Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Bahasa, Kematian, dan Anak


Umbi dan Kucing-kucing Kecil. Penulis: Kenya. Ilustrator: Jessika Hartono. Penerbit: Gorga Pituluik. Cetak: Pertama, April 2019. Tebal: 28 halaman. ISBN: 9786239000844


Buku bacaan anak tidak menganggap kesedihan, kehilangan, atau kematian sebagai hal yang harus ditampik dalam biografi anak. Kesedihan pasti ada meski banyak penulis tetap memilih hal-hal membahagiakan untuk diasupkan. Buku cerita Umbi dan Kucing-kucing Kecil (2019) garapan Kenya dan digambari oleh Jessika Hartono langsung menempatkan yang sedih di awal sebagai entitas dari kehidupan sehari-hari yang lumrah. Namun, pengudapnya adalah seorang anak, bukan orang dewasa yang barangkali lebih memiliki sikap. Di sini, Umbi si tokoh utama perempuan lebih memiliki perangkat logika bahasa. Bahasa dipakai untuk bertahan sekaligus semacam protes kecil pada Tuhan yang (ternyata) sangat berkuasa memutuskan beban mesti ditanggung oleh manusia.


Namun, pengudapnya adalah seorang anak, bukan orang dewasa yang barangkali lebih memiliki sikap. Di sini, Umbi si tokoh utama perempuan lebih memiliki perangkat logika bahasa.

Kematian ibu bagi Umbi, berefek pada perasaan dan raga kehilangan yang kentara ditunjukan lewat logika dan rasa bahasa. Kenya menciptakan ujaran-ujaran Umbi yang berkesan lugu, tidak mengerti, dan juga bingung demi menunjukkan beban psikologis. Tanpa perlu didramatisasi, ujaran-ujaran itulah yang secara halus mempertanyakan kenapa Tuhan begitu bisa membuat bocah kecil tidak berdaya. Bahasa kehilangan dieksplorasi Kenya untuk menentukan makna eksistensial ibu bagi anak. Kita cerap,

“Ibu sudah tidur panjang, Nak,” kata ayah.

“Kapan ibu pulang ke rumah, Ayah?” tanya Umbi kebingungan.

“Ibu Umbi sudah pulang ke rumah Tuhan, sayang…” bisik ayah.

Umbi tidak mengerti arti ibu pulang ke rumah Tuhan. Umbi ingin ibu pulang ke rumah Umbi. […] Umbi sedih melihat ayah menangis. Umbi menangis karena ibu pulang ke rumah Tuhan, bukan ke rumah Umbi.

(hal. 4)


Tidur panjang, rumah Tuhan, pulang ke rumah Tuhan adalah penghalusan yang yang sering kita temukan untuk membahasakan kematian. Di sini, Umbi melakukan pembalikan dari “rumah Tuhan” ke “rumah Umbi” untuk memutus atau bahkan menghilangkan batas yang duniawi dan transendental. Rumah Tuhan tidak terbayangkan sebagai tempat yang jauh, tidak terjangkau, atau bahkan tidak kelihatan. Rumah itu tetap seperti rumah Umbi atau rumah-rumah lain ditunjukkan oleh segala komponen arsitektural. Umbi membayangkan rumah Tuhan seolah hanya berjarak sekian meter dari rumahnya. Dia ingin ibu pulang ke rumah Umbi saja, jangan ke rumah Tuhan.


Di permakaman, lokasi rumah Tuhan semakin didefinisikan Umbi secara manusiawi. Pernyataan Umbi di sini semakin memanusiawikan irasionalitas ikhwal kematian yang sedemikian agung, tapi tetap membingungkan bagi si anak. Kenya barangkali tidak ingin menganut kesepakatan yang dianut beberapa penulis cerita anak untuk tidak mengeksplorasi hal-hal menyedihkan kepada anak. Kita harus menerima kesedihan sebagai kelumrahan yang pasti dialami dan menyisipkan pengajaran kepada anak. Kenya memilih eksplorasi psikologis atas kehilangan lewat bahasa daripada dramatisasi motorik.


Pernyataan Umbi di sini semakin memanusiawikan irasionalitas ikhwal kematian yang sedemikian agung, tapi tetap membingungkan bagi si anak.

Kita bisa cerap pernyataan Umbi yang tetap lugu. Umbi tidak mengerti bahwa orang yang meninggal tubuhnya dikembalikan ke tanah. Dia belum mengerti hakikat penciptaan seperti tertera dalam kitab suci.

“Rumah Tuhan ada di dalam tanah ya, Yah?” tanya Umbi.

Sekarang ibu tinggal di dalam tanah. Di sana pasti gelap sekali. Ibu juga pasti kesepian.

(hal. 7)


Cerita pun berlanjut, Umbi tidak sengaja bertemu dengan anak kucing bernama Kumis. Ibu kumis meninggal karena sakit. Sedang Bulu, saudara Kumis, malah tersesat saat mencari pertolongan. Keluarga kucing ini sebenarnya tinggal bersama kakek penyihir di tengah hutan. Mereka tersesat saat berjalan-jalan ke kota. Umbi tidak memperlakukan Kumis sebagai hewan yang lebih inferior.

Umbi mengidentifikasi kehilangan setara dengan binatang. Kenya memilih anak kucing kehilangan ibu kucing untuk menegaskan kesamaan nasib. Ayah Umbi memang kehilangan juga. Namun, Umbi seperti tidak bisa menyamakan kehilangannya yang sangat sedih-kalem dengan kehilangan ala ayah yang serius sebagai manusia dewasa. Ayah tidak bermain bahasa seperti Umbi karena kedewasaan ayah menuntutnya bisa menerima takdir Tuhan. Orang dewasa sulit menantang Tuhan dengan istilah-istilah lugu dan manusiawi. Begini,

“Tenang ya, Pus…mungkin ibumu sama dengan ibuku. Kata ayah, ibu pulang ke rumah Tuhan.” Kumis mengeong-ngeong sedih.

“Tidak usah sedih, Pus. Mungkin ibuku dan ibumu sedang main-main bersama di rumah Tuhan.” Umbi terus mengelus Kumis lembut.

(hal. 16)


Orang dewasa sulit menantang Tuhan dengan istilah-istilah lugu dan manusiawi.

“Bermain-bermain bersama di rumah Tuhan” jelas menegasi yang dipersepsikan atas kematian: diam, tidak bernyawa, menutup mata, tidak bergerak. Umbi justru memilih kata bermain yang sangat butuh pergerakan dan stamina. Bagi Umbi, kematian hanyalah berpindah tempat tanpa menghilangkan entitas kemanusiaan. Manusia ataupun binatang, Tuhan menerima mereka di dalam rumahnya.


Terlepas dari eksplorasi dari bahasa anak yang lugu tapi bernas, cerita Kenya memang memiliki alur yang biasa saja. Kenya tidak merasa ganjil menegasikan tokoh manusia dan penyihir, kucing dan manusia, atau latar kota dan tengah hutan. Justru, ilustrasi garapan Jessika Hartono yang kelihatan digores asal tapi justru serius sekaligus indah, menciptakan paduan warna sangat pas mewakili ekspresi tokoh dan peristiwa.


Kita barangkali sudah bisa menduga bahwa Umbi bersama Kumis mencari Bulu, tersesat di tengah hutan, dan akhirnya berhasil menemukan rumah kakek penyihir. Kakek penyihir lebih duluan menemukan Bulu yang terlelap di bawah pohon. Semua berkumpul, inilah penutupan bahagia dari cerita yang berawal dengan kesedihan. ***


SETYANINGSIH, tinggal di Pandeyan, Ngemplak, Boyolali.

Menulis esai, resensi, dan cerita anak. Bergiat di Bilik Literasi Solo.

Saat ini tengah menghayati sastra anak dan mengajar ekstrakulikuler menulis di SD Djama'atul Ichwan Program Utama Solo. Tulisan pernah tampil di Solopos, Koran Tempo, Jawapos, Jurnal Ruang, Media Indonesia, Kompas. Setyaningsih bisa dicari di maosbocah.wordpress.com atau surel langit_abjad@yahoo.com. Buku kumpulan esai pernah terbit berjudul Melulu Buku (2015) dan Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Buku cerita anak yang pernah terbit salah satunya berjudul Koki Petualang dari Desa Orke (2018).

107 tampilan