel, sepeda motor berperan penting bagi pembaca ingin mengerti perubahan watak manusia dan kejadian-kejadian di Timor. Sejak halaman awal sampai akhir sepeda motor bukan cuma benda atau alat transportasi. Di sepeda motor, pembaca merasa ada sejarah, identitas, duka, kematian, kesialan, dan kehormatan. Kita tekun memberi tafsir sepeda motor dalam novel bakal dituduh “berlebihan” di pengajuan tema sastra. Novel itu membenarkan usaha memberi pengertian kita dan sepeda motor. Predikat konsumen tentu berlaku di pilihan orang atas jenis sepeda motor dan kesadaran bakal digunakan dalam pelbagai peristiwa.


Dulu, orang-orang beranggapan sepeda motor cepat mengubah kota. Kini, anggapan penggenapan: sepeda motor sudah mengubah desa. Orang-orang beragam profesi memerlukan sepeda motor. Kita lumrah melihat petani bersepeda motor ke sawah, mengangkut jerami, atau membawa karung padi. Pedagang keliling meninggalkan gerobak dan sepeda berganti menggunakan sepeda motor. Perubahan-perubahan itu tanpa jadwal. Desa-desa berubah, tak cuma kota. Jalan-jalan di desa ramai oleh deru sepeda motor. Kita membiarkan dan turut bersama di lakon menjadikan desa adalah rumah atau garasi bagi sepeda motor. Tatapan kita mungkin belum terlalu jauh untuk sampai mengerti konflik batin dan etika di kepemilikan sepeda motor bagi orang-orang desa.


Sepeda motor di desa sempat diakui perubahan status sosial. Kini, orang-orang memiliki dan mengendarai sepeda motor di desa menjadi “pengesahan” pembentukan umat konsumen otomotif sedunia, tak lagi direpotkan oleh tata krama atau ritual. Sepeda motor terlalu gampang “ditumpangi” atau “diboncengi” masalah-masalah nasionalisme, penghijauan, agama, pangan, hiburan, pustaka, dan lain-lain. Pada sepeda motor, orang-orang melakukan pelbagai misi. Sepeda motor tak pernah bersalah bagi orang-orang ada di gerakan berdalil kebaikan, kebersamaan, keragaman, kemanusiaan, dan kesejahteraan.


Pada abad XXI, sepeda motor berhasil mencipta sejarah besar di Indonesia. Kita terima saja laporan bahwa tiap 5 detik 1 motor terjual. Di jalan, kita melihat bukti mencengangkan: sepeda motor dan orang-orang berjaket hijau. Kini, ada pula berjaket kuning. Sepeda motor terlalu diperlukan di Indonesia. Kita jangan capek memikirkan sepeda motor dengan acuan lagu, novel, film, sinetron, dan lain-lain. Sepeda motor telah bergerak jauh. Kita emoh mengejar dengan lari kencang. Kaki-kaki kita mudah capek sebelum mengejar makna-makna sepeda motor. Begitu.


__________


Bandung Mawardi,

pemenang 3 Sayembara Kritik Sastra DKJ 2019,

Kuncen Bilik Literasi, Penulis Buku

Pengisah dan Pengasih (2019)

FB: Kabut

Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email