Yayasan BASIS
Jl. Pringgokusuman 35 - Yogyakarta - 55272
Berlangganan, iklan, informasi:
081225225423  (Telepon, WhatsApp)
majalahbasis@gmail.com
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Tokopedia
  • email
  • Majalah Basis

Anak Perempuan Sang Pengarang




KENDATI bukan anak biologis, pengarang anak legendaris Roald Dahl menciptakan anak intelektual-anak cerita yang bakal diingat oleh para pembaca di dunia. Anak itu perempuan dan bernama Matilda. Pembaca Indonesia bisa merayakan kelahiran ulang novel Matilda (Noura, 2018) terjemahan Maria Lubis sembari mengingat edisi bertahun-tahun lalu yang pernah dicetak oleh Gramedia (1991) terjemahan Agus Setiadi. Kedua edisi melengkapi mata baca kita dengan ilustrasi garapan Quentin Blake, rekan sempurna Roald Dahl sampai meninggal pada tahun 1990. Matilda sempat mendapat Children’s Book Award pada 1988 dan masuk daftar buku anak paling populer dalam survei World Day Book 1999 yang melibatkan 15 ribu anak berusia 7-11 tahun.


Memilih anak perempuan untuk dikarakteri genius, literer, kuat, baik hati sekaligus bisa usil tentu harus semacam berkutat dengan persepsi berabad-abad yang mengontruksi anak perempuan lemah, manusia kelas dua, lebih baik diam bersembunyi, dan justru aib kalau terlalu terpelajar. Roald Dahl juga membawa alasan universal: orang dewasa sering meremehkan anak-anak. Ia ingin Matilda tampil bersama harapan kuat mempertahankan diri dari perundungan fisik dan psikologis orang-orang di sekitar. Pun, ketakjuban Roald Dahl para komposer musik klasik abad ke-18, Wolfgang Amadeus Mozart yang menciptakan komposisi musik pada usia lima tahun, turut menguatkan alasan ini.


Roald Dahl juga membawa alasan universal: orang dewasa sering meremehkan anak-anak.

Roald Dahl menciptakan tokoh Matilda yang genius. Matilda mengajari dirinya membaca saat berusia 3 tahun dan setahun setelahnya bisa melahap buku-buku garapan Steinbeck, Dickens, Orwell, Kipling. Terlepas dari kegeniusan Matilda masih tampak aneh bagi publik, kita bisa percaya bahwa anak-anak memiliki kecerdasan melahap bahasa dan peristiwa di masa pertumbuhan. Resep untuk menikmati cerita-cerita Roald Dahl cukup dengan berpikir menjadi anak-anak, merasakan kembali rasanya berada di dunia anak-anak betapa pun usia sering membuat lupa jadi anak-anak.


Kejeniusan Matilda harus lahir dari keluarga yang justru normal saja tanpa keistimewaan intelektual, “Otaknya begitu cerdas dan dia sangat cepat belajar sehingga kemampuannya pasti terlihat jelas, bahkan oleh orangtua yang sangat tidak memperhatikan. Namun, Mr. dan Mrs. Wormwood sangat dungu dan terlalu tenggelam dalam kehidupan remeh mereka yang konyol sehingga gagal menyadari ada yang tidak biasa pada anak perempuan mereka.” Di sinilah, Matilda menjadi tokoh anak yang semakin terlihat istimewa. Roald Dahl menginginkan pertarungan, rintangan, dan harapan-harapan berpijar dari seorang bocah. Matilda memiliki keluarga pecandu televisi dan orangtua selalu menyiapkan makanan cepat saji serta pekerja praktis yang cuek abis kecuali pada Michael, kakak lelaki Matilda. Roald Dahl sepertinya mengambil percontohan keluarga Inggris kelas menengah yang terkena candu televisi. Candu ini tentu juga melanda Amerika dan Asia.


Roald Dahl menginginkan pertarungan, rintangan, dan harapan-harapan berpijar dari seorang bocah.

Ketidakbiasaan Matilda harus diwakili oleh buku. Bacaan-bacaan awal Matilda adalah majalah, koran, dan sebuah buku tidak seru milik ibunya berjudul Easy Cooking yang sampai hafal di dalam kepala. Kita bisa cerap jawaban ayah Matilda saat diminta membelikan sebuah buku, “Ada apa dengan televisi, demi Tuhan? Kita memiliki televisi bagus berlayar dua belas inci dan sekarang kau meminta sebuah buku! Kau semakin manja, Anak Perempuanku!” Matilda pun mendapat perlindungan dari buku-buku di perpustakaan umum dan mulai jadi pembaca. Ia bertemu Mrs. Phelps yang merekomendasikan buku bagus sekaligus menjadi teman mengobrol, membaca semua buku anak (bukan hanya melihat gambarnya), dan meminjam semua buku yang diinginkan.


Dari keterabaian keluarga, Matilda membuka pelanglangan imajinasi lewat dunia buku. Sekalipun buku pinjaman, Matilda paling berhak memiliki imajinasi, “Rasanya menyenangkan bisa membawa minuman panas ke kamar dan meletakkannya di samping, sementara dia duduk dalam ruangannya yang sunyi, membaca di ruang kosong, sepanjang sore. Buku-buku mengantarkannya ke dunia-dunia baru dan memperkenalkannya kepada orang-orang mengagumkan yang menjalani kehidupan yang sangat menarik. Dia naik kapal selama berhari-hari bersama Joseph Conrad. Dia pergi ke Afrika bersama Ernest Hemingway dan ke India bersama Rudyard Kipling. Dia bertualang ke seluruh dunia, sambil duduk di kamar sempitnya, di sebuah desa di Inggris.”


“Melawan”

Dengan memihak buku-buku, “melawan orang dewasa” masuk dalam entitasnya yang baik. Yang dilawan bukan sosoknya, tapi konsep tentang kebodohan, sekolah yang memenjara, kemalasan, perundungan, krisis kasih sayang, dan ketidakadilan seksis. Hal ini semakin terlihat saat Matilda “melawan” kepala sekolah, Miss Truchbull, yang jahat, otoriter, kejam, dan pembenci tawa serta keceriaan anak. Roald Dahl menambah kekuatan tidak biasa pada Matilda, mampu memindahkan benda hanya dengan melihat dengan konsentrasi penuh. Matilda berhasil mengembalikan segala warisan yang dirampas Miss Truchbull dari Miss Honey, guru tercinta sekaligus kelak menjadi ibu asuh sekaligus ibu intelektual baru bagi Matilda.

Selain Roald Dahl, kita bisa mengingat pengarang Swedia Astrid Lindgren yang menciptakan tokoh anak perempuan (1940) yang revolusioner dan begitu diingat sampai sekarang: Pippi Langstrump atau Pippi si Kaus Kaki Panjang. Pippi awalnya diniatkan sebagai pengobat anak Lindgren yang sakit pneumonia (Bhuana Sastra, 2014). Bagi dunia, Pippi mewakili celoteh jiwa bebas anak. Kelahirannya turut merekonsiliasi dunia yang pedih karena perang. Kelahiran Pippi tentu menuai kritik karena dianggap membolak-balikkan konsep etika. Dengan cara jenaka, Pippi memperlihatkan cara “melawan” pikiran dan tindak orang dewasa yang terlampau otoriter dan penuh aturan. Ini juga berarti bahwa jiwa bebas Pippi sangat membahayakan tata etika-sosial yang dibentuk orang dewasa untuk mendisiplinkan anak. Yang pasti, Pippi mengajak agar kita tidak kehabisan cara untuk bergembira.


Pippi mewakili celoteh jiwa bebas anak. Kelahirannya turut merekonsiliasi dunia yang pedih karena perang.

Matilda, anak perempuan sang pengarang menghuni imajinasi anak-anak sedunia. Ia diingat bukan karena sikapnya manis seolah princess anggun dari keluarga ningrat yang hidup nyaris tanpa konflik. Kehidupan Matilda adalah konflik yang bahkan masih sangat relevan dengan konflik dunia mutakhir tentang keluarga, pengasuhan anak, literasi, dan kemanusiaan. Kita berterima kasih kepada Roald Dahl telah melahirkan Matilda untuk dunia. Doa-doa pembaca(an) akan selalu membuat Matilda berumur panjang.


Setyaningsih

IG: @langitabjad

FB: Setya Ningsih.

83 tampilan