• Majalah Basis

Antara Petualangan dan Aktivisme Okky Madasari


Judul: Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Penulis: Okky Madasari. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama. Cetak: Pertama, 2018. Tebal: 256 halaman. ISBN: 9786020619385


Pembaca barangkali tidak pernah benar-benar menunggu bahwa Okky Madasari turut meramaikan perbukuan anak dengan menulis novel anak. Mata dan Rahasia Pulau Gapi (2018) dibentuk sebagai serial petualangan Mata melanjutkan seri pertama yang terbit di tahun yang sama, Mata di Tanah Melus. Serial buku anak yang direncakanan masih akan berlanjut ini, tentu lahir dari pendasaran memberikan buku anak bermutu bagi Indonesia. Peluncuran buku terjadi di pelbagai kota dan pemberitaan hadir menghiasi halaman-halaman besar surat kabar.


Secara kebahasaan, Okky tidak terlalu membedakan diri antara menulis novel dewasa dengan novel anak. Ia sepertinya meyakini bahwa setiap anak memiliki daya tangkap bahasa nan lihai. Sebagai penulis, Okky tidak harus merasa bertaruh memberikan bahasa pengisahan yang meramu kesan puitis, kejenakaan, atau antusiasme akrobatik sekaligus. Setiap kalimat terjelaskan dengan lempeng. Manusia penulis dewasa sering berpikir bahwa jalan cerita, para tokoh, dan tempat-tempat mencipta alur lebih potensial diingat, daripada kelindan kebahasaan.


Sebagai penulis, Okky tidak harus merasa bertaruh memberikan bahasa pengisahan yang meramu kesan puitis, kejenakaan, atau antusiasme akrobatik sekaligus. Setiap kalimat terjelaskan dengan lempeng.

Episode kedua Mata berjudul Mata dan Rahasia Pulau Gapi (2018) garapan Okky Madasari, dimulai dari kembalinya harmoni keluarga kecil Mata yang sempat retak. Mereka memutuskan pindah dari Jakarta yang bengis ke wilayah Indonesia Timur, Pulau Gapi. Namun di permulaan bahagia ini, Okky masih kukuh membawa konflik kefrustasian keluarga dunia modern: kegagalan Mata masuk SMP terfavorit di Jakarta. Dengan dramatis Okky menulis, “Sang mama pulang ke rumah dengan menangis histeris. Tidak diterima di sekolah favorit adalah salah satu aib yang paling memalukan di zaman ini. Bagaimana mungkin anak satu-satunya, yang sejak kecil dia sayang dan banggakan, yang telah ia beri segalanya, yang telah ikut berbagai les pelajaran—gagal diterima di SMP favorit?”


Pembaca tidak boleh protes. Sekalipun seri kedua petualangan Mata ini ditulisi “Novel Anak”, Mata memang tidak lagi anak-anak tapi juga belum sepenuhnya remaja. Perubahasan emosi di masa-masa transisi ini tidak terlalu tampak meski jelas ambisi mama Mata berubah menakutkan. Sebagai anak, Mata harus menanggung konsekuensi diatur dan dikungkung dengan soal-soal dan pelajaran langsung di bawah kuasa mama. Satu hal membuat Mata merasa bebas dan hidup manusiawi sebagai anak: cerita-cerita fantastis dari guru agama privatnya, Pak Zul. Salah satunya cerita sepasang buaya penjaga harta kesultanan Tolire.


Pembaca tidak boleh protes. Sekalipun seri kedua petualangan Mata ini ditulisi “Novel Anak”, Mata memang tidak lagi anak-anak tapi juga belum sepenuhnya remaja.

Selain cerita Pak Zul, kehausan cerita Mata digenapi oleh kehadiran Molu, kucing hitam yang bisa bicara. Ia memberi kesaksian saat Pulau Gapi kedatangan Portugis sampai pecahnya perang yang berhasil mengusir orang-orang putih ini. Cerita Pak Zul dan cerita Molu membuka jalan petualangan Mata yang dimulai dari imajinasi. Mata harus membebaskan diri dengan benar-benar menggerakkan raga dari rumah dan memulai petualangan secara sah meski tidak sengaja.


Diceritakan, “Matara dan Molu terus berjalan mengitari reruntuhan benteng. Sesekali Matara duduk, membayangkan apa yang terjadi ratusan tahun lalu. Molu masih saja terus mengais-ngais.”

Tentu di novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi, kita tidak disajikan personal anak yang secara sukarela-girang bertualang seperti dalam cerita fantasi Eropa atau serial klasik keseharian anak Indonesia si Samin (M. Kasim) serta si Doel (Aman D.M). Saat terjebak dalam lubang di Benteng Oranje, ketakutan dan kecengengan Mata digambarkan dengan amat jelas. Tindakan Mata berjalan-jalan ke benteng juga dianggap berbahaya dan mengkhawatirkan orangtua yang sangat protektif khas Indonesia. Di benteng inilah terjadi lanjutan pertemuan dengan si Laba-laba yang merupakan jelmaan dari anjing Sultan di masa lampau. Si Laba-laba beracun dan bisa menulis dengan jaring-jaring dititahkan menjaga benteng dari perobohan.


Sejak di judul yang memilih diksi “rahasia” semacam melanjutkan tradisi membangun rasa penasaran lewat bacaan anak. Anak-anak biasanya menyukai hal-hal misterius atau memuat rahasia yang bisa diungkap, dicari-cari, dijadikan misi pencarian, atau dipecahkan. “Rahasia” di Pulau Gapi merujuk pada situs benteng sebagai tinggalan masa lalu. Okky tetap membawa optimisme “melestarikan” atau “menjaga” dalam tataran normatif, “Tenyata Sang Sultan memerintahkan orang-orang untuk merawat benteng-benteng di pulau ini. Harus ada yang menyapunya setiap hari. Harus ada yang menyiangi rumput-rumput agar rapi. Harus ditanam tanaman-tamanan baru yang memperindah dan membuat area benteng ini jadi asri.” Tidak salah kalau Okky harus berpikir ala pemerintah yang akhirnya menjadikan tempat-tempat sebagai wisata heritage Nusantara bagi keluarga di abad ke-21.


Figuran

Petualangan dan penjelajahan memang masih menegaskan ketemaan dua buku Okky. Namun, di buku kedua Mata rentan menjadi figuran karena diposisikan sebagai penyaksi dari kemelut sejarah Indonesia (timur) sejak kedatangan Portugis sampai orang-orang pendek (Jepang) di bawah narator Molu. Sebagai cerita anak berlatar abad 21, ada beban cerita sejarah yang kurang bisa digarap dengan lincah dengan kebahasaan anak-anak. Petualangan Mata dengan rahasia Pulau Gapi pun cenderung terbaca sebagai buku diktat sejarah daripada cerita imajinatif seperti di seri pertama, Mata di Tanah Melus (2018).


Sebagai cerita anak berlatar abad 21, ada beban cerita sejarah yang kurang bisa digarap dengan lincah dengan kebahasaan anak-anak.

Apalagi, ada kritik cukup keras tentang penghancuran situs bersejarah diwakili oleh Benteng Oranje untuk dijadikan mal dan hotel mewah. Mata pun tiba-tiba menjadi kehilangan kenaifan sebagai bocah, yang semula dikungkung di dalam rumah dengan bejibun pelajaran ala homeschooling menjadi petualang amatir yang ingin menyelamatkan sejarah. Memang, isu penghancuran tempat bersejarah yang aktivisme banget ini terdengar wajar kalau disampaikan oleh seorang Okky Madasari.


Setyaningsih, pegiat literasi anak

FB: Setya Ningsih

IG: langit_abjad

Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email