Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Anggun, Makan, Wortel


ANGGUN menjawab pertanyaan Rolling Stone dengan bahasa Indonesia yang fasih,

sedikit bahasa Jawa, kadang Prancis, Inggris, atau Jermah.

Sesekali tertawa, sesekali menyisir rambutnya yang lurus hitam panjang itu.

(Rolling Stone Indonesia, Juli 2015)


Suara Once terdengar: “Aku tergila-gila kepadamu karena engkau sangat anggun…” Lirik dalam lagu berjudul Anggun. Once kagum pada perempuan anggun. Perempuan itu belum pasti Anggun Cipta Sasmi. Dulu, Anggun lahir dan tumbuh di Indonesia. Kini, ia di Prancis. Sekian hari lalu, Anggun ke Indonesia mengadakan konser amal. Ia berdalih ingin memberi ke Indonesia, setelah ia berkelana jauh. Ia menuju Eropa. Kemerduan suara Anggun membuat jutaan pendengar di pelbagai negeri memberi pujian.


Di panggung atau konser, Once jarang lagi melantunkan Anggun. Dulu, ia keseringan membawakan lagu-lagu Dewa. Dealova, lagu itu pun memberi ingatan terkuat ke suara Once. Ia mungkin tak ingin dituduh memuja Anggun jika sering melantunkan Anggun, lagu lawas dan keren. Kita sudahi dulu mengisahkan Once. Kita mulai memberi perhatian besar ke Anggun. Pembuatan konser amal menimbulkan berita-berita di pelbagai media cetak dan elektronik. Kita memastikan ia adalah tema memukau di media sosial. Sejak puluhan tahun lalu, Anggun terus bersenandung. Semula, lagu berbahasa Indonesia sebelum keranjingan dengan lirik-lirik berbahasa Prancis dan Inggris. Ia bukan lagi artis nasional tapi internasional.


Anggun, perempuan berdarah Jawa. Ia diasuh oleh bapak berpredikat pengarang buku-buku anak. Pada suatu masa, ada pula nama Anggun Cipta Sasmi di sampul buku anak. Ia bergelimang cerita, disempurnakan dengan suara-suara untuk terdengar sampai jauh. Darto Singo, nama si bapak, tercatat di album kepustakaan anak. Ia memberi cerita ke jutaan bocah. Nama teringat bersama Mansur Samin, Soekanto, Djoko Lelono, Dwiyanto Setiawan, dan lain-lain. Pengarang memiliki misi suci berbagi cerita dan menjadikan bahasa Indonesia memikat bagi bocah-bocah di seantero Indonesia selama puluhan tahun. Dulu, Anggun berada di situasi kemeriahan bacaan anak dan siaran televisi mengajak anak-anak berdendang.


Pada saat dewasa, Anggun memilih musik ketimbang sastra. Ia pernah dikagumi dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Orang-orang masih mengingat Anggun sering memakai topi. Ia lincah di panggung dan memiliki suara ampuh. Lumrah, Anggun bakal “memiliki dunia” dengan lagu-lagu, bukan puisi atau novel. Pada saat tenar, Anggun ada di rubrik “Tatap Muka” dimuat di majalah Femina, 6-12 Desember 1990. Anggun lahir di Jakarta, 29 April 1974. Ia mengaku hobi membaca dan mendengarkan musik. Hal-hal dibenci adalah sayuran dan matematika. Cita-cita Anggun saat masih remaja: menjadi ahli linguistik. Pada masa 1990-an, cita-cita Anggun itu unik. Pengakuan Anggun: “Saya ingin menjadi seorang ahli linguistik terutama bahasa Inggris. Sebagai ahli bahasa, saya harus bisa memahami bahasa itu sampai ke bahasa prokemnya.” Sejak mula, ia serius belajar bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Anggun mungkin sudah merasa dan meramal bakal fasih menggunakan bahasa Inggris dalam raihan menjadi artis bertaraf internasional.


Pada 1994, ia memang bergerak ke Eropa seperti memberi dan membuktikan janji mempersembahkan lagu-lagu bagi dunia. Di negeri jauh, ia mendapat tepuk tangan, asmara, rezeki, dan penghargaan. Kita perlahan melihat Anggun tak mutlak orang asal Jawa-Indonesia. Di Prancis, ia mulai menata adab baru dan pemenuhan kaidah-kaidah mengacu industri musik dunia. Ia tak kehilangan Jawa atau Indonesia. Bukti paling jelas adalah bahasa.


Kita simak berita kecil di Jawa Pos, 9 Juli 2019: “Cobalah berbicara dengan Anggun kalau ada kesempatan. Meski sudah lama tinggal di Prancis, aksennya saat ngomong bahasa Jawa masih medok sekali. Begitu juga halnya ketika berbahasa Indonesia. Seperti orang Indonesia pada umumnya.” Anggun masih berbahasa Jawa dan Indonesia. Bahasa sudah “mengalir dalam darah”, tak mungkin dilupakan atau diremehkan. Ia masih memikat bersenandung dengan lirik bahasa Indonesia. Anggun memang anggun dengan biografi sebagai artis dunia. Keampuhan digenapi berperan di sekian iklan berbahasa Indonesia.


Anggun ingin putri tercinta (Kirana Cipta) mampu berbahasa Indonesia secara lancar meski di keseharian sering menggunakan bahasa Prancis dan Inggris. Anggun membentuk situasi agar Kirana Cipta berbahasa Indonesia. Contoh lumrah adalah berbahasa Indonesia saat minta makan. Pada saat Kirana mengucap dengan bahasa Prancis dan Inggris, Anggun tak mau menuruti. Kirana mengerti bahwa berbicara dengan ibu haruslah berbahasa Indonesia. Kirana Cipta mungkin berpikiran bahasa Indonesia itu bahasa berkhasiat di dunia. Ia membuktikan bahwa penggunaan bahasa Indonesia bisa menjawab lapar. Kirana berhasil mengucap “Saya lapar”, Anggun lekas memberi makanan. Kirana Cipta seperti membuat ajakan: berbahasa Indonesia “menghasilkan” makan. Gagal berbahasa Indonesia berakibat lapar. Anggun sedang membuat drama wagu. Siasat itu manjur. Anggun memuliakan bahasa Indonesia. Ia mengingatkan, bukan mengejek kita.


Ingat Anggun mampu berbahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan Prancis, kita cemburu dan malu. Di Prancis, ia masih sering berbahasa Indonesia. Terpujilah! Kita meninggalkan Anggun untuk mengurusi Prancis dan Indonesia di persoalan bahasa atau perkamusan. Prancis dan Indonesia sudah memiliki jalinan erat sejak lama, mulai masa kolonial sampai sekarang. Kita membaca sejarah kolonial bakal menemukan Prancis, tak cuma Belanda, Inggris, dan Jepang. Ingatan itu menguak pelbagai hal: kata, makanan, busana, lagu, perhiasan, sastra, dan lain-lain.

Kita ingin memberi perhatian ke kamus. Pada saat studi Indonesia marak di Amerika Serikat dan Eropa, pembuatan kamus-kamus terasa penting berdalih misi linguistik, politik, sastra, pelesiran, sosial-kultural, sejarah, dan perdagangan dunia. Kamus membuktikan ikatan kuat di lakon studi itu berjudul Kamus Umum Indonesia-Prancis (1989) susunan Pierre Labrousse.


Kamus tebal dengan sampul berwarna merah. Anggun mungkin pernah menggunakan kamus itu saat memutuskan hidup dan berkarier di Prancis. Kamus terbit atas kerja sama Association Archipel (Paris) dan Gramedia (Jakarta). Di halaman pengantar, ada penjelasan: “Dasawarsa terakhir ini di Prancis ditandai oleh adanya perkembangan besar dalam hubungan dengan Indonesia. Dengan demikian bagian dunia ini lebih dikenal dengan baik secara umum. Demi kepentingan ini kami mengharap agar kamus ini dapat memberikan bantuannya.” Kamus itu membantu. Kamus pun membuktikan ada misi besar agar Indonesia dan Prancis berpelukan erat atau mesra sepanjang masa. Kita mengandaikan kamus itu dipelajari oleh Kirana Cipta bermisi menumpas lapar setiap hari. Kamus membutuhkan ratusan hari untuk dikhatamkan dengan membuka halaman demi halaman. Kamus 934 halaman.


Indonesia dan Prancis tak selesai dengan kamus saja. Ingatlah sastra! Kita mengingat Prancis-Indonesia itu puisi. Kita membuka buku berjudul Sajak-Sasjak Perancis Modern dalam Dua Bahasa (1979) susunan Wing Kardjo. Buku itu melegakan orang-orang Indonesia menggandrungi sastra Prancis melalui puisi-puisi gubahan Charles Baudelaire, Stephane Mallarme, dan lain-lain. Sastra Prancis dipilih jadi kiblat. Penerjemahan puisi, cerita pendek, drama, dan novel terus berlangsung di Indonesia. Jumlah terus bertambah sampai sekarang. Prancis pikat tak pernah usai, sebelum kita mendapat imbuhan gara-gara Anggun memilih Paris sebagai ruang mula melantunkan lagu-lagu bagi dunia.


Selama puluhan tahun, Indonesia-Prancis itu Anggun. Lagu gampang terakui ketimbang kerja serius di sastra? Kita tetap saja memiliki kehormatan di sastra meski jarang dimunculkan sebagai berita atau berseliweran menjadi gosip. Kita berjalan di halaman-halaman novel berjudul Pulang (2012) gubahan Leila S Chudori. Novel itu mengingatkan Indonesia-Prancis berlatar sejarah 1965 dan 1998. Anggun tak ada di situ. Sejarah berlangsung di Indonesia dibawa para tokoh bercap eksil, memilih atau terpaksa tinggal di Paris. Mereka tetap mengingat dan mencari ikatan ke Indonesia. Sastra dan makanan jadi penentu “kemesraan” dan “rindu-dendam”. Novel berbahasa Indonesia mengantar kita mengerti tokoh-tokoh menjalani hidup di Indonesia dan Prancis. Di situ, kita menemukan daftar buku-buku menggiurkan memberi panggilan ke sejarah dan sastra.


Anggun dianjurkan membeli dan memberikan novel Pulang ke Kirana Cipta. Novel bakal jadi “santapan”, setelah berhasil makan gara-gara mengucap dengan bahasa Indonesia. Anggun mungkin sedang membuat “novel” dengan menempatkan Kirana Cipta sebagai tokoh dalam perkara bahasa Indonesia dan makan. Begitu.



Bandung Mawardi,

Kuncen Bilik Literasi

FB: Kabut

69 tampilan