Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Berdoa di Kamus

DOA disodorkan dalam pengakuan, cerita pendek, dan lagu. Pengakuan Samuel Mulia: “Saya merasa tenang kalau sudah berdoa dan sudah ke rumah ibadah. Saya merasa aman karena setiap hari berdoa dan setiap minggu ke gereja. Rasa tenteram itu karena saya sudah melakukan kewajiban spiritual saya, meski setelah itu saya mulai melakukan kejahatan. Pengakuan dimuat di Kompas, 30 Juni 2019. Samuel Mulia memang lucu, termasuk bercerita pengalaman dalam agama. Setahun lalu, penulis dan Samuel Mulia jadi pembicara di Kantor PGI, Salemba, Jakarta.


Di Festival Sastra dan Seni Rupa Kristiani 2018, kami membicarakan hal-hal sepele berkaitan religiositas dan situasi mutakhir. Di situ, Samuel Mulia bercerita diri sebagai pendoa. Ia malah meninggalkan kursi menuju lantai berkarpet. Ia ingin mengumumkan ke orang-orang mengenai tata cara berdoa. Penulis kaget dan terharu melihat Samuel Mulia dengan raga kurus itu bersujud. Ia berdoa dengan cara bersujud seperti orang sujud dalam salat. Ia sengaja memilih adegan demi kenikmatan dan kesungguhan berdoa meski adegan itu tak ia lakukan saat di gereja.


Pilihan raga dalam berdoa itu hak Samuel Mulia meski adegan-adegan berdoa di sekian agama memiliki kekhasan. Pada suatu hari, ia mengamati orang-orang di kantor menunaikan salat. Adegan sujud membuat Samuel Mulia takjub. Ia meminta pemaknaan tentang bersujud. Ia pun memutuskan berdoa dengan cara bersujud setiap hari. Konon, ia bersujud lima kali sehari untuk doa-doa terindah. Penulis sempat bingung mendapat pengakuan dan kesungguhan Samuel Mulia mengajarkan sujud di hadapan orang-orang. Pada usia semakin menua, doa dan sujud itu menjadi semakin bermakna saat sadar dengan biografi sering amburadul.


Kita masih di hadapan halaman-halaman Kompas. Di halaman 20, tulisan berjudul “Membaui Aroma Doa”. Tulisan mengenai acara pemberian penghargaan cerpen terbaik Kompas dan pentas musik oleh Adrian Yunan di Bentara Budaya Jakarta, 28 Juni 2019. Mantan bassis Efek Rumah Kaca itu mengerjakan lagu berasal dari cerpen Raudal Tanjung Banua berjudul “Aroma Doa Bilal Jawad.” Hari demi hari, Adrian Yunan menekuni cerita dan mengalihkan ke garapan musik. Lirik lagu dikerjakan mengacu cerpen meski dimungkinkan ada perbedaan arah makna dan selera diksi. Lagu itu dijuduli “Aroma Doa.” Raudal Tanjung Banua bercerita nasib pendoa di kampung halaman saat mendapat tuduhan melakukan bidah. Semula, ia sering mendoakan dengan aroma wangi. Cerita pendek dijadikan gugatan atas “penyeragaman ritual doa yang justru bisa mengancam kemajemukan Indonesia.”


Adrian Yunan membuat lirik untuk lagu: Doa menebar aroma/ wangi para pendoa/ bila baik dipinta/ gugur prasangka bidah. Lirik itu menguatkan tafsir Adrian Yunan atas cerpen berjudul “Aroma Doa Bilal Jawad”. Kita simak sikap setelah membaca cerpen: “Orang berhak berdoa dengan caranya karena doa itu urusan transenden. Aku menolak banget tuduhan bidah, seolah-olah doa adalah cara baku.” Sikap itu mirip dengan pengakuan dan tata cara berdoa Samuel Mulia. Kita diingatkan bahwa doa “dipaksa” menjadi perkara genting di suatu tempat dengan serbuan tuduhan dan kesanggupan membuat argumentasi. Doa memang sedang jadi masalah.


Kita mencatat sekian doa bermasalah masuk di peristiwa-peristiwa politik sekian bulan lalu. Kita belum lupa. Kini, kita tak ingin mengulangi masalah doa dan politik. Doa ingin dimengerti dengan membuka kamus-kamus, setelah membaca doa dalam pengakuan, cerita pendek, dan lagu.

Kita mulai dengan membuka Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) susunan Harimurti Kridalaksana. Sinonim untuk doa adalah “sembahyang, permohonan, mantra, dan jampi.” Kamus itu selamat melintasi tahun-tahun tanpa ada perdebatan kebahasaan dan agama. Doa dalam kamus mungkin dianggap bukan pemicu polemik. Doa itu wajar sebelum ada orang terlalu menginginkan pengertian “ketat” dan “kaku”. Doa harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk seperti diajarkan di kitab suci atau dijelaskan oleh para tokoh agama. Doa menjadi peristiwa memiliki kaidah-kaidah, tak boleh sembarangan dalam adegan raga, tempat, waktu, busana, dan suasana.

Pada 29 Juni 2019, penulis membeli buku tebal di pasar buku loak Gladag, Solo. Buku berwarna gelap itu berjudul Kamus Istilah Keagamaan: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu terbitan Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan di naungan Kementerian Agama RI, 2014. Penulis telat mengetahui Kementerian Agama mengadakan kamus. Sepuluhan tahun, penulis mengoleksi ratusan kamus-kamus, terbitan akhir abad XXI sampai terbaru. Kamus itu luput, tak pernah mendapat berita atau menemukan dikutip orang-orang di artikel-artikel. Telat tapi beruntung bisa memiliki kamus unik meski penulis masih berutang ke pedagang.


Penulis tergoda mencari pengertian doa dalam kamus. Di halaman 36, doa dalam Islam berarti “permohonan atau permintaan secara sungguh-sungguh dari makhluk kepada Khalik (Allah Swt) dengan harapan untuk dikabulkan dan direalisasikan-Nya.” Kita membaca pilihan kata untuk mengartikan doa itu biasa dan jelas. Kita jangan menuntut ada pilihan kata mengesankan puitis. Penulis agak “malu” membaca pengertian doa menggunakan istilah “realisasi”. Duh, istilah itu mendingan untuk kerja-kerja birokrasi atau perusahaan. Bahasa Indonesia masih memiliki sekian istilah untuk dipilih agar pembaca kamus terbitan resmi Kementerian Agama itu menemukan nuansa puitis dan religius.


Kita beralih ke doa dalam Kristen, disajikan di halaman 223. Pengertian doa: “tindakan manusia untuk menghubungkan diri dengan Allah yang menyangkut kebebasan dan perasaan.” Pengertian lebih panjang: “ucapan berseru, menyembah dan memuliakan, bersyukur, mengungkapkan kesedihan, memohon berkat, dan disampaikan secara pribadi maupun bersama-sama, dengan suara keras atau diam dalam hati dalam rangka ibadah resmi gereja kepada Yesus Kristus.” Kita mulai “merasakan” ada perbedaan kata dan penciptaan nuansa dalam mengartikan doa di bab untuk Islam dan Kristen. Di bab untuk Katolik, kita membaca lema “doa rosario” diartikan “doa untuk menghormati dan memohon pengantaraan Bunda Maria, yang sebelumnya dilakukan dengan mempersembahkan rangkaian bunga (mawar) sehingga rangkaian manik dipakai untuk mengiringi persembahan rangkaian ‘mawar rohani’ berupa doa-doa tersebt.”


Kita tak mengetahui cara orang-orang saat mengerjakan kamus bersama. Mereka mungkin tak pernah atau tak perlu melakukan diskusi panjang menghasilkan penjelasan mengenai pemberian arti doa dalam halaman-halaman untuk Islam, Kristen, dan Katolik. Kita dianjurkan jika mengalami kebingungan dalam bercerita atau menulis bertema doa mendingan membuka kamus istilah agar sesuai misi Kementerian Agama.


Kita pun harus menghormati kerja besar dan serius dengan hasil Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018). Kamus tebal dan gemuk dengan harga 522 ribu rupiah. Kamus memang mahal berfaedah bagi orang-orang penasaran arti. Di halaman 400, doa berarti “permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan.” Kamus itu bisa digunakan orang-orang berbeda agama di Indonesia meski bakal mendapatkan kesan-kesan arti mengarah ke suatu agama. Kita mengutip contoh kalimat: “Ia mendoakan anaknya supaya selamat terhindar dari mara bahaya.” Kalimat itu mustahil ditiru oleh Raudal Tanjung Banua dalam menulis cerita pendek. Contoh lagi: “Ia selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu.” Kita mulai ada di “ketertiban” arti doa dan berpikiran menggunakan dalam percakapan atau menulis kalimat. Doa tak boleh diartikan sembarangan. Kesan itu diperoleh dari kamus tebal, gemuk, dan mahal. Kamus memang bukan cerita pendek, lagu, atau puisi.


Kita akhiri saja “perumitan” doa setelah membuka kamus-kamus dengan membaca “Sajak atau Doa” gubahan Zawawi Imron (1979). Puisi lawas tapi penting dibaca untuk orang-orang Indonesia selalu rajin dan keranjingan berdoa untuk apa saja. Zawawi Imron menulis:Tuhan!/ kekamian ini agaknya hanya terlantun dalam nyanyian/ di atas bumi yang gerhana/ berdentum kesia-siaan sepi/ padahal camar-camar bersungguh menjilat pantai.// sementara/ perkenankan ratapan itu menjadi api yang berkobar!/ lalu kemudian/ menjadi kupu-kupumu yang lucu!Kita sulit menduga puisi itu ditulis Zawawi Imron setelah salat atau mengacu ke situasi Indonesia sedang tak keruan. Kita lengkapi saja dengan puisi berjudul “Ketika Berdoa” gubahan Joko Pinurbo. Puisi agak mutakhir dan pendek: Ketika aku berdoa/ Tuhan tak pernah/ menanyakan agamaku. Kita mengerti bahwa pembuatan kamus-kamus di Indonesia sulit banget memilih puisi, cerita pendek, atau lagu sebagai referensi. Kita saja berlagak menanti berharap pengertian doa menjadi merdu, lembut, dan lugu. Begitu.


Bandung Mawardi,

kuncen BIlik LIterasi Solo

FB: Kabut


99 tampilan